Bab 19

"Tuan, keturunan Alverio telah membawa Nona Trishna," lapor seorang pria yang terlihat sangat muda dan tampan.

Seorang pria tampan yang berumur sedang duduk dikursi kerjanya langsung menoleh ke arah pria tadi. Gurat tegas di wajahnya jelas tercetak dan matanya terlihat merah seperti api yang menyala.

"Terus ikuti mereka Dev, cari tahu ke mana dia membawa Trishna," ujar pria itu kepada Dev yang melaporkan tentang Trishna tadi.

"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi," jawab Dev lalu keluar dari ruangan pria itu.

"Kak Eli ... ," ucap pria itu lirih sambil menatap foto yang berada di atas meja kerjanya itu.

.

.

.

.

.

Trishna membaca list yang diberikan oleh Roben, dia mendengus kesal tapi dia tidak bisa protes karena jika dia mulai protes Ferdian akan menambah hukumannya.

"Kenapa list ini kayak ada yang kurang," ucap Trishna lirih sambil membolak balikkan list yang harus dia kerjakan selama menjadi pembantu Ferdian.

Setelah berpikir-pikir barulah Trishna sadar bahwa jam makan Ferdian tidak dimasukkan ke dalam itu. Trishna tersenyum berarti dia tidak perlu bersusah-susah menyiapkan makanan dan hanya perlu menyiapkan pakaian, membersih seluruh apartemen dan mencuci pakaian Ferdian.

Hal itu dianggap gampang oleh Trishna, kini dia bisa tidur tenang tanpa perlu memikirkan makanan apa yang disukai oleh Ferdian.

Jam 10 malam, Trishna kembali terbangun dari tidurnya karena cacing perutnya sudah meronta-ronta minta diisikan makanan.

Gara-gara kesal dengan Ferdian tadi yang memarahinya dekat-dekat dengan Roben membuat Trishna lupa untuk makan malam.

Trishna keluar dari kamarnya dengan langkah yang perlahan lalu menuju ke ruang dapur. Dia mengobrak-abrik kulkas dan lemari dapur untuk mencari mie instant tapi tidak kunjung menemuinya.

"Ck, aku lupa dia orang kaya. Pasti tidak punya stok mie instant hmm terpaksa masak ayam malam-malam buta begini. Harap-harap Tuan tidak bangun," ucap Trishna lirih.

Dengan cekatan tangan, dia menanak nasi dan memasak ayam saus untuk dirinya. Lebih kurang sejam semuanya telah siap. Kini tinggal dirinya untuk menyantap semuanya.

"Selamat makan," ucap Trishna dengan bahagia.

Baru saja dia hendak memasukkan sesuap makanan itu di dalam mulutnya, kembali dia urungkan. Pikirannya merasa tidak tega jika tidak menawarkan Ferdian untuk makan.

Trishna berjalan mendekati kamar Ferdian lalu mengetuk pintu kamarnya.

"Selamat malam Tuan Galang," ucap Trishna sambil mengetuk pintunya.

Sudah hampir 5 menit dia mengetuk tapi tidak ada sahutan dari Ferdian. Trishna pun kembali ke meja makan untuk mengisi perutnya sendiri.

"Dasar tidur mati," umpat Trishna.

Trishna menikmati masakannya sendiri dan setelah selesai dia langsung membersihkan piring kotor bekas makannya termasuk peralatan masaknya tadi.

.....

Cahaya matahari mulai mengintip pada celah-celah gorden jendela Trishna. Terlihat Trishna sudah bangun dan bersiap-siap untuk membuat sarapan pagi untuk dirinya setelah itu dia akan memasuki walk in closet milik Ferdian untuk menyiapkan pakaian kantornya.

Ruang walk in closet terletak di sebelah kamar Ferdian, sengaja dibuat seperti itu agar memudahkan Trishna menyiapkan pakaian kantornya.

Trishna juga menyempatkan diri untuk membersihkan lantai apartemen seperti yang diarahkan sebagai tugasnya selama sebulan ini.

Tepat jam 7 pagi, Trishna sendiri telah siap dengan pakaian kantornya tetapi tidak dengan Ferdian. Sedari tadi Trishna memperhatikan ruang walk in closet dan pakaian Ferdian masih tergantung rapi di tempat yang telah dia siapkan.

"Apa Tuan masih kebo?" ucap Trishna bingung. "Atau aku bangunkan saja eh tapi dalam list tidak ada suruh bangunkan Tuan, ahh terserahlah yang penting pekerjaanku telah selesai," lanjut Trishna lagi lalu menyantap sarapan paginya.

Setelah selesai dia keluar lebih dulu dari apartemen Ferdian dan akan berangkat ke kantor. Dia harus buru-buru karena orang-orang akan bersangka buruk jika melihat dia keluar dari apartemen Ferdian.

Sampai di kantornya, Trishna langsung masuk ke ruangan miliknya. Hari ini adalah hari keduanya menjadi manager marketing sungguh terasa seperti mimpi.

Dia memulaikan pekerjaannya dengan hati yang damai karena tidak ada gangguan dari Ferdian yang sering membuatnya kesal.

Tetapi kedamaian itu tidak bertahan lama karena Roben telah memasuki ruangannya.

"Maaf mengganggu Trish, tapi Tuan ingin menemuimu sekarang," ucap Roben.

Trishna langsung saja mengangguk.

'Ck baru saja rasa kedamaian,' ucap Trishna dalam hati.

Trishna mengikuti langkah Roben, dia menundukkan wajahnya dan hanya melihat langkah kaki Roben yang panjang.

Tanpa dia sadar, dia telah masuk ke dalam dimensi sihir yang Ferdian buat. Kepala Trishna tiba-tiba terasa sangat pusing dan matanya sangat berat.

Trishna coba memaksa untuk tetap kuat dan sadar hingga dia berada di dalam ruangan Ferdian yang tumbennya terlihat sangat aneh.

"Se-selam-at pagi Tu-Tuan," sapa Trishna coba untuk menatap wajah Ferdian yang sedang duduk dikursi kebesarannya.

'Eh kenapa senyuman Tuan Galang terlihat menakutkan dan matanya kenapa merah,' ucap Trishna dalam hati.

Bughh!!

Trishna sudah tidak sadar karena terkena sihir yang dibuat oleh Ferdian. Saat ini mereka kembali berada di apartemen hasil sihir yang Ferdian buat.

Ferdian menatap Trishna yang tergeletak di atas lantai ruang apartemennya. Dia mengangkat perlahan tubuh Trishna lalu dibaringkannya di atas kasur empuk miliknya.

"Maaf Trish, aku tidak bisa menahannya. Aroma tubuhmu begitu mengunggah selera buasku," ucap Ferdian lirih.

Gigi taring Ferdian memanjang dan menajam. Tanpa menunggu lama, Ferdian langsung saja menancapkan giginya di pundak Trishna lalu menghi*ap da*ah Trishna.

'Siap darahnya sungguh manis, aku sepertinya tidak akan pernah puas,' batin Ferdian.

Setengah jam telah berlalu akhirnya Ferdian merasa kenyang dan kembali bertenaga. Rasa panas yang membuncah di dadanya sudah menghilang tapi anak matanya berubah dan terlihat begitu tajam.

"Kita kembali ke ruanganku," dengan petikan jari Ferdian, Roben dan Trishna kini kembali berada di ruangan Ferdian.

"Siapkan sup untuknya dan teh manis hangat," perintah Ferdian pada Roben.

Ferdian mengendong Trishna menuju ke sofa yang berada dalam ruangannya dan membaringkan Trishna di sofa itu. Wajah Trishna terlihat pucat mungkin karena banyak da*ah yang telah Ferdian hi*ap tadi.

Ferdian mengusap bekas gigitannya lalu menghilanglah bekas itu. Ferdian mengusap pipi Trishna dan dia mulai membuka matanya yang masih terasa berat.

"Eh Tuan. Maaf tapi saya kenapa?" Trishna berusaha duduk tetapi kepala terasa pusing dan seluruh tubuhnya terasa seperti meremuk.

"Baring dulu, kamu tadi tiba-tiba pingsan," ujar Ferdian membantu Trishna kembali berbaring.

"Tapi tadi pagi saya baik-baik saja Tuan. Kenapa saya bisa pingsan," ucap Trishna.

Trishna coba mengingat apa yang berlaku tapi sedikit pun tidak ada ingat tentang kejadian sebelum dia pingsan.

Roben datang membawa nampan yang berisi teh hangat dan semangkuk sup.

"Tuan," panggil Roben.

"Letakkan di atas meja saja Rob, Trishna masih sedikit pusing," ucap Ferdian dengan prihatin.

"Trish kamu minum sup dan teh hangat dulu setelah itu baru kamu lanjut istirehat," lanjut Ferdian lagi.

Trishna hanya mengangguk karena memang seluruh tubuhnya merasa sangat lemas. Trishna memaksa dirinya duduk dan menghabis teh hangat dan sup yang diberikan oleh Ferdian.

Setelah merasa tubuhnya lumayan enak, dia segera pamit dan kembali ke ruangannya. Mujur saja karyawan lain tidak curiga dengannya karena dia lama berada dalam ruangan Ferdian.

Trishna duduk di sofa dalam ruanganya dan memcoba untuk tidak banyak bergerak.

"Sial kenapa dengan diriku ishh mana pundakku terasa sangat perih dan ngilu," ucap Trishna lirih.

Tanpa sadar Trishna kembali terlelap di atas sofa. Wajahnya terlihat pucat dan lemas gara-gara Ferdian.

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!