Yumi di ganti dengan Jupentus yang berlagak sombong meminta untuk masuk ke dalam. Tanpa aba-aba dia berjalan secepatnya dan juga tidak membawa senter. Berpikir di dalam terang menderang berbalik gelap gulita, dia berjalan meraba dinding akar dedaunan yang seperti hidup. Suara berbayang sulit terdengar, jeritan keras mirip kuntilanak menakuti.
Labirin itu tidak hanya menguji adrenalin melalui ketakutan terbesar memompa jantung lebih keras terpacu. Semakin cepat jalannya maka sosok makhluk yang berjalan di belakangnya semakin cepat pula. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Tangan yang meraba dinding akar merasakan benda lunak yang bertaring. Sebuah gambaran rahang terbuka lebar, dia menarik tangannya memindahkan ke sisi lain.
“Jupen, kau mau bermain dengan ku tidak?”
Bisikan suara nyaring di depannya. Sepasang mata yang menyala mencekam situasi kilatan langit berubah berwarna merah. Jupentus berbalik arah, dia melayangkan bom peledak di udara. Dia tersenyum bahagia melihat peledaknya bisa di gunakan.
Beberapa detik kemudian suara angin menggulung menggeser labirin, Jupentus berlari ke ujung jalan yang dia kira adalah jalan keluar.
Dia terkejut di depan ada ibu kepala sekolah tersenyum mengulurkan tangannya. “Jupentus, belum saatnya kau menyerah. Tapi kalau memang ini keputusan mu, ibu akan mengabulkannya. Tutup mata kamu Jupentus..”
Suara kepsek mendengung tidak tahan membuat dia menutup mata dan telinganya.
Jupen berdiri di tengah Aula, dia melihat dirinya sendiri masuk ke dalam labirin. Tidak ada yang melihat dan mendengar suaranya. Dia tidak menyangka bermimpi buruk sampai akhirnya dia melihat Yumi yang membalas tatapannya begitu serius.
“Jupentus, kau harus bangun. Bu Pentol sedang mempermainkan kita semua. Ayo buka mata mu Jupentus!”
Suara Yumi bersahutan bagai di dalam ruangan kosong yang panjang. Dia kembali membuka mata melihat dirinya tertidur di depan pintu. Bu Sarma membantunya berdiri, langkah terbata merasakan sakit pada tangannya.
Akar nyata menyayat melukai telapak tangan. Dia kesakitan menghembus luka, tubuhnya yang menggigil kedinginan itu di bawa ke ruang UKS. Luka di obati dan suhu kamar di bertambah hangat di tambah selimut tebal yang berlapis.
......................
Labirin terlihat menyala dari gedung tapi di dalam di selimuti kabut kegelapan. Tawa yang tidak pernah berhenti, makhluk-makhluk aneh berterbangan. Kegiatan di hentikan, para siswa ketakutan masuk ke kamar sesekali menoleh melihat ke labirin.
Malam pertama di dalam asrama, ruangan bersuhu dingin meski tidak ada AC yang menyala. Kipas angin tidak di hidupkan bahkan jendela juga tidak terbuka lebar. Para murid menarik selimut rapat-rapat, beberapa di antara dari mereka memikirkan nasib Tejo.
“Ssthh Sib! Uy! Gimana jadinya si Tejo?” ucap Sidik melemparkan bantal ke arahnya.
“Aku nggak bisa menjawab apa-apa. Jantung ku ini serasa mau lepas. Nggak terbayang masuk ke dalam labirin berhantu itu. Kepala sekolah juga seram banget!” jawabnya lebih keras.
Mereka bersembunyi di balik selimut melihat langkah kaki dari balik pintu yang ruangan terang. Sosok bu kepsek membuka pintu. Suara yang tidak jelas terdengar, dia berjalan menyeret jubah hitamnya yang panjang. Topi berbentuk penyihir tidak terlepas dari kepala, Nasib sudah meneteskan air di dalam celananya. Dia semakin menggigil ketakutan menahan tetesan selanjutnya.
Melihat pintu tertutup, dia berlari ke dalam kamar kecil. Lampu padam, suara langkah yang sama dari bu kepsek tadi mulai terdengar di salah satu toilet. Dia berteriak ketakutan, menggedor pintu yang terkunci.
“Tolong! Arggh!” teriaknya tidak henti.
Lampu menyala, dia pingsan melihat Tejo berdiri di belakangnya. Kejadian aneh di malam itu, Tejo yang tiba-tiba muncul setelah di nyatakan hilang di labirin.
“Kamu manusia atau hantu?” Tanya nasib menekan hidungnya.
“Sakit! Ya aku manusia. Nggak pake pencet hidung ku ya nanti makin masuk ke dalam!”
“Coba kamu ceritakan duduk masalah dan semuanya sampai kau ada di dalam toilet menakut-nakuti si Nasib” ucap Jepi berlagak mengusap dagu seperti orang dewasa.
“Aku nggak ingat gimana bisa kembali. Kalian harus berhati-hati, labirin itu di penuhi hantu dan gangguan yang mengerikan!”
“Ihh! Aku nggak mau masuk!” ucap Nasib menutup wajahnya dengan selimut.
Orang bisa ngelindur sambil tidur sama halnya mengigau yang mengganggu orang yang tidur satu ruangan dengannya. Nasib malam meracau membuat orang di dalam kamarnya kebisingan. Jepi mengguncang keras tubuhnya, dia membuka mata bertanya mengapa semua orang yang ada di karma mengerubunginya.
Murid-murid yang belum terbiasa tinggal di asrama, Mengharuskan mereka hidup mandiri dan lebih disiplin. Banyak yang terlambat bangun, mengantri kamar mandi selama berjam-jam hingga harus tertib sarapan pagi sesuai jam yang di tentukan.
Jam 6:30 semua murid berkumpul di lapangan. Siswa-siswa yang ketinggalan melewatkan kantin yang kembali di tutup dan kegiatan senam pagi. Menegakkan disiplin militer, absen kosong jam senam pagi akan di berikan hukuman dan sanksi.
Mata-mata panda, lingkar hitam di tambah nyanyian cacing yang merdu. Banyak siswa yang tertidur pada saat jam pelajaran dan berlari masuk ke kantin berdesakan saat bel istirahat berbunyi.
“Jadi kira-kira kita menelan makanan selama lima menit dan siswa sepuluh menit kita manfaatkan untuk tidur” ucap Teno mulai memakan makanan tanpa mengunyahnya.
“Nggak boleh gitu, lambung bias bocor halus kalau menelan makanan tanpa mengunyah. Jangan cari penyakit deh Ten!” kata Sidik menimpali.
Ruang pelajaran hening, banyak murid menguap memikirkan bagaimana melewati labirin atau melewati malam di asrama berhantu. Di perpustakaan pertemuan Yuma bersama teman-temannya membahas buku setan dan mantra yang di ucapkan anak 8 B di dalamnya.
“Kalian merasa nggak sih bukan buku ini aja berhantu tapi kepala sekolah pun berhantu. Lihat aja caranya berjalan dan suaranya yang menyeramkan” ucap Obe.
“Ya benar Be, tapi kita tidak boleh menyebarkan ke anak lain. Kalau bu kepala sekolah dengar nanti kamu mau di panggil menghadap berdua duduk di ruangannya?” Kokom melihat ketakutan Obe menggelengkan kepala.
“Nggak! Nggak mau!” jawabnya histeris.
“Sttthh! Jangan berisik. Aku membawa beberapa gambar dari sekolah lalu. SSMS yang ada gambar bu pentol bersekolah disini.”
Foto-foto yang di tunjukkan Yumi semuanya ngeblur tidak terlihat apapun. Tapi ada nama yang tertulis di dalam buku itu. Nama Pentol yang ada symbol aneh tepat di saat murid 8 B mengucapkan mantra.
Eno, Tora dan Amat yang memegang pulpen tengkorak. Amat yang selamat walau memegang benda itu namun terlihat aneh dan Petrok yang tampak biasa saja karena tidak menyentuhnya. Tetap saja semua murid di ganggu penampakan makhluk di gedung sekolah.
“Langkah pertama memecahkan dinding untuk mengambil jasad Miskah yang di semen di gedung olahraga.”
“Tidak Yumi, kita tida tau pasti ada mayat atau tidak di dalamnya. Aku tidak mau kita kena masalah” Kokom bersikeras tidak menyetujui.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Seroja
keinget jaman sekolah dulu emang banyak penampakan hantu
2023-06-26
0
nina
nggak berani.
2023-06-26
0
Jogyakarta
topi penyihir kebesaran kah? hu muridnya kerasukan. dira sih maksain ya buat balik lagi. seharusnya ngikut kata si Yumi
2023-06-26
0