Bab 9

Trishna mengajak Lena untuk pulang secepatnya.

"Trish kita nikmati dulu sekejap saja nanti aku hantarin kamu pulang kok, biar aku beritahu Ibu kamu. Jangan khawatir," ucap Lena yang masih saja ingin santai kebetulan sebentar lagi ada acara cabut undi dengan berbagai jenis hadiah termasuk beberapa kalung berlian.

"Tapi Len, tadikan katamu kita pulang cepat. Aku sudah terlanjur janji dengan Ibu, bagaimana ini pasti Ibu akan mencurigaiku," sahut Trishna sedikit berkelit karena panik akan bertemu dengan Ferdian.

Lena tetap tidak mendengarkannya. Terpaksalah Trishna pulang sendiri kebetulan kunci apartemen Lena juga ada padanya.

"Len aku duluan daa," ucap Trishna lagi yang sangat terlihat terburu-buru.

"Hmm iyaa jumpa besok!" sahut Lena sedikit kesal karena Trishna harus pulang cepat.

Kini Trishna sudah berada di lantai dasar dan terlihat lantai dasarnya agak sunyi.

"Aneh kok bisa terlihat sunyi begini," ucap Trishna lirih.

Trishna meneruskan saja langkahnya sehingga tiba-tiba dia merasa bulu tengkuknya merinding Trishna langsung berhenti lalu menoleh ke belakang.

Dia tidak mendapati seorang pun berada di tempat itu sehingga dia kembali menghadap ke depan dia dibuat kaget sehingga Trishna sedikit berteriak.

"Akkhhh," teriak Trishna. Lalu coba mengelus dadanya untuk tenang.

Entah sejak kapan asisten Roben sudah berada di hadapannya. Trishna mengenal Roben karena sering berkunjung ke toko mereka 3 bulan sekali.

"Kamu terlihat kaget kenapa?" tanya Roben sambil mengerutkan dahinya.

Roben tidak mempunyai kelebihan dalam membaca pikiran manusia tapi dia bisa mendengar detak jantung manusia sama ada cepat atau lambat. Kali ini Roben sepertinya tidak mendengar detak jantung Trishna walaupun Trishna terlihat kaget.

"Maaf Pak Roben, saya cuma kaget karena sejak kapan Tuan Roben berada di sini padahal di sini tadi terlih-" ucapan Trishna terhenti.

Dia melihat ke sekelilingnya terdapat banyak orang lalu-lalang tidak seperti tadi.

"Mereka sejak kapan ... ?" tanya Trishna sambil menunjuk ke arah orang yang berlalu lalang.

"Maksud kamu apa?" tanya Roben kembali sambil tersenym setipisnya hingga Trishma tidak menyadarinya.

"Huhh tidak mungkin saya kelelahan Pak," jawab Trishna sambil menghela nafas panjangnya.

'Tapi aku yakin tadi tidak ada orang, aneh atau memang aku lagi kelelahan hingga berhalusinasi,' batin Trishna yang masih melihat ke arah keramaian hotel itu.

Roben semakin penasaran. Dia langsung saja menarik tangan Trishna dan memeriksa nadinya tapi tidak terdengar bunyi detakan jantungnya.

"Kamu manusia atau bukan?" tanya Roben serius setelah Trishna menarik paksa tangannya.

"Maaf Pak saya manusia biasa, tidak ada harta yang bisa dipertaruhkan. Maaf sekali lagi Tuan saya harus pergi," ucap Trishna cepat.

Entah kenapa dia merasa Roben aneh. Apalagi pertanyaannya tadi, Trishna merasa Roben salah satu pria mesum seperti Ferdian.

Oleh itu, Trishna harus menghindar ahar tidak merusakkan reputasi kerjanya karena banyak mata memandangnya saat ini.

"Tunggu," Roben menghalang Trishna untul pergi.

"Kenapa Pak? Ada yang saya bisa bantu? Hmm kalau untuk mau bantu Bapak sekarang saya tidak bisa karena saya harus pulang lagian Ibu saya sedang menunggu saya," sahut Trishna.

"Tuan Galang ingin bertemu denganmu, katanya tidak ada alasan untuk menolak, kalau kamu menolak dia akan memotong gajinya hingga 90%," ucap Roben tersenyum.

'Gila ya 90%!' batin Trishna menjerit.

Mau tidak mau Trishna terpaksa menyetujui untuk bertemu dengan Tuan pemilik tempat kerjanya daripada harus memotong gajinya. Bisa-bisa Ibunya akan memotongnya jika sampai hal itu terjadi.

Dengan langkah gontai Trishna menyusuli Roben memasuki lift khusus untuk menuju ke lantai paling atas. Pikirannya sudah membayangkan hal-hal negatif dan membuat semangat hilang.

Dalam perjalanan menuju ke tempat yang ditujukan, Trishna coba bertanya kepada Roben untuk menghilangkan kecemasannya.

"Pak, rasa-rasanya saya ada salah apa ya sehingga Tuan Galang hendak menemui saya?" tanya Trishna pada Roben.

"Saya dengar kamu pernah meneriaki dirinya, mungkin karena itu," jawab Roben sengaja membuat Trishna semakin cemas.

"Tapi Pak kan itu salah Tuan, coba deh buat di hotel ka atau di mana yang penting bukan tempat umum lagian Tuan Galangkan kaya masa tidak memilih tempat begitu dan itu loh wanita itu sekompleks dengan saya lagi ck," sahut Trishna tidak mau disalahkan karena memang semuanya salah Ferdian.

"Kamu selesaikan dengan Tuan saja, saya tidak bisa menjawab ucapanmu tadi," ujar Roben.

Mendengarkan ucapan Roben Trishna semakin kesal dan cemas. Pikirannya pasti Ferdian akan menjadikannya sebuah alasan untuk mempergunakan dirinya.

'Sungguh malang nasib ini,' batin Trishna sedih.

Kini mereka telah berada di depan sebuah pintu kamar. Roben mengetuk sebanyak tiga kali lalu membuka pintu kamar itu sebelum Ferdian mengizinkannya.

Trishna hanya mengikuti langkah Roben dengan tidak bersemangat. Setelah memasuki kamar itu, Trishna kembali tertegun melihat betapa mewah isi dalam kamar itu.

Mulut Trishna menganga karena takjub. Baru kali ini dia memasuki sebuah kamar hotel mewah dan mewahnya sangat di luar dari ekspektasinya.

"Kamu duduk di situ dulu, saya panggil Tuan di dalam kamar kerjanya," ucap Roben.

Trishna mengangguk dengan mulut yang masih terbuka.

"Indah sangat indah, seperti berada di surga ehh belum mati lagi dan belum tentu masuk surga," celoteh Trishna lirih.

Berapa menit kemudian keluarlah Ferdian bersama Roben menuju ke arah sofa di mana Trishna sedang duduk.

Trishna kembali menelan air liur yang susah payah untuk ditelan. Wajah Ferdian terlihat begitu pucat dan wajahnya seperti ukiran patung zaman kuno, terlihat sangat tampan dan berwibawa.

Trishna menggelengkan kepalanya karena sempat terlihat takjub melihat wajah Ferdian. Kini Trishna tertunduk setelah Ferdian duduk di hadapannya.

"Hai, kita ketemu lagi," sapa Ferdian.

Trishna mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah Ferdian yang sedang menyapanya. Terlihat Ferdian tersenyum padanya.

Trishna tidak ingin lama-lama berada di tempat ini lagian dia harus pulang cepat sebelum Ibunya curiga padanya.

"Maaf Tuan, ada apa Tuan hendak bertemu dengan saya? Kalau soal waktu itu saya meneriaki Tuan. Saya minta maaf kalau berani meneriaki Tuan waktu itu, tapi Tuan itu semua salah Tuan," ucap Trishna. "Lagian Tuankan kaya kenapa harus berbuat mesum di lorong sepi itukan jalan umum," lanjut Trishan kesal.

Ferdian tertawa kecil mendengar celoteh Trishna dan wajahnya terlihat kesal.

"Kamu lucu tapi aku bukan ingin menanyakan hal itu," ucap Ferdian sambil tersenyum.

Trishna memutar bola mata malasnya. Tapi dia tetap penasaran apa yang ingin Ferdian.

"Terus Tuan ingin mengatakan apa? Maaf Tuan saya tidak bisa berlama-lama," ucap Trishna jujur.

"Apa karena Ibumu? Kalau karena Ibumu menghambat perbicaraan kita, nanti aku akan memberinya sejumlah uang agar Ibumu tidak memarahimu," ucap Ferdian enteng.

Trishna melotot mendengar ucapan Ferdian karena sepertinya Ferdian merendahkan Ibunya.

"Apa maksud Tuan? Tuan ingin menyuap Ibu saya karena menghembat perbicaraan kita? Hehh Tuan pikir Ibu saya tidak ada harga diri sehingga Tuan hendak berbuat begitu hanya karena menghembat perbicaraan kita!" ketus Trishna merasa semakin kesal.

"Tidak maksudku bukan begitu," ucap Ferdian yang mulai salah tingkah karena ucapannya membuat Trishna merasa direndahkan.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Anonym

Anonym

banyak typo di bab ini tapi menarik 👍👍 tetap suka

2023-06-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!