Trishna sengaja mengajak Lena untuk makan siang bersama karena dia tidak ingin berduaan saja dengan Ferdian. Jujur dia masih merasa sakit hati terhadap Ferdian.
Saat ini mereka berada di sebuah restoran pilihan Trishna yang tidak jauh dari tempat dia bekerja.
"Pesan saja hari ini aku traktir kalian," ucap Ferdian ramah.
"Woah tidak sangka Tuan Galang sangat berbaik hati pada kami yang cuma karyawan bawahan," ujar Lena dengan mendramatiskan keadaan.
Trishna memutar bola mata malasnya, sifat genit Lena sungguh menyebalkan. Ditambah lagi pria yang duduk berhadapan dengannya saat ini sangat merusakkan moodnya.
Setelah memesan beberapa makanan siang, Lena dengan otak cerdasnya tidak henti-henti berbicara.
'Lumayan ditraktir bos ganteng apalagi status masih jomblo, hahh pengen rasanya aku memelukan Tuan Galang saat ini memyerahkan diriku padanya,' batin Lena yang didengar jelas oleh Ferdian.
'Ck temannya ini murahan sekali,' ucap Ferdian dalam hati.
"Oh iya Tuan, saya penasaran kenapa Tuan bisa mengajak kami makan? Lalu tidak mengajak manager Diana?" tanya Lena dengan gaya genitnya.
"Tadi aku memperhatikan bagaimana pekerjaan kamu, jadi aku tertarik untuk makan semeja dengan kamu berdua," sahut Ferdian sambil menggerutu di dalam hati karena semua pikiran kotor Lena dia bisa dengar.
'Modus!' batin Trishna menatap malas ke arah Ferdian dan Lena.
Ferdian menatap lekat wajah Trishna, dia merasa kesal karena tidak bisa mendengar pikiran Trishna tapi dia juga penasaran siapa Trishna sebenarnya.
Tiba-tiba Lena mencengkram pundak kiri Trishna mulai tersenyum aneh.
"Maaf panggilan alam, aku pamit sedikit kau jangan ke mana-mana, jangan tinggalkan Tuan Galang sendiri," ucap Lena lirih.
Trishna meringis kesakitan karena cengkram Lena sangat kuat. Dia cepat mengangguk agar Lena segera melepaskannya.
'Cengkraman tangannya sungguh kuat, aku jadi tidak yakin dia sebenarnya wanita asli atau tidak,' celetuk Trishna sambil mengusap perlahan pundak kirinya.
"Trish kau tidak apa-apa?" tanya Ferdian yang melihat gerak Trishna seperti menahan sakit.
Trishna tidak menjawab dan dia malah menatap ke arah luar restoran sehingga dia melihat sosok yang benar-benar dia kenal.
'Varel,' batin Trishna masih merasa sedih.
"Trish, hei kenapa kau mengabaikanku? Apa kau masih marah soal kemarin?" tanya Ferdian lagi yang masih berusaha berbicara pada Trishna.
Trishna tetap masih mengabaikan Ferdian. Tapi matanya masih menatap ke mana perginya Varel bersama wanita yang sedang berpegang tangan dengannya.
Trishna menghela nafas panjang, dia mengalihkan tatapannya. Kini dia hanya menundukkan wajahnya.
'Aku harus bisa melepaskan perasaan ini,' ucapnya dalam hati.
"Trish please jangan mendiamiku begini, hmm begini aku akan menaikan gajimu bagaimana?" tawar Ferdian masih tidak mengalah.
Trishna mengangkat wajahnya lalu menatap ke arah Ferdian. Tatapan terlihat datar tapi tiba-tiba berubah menjadi wajah yang mengukirkan senyuman.
Deg!!
Ferdian terpana melihat senyuman Trishna. Entah kenapa tiba-tiba Trishna mengukirkan senyumannya dan dalam sekejap senyuman manis itu berubah seperti senyuman mengejek.
"Apa semua dipikiranmu hanya uang yang mengikut maumu?" tanya Trishna dengan sinis. "Kalau begitu pikiran Tuan, berarti Tuan adalah pria kolot. Hmm mungkin orang akan tergiur tapi tidak dengan saya," lanjut Trishna dengan sebuah sindiran.
"Aku cuma mau kita berteman Trishna," ucap Ferdian mencoba jurus yang lain agar rasa penasarannya bisa terlunaskan.
"Terima kasih tapi maaf saya tidak ingin berteman dengan Tuan," jawab Trishna.
"Huhh ok begini. Aku minta maaf karena ucapanku kemarin menyakiti perasaanmu tapi aku tidak bermaksud begitu Trish percayalah," ucap Ferdian dengan penuh berharap agar Trishna memaafkannya.
'Sulit sekali mendekati wanita ini, apa aku patut meletakkan sihir padanya biar dia bisa patuh,' batin Ferdian yang sebenarnya sudah mulai habis kesabarannya menghadapi Trishna.
Dari sebelah timur dalam restoran, ada sepasang mata yang memperhatikan Trishna dan Ferdian sambil mengukirkan senyumannya.
'Sepertinya Tuan Galang tertarik kepada Trishna, hehh aku harus mengambil kesempatan ini untuk membujuk Trishna biar nanti bisa dinaikkan jabatan hehe,' ucap Lena dalam hati.
Lena kembali ke tempat duduknya tadi dengan wajah yang sumringgah. Lagi-lagi pikirannya sedang menyusun bagaimana untuk membujuk Trishna dan semua itu di dengar oleh Ferdian
Tiba-tiba terlintas sebuah ide brilliant di dalam otak Ferdian.
"Ehm ok sekarang Aku mau menyampaikan tujuan dari makan siang bersama hari ini. Sebenarnya tadi aku telah pikirkan semuanya," ucap Ferdian dengan wajah yang dibuat serius. "Tahniah untuk kalian berdua, kalian dinaikkan jabatan, besok silakan datang ke kantor pusat untuk memastikan posisi baru kalian," lanjut Ferdian lagi dengan bibir yang melengkung membentuk sebuah senyuman.
Trishna pulang dengan tubuh yang terasa sangat lelah. Setelah dia memasuki rumahnya hidungnya mengendus aroma masakan yang sangat menggoda ulat-ulat di dalam perutnya menarik kelaparan.
Trishna menuju ke arah dapur, rupanya sang Ibu telah menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Selamat sore Bu, Trishna sudah pulang," sapa Trishna pada Ibunya.
Sang Ibu langsung menoleh ke arah Trishna dan mulai tersenyum.
"Sore juga Trish, pergilah bersihkan diri dulu sebentar turun bantu ibu menata makan malam di meja ya," ucap Ibunya dengan nada lembut.
"Baiklah Ibu," jawab Trishna.
Sebelum Trishna meninggalkan sang Ibu, Trishna menyempatkan diri mengecup pipi sang Ibu.
Setelah Trishna telah keluar dari ruang dapur itu barulah Ibunya mengusap pipinya menggunakan bajunya untuk menghilangkan bekas ciuman Trishna.
'Ck mujur saja terima uang setiap hari kalau tidak aku sudah memotong bibirmu yang berani menyentuh pipiku cih,' gerutu Ibunya dalam hati.
Hanya karena uang sang Ibu sanggup berakting menjadi Ibu yang sempurna di mata anak-anaknya. Ibu Trishna begitu egois dengan anak-anaknya.
Setelah selesai makan malam. Trishna menawarkan diri untuk membantu Ibunya mencuci piring tapi sang ibu menolak.
'Eh kalau pun Trishna yang mencuci pasti tidak akan ketahuan lagian inikan dalam rumah heh mulai besok hanya di luar saja aku akan berlaku baik pada mereka,' ucap Ibu Trishna dalam hati.
"Ini kerjakan sampai bersih besok jangan lupa bangun pagi-pagi buat sarapan! Cih jangan karena hari ini Ibu mengerjai semuanya kalian berdua malah naik kepala," ketus Ibu Trishna.
Trishna dan Tiana yang berada di ruang dapur itu kaget dengan perubahan Ibunya yang kembali menjadi garang.
'Apa juga aku bilang, aneh kalau Ibu mau berubah tiba-tiba,' ucap Tiana dalam hati.
Ibu mereka meninggalkan mereka di ruang dapur. Trishna melihat ke arah Tiana yang wajahnya nampak datar.
'Rupanya itu semua akting saja,' batin Trishna sambil menghela nafas panjang.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Ibu mereka menghantar mereka hingga ke gerbang rumah mereka tapi tidak seperti di dalam rumah tadi. Saat ini sang Ibu tersenyum hangat sambil melambaikan tangannya ke arah Trishna dan Tiana.
Tanpa Ibu Trishna tahu ada sepasang mata yang memperhatikan gerak geriknya dan mulai tersenyum miring.
"Cuma akting saat di luar, aku penasaran Tuan akan menghajarmu seperti apa nanti."
....
Tiana telah tiba di sekolah barunya yang sudah hampir seminggu dia pindah ke sekolah ini.
Di sekolah ini Tiana mendapat ketenangan daripada gangguan seperti siswa pembuli. Dan untuk pertama kalinya Tiana juga mendapat teman baru cuma temannya itu sepertinya sangat kuat tidur di dalam kelas dan hobi sekali meminum jus anggur merah tapi berwarna sedikit kental.
Pernah satu kali waktu awal mereka berkenalan, temannya menawarkannya jus anggur miliknya dan Tiana menolak karena memang dia tidak menyukai buah anggur.
"Tia!" panggil seorang gadis yang terlihat berlari ke arahnya.
Tiana tersenyum lalu menunggu gadis itu sampai di mana tempat dia berdiri sekarang.
"Selamat pagi Bella, kau terlihat begitu bersemangat," ucap Tiana setelah gadis itu berada di sisinya.
Gadis itu merupakan teman pertama Tiana dan dia dipanggil dengan nama Bella. Rupa parasnya terlihat sangat putih bersih dan sedikit pucat.
"Heh, pagi juga Tia. Aku tidak sabar untuk duduk dimejaku, aku pengen tidur," sahut Bella dengan bersemangat.
Mereka berjalan beriringan sambil bercanda tawa dilorong koridor menuju ke arah kelas mereka.
'Semakin hari kau semakin membuatku menderita,' batin Bella.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Maryana Fiqa
jangan 2 suruhan Ferdian biar ada kawan Tiana
2025-01-14
0