Ada yang mengaitkan kalau angka tiga belas itu adalah sebuah angka yang sial. Bagi yang mendapat semat dalam nama, ruangan atau hal apapun bisa jadi mendapat kesialan atau hal buruk yang menimpa. Buku setan di itu banyak yang mengincar, terutama bu Pentol yang memasuki ruangan kelas 7 G.
Listrik tidak menyala membuat kedatangan bu Pentol tidak terlalu jelas masuk ke dalam kelas. Cuaca di luar mendung gelap. Angin membawa air hujan masuk ke dalam kelas, anak perempuan kesulitan menutup kaca jendela yang besar dan berat.
Bunyi pukulan penggaris kayu panjang membuat pusat perhatian murid tertuju ke depan kelas. Para siswa siswi hening melihatnya. Bu kepala sekolah memberi tugas dan melakukan pemerikasaan tas. Diamenegaskan para murid tetap fokus belajar meski dia berkekeliling lorong meja membuka satu-persatu kursi.
“Waduh bagaimana ini? kalau buku tengkorak ketauan nanti teman-teman berpikir yang macam-macam” gumam Petrok.
“Dia memakai jaket, menyembunyikan buku yang terselip di dalamnya. Berjalan meminta ijin peri ke UKS, tangan kepsek yang mau menyentuh bagian perutnya terhenti mendengar suara teriakan Yumi. Dia tau apa yang akan di lakukan Petrok, terutama si pemilik buku yang menginginkan miliknya kembali. Kepala kepsek menoleh dengan cepat Petrok berjalan ke luar kelas.
“Ada apa Yumi?”
“Maaf bu, saya pikir tadi tikus di bawah kursi saya..”ucap Yumi sedikit gugup saat dia mendekatinya.
Aroma khas anyir, suara yang tidak jelas seolah terselip dari topinya yang mirip penyihir. Dia tersenyum meraih pulpen dari tangannya.
“Coba ibu lihat hasil kerja mu. Ini seharusnya di ganti huruf M” bu Pentol melingkari kata H sama dengan hati di ganti menjadi Mati.
“Maaf bu…”
Kepergian bu Pentol bagai bayangan yang lenyap dalam gelapnya ruangan kelas, yang terdengar hanya jubahnya yang panjang terseret di lantai. Dia mencari Petrok, buku tengkorak itu miliknya meskipun buku usah yang terlempar di masa kini di temukan oleh yang lain. Petrok mengetahui kepsek mencarinya di dalam UKS. Dia bersembunyi di balik ruangan lain perlahan menuju ke dalam ruangan olahraga.
“Dimana buku ini aku sembunyikan?” gumamnya.
Dia menyimpan ke dalam loker olahraganya, buku itu di timpa baju olahraga dan handuk miliknya. Berlari masuk kembali ke ruangan kelas, dia membisikkan ke Yumi dimana letak buku itu berada. Bel pelajaran selanjutnya,
Kelas free les, guru tidak masuk menambah semangat murid-murid yang malas belajar. Kapal terbang yang terbuat dari kertas berterbangan. Tawa, canda, suara berisik keributan di kelas terhenti akan kedatangan guru piket menginstruksi mereka ke dalam perpustakaan.
“Loh bukannya perpus tutup? Kok bu Herli sibuk menulis? Terus baju yang dia kenakan berganti. Apa dia tadi pulang dulu ya?” gumam Petrok.
Petrok memilih beberapa buku bacaan, dia memberikan buku ke bu Herli untuk di tulis ke dalam daftar buku pinjaman di kartunya. Lengan baju nya yang sedikit tersibak memperlihatkan tanda yang sama di buku tengkorak.
“Masih ada lagi buku yang mau kamu pinjam?"
“Tidak ada bu..”
......................
Suasana kelas 8 B di kejutkan lagi dengan keanehan Dira yang selalu masuk terlambat ke dalam kelas. Hari ini dia menyapa ibu guru dan berbisik sesuatu, raut wajah bu Hena berubah terkejut. Dia ketakutan berjalan pergi ke luar kelas. Dira tidak duduk di kursinya, dia duduk di bekas kursi Eno. Para siswa-siswi yang melihat gelagat anehnya menahan rasa takut meneruskan kembali mengerjakan tugas. Sejak hari itu bu Hena tidak terlihat lagi.
Kedatangan Yura dan Inem mengetuk pintu rumah Hena, mereka juga memanggil di dalam telepon tapi nomornya tidak aktif. “Kemana bu Hena ya bu? Apa lagi nggak di rumah?” tanya Yura melihat dari luar kaca jendela.
“Yasudah besok saja kita datang lagi bu..”
“Tunggu bu, saya lihat bu Hena duduk di kursi.”
Hena terlihat sedang menggendong anaknya, dia tersenyum mendekati dari dalam ruangan. Yura terkejut menarik Inem berlari. Suara panggilan ponsel Yura terbaca nama bu Hena, tangannya bergetar ketakutan mengangkat menunggu dia berbicara.
“Halo bu Yura, saya lagi di rumah ibu saya. Ada keperluan apa ibu menelepon?”
Suara yang di loudspeaker itu menambah ketakutannya, penampakan sosok mirip Hena yang ada di dalam rumah. Dia langsung menutup telepon mengajak Inem pergi. Hena mengirimkan pesan singkat, dia ingin memberitahu apa yang terjadi padanya sehingga meminta cuti sakit selama satu minggu.
...🔥🔥🔥...
~Kepada: bu Yura
Saya mendengar bisikan dari Dira, anak itu seperti kerasukan meracau. Dia mengatakan anak saya di incar makhluk halus. Saya memastikan sendiri Kanza demam tinggi, wajahnya menghitam dan berteriak. Saya rasa ini ada kaitannya dengan murid yang kerasukan atau setan yang mengikuti saya itu menempeli Kanza. Ini alamat rumah ibu saya kalau ibu mau datang ya.
Jln. Seroja gang nomor 6
...🔥🔥🔥...
Membaca isi pesan dari hena, dia meyakini kebenaran yang tidak bisa di tutupi lagi. Kaitan sekolah berhantu dan kejanggalan lain. Yuri mengajak Inem menemui Hena sesuai alamat yang di tuju. Rumah orang tua Hena ramai kedatangan orang-orang yang mengobati anaknya. Yuri dan Inem melihat keadaan Kanza yang kerasukan.
Dia bertingkah merobek bantal dan menyakiti dokter yang mengobatinya. Kedatangan tamu adalah dua orang dukun yang memakai baju hitam. Mereka membawa benda-benda aneh di tambah parfum yang menyengat beraroma melati. Pria itu menyentuh kepala Kanza yang mengeluarkan suara mirip orang dewasa.
“Siapa kau berani mengusik kesenangan ku? Ahahah!”
“Pergi kau dari tubuh anak ini!”
“Kau sama dengan ku. Kekuatan mu akan lenyap bersama tubuh mu! Ahahah!”
Sarung tangan hitam yang di kenakan pria itu terbakar. Dia secepatnya melepaskan, wanita yang mendampingi menyiram air dari dalam botol yang mereka bawa. Kanza norma kembali namun pria itu memegang kepala hena lalu menyiram dengan sisa air di dalam botol. Hena menjerit kesakitan, dia tidak sadarkan diri di angkat ibu dan teman-temannya. Percakapan singkat mengenai sosok lain yang mengganggu Hena mengikuti sampai ke rumahnya. Pria itu memberikan buntalan benda hitam yang di ikat dengan benang merah.
Melangkah keluar pintu, si dukun pria memuntahkan darah, Dia menekan dada di bantu wanita yang membukakan pintu mobil. Sebelum pergi dia berpesan pada wanita yang memakai topi penyihir.
“Apa yang bapak maksud itu ibu pentol?” tanya Yuri mengikuti dari belakang.
“Kami harus pergi..” ucap si wanita menutup pintu.
Yuri dan Inem berpamitan dengan bu Wati. Ketakutan mereka mengingat ucapan si dukun. Inem menulis pesan di layar ponsel mau memberitahu tentang bu Hena. Namun Yuri melarangnya meminta dia menghapus pesan.
“Untuk situasi sulit ini kita harus hati-hati dalam bertindak bu..”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
europa
asrama udah resmi gak? kebiasaan si pentol suka sukanya gitu kasih peraturan
2023-06-28
0
bidan desa
kalau tau sekolah atau kepsek jadi hantu ya saya pindahin anak
2023-06-27
0
gibran 🐢
gimana bu jasmin ya? apa memang jadi hantu ganggu rinal dan murid?
2023-06-27
0