Labirin terbuka lebar membentang jebakan, bekas jalan membingungkan menjebak orang yang masuk ke dalamnya. Kaki-kaki mungil tipuan setan mendo-mendo jelmaan wujud siswa-siswi menarik perhatian manusia. Si kepala sekolah hantu mulai memberikan titah pengumuman pada seluruh murid tanpa terkecuali.
Di tengah bencana yang melanda, mau tidak mau orang tua dan wali murid mematuhi peraturan yang di tegakkan kepala sekolah. Berkisar sepuluh orang yang putus sekolah. Mereka yang kehilangan rumah, tidak sanggup jika menambah biaya uang iuran sekolah dan asrama. Banyak hati orang tua ketar-ketir tidak membayangkan bagaimana nasib anak-anak mereka. Minggu depan hari penetapan apakah mereka benar-benar siap melepaskan anak-anaknya.
Masalah keamanan yang kritis itu masih di perdebatkan. Namun kembali ke pokok masalah, tidak ada lagi yang bias menentang atau menolaknya. Cerminan pengalaman kejadian yang terlewat di tutup dalam rangkaian kata kecelakaan dan kematian yang di sengaja para murid itu sendiri. Trauma, cedera fisik dan harapan tidak melihat penampakan lagi tidak akan dapat di hindari.
Koper, tumpukan tas, plastik, bekal, kebutuhan pribadi dan data lengkap setiap murid. Tidak ada murid yang di perbolehkan menggunakan ponsel, hanya ada nomor ponsel yang di cantumkan jika pihak sekolah menghubungi atau memberikan laporan mengenai peserta didik.
Para wali kelas bertugas mengomando setiap muridnya masuk ke kamar, naik di setiap kasur yang telah di berikan nama dan nomor induk kesiswaaan. Mereka di beri ketegasan agar menjaga barang pribadinya masing-masing. Tidak ada yang boleh keluar tanpa ijin dari kepala sekolah, ketegasan lain yang memberatkan jika murid terlalu banyak mendapat point sanksi atas kesalahan yang di perbuat karena melanggar tata tertib peraturan sekolah maka akan di keluarga.
Jalur pertemuan antara gedung C dan D yaitu Aula besar yang berdiri tegak menghubungkan tangga panjang, di pertengahan dinding terpajang lukisan ibu kepala sekolah. Ciri khas nya gemar memakai topi hitam yang mirip seorang penyihir, sangat jarang keberadaannya di lihat di siang hari.
Ini bukan sekolah Harry potter, bukan pula sekolah penyihir yang berlomba-lomba menunjukkan kehebatan dan kekuatannya. Murid-murid berdiri berbaris rapi memakai jubah hitam yang di sediakan. Pidato aneh kepsek hari ini di tambah kejutan yang dia siapkan di malam yang berudara dingin.
“Orang yang hebat bukan hanya memiliki kekuatan super power, menjadi penguasa atau mampu mengalahkan musuh. Orang hebat bias melawan rasa takut dan mengalahkan kelemahan diri sendiri. Pencarian tiga siswa-siswi pemberani tidak takut melawan gangguan makhluk yang tidak terlihat.”
Petikan ucapan kepala sekolah menakuti semua murid. Para guru juga saling menjuruskan pertanyaan ketidak setujuan dalam diam. Apa yang di hadapan mengejutkan seluruh penghuni Aula. Tombol yang di tekan dari salah satu dinding terkunci memperlihatkan jalan masuk ke taman rerumputan labirin.
“Siapa yang berdiri di samping bu Pentol?” Hena pada Wila.
“Mirip Nek Eda. Ada sekuntum bunga kamboja yang terselip di sanggulnya.”
Satu persatu murid secara acak di panggil, berbekal sebuah senter dan sebuah peledak yang menyatakan akan mengakhiri perjalanan. Tejo tersenyum melambaikan tangan membusungkan dada masuk ke dalam. Dia menyorot ruang pembatas yang kosong, bersiul hingga menendang batu.
Penampakan awal pada tepukan di bahunya, lambat laun merambat ke akar kering ke kakinya. Dia menghentakkan tubuh berlari melewati jalanan yang sangat gelap. Dinding rapat tersusun tangan-tangan setan, suara aneh hingga tubuhnya mulai tercampak ke dinding berakar yang mengikatnya.
Senternya jatuh, bahan peledak terhempas di ujung lorong selanjutnya.
“Gawat, aku pikir ini Cuma permainan atau ujian biasa kalau melihat hantu. Tapi aku melihat hantunya nyata!” gumam Tejo berupaya melepaskan ikatan. Tejo melesap ke dalam akar, tidak ada yang tau keberadaannya.
Durasi waktu satu jam yang di berikan pada setiap siswa, angka telah melewati satu jam tiga puluh menit, siswa lain panik tidak melihat Tejo kembali. Barisan rebut, murid ketakutan sampai pak Sesem turun tangan menenangkan.
“Peserta selanjutnya Kokom” ucap nek Eda bernada keras.
“Apa dia sudah gila? Kenapa tidak ada turun perintah mencari Tejo?” gumam Sesem berdiri melihat bu Kepsek yang tampak tenang.
Sebelum masuk, dia mengucapkan doa di dalam hati. Banyak kejadian aneh yang mengancam dirinya. Dia berharap bias terlepas dari tangan setan. Gangguan penghuni makhluk di gedung sekolah tidak bias di ajak main-main. Dia mengetahui sejarah sekolah lalu, menahan rasa takut di awal pintu sosok kepala putung mulai mengganggu. Berlari melewati setiap lika-liku jalan yang memusingkan.
“Dimana pintu keluarnya?” gumam Kokom berhenti mengambil nafas.
Sosok Eno minta tolong, wajahnya pecah terlihat tubuhnya penuh luka. Jalan pincang mendekatinya, Kokom meneruskan lari sekencang-kencangnya, di atas kepalanya terbang kepala putung siswa bangsa lain yang memakai seragam SSMS.
Gawat hantu di masa lalu mulai keluar, aku harus waspada kalau sosok pria tua yang menyeret cangkul itu muncul” gumamnya melingak-linguk mencari jalan.
Dia berhenti berjalan mundur, pikirannya yang baru saja membayangkan si pria tua kini ada di jalan labirin berliku. Kehadiran Sari menunjuk ke siku lorong bagian kiri, akar yang bergerak sendiri itu seolah akan menariknya.
“Aku tidak berani melewati akar itu Sari” ucap Kokom setengah mati ketakutan.
Ledakan yang akan di nyalakan di udara padam sebelum terbang ke atas langit. Sari mendorong Kokom sampai tubuhnya terbang terbanting ke pintu awal masuk. Para guru dan murid berlari menampungnya, sedikit agi kepalanya pecah jika tidak tertangkap mereka. Kokom pingsan, sebuah tanda Tanya besar mengapa dia terpelanting ke titik awal. Sesem memeriksa kantung jubahnya, sinyal peledaknya hilang. Dia juga melihat robekan lebar di jubah dan potongan ranting kecil di kepalanya.
Sesem berlari mendekati ibu kepala sekolah, auranya yang mengerikan selalu membuat bulu kuduk merinding. “Bu, tolong hentikan kegiatan malam ini. Ada siswa yang pingsan dan satunya lagi menghilang"
“Ada apa pak Sesem, bapak kalah melawan rasa takut? Sesuai tema kata berani. Jiwa mereka bangkit di tempa agar lebih kuat.”
Sesem meninggalkan Aula melihat keadaan Kokom yang masih belum sadar. Hena mengusap perut, daun telinga dan kakinya dengan minyak angin. Kokom di temani bu Hena sedangkan pak Sesem kembali ke Aula menunggu muridnya yang lain. Sebagai wali kelas 8 B dia lebih tertekan akan urutan kejadian kematian para murid dan gangguan aneh lainnya.
“Kenapa harus anak murid ku yang kena apes? Apa rahasia yang tersembunyi di kelas maupun sekolah?” batin Sesem.
Murid yang terpanggil selanjutnya adalah Yumi, dia berdiri mengambil posisi bersiap berjalan masuk. Tapi Hena berdiri menarik tangan Yumi lalu berjalan menghadap kepsek meminta ijin tidak bisa mengikuti kegiatan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
🧚♀️Mediterania
lihat buku setan , gambarnya anu 😖😖
2023-06-25
0
dimaz
hati Q SAkit😭
2023-06-25
0
Seroja
semua jelas pelakunya si hantu
2023-06-25
0