Baru kali ini Trishna akan menghadiri pesta yang dilaksanakan oleh perusahaan pusatnya. Apalagi kali ini Trishna tidak bisa menolak karena presensi setiap karyawan cabang akan di ambil.
Saat ini Trishna bingung harus mengenakan pakaian apa karena tinggal 3 hari lagi pesta akan dilaksanakan.
'Aku ingin membeli dress tapi aku takut Ibu akan memarahiku huhh,' batin Trishna.
Sebenarnya dia begitu antusias ingin menghadiri pesta yang diadakan tapi ketika teringat akan Ibunya, dia kembali merasa takut.
Salah satu teman kerjanya menyapa Trishna karena Trishna terlihat melamun dan tidak menyentuh makanan yang ada di hadapannya.
"Hei Trish kenapa melamun begitu?" ucap teman kerjanya Trishna yang dipanggil Lena.
"Hmm tidak Len, cuma kepikiran adikku saja," jawab Trishna.
"Kenapa adikmu? Bukan dia sudah pindah ke sekolah di hujung blok sana," ujar Lena sambil mencomot nugget yang ada di kotak makanan Trishna ke mulutnya.
"Lupakan saja, ini kalau mau makan. Aku sudah hilang selera," ucap Trishna sambil menyodorkan kotak makanannya kepada Lena yang sudah tersenyum seperti kambing yang memperlihatkan giginya yang putih tersusun rapi.
"Serius ni, aku jadi malu loh kalau sering memakan makananmu," sahut Lena sambil mencomot nugget itu lagi.
Trishna menggelengkan kepalanya lalu pamit kepada Lena untuk kembali memasuki toko untuk kembali bekerja. Jam istirehat memang masih panjang tetapi Trishna sudah tidak mempunyai nafsu untuk makan dan istirehat karena terus memikirkan perihal Ibunya.
Sewaktu Trishna sedang mengeliling dalam toko, tiba-tiba seorang pria mendekatinya.
"Permisi Nona," ucap pria itu.
"Ya Tuan, ada apa?" sahut Trishna dengan memperlihat senyuman ramahnya.
"Ini ada titipan untuk Nona Trishna Meira Lindel," pria itu memberi sebuah buket bunga mawar merah dan paper bag berwarna ungu bercorak bunga-bunga.
Trishna mengerutkan dahinya tapi setelah melihat nama pengirimnya Trishna tersenyum lebar.
"Terima masih," ucap Trishna pada pria itu.
Pria itu tersenyum lalu mengangguk dan pamit. Trishna membawa buket bunga dan paper bag itu ke mejanya lalu membaca pesan yanh terlekat di celah-celah bunga mawar itu.
Apakah kau suka kejutan dariku? Besok kita akan ketemu di tempat biasa pada jam istirehatmu, maaf hari ini baru mendarat dan aku langsung saja memesan bunga kesukaanmu dan sebuah hadiah dariku harap kamu suka. Aku selalu menyayangimu Trish.
Begitulah isi pesan di dalam secarik kertas.
Trishna tersenyum lalu mencium kertas itu, dia sungguh mencintai pria yang mengirim bunga ini padanya. Walaupun mereka berbeda strata sosial tapi pria itu tidak pernah mempermasalahkannya.
'Aku tidak sabar untuk bertemu besok,' ucap Trishna dalam hati.
....
"Rob bagaimana persiapan pestanya?" tanya Ferdian sambil menatap dokumen yang harus dia tandatangan.
"Aman Tuan, pesta akan dibuat di ballroom hotel milik kita yang bisa menampung 1000 orang dan tema pestanya bebas," terang Roben.
"Bagus pastikan dia datang, jangan sampai dia tidak datang," ucap Ferdian mengingatkan Roben.
"Ya Tuan, saya juga sudah mengingatkan semua karyawan jika tidak dapat hadir pastikan ada alasan yang kuat kalau tidak gaji akan dipotong setengah," sahut Roben lagi.
"Bagus," Ferdian tersenyum miring. Kali ini Ferdian akan menemui wanita berani itu lagi.
Ferdian saja tidak sabar untuk menunggu hari tersebut, dia ingin mencari tahu rasa penasarannya kemarin. Kadang terpikir mungkin memang saat itu Trishna tidak memikirkan sesuatu tapi tidak mungkin seorang manusia tidak mempunyai pikiran biarpun sedetik.
.....
Pagi ini Trishna sudah bersiap dengan rapi dan dandanannya yang tipis. Selama ini Trishna tidak pernah berdandan pergi ke tempat kerja tapi hari ini berbeda.
Trishna mempunyai janji dengan seorang pria yang sudah lama dia tunggu-tunggu dan berapa bulan terakhir ini pria itu sempat hilang dan kemarin dia baru mendapat pesan untuk bertemu.
Trishna berada di tempat kerjanya dengan aura yang terlihat sangat bahagia. Sehingga target pemasarannya sampai jam 12 siang sudah memecah 100 miliar rupiah. Karena semangatnya hari ini terlihat sangat berbeda.
Kini jam sudah menunjukkan jam makan siang. Trishna pamit kepada karyawan lain untuk pergi makan di luar karena ada janjian dengan seseorang.
Trishna dengan cepat menahan sebuah taksi untuk menghantarnya ke kafe untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Dari kejauhan dia melihat pria itu telah menunggunya di meja yang sama. Karena memang tempat mereka sering ketemu dulu di sebuah restoran yang memiliki meja outdoor dan mereka lebih memilih meja outdoor.
Trishna mendekati ke arah pria itu, dia datang dari arah belakang dan mencoba untuk memberi kejutan kepada pria idamannya itu.
"Coba tebak," ucap Trishna berbisik di telinga pria itu sambil menutup mata pria itu menggunakan kedua tangannya.
"Trishna," sahut pria itu lembut dan menarik perlahan tangan Trishna.
"Sudah bisa ditebak ya?" tanya Trishna lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu.
"Bisalah, bukan baru kemarin aku mengenalmu. Dari kamu masih bau kencur lagi," ucap pria itu dengan tersenyum kecil.
"Varel kamu ih," sahut Trishna sambil memukul tangan pria tadi yang dia panggil Varel.
Varel tersenyum tipis.
"Ada hal yang inginku bincangkan tapi kita makan dulu ya," ucap Varel lalu memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan.
"Ok," sahut Trishna.
Hati Trishna tiba-tiba rasa berdegup kencang entah kenapa firasatnya mengatakan sesuatu akan terjadi. Tapi Trishna coba mengabaikan hal itu, dia tetap tersenyum.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments