Trishna memasuki kamarnya seteah berbicara sedikit dengan Ayahnya. Hatinya terlalu merasa sedih melihat keadaan keluarganya seperti ini.
Apalagi perubahan yang sangat besar pada Ibu yang senantiasa dia kagumi dulu. Trishna menghela napas panjang, mungkin inilah takdir hidupnya.
Trishna harus berkerja keras untuk menghidup keluarganya, mujur saja takdir masih menyebelahinya. Menjadi seorang chief marketing dalam waktu 5 bulan setelah diterima kerja sungguh rezeki yang besar untuknya.
Tapi akan dayanya yang hanya bekerja seorang diri dan menjadi tulang punggung keluarganya. Trishna tidak ingin banyak mengeluh dan mulai membersihkan dirinya setelah itu akan membantu Tiana menyiapkan makan malam untuk mereka.
....
Ferdian berada dalam kamarnya sedang menahan rasa panas di dadanya. Entah kenapa dia bisa merasakan panas yang teramat di dadanya. Dia kembali mengingat kejadian kantor tadi.
Flashback on...
Ferdian baru saja selesai rapat bersama bagian pemasaran yang terpaksa dia ikuti karena mereka membutuhkan pendapat dari dirinya.
Dia berencana untuk mengelilingi kantor untuk menghilangkan rasa laparnya lagi padahal baru 30 menit yang lalu dia menghabisi 3 botol yang berisi darah segar dari binatang.
"Rob, aku akan mengelilingi setiap ruangan. Kau labjutkan saja pekerjaanmu," ucap Ferdian.
"Apakah Tuan baik-baik saja?" tanya Roben yang terlihat khawatir karena wajah Ferdian sangat terlihat pucat dan tidak seperti biasanya.
"Aku baik-baik saja, kamu lanjut saja pekerjaanmu," jawab Ferdian dan langsung saja berlalu dari hadapan Roben menuju ke lift.
Ferdian akan memulainya dari lantai dasar, di mana ruang pemasaran digital berada. Ferdian mengelilingi ruangan tersebut dan memeriksa perkembangan bagian pemasaran digital itu.
Setelah merasa puas Ferdian, dia berencana untuk menaiki lift untuk menuju ke lantai 2 di mana tempat ruang pemasaran perencaan target. Setelah sampai di lantai tersebut kebetulan seorang wanita muda terluka karena terkena duri bunga hiasan asli yang berada di dalam sana.
"Auu, shh sakit juga ya," rintih wanita itu.
Wanita itu merupakan Trishna yang kebetulan pagi ini harus menyampaikan presentasi laporan bulanan untuk cabang mereka.
Ferdian mematung ditempat tapi matanya menatap tajam ke arah darah yang mengallir itu aroma darah yang sangat wangi dan membuatnya tertarik.
Perlahan mata Ferdian mulai berubah memerah dan tajam. Ingin sekali dia mencicipi darah di jari karyawannya itu.
"Trish, kamu ceroboh sekali," ucap salah satu karyawan yang bersama Trishna.
"Hehe." Trishna hanya terkekeh sambil mengosok lukanya menggunakan tisu.
Di samping itu, salah satu karyawan di sana kaget dengan kedatangan Ferdian dan mereka langsung saja menunduk hormat.
"Maaf Tuan Galang, kami tidak sadar kehadiran Tuan," ucap salah satu karyawan di tempat itu.
'Oh ini Tuan Galang, pemilik tempat ini,' batin Trishna.
Ferdian coba mengontrol jiwa vampirnya yang meronta-ronta minta dipuaskan dengan darah manusia yang terlihat sangat nikmat itu.
"Ehem, maaf saya cuma ingin lewat saja. Kamu cepat bersihkan lukamu awas jarimu terinfeksi," ucap Ferdian dengan berpura-pura terlihat santai lalu segera membalikkan tubuhnya agar tidak melihat wanita itu lagi.
Ferdian bergegas masuk ke dalam lift khusus untuk dirinya, tubuhnya merasa panas dingin, gigi taringnya mulai kelihatan dan matanya terlihat ingin menerkam seseorang.
Flashback end...
Setelah kejadian itu, Ferdian langsung saja meminta Roben untuk membawanya kembali ke kastil tuanya.
Dalam perjalanan pulang Ferdian menghabiskan sekitar 15 botol yang berisi darah binatang, akan tetapi rasa panas pada tubuhnya masih saja terasa dn dadanya juga mulai terasa sangat panas.
"Rob, tidak bisakah lebih cepat aku takut aku hilang kawalan," ucap Ferdian dengan suara yang serak menahan rasa panas yang dia rasakan.
"Maaf Tuan ini sudah kecepatan maksimal, tapi saya akan coba menyalip beberapa kenderaan," sahut Roben yang terlihat lincah dalam menyetir mobil mereka.
Setelah sampai di apartemen tempat mereka melakukan teleportasi, ferdian langsung saja mendahului Roben karena dia tida bisa terlalu berlama-lama di tempat itu.
Aroma darah segar seorang manusia masih saja menusuk di hidungnya dan itu yang membuatnya tidak bisa menahan rasa ingin mencicipinya.
Setelah sampai di kastil miliknya, Ferdian langsung saja memasuki kamarnya dan mengunci dirinya sendiri.Dia menutupi semua gorden di dalam kamarnya agar kamarnya terlihat gelap.
Tidak lupa Ferdian mengambil obat yang dia racik sendiri agar dia tidak mudah terpengaruh dengan darah mannusia lagi.
sejak akhir-akhir ini ferdian sering mengonsumsi obat tersebut karena efek sepertinya sudah tidak terlalu lama. Setelah meminum obat tersebut ferdian merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
"Sia*an ini pasti gara-gara gerhana bulan berdarah sudah dekat," gerutu Ferdian dengan kesal.
Ingin sekali dia menguburkan dirinya di dalam tanah agar gerhana tersebut tidak mengenai dirinya tapi semua itu sama saja tidak akan berhasil kkarena dia tidak lagi meminum darah manusia, dia pasti akan terkena lewat udara.
Setelah setengah jam berlwan dengan pikirannya sendiri, akhirnya Ferdian tertidur karena efek obatnya.
Baru kali ini ya dengan dengar vampir minum obat, author saja kaget. yukk lanjut..
Satu jam berlalu, Roben memberanikan diri memasuki kamar Ferdian karena dia yakin Ferdian sedang terlelap karena obat yang diia konsumsi.
Roben membersihkan diro Ferdian seperti biasa, dia akan membantu mengelap tubuh atletis Ferdian dan mengantikan pakaian Ferdian.
Kali ini Roben akan membuang pakai yang dipakai oleh Ferdian karena tadi Ferdian sempat mengatakan bahhwa dia melihat darah..
Roben membuangnya agar virus dari darah manusia tadi tidak mengacaukan indera penciuman Ferdian. Bukan setakat membuang Roben langsung membakarnya.
Roben menghela nafas setelah selesai dengan pekerjaannya. Dia turut kasihan melihat keadaan Ferdian yang sepertinya sangatt tersiksa.
"Aku harus membujuk Tuan, biar Tuan tidak terlalu menyisa dirinya sendiri," ucap Roben lirih.
Sudah hampir jam 10 malam barulah Ferdian keluar dari kamar karena merasa lapar. Ferdian memanggil Roben lewat telepati.
Dengan sekelip mata Roben muncul membawa sebotol darah binatang bersama sebuah gelas.
Dengan telaten Roben melayani Ferdian yang sudah berada di ruang makan, dia menuang isi botol tadi ke dalam gelas.
Ferdian terlihat tidak berselera melihat darah binatang tersebut. Tapi dia harus meminumnya agar tidak merasa haus dan lapar.
"Rob, aku sepertinya tidak berminat melihat darah binatang, entah kenapa,"ucap Ferdian yang terlihat sangat tidak bersemangat.
"Tuan, kalau Tuan mau. Malam ini saya carikan seorang manusia untuk Tuan," tawar Roben yang mengerti ke mana arah perbicaraan Ferdian.
"Aku takut aku tidak bisa berhenti Rob, aku takut aku malah membunuh manusia sedangkan aku sedang berada dilingkungan manusia," sahut Ferdian yang masih terlihat ragu.
"Atau kita belinya dari rumah sakit saja?" ujar Roben lagi.
Ferdian menatap Roben dengan malas karena idenya sangat tidak masuk akal.
"Kau akan membunuh orang yang membutuhkan, sama saja Rob," sahut Ferdian.
Roben terlihat menyerngir memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Kalau begitu aku akan mencari manusia yang tinggal di pinggir jalan, sekurang-kurangnya kalau mereka mati tidak ada yang peduli," ucap Roben lagi.
"Ck, mereka saja kekurangan gizi dan sudah tentu darahnya tidak enak atau mungkin mereka menghidapi penyakit," sahut Chester.
"Rasanya otakmu sudah mulai tidak bisa digunakan, aku harus mencari asisten baru biar aku awet mudah dan tidak mudah marah," lanjut Ferdian kesal dengan sang asisten.
"Maaf Tuan, saya hanya mengkhawatirkan kondisi tubuh Tuan," ucap Roben tersenyum.
"Sudahlah aku masih bisa bertahan, kamu pergilah aku ingin sendiri," jawab Ferdian.
Setelah Roben meninggal Ferdian sendiri, barulah Ferdian mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi merah yang menayangkan banyak sekali video hiburan manusia.
Ferdian terus mengscroll ke bawah hingga muncullah satu video yang memperlihatkan di mana banyak orang yang sedang asyik bersuka ria dan bermabuk-mabukan.
Ferdian penasaran dengan tempat itu, dia coba cek nama tempat itu, karena dia sedikit tertarik.
"Mungkin di sini aku bisa menemukan beberapa makan lezat," ucap Ferdian tanpa sadar.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments