Trishna telah berada di hadapan pusat perusahaan. Trishna mendonggakkan kepala ke atas melihat betapa tingginya perusahaan milik Ferdian.
Trishna menghela nafas panjang lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam perusahaan itu. Dia harus menerimanya demi menyelamatkan gajinya.
Roben telah menunggu Trishna di lantai dasar atas arahan Ferdian. Dia melihat Trishna masuk dengan raut wajah yang terlihat gugup lalu berjalan menuju ke arah resepsionis.
Roben sengaja tidak mendekati Trishna dengan segera, dia ingin melihat bagaimana kinerja resepsionis yang sering dia dengar menganggap rendah orang-orang yang datang bertanya kepadanya.
"Selamat pagi mbak, maaf mengganggu. Saya merupakan karyawan cabang yang dipindahkan ke pusat. Menurut arahan saya disuruh bertemu dengan Pak Roben, bisa tunjukkan saya di mana ruangan Pak Roben?" tanya Trishna tanpa basa basi lagi.
Dua orang resepsionis menilik penampilan Trishna dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi. Satu kata yang diucapkan oleh keduanya.
"Kampungan," ucap keduanya kompal sambil menatap sinis ke arah Trishna.
Trishna bingung kenapa mereka menyebutnya kampungan dan bukan menjawab pertanyaannya tadi.
"Maaf mbak, di mana ruangan Pak Roben?" tanya Trishna kembali to the point karena malas berlama-lama di situ.
Trishna bisa merasakan hawa mengejek dan tidak suka di sekitar meja resepsionis itu. Apalagi tatapan sinis kedua resepsionis cantik itu.
"Nor sepertinya ada bunyi lalat besar ya? Apalagi ini baunya menyengat sekali ya," ucap salah satu resepsionis itu pada teman resepsionis yang bernama Nora.
"Iya benar Sil, baunya buat mual, eh kamu sudah mandi atau belum hah?! Lihat penampilan kamu ke kampungan sekali. Bau lagi," sahut Nora dengan menutup hidungnya lalu menggoyangkan tangannya mengusir Trishna.
Sontak Trishna mengendus bagian keteknya dan jas yang dia kenakan.
'Wangi pun perasaan tadi pagi mandi bersih dan belum sempat berkeringat,' batin Trishna polos.
"Maaf sekali lagi ya mbak, mungkin hidung mbak berdua ada masalah karena tubuhnya belum mengeluarkan aroma kecut masih wangi parfurm pun," jawab Trishna sambil mengibas jasnya di depan Nora dan Sisil.
"Ck hentikan jangan mengibas lagi! Parfum kamu parfum murah makanya bau kayak tong sampah, lebih baik kamu pergi sebelum saya panggilkan satpam," ucap Sisil dengan ancaman.
"Lah saya datang bukan mau jual parfum, saya hanya mencari ruangan Pak Roben karena semalam Pak Roben menyuruh saya bertemu dengannya," jawab Trishna yang mulai kesal.
"Pak Roben keluar dan Pak Roben juga tidak ada jadwal janji temu hari ini, silakan pergi!" ujar Nora ketus.
"Tap-" ucapan Trishna dipotong apalabila salah satu resepsionis tadi memanggil satpam.
"Pak, Pak Satpam! Ini kenapa dibiarkan wanita ini masuk! Berbahaya tahu apalagi dia tidak bersih!" teriak Nora pada Satpam yang berdiri dipintu utama.
"Hahh?" Trishna kaget mendengar ucapan resepsionis itu, dia segera menoleh ke belakang dan mendapati Satpam berwajah bengis itu berjalan mendekatinya.
"Nona silakan keluar jangan membuat kekacauan di sini!" bentak Satpam tadi setelah berhadapan dengan Trishna.
"Maaf saya tidak bisa pergi! Saya harus bertemu dengan Pak Roben!" jawab Trishna tidak kalah kesalnya.
Baru saja satpam tadi hendak menarik tangan Trishna tapi sebuah tangan segera menepis tangan satpam tersebut.
Mata mereka yang berada di depan meja resepsionis membulat dan mulai gementar karena melihat kedatangan seseorang yang merupakan pemilik perusahaan itu.
"Tu-Tuan Galang," ucap Satpam mulai gugup.
"Kamu tidak apa-apa Trish?" tanya Ferdian sedikit terdengar khawatir.
Nora dan Sisil masing-masing mengeluarkan keringat dingin karena ini kali pertamanya pemilik perusahaan ini turun untuk melindungi seorang wanita yang baru saja mereka temui hari ini.
'Sialkan aku, wanita ini pasti kenalannya Tuan Galang,' batin Nora sambil menundukkan wajahnya karena takut.
'Lah ini kenapa bisa, Tuan Galang terlihat khawatir dengan wanita ini. Jangan wanita ini teman lamanya, cih siap-siap jadi pengangguran,' batin Sisil sambil menelan air liurnya karena tiba-tiba tengkoroknya merasa kering.
"Saya baik-baik saja Tuan," jawab Trishna dengan wajah datarnya.
Setelah Ferdian mendengar jawapan dari Trishna barulah dia mengalihkan pandangannya ke arah kedua resepsionis itu.
Tatapan mata yang tajam dari Ferdiam membuat bulu tengkuk Nora dan Sisil merinding. Lidah mereka juga terasa kelu untuk membela diri.
"Roben bawa mereka ke ruang HRD," ucap Ferdian sambil menatap ke arah kedua wanita cantik itu.
Mendengar perkataan HRD langsung saja kedua wanita itu mendadak ketakutan. Kata-kata memohon maaf dan rayuan pun keluar dari mulut kedua resepsionis itu.
"Tuan tolong jangan pecat saya, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya," rayu Nora dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya dan tampak sedikit horor karena makeup dan maskara Nora telah luntur.
"Tuan maaf, saya tahu saya salah, tapi tolong beri saya kesempatan Tuan. Saya bersumpah tidak akan melakukan kesalahan lagi tolong jangan pecat saya," ucap Sisil pula yang sama telah menangis dan wajahnya telah basah diikuti dengan bulu mata palsunya yang sudah berpindah tempat ke atas bibirnya.
Trishna sedikit bergidik ngeri melihat kedua wajah resepsionis yang tadinya cantik berubah menjadi menakutkan. Rasa kasihan pun muncul, Trishna menarik kecil lengan jas Ferdian.
Ferdian menoleh ke arah Trishna setelah merasa bagian lengan jasnya ditarik-tarik.
"Kenapa?" tanya Ferdian.
"Hmm Tuan, jangan pecat mereka kasihan nanti mereka mau makan apa? Apa Tuan tega? Sekarang sudah tidak mudah mendapatkan pekerjaan apalagi kalau status dipecat. Bukankah ada amaran pertama kedua dan ketiga sebelum menuju pecat? Nahkan Tuan bisa gunakan amaran itu dulu ya kan?" ujar Trishna tanpa rasa takut maupun segan pada Ferdian.
Nora dan Sisil dibuat melonggo dengan ucapan Trishna yang mengasihani mereka. Mereka sendiri menjadi malu karena Trishna coba membela mereka.
Ferdian menatap Trishna dengan tatapan yang sulit diartikan tapi dia tiba-tiba saja mengangguk.
"Benar juga, Roben kamu pergi buatkan surat amaran pertama dan kedua untuk mereka. Untuk gaji bulan ini potong 30%," sahut Ferdian.
Sekali lagi Nora dan Sisil dibuat kembali melonggo karena Ferdian membenarkan ucapan Trishna. Kali ini mereka beruntung karena Trishna, oleh itu keduanya sepakat untuk berterima kasih pada Trishna nanti.
"Kamu," ucap Ferdian pada Satpam yang dari tadi terlihat begitu gugup dan ketakutan.
"Iya Tuan," sahut Satpam itu.
"Ingat sebelum bertindak dengar dulu alasannya jangan hanya dengar sepihak saja! Gajimu akan dipotong 30% juga dan sekarang kembali bekerja!" ujar Ferdian lagi dengan tegas.
Setelah drama memasuki perusahaan itu, kini Trishna sudah berada dalam ruangan Ferdian. Trishna mulai kesal mengingat ini semua terjadi karena Ferdian yang memaksanya untuk berpindah ke pusat.
Ferdian yang dari tadi coba berbicara basa basi dengan Trishna tapi dicueki oleh Trishna membuatnya sedikit bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Ferdian yang belum sadar kesalahannya.
Seperti sang kekasih yang sedang merajuk, Trishna mengikut gerak bibir Ferdian tanpa suara dengan wajah yang sangat teramat kesal.
"Kalau begini kapan kita bisa bicara Trish," ucap Ferdian lagi.
"Mau bicara apa? Sekarang bilang saja di mana posisi saya di sini biar saya segera angkat kaki keluar. Lagian lama-lama di ruang Tuan buat saya makin kesal," cerocos Trishna.
"Tunggu Roben datang dulu, lagian kenapa bisa kesal di sini?" jawab Ferdian dan kembali bertanya karena bingung dengan ucapan Trishna.
Biasanya Ferdian tidak sulit menghadapi seseorang karena dia bisa saja membaca pikiran mereka tetapi sangat berbeda dengan Trishna. Ferdian harus mempunyai stok sabar yang banyak untuk memahami wanita itu.
"Pakai tanya lagi! Kenapa sih saya harus dipindahkan dan kalau menolak gaji dipotong pula, ck seenaknya Tuan bisa berbuat begitu, apa Tuan tidak tau nilai gaji saya tu adalah harapan untuk keluarga saya," jawab Trishna ketus tetapi matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Ferdian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bukan dia yang rencanakan bagian potongan gaji itu tapi kalau tidak begitu pasti Trishna tidak akan mau berpindah ke pusat.
"Maaf kalau soal itu, tapi apa kamu tahu bekerja di perusahaan pusat gajinya lebih besar apalagi posisi yang akan kamu duduki," terang Ferdian hati-hati.
"Memangnya posisi saya apa? Jangan bilang sekretaris Tuan?" ucap Trishna sambil menyipitkan matanya.
"Kalau kamu mau jadi sekretaris saya bisa saja, lowongannya masih kosong ditambah lagi gajinya sekitar 50 juta sebulan," jawab Ferdian sambil tersenyum senang.
Glek!
Trishna menelan air liurnya tiba-tiba saja rasa kering pada tengkorokannya. Akan tetapi Trishna mencoba sekuat hati agar tidak tergiur, karena dia pasti banyak modus yang dilakukan oleh Ferdian.
'Ck lelaki mesum ini ingin menjeratku,' batin Trishna.
"Maaf tidak berminat, lowongan lain saja," jawab Trishna jujur dengan wajah datarnya.
"Hmm sangat disayangkan kalau begitu tunggu Roben sedikit lagi, dia akan datang dan memberitahu posisimu," ujar Ferdian tersenyum.
'Menarik sungguh menarik,' batin Ferdian.
Flashback on..
Roben menyaksikan kelakuan kedua resepsionis itu dan kebetulan sekali Ferdian memanggilnya lewat telepati.
"Rob, kamu sudah bertemu Trishna?" tanya Ferdian lewat telepati pikiran.
"Sudah tapi sekarang saya sedang menilai kedua resepsionis kita, kelakuan mereka sungguh keterlaluan Tuan karena merendahkan Nona Trishna," jawab Roben dalam pikirannya.
"Aku datang," sahut Ferdian.
Dalam sekelip mata Ferdian sudah berada di samping Roben dan langsung menuju ke arah Trishna.
Flashback end..
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments