Bab 3

Keesokan harinya, Trishna terpaksa menaiki taksi setelah melewati lorong sepi. Mujur saja di tempat mereka tidak ada pria-pria nakal yang suka menganggu para cewek.

Trishna mengusap keringat yang membasahi dahinya karena berjalan sedikit jauh dari tempat biasa dia sering menunggu taksi.

Karena kalu dia menunggu taksi di depan rumahnya pasti tarifnya mahal tapi kalau keluar dari kawasan perumahan pasti tarifnya sedikit rendah.

Trishna terpaksa berjalan kaki karena uangnya untuk membayar taksi pergi pulang telah di ambil oleh sang Ibu kemarin.

Kini dia terpaksa menggunakan uang makannya yang memang dia tidak menyimpannya di dompet karena dia sudah menduga Ibu akan sering memeriksa paksa dompet miliknya.

Hari ini Tiana mengambil libur sementara Trishna mengurusi kepindahannya. Walaupun berat untuk menyuruh Tiana tinggal di rumah karena akan jadi korban pelampiasan amarah sang Ibu, tapi Trishna tidak ada pilhan lain apalagi dia juga kekurangan uang.

"Mudah-mudahan Ibu tidak memukuli Tia seperti waktu itu," ucap Trishna lirih.

Trishna tiba-tba saja terpikir tentang Tiana yang dia tinggalin di rumah, rasa bersalah mulai menyeruak di dalam dirinya.

Trishna berjanji dalam hati untuk mendapatkan uang hari ini agar urusan pindahan sekolah Tiana lancar.

Sampai di tempatnya bekerja, Trishna langsung memasang wajah ceria, dia tidak mau ada yang mengetahui masalah keluarganya.

Trishna di sapa seperti biasa oleh karyawan lain. Dia berjanji akan menembuskan penjualan hari ini melebihi target dan kebetulan hari ini ada pencairan bonus mereka, Trishna merasa bersyukur mendengar berita itu.

Kini jam sudah menunjukkan jam 3 siang, Trishna pamit duluan karena harus mengurusi sekolah adiknya. Kebetulan ada sekolah yang dekat dengan tokonya hanya jarak 10km dari tokonya.

Mungkin Trishna akan mencoba memasukkan adiknya di sekolah itu walaupun sekolah itu terbilang sedikit sederhana tapi apalagi yang bisa Trishna lakukan. Dia tidak ingin Tiana putus sekolah.

Selesai urusan perpindahan sekolah Tiana, Trishna langsung saja ingin pulang ke rumah tapi dia mendapat panggilan telepon dari manager tokonya.

"Hello Bu Diana," ucap Trishna setelah menjawab telepon dari managernya yang dipanggil Diana.

"Hello Trish, maaf menganggumu jam-jam begini, tapi apakah kamu masih di luar?" sahut Diana dan bertanya

"Tidak apa-apa Bu, saya masih ada di luar Bu, kalau boleh tahu ada apa ya Bu?" tanya Trishna kembali.

"Syukurlah kalau begitu, maaf Trish kamu bisa kembali ke toko tolong ambilkan berkas yang ada di meja saya, ada file berwarna biru. Kamu bantu saya hantar ke apartemen saya saya karena besok saya tidak masuk ada rapat bersama CEO toko," ucap Diana lagi.

"Oh, baik Bu. Ini saya menuju ke toko, tunggu ya Bu," sahut Trishna dengan wajah melasnya.

"Terima kasih Trish," ucap Diana lagi.

Setelah manager mematikan panggilan barulah Trishan berani menggerutu.

"Ck, diakan punya mobil kenapa tidak datang ambil sendiri, sangat menyebalkan cih mujur manager," Trishna terlihat begitu kesal.

Apalagi perjalanan menuju ke apartemen Diana memakan waktu sejam karena jalanan sore agak macet. Bukan satu kali Trishna di suruh datang ke apartemen Diana malah sudah keseringan.

Awalnya Trishna kira mungkin karena Diana capek menyetir mobil tapi setiap kali dia datang ke apartemen Diana pasti Diana sedang minum-minum bersama teman-temannya dan hal itu yang membuat Trishna kesal setengah mati.

"Aku sumpah kau turun jabatan," gerutu Trishna.

Sepanjang perjalanan Trishna terus menggerutu kesal dengan sang manager tidak bisa dibendung lagi.

....

Setelah selesai jam kantor, Ferdian mengajak Roben untuk pergi ke klub yang berada di tengah kota.

Jujur saja Roben agak kaget mendengar ucapan Ferdian karena selama ini Ferdian tidak pernah tertarik dengan hal-hal aneh menurutnya.

Ya memang klub itu agak aneh, karena para manusia memilih untuk bermabuk-mabukan dan menarik dengan pakaian yang kekurangan kain.

Roben terpaksa mengikuti kemauan Ferdian karena terlihat di wajah Ferdian yang sangat antusias.

"Tuan apa Tuan tahu klub itu tempat apa?" tanya Roben mencairkan suasana yang agak aneh menurutnya.

"Tempat hiburan dan banyak wanita cantik," sahut Ferdian polos karena memang itu yang dia lihat di video kemarin.

"Hmm Tuan ingin cari kekasih?" tanya Roben lagi yanh terlihat bingung.

"Bukan tapi ingin mencicipi saja," jawab Ferdian.

Uhukk...uhukkk...

Roben langsung terbatuk-batuk mendengar jawaban Ferdian dan pikirannya sudah mulai traveling ke mana-mana.

Ferdian mengabaikan Roben yang terlihat senyum-senyum sendiri itu, karena di pikirannya saat ini dia akan coba mencicipi sedikit darah dari para wanita klub itu.

Dia sudah tidak bisa menahan rasa menginginkan darah manusia, jadi dia berpikir mungkin di sana bakal ada yang menarik menurutnya.

Setelah sampai di klub, Roben segera memesan ruang vip untuk mereka karena Roben tidak mau ada virus yang bakal mengenai Ferdian.

Salah satu pelayan klub menunjukkan ruang yang telah dipesan. Ferdian kagum dengan suasana kamar itu yang bisa melihat lantai bawah lewat kaca di depannya saat ini.

"Kau pintar mencari posisi terbaik Rob," puji Ferdian.

Mereka dihidangkan dengan beberapa jenis minuman keras yang termasuk dalam paket vip kelas 1. Tapi setelah menghabiskan beberapa botol Ferdian hanya merasa kepalanya sedikit berat dan Roben telah tepar di tempatnya.

Sewaktu Ferdian menatap ke luar lewat kaca di depannya saat ini, dia melihat ada wanita yang berpakaian sangat minim melihat ke atas tepat ke arah Ferdian.

Wanita itu tersenyum genit, membuat Ferdian penasaran dengan rasa darahnya, dia keluar dari tempat itu dan turun menuju ke arah wanita itu.

Ferdian mendekati wanita itu dan mengajaknya untuk bermain di luar.

"Hai, kita kenalan di luar yuk," ajak Ferdian tanpa basa basi lagi.

Ferdian menelan salivanya ketika menatap ke arah leher jenjang wanita itu.

"Ke hotel?" tanya wanita itu sambil memainkan tangannya pada kerak kemeja Ferdian.

"Jangan, ke lorong sepi saja biar cepat," sahut Ferdian dengan jujurnya.

Tapi sayangnya wanita itu berpikir ke arah lain, dia mengira Ferdian tergoda dengan tubuhnya yang sangat menarik dan seksi malam ini.

"Ok, baiklah aku tahu di mana ada tempat sepi tanpa ganggu jam-jam begini," ucap wanita itu seraya menarik tangan Ferdian keluar dari klub itu.

Wanita itu menahan taksi lalu memberitahu alamat yang ingin mereka pergi. Dalam mobil taksi itu Ferdian tidak berhenti menatap leher wanita itu.

Dengan sengaja wanita itu menghapus ruang antara dirinya dan Ferdian.

"Oh ya, namamu siapa?" tanya wanita itu sambil meliuk-liukkan tubuhnya seperti cacing kepanasan.

"Galang," jawab Ferdian.

Di dunia manusia Ferdiab sering menggunakan nama Galang karena terlihat lebih normal untuk seorang yang bukan manusia.

"Nama yang bagus," ucap wanita itu lagi tidak henti-hentinya memainkan jemari panjangnya di bagian kerak baju kemeja Ferdian.

Tanpa sadar mereka telah sampai, sopir taksi berbicara dengan nada sedikit besar karena sudah lebih dari 5 menit mereka belum kunjung turun dari mobil taksinya.

"MBAK, OM KITA SUDAH SAMPAI," ucap sopir taksi itu.

"Oh maaf, ini bayarannya," Ferdian mengulurkan uang merah 5 lembar.

"Maaf Om, ini kebanyakan totalnya cuma 100 untuk 2 orang," ucap sopir taksi itu.

"Tidak apa ambil saja," Ferdian menyerahkan pada sopir itu dengan paksa lalu menarik wanita itu keluar bersamanya.

Mata wanita tadi sempat berbinar melihat uang yang dikeluarkan oleh Ferdian.

"Eh tempatnya di lorong sana Lang," ucap wanita itu kembali menarik tangan Ferdian.

Sewaktu sampai di lorong sepi itu, Ferdian langsung membuat wanita itu pingsan dengan meniup wajahnya.

"Sedikit saja aku mau rasa darahmu," bisiknya di telinga wanita tadi yang telah dibuat pingsan.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

StarDC

StarDC

semangat upnya ya kak😁

2023-06-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!