Sebelum memasuki kamarnya, Trishna sempat mengambil kain dan es batu dari dapur. Setelah memasuki kamar barulah dia mengompres memar akibat pukulan sang Ibu tadi.
Trishna menatap tangan dan kakinya yang terlihat membiru, dia menghela nafas panjang. Trishna tidak habis pikir kenapa sang Ibu bisa berubah 360 derajat setelah Ayahnya divonis lumpuh bagian kaki.
Memang selama ini Ibunya sering main keluar rumah bersama teman-temannya setelah Ayahnya meneima upah dari hasil kerjanya yang diluar gaji. Tapi setelah kecelakaan itu berlaku Ibunya jarang keluar rumah kalau pun keluar hanya pergi ke supermarket di depan.
Sebenarnya Trishna turut sedih karena Ibunya tidak bisa keluar bertemu teman tapi harusnya mau bagaimana lagi, gaji Trishna memang lumayan besar tapi dia harus membayar hutang kepada bank karena kredit mobil dan rumah mereka hampir beberapa bulan tidak dibayar dan hampir saja disita bank.
"Apa aku harus mencari pekerjaan sampingan lagi," ucap Trishna lirih.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Trishna bangun awal untuk menyiapkan sarapan seperti biasa. Tapi setelah dia masuk ke dapur ternyata Tiana sudah berkutat di dapur.
"Tia, kamu buat apa? Kenapa belum bersiap?" tanya Trishna.
"Eh Kak Trish, Tia bantu masak sedikit biar Kakak tidak terlalu banyak bergerak, lagian itu loh tangan Kakak pasti masih sakit," sahut Tiana dengan senyuman di wajah polosnya.
"Sudah-sudah, ini biar Kakak lanjut kamu bersiaplah, biar setelah sarapan kita langsung jalan," ucap Trishna merebut perlahan pisau yang dipegang Tiana untuk memotonh sayur.
"Kakak yakin?" tanya Tiana lagi karena rasa berat membiarkan Trishna yang melakukan semuanya.
"Yakin Tia, kamu bersiaplah ya," sahut Trishna.
Akhirnya Tiana memasuki kamarnya untuk bersiap-siap, sedangkan Trishna dengan cekatan tangan yang cepat menyiapkan sarapan pagi mereka. Hampir 30 menit dia berkutat di dapur.
Setelah menyusun makanan di atas meja dan di bantu oleh Tiana karena kebetulan Tiana sudah selesai bersiap untuk ke sekolah barunya.
Ibunya keluar dari kamar dan membiarkan Ayahnya menggerakkan sendiri kursi rodanya. Melihar Ayah seperti kesusahan Tiana langsung berlari mendekati Ayahnya dan membantu untuk menuju ke meja makan.
"Oh, hari ini kamu sekolah lagi, Ibu kira kamu sudah berhenti," sindir sang Ibu pada Tiana dan menatap tidak suka padanya.
"Ya Bu, Tia masih sekolah, tinggal beberapa bulan lagi tamat," sahut Tiana.
"Wah baguslah, setelah tamat harus cari kerja biar semakin banyak uang jangan hanya jadi benalu di rumah ini," ucap Ibunya dengan kata-kata yang menusuk ke hati.
"Baiklah Ibu," sahut Tiana tertunduk karena sedih mendengar ucapan Ibunya.
Trishna menggenggam tangan Tiana di bawah meja agar Tiana tetap kuat menghadapi Ibunya yang menjadi super cerewet.
....
"Tuan ini data yang Tuan inginkan," ucap Roben sambil memberikan Ferdian sebuah berkas map.
Ferdian mengangguk dan membuka mengeluarkan isi map tersebut. Dengan teliti dia membaca semua data yang dia minta.
"Trishna Miera Lindel," ucap Ferdian membaca nama wanita yang berani memarahinya semalam.
"Benar Tuan dan di situ ada data tentang dia merupakan chief marketing di toko cabang kita Tuan yang tidak jauh dari pusat kota," terang Roben.
"Hmm aku harus bertemu dengannya lagi untuk memastikan hal itu," ucap Ferdian dengan senyum menyungging.
"Apa Tuan mau aku memanggilnya ke sini?" tanya Roben memastikan.
Ferdian menatap Roben dengan menyipitkan kedua matanya lalu beralih menatap data Trishna.
"Tidak, adakah pesta untuk karyawan dan semua karyawan wajib hadir supaya bisa mengenali diriku," ucap Ferdian lagi.
"Baiklah Tuan, saya pamit mengurusi semuanya," sahut Roben lalu menundukkan kepalanya.
"Tunggu!" ucap Ferdian tiba-tiba.
"Buat pesta pada hari minggu ini," lanjutnya lagi.
Roben terdiam karena hari minggu tinggal berapa hari saja, karena hari ini sudah masuk hari kamis. Memang aneh majikannya menurut Roben. Tapi mau protes juga tidak akan berguna jalan satu-satunya mengiyakan saja.
"Baiklah Tuan," sahut Roben lalu keluar dari ruang kantor Ferdian.
Ferdian kembali menatap data diri Trishna, semuanya ada tertulis di dalam kertas itu termasuk masalah keluarganya dan masalah adiknya.
Foto Trishna dan keluarganya juga dilampirkan bersama.
"Kita akan bertemu lagi, hehh entah kali ini kau berani seperti kemarin atau tidak," ucap Ferdian sambil tersenyum smirk.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Masniah Imas
/Ok//Ok//Ok/
2023-11-23
0