Baru saja hendak menancapkan kedua taringnya dibagian tengkuk leher wanita itu, Ferdian dikagetkan oleh suara teriakan seorang wanita yang tiba-tiba saja berada di tempat itu.
'Ck, benar-benar mengangguku, siapa dia berani sekali dia,' ucap Feridan dalam hati.
Ferdian menoleh ke arah suara tadi. Dia menatap tajam ke arah orang yang berani menggangu rencananya. Rupanya seorang wanita cantik telah berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Wanita itu berjalan menuju ke arahnya dengan wajah yang datar seperti papan triplek. Tidak terlihat ketakutan di wjah wanita itu.
Dan anehnya lagi, Ferdian tidak bisa membaca isi pikiran wanita itu.
'Apa dia tidak berpikir?' tanya Ferdian dalam hatinya.
"Hei ini tempat umum jangan berbuat mesum di sini, pergilah sewa hotel kalau tidak mampu buatlah di dalam hutan," ketus wanita itu yang melewati pasangan kekasih itu.
Ferdian membiarkan wanita itu melewatinya, tapi rasa penasaran terhadap wanita itu sedikit menarik minatnya untuk mencari tahu. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang manusia yang tidak bisa dibaca isi pikirannya.
Ferdian coba memanggil Roben lewat telepati beberapa kali. Hampir 10 menit barulah Roben sampai ke tempat itu.
"Kau terlalu lama Rob," ucap Ferdian sedikit kesal.
"Maaf Tuan, aku tidak sadar tadi aku tertidur setelah minum minuman keras itu," jawab Roben sambil mengaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm kembalikan wanita itu ke tempatnya," ucap Ferdian lagi sambil menunjuk wanita yang tergeletak di atas jalan loronh itu.
Roben melihat ke arah wanita itu, dia tersenyum miring.
'Pasti Tuan telah bersenang-senang tadi,' batin Roben.
Roben segera mengendong wanita itu dan membawanya masuk ke dalam mobil di sebelah kursi sopir.
Setelah selesai menghantar wanita itu kembali ke klub tadi, Ferdian langsung saja memberitahu tentang wanita tadi yang berani meneriakinya.
"Rob, tadi aku ketemu sama wanita dan wanita itu berani meneriakiku. Dia menuduhku berbuat mesum," ucap Ferdian yang terlihat sedikit tersenyum sungging.
"Lalu apa yang Tuan senyumkan? Apa jangan-jangan Tuan sudah membunuh wanita itu?" tanya Roben dengan wajah curiga.
"Tidak, aku melepaskannya tapi kau tahu tidak ada sesuatu yang sangat aneh pada wanita itu," sahut Ferdian.
"Huhh mujurlah Tuan tidak membunuhnya, hmm apa yang aneh?" Roben berasa lega karena Tuannya tidak membunuh manusia dan kembali bertanya.
"Aku tidak bisa membaca pikirannya atau memang wanita itu tidak memikirkan sesuatu," sahut Ferdian.
"Mana mungkin manusia tidak berpikir Tuan, yang paling kuat berpikir itu manusia. Kalau tidak berpikir itu hewan," ucap Roben polos.
"Berarti dia wanita berbeda, kamu harus cari tahu tentangnya Rob," ucap Ferdian.
Ferdian memberi penglihatannya tentang wanita itu kepada Roben.
"Besok aku mau semua datanya di atas meja,"
Roben mengangguk dan melihat wanita itu melalui penglihatan yang diberikan oleh Ferdian.
'Lumayan cantik,' batin Roben.
"Rob, jangan coba menikung ya," ucap Ferdian karena mengetahui apa yang dipikirkan oleh Roben.
"Tidak berani Tuan," sahut Roben.
"Bagus,"
....
Trishna sampai ke kawasan rumahnya dengan jantung yang berdegup kencang, entah kenapa aura pria tadi sangat menakutkan dirinya.
Sebelum Trishna memasuki rumahnya, dia mengatur dulu nafasnya karena ini sudah hampir jam 10 malam. Pasti Ibunya akan memarahinya karena bersangka buruk.
Trishna memberanikan diri memasuki rumah dan benar saja Ibunya telah menunggunya di depan pintu rumah.
"Dari mana saja kamu hah! Pasti kamu buang-buang uang lagi!" bentak Ibunya sambil memegang kemoceng.
"Maaf Ma, tadi Trish harus menghantar dokumen penting manager Trish di apartemennya," jawab Trishna jujur.
"Jangan kamu bohong!" Ibu Trishna langsung saja merampas tas Trishna dan membongkar isinya.
Ibu Trishna mencari dompet Trishna, setelah dia menemui dompet Trishna, Ibunya langsung memeriksa dompet Trishna mencari uang yang ada dalam dompet Trishna. Tapi tidak ada uang biarpun selembar.
"Di mana uang kamu hah! Kamu pasti telah menghabiskan semuanya tadikan!" Ibu Trishna melempar dompet Trishna ke wajahnya dan mulai membentaknya lagi.
"Trish belum gajian Ma," jawab Trishna lirih.
"Kamu pasti menyembunyikannya!" ucap Ibunya.
Tanpa aba-aba Ibu Trishna langsung memukul Trishna menggunakan kemoceng yang di tangannya tadi.
"Maaf Ma, maaf Trish belum gaji benar Trish tidak membohongi Mama, sakit Ma," ucap Trishna sambil menahan sakitnya pukulan Ibunya.
"Anak tidak berguna!" pekik Ibunya.
Ibunya meninggalkan Trishna sendiri di ruang tamu, air mata Trishna telah membasahi pipinya. Kaki dan tangannya terasa sangat perih karena pukulan Ibunya.
'Kenapa Ibu tega sekali,' ucap Trishna dalam hati.
Tiana langsung keluar dari kamar setelah melihat Ibunya telah masuk ke kamar sendiri. Tiana berlari menuju ke arah Trishna. Air matanya tidak dapat dibendung lagi setelah melihat Trishan terduduk sambil menangis.
"Kakak," panggil Tiana dengan suara yang lirih tapi masih mampu didengar.
"Tia, kamu belum tidur," sahut Trishna sambil mengusap air matanya.
"Aku mendengar Ibu memarahi Kakak, maaf Tia tidak keluar menghentikan Ibu tadi," ucap Tiana merasa bersalah.
Tiana membantu membereskan isi tas yang dibongkar oleh Ibunya tadi, dengan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.
"Tia, kalau Ibu marah Kakak kamu jangan pernah menunjukkan wajah di depan Ibu, tadi itu sudah benar. Kakak tidak mau kamu jadi korban kemarahan Ibu," ungkap Trishna.
"Tapi Kakak sakit," Tiana menyentuh perlahan lengan Trishna di mana bekas pukulan Ibu mereka.
"Tidak apa-apa, ini hanya sakit sebentar saja, kita tidur ya. Oh ya, besok kamu sudah mulai sekolah lagi," ucap Trishan dan tidak lupa juga dia memberitahu tentang persekolahan Tiana.
"Kak, jangan buang uang demi Tiana," jawab Tiana sendu.
Trishna mengusap puncak kepala Tiana dan tersenyum, dia memberitahu Tiana untuk tidak berputus asa dalam akademiknya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Anonym
authornya bingung panggil mama terus panggil ibu lagi...
2023-06-22
0