Sejak pulang dari makan siang bersama Varel, wajah Trishna tidak terlihat gembira sama sekali. Matanya terlihat sedikit sembab. Aura yang tadi paginya bahagia berubah menjadi suram.
"Trish, are you okay?" tanya Lena pada Trishna yang terlihat melamun.
"Ya," jawab Trishna singkat lalu berjalan menuju ke arah pelanggan yang datang.
Trishna tidak banyak berbicara setelah dia mulai kembali bekerja. Walaupun begitu para pelanggan yang datang ke toko perhiasan mereka menjadi otoritas utamanya.
Memang ada karyawan yang bagian marketing tapi cara mereka menarik minat para pelanggan tidak begitu mempan, apalagi untuk menghadapi pelanggan toko perhiasan mereka yang dari kalangan orang-orang kaya di kota ini hanya Trishna saja yang bisa.
Trishna menghadapi sisa jam kerjanya dengan begitu sulit untuk mengatur emosi walapun dia berhasil tapi saat jam kerja telah habis dan tidak ada lagi pengunjung yang berada di toko itu, Trishna langsung berlari memasuki wc.
Trishna mengeluarkan rasa sesak di dadanya dan air mata yang tertahankan sejak pulang dari bertemu Varel. Tanpa sengaja dia melihat jam tangan yang diberikan oleh Varel.
"Kenapa kau masih beri harapan kalau kau tahu begini akhirnya," ucap Trishna lirih sambil menatap jam tangan itu.
Trishna membuka jam tangan itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang ada di dalam kamar wc itu. Sebelum keluar dari Trishna mencuci wajahnya lalu mengenakan kembali liptintnya dan mengenakan bedak wajah agar wajahnya tidak terlihat sedang bersedih.
Trishna keluar dari wc dengan senyuman yang dipaksakan di bibirnya karena dia tahu sekarang jam pulang pasti banyak karyawan berada di ruang khusus karyawan.
"Trish, kau mau langsung pulang?" tanya Lena yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Ya langsung pulang," jawab Trishna.
"Lah baru mau ajak beli baju untuk pesta besok," ucap Lena lagi.
Trishna menepuk dahinya, dia baru ingat besok ada pesta yang wajib dia hadiri dan benar baju untuk pestanya saja belum dia siapkan.
'Ck gara-gara fokus ke Varel aku jadi lupa, hampir saja aku pulang tadi kalau tidak besok harus pakai baju apa,' gerutu Trishna dalam hati.
Lena melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Trishna karena Trishna terlihat melamun.
"Hei, hei mau ikut tidak?" tanya Lena tadi memecahkan lamunan Trishna.
Trishna menatap Lena dan tersenyum.
"Ikut," jawabnya singkat padat.
Lena merupakan satu-satunya teman kerja Trishna yang sangat akrab dengannya dari awal mulai pada setahun yang lalu.
Mereka menghabiskan waktu sehingga jam 7 malam di mall yang tidak jauh dari tempat mereka kerja. Baju dan perlengkapan makeup Trishna titipkan kepada Lena karena tidak mungkin dia membawanya pulang.
"Maaf Len, merepotkan tapi kau tau bagaimana sifat Ibuku akhir-akhir ini huhh," ucap Trishna sambil menghela nafas panjang.
"Tidak merepotkan sama sekali, hmm banyak-banyak sabar ya Trish dan tetap semangat," sahut Lena. "Ayo pulang," lanjutnya kemudian.
Mujur saja Lena telah bertemu langsung dengan Ibu Trishna berapa bulan lalu. Dia saja kaget dengan sifat Ibu Trishna dan dia sangat mengerti kenapa Trishna sedikit takut untuk membawa pulang belanjaannya.
.
.
.
.
.
Hari minggu telah tiba, Trishna memberi alasan kepada Ibunya bahwa tokonya hari ini dipaksa lembur karena ada permintaan dari pelanggan.
Ibunya mengizinkan karena mendengar perkataan lembur, dia sudah membayangkan uang lembur biasanya lebih besar daripada uang hitungan harian.
"Tia, maaf untuk hari ini Kakak tidak bisa membantumu membersih rumah ini, tapi Kakak janji akan membawakanmu ole-ole," bisik Trishna pada Tiana yang terlihat murung.
Setiap hari minggu memang Ibunya sering menyuruh mereka membersihkan seluruh rumah tanpa ada habuk sedikit pun. Biasa Trishna dan Tiana akan melakukannya berdua dari pagi hingga siang hari tapi hari ini Tiana akan melakukannya sendiri.
"Tidak apa Kak tapi jangan lupa ya," sahut Tiana ikut berbisik.
Senyuman Tiana sudah kembali membuat rasa bersalah Trishna sedikit membaik walaupun dia masih saja khawatir.
Trishna keluar dari rumah dan menunggu taksi setelah melewati lorong. Tujuannya bukan ke tempat kerjanya tapi ke rumah Lena untuk berdandan mengikuti pesta hari ini.
....
Pesta dimulai jam 2 sore hingga jam 10 malam. Kini Trishna dan Lena telah sampai ke hotel di mana pesta itu di adakan.
Pertama kali dalam seumur hidup Trishna memasuki hotel semewah ini sehingga matanya tidak lepas mengitari sekelilingannya.
Mereka mengikuti petunjuk yang mengarahkan ke arah ballroom di mana pesta itu diadakan.
Dibalik ruangan khusus yang bisa melihat keadaan ballroom dari lantai atas. Ferdian sepertinya tersenyum sendiri dan anak matanya tidak melepaskan sosok yang membuat dia penasaran.
"Dia terlihat sangat cantik," ucap Ferdian perlahan tapi masih bisa di dengar oleh Roben yang berdiri di belakangnya.
Ferdian tidak henti-hentinya memuji wanita yang membuatnya penasaran itu.
"Rob, nanti setelah aku memperkenalkan diri, kita akan menyapa semua karyawan di bawah," ucap Ferdian yang masih tersenyum.
"Oh ya ada pemberian penghargaankan hmm setelah itu barulah kau memanggil wanita itu naik ke sini karena aku akan berbicara dengannya empat mata," lanjutnya lagi.
"Baik Tuan," jawab Roben. "Tapi Tuan jangaj lupa untuk meminum darah ini, saya takut Tuan tiba-tiba rasa haus dan lapar sewaktu keluar dari ruangan ini," lanjut Roben lagi.
"Jangan khawatie dari kastil saja aku sudah meminum 15 botol dan sebelum keluar aku nanti aku akan meminumnya lagi, huhh entah kapan rasa lapar yang menyakitkan ini berakhir," ujar Ferdian.
"Tuan saya bisa carikan manusia untuk Tuan," tawar Roben.
"Aku mau wanita itu, dia terlihat sungguh menyelerakan," Ferdian menatap Trishna dengan tatapan yang berubah menjadi tatapan lapar.
Ferdian melonggarkan dasinya dan menelan air liurnya. Dia terbayang meminum darah Trishna apalagi baju yang Trishna gunakan terbuka di bagian pundaknya.
"Ck, Rob beri aku darah-darah itu," ucap Ferdian dengan suara serak.
Wajah Ferdian terlihat semakin memucat dan bola matanya memerah, taringnya hampir saja keluar karena bayangan akan darah segar manusia terlintas di dalam pikirannya.
Roben dengan cepat membantu Ferdian untuk tenang sebelum dia keluar memperkenalkan dirinya. Roben melihat sendiri bagaimana rakusnya Ferdian menghabiskan 20 botol stok darah binatang yang dia bawa dari kastil mereka.
Setelah meminum darah sebanyak itu, Ferdian sedikit melemas. Dia berdiri dari duduknya dan sempat menatap sekilas wajah Trishna lalu berjalan menuju ke ranjang yang telah di sediakan.
"Rob aku istirehat sedikit. Setelah giliranku tiba untuk keluar kejutkan aku jika aku masih tertidur," pesan Ferdian pada Roben.
"Baiklah Tuan," sahut Roben.
"Trishna," Ferdian memanggil Trishna sebelum memejam matanya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments