Kegilaan Rinal berlanjut meminta pada dukun langganannya agar memberikan sosok makhluk penjagaan di dalam tubuh. Dia tidak memperdulikan dampak dari semua perbuatannya, pria itu mengikuti semua saran dari si dukun. Sosok jin terlalu banyak di utus untuk mengikutinya, berpikir makhluk halus itu bisa menjaga atau melindunginya. Rinal merasa bangga mendongakkan wajah berjalan memasuki kantor guru.
Aura para penyembah iblis itu wajahnya hitam, tidak tampak sinar putih terang atau kewibawaan yang dia harapkan untuk melindungi. Keadaan kantor kacau balau, ada banyak guru cuti keterangan sakit sementara banyak keluhan para guru melihat penampakan wujud mengerikan yang duduk di salah satu meja.
“Kalian ini sibuk bicara hantu melulu, nggak capek apa? Heran saya. Kalau kerja ya totalitas dong bapak ibu” ucap Rinal berdiri di depan kipas angin mengipasi wajahnya.
“Sombong sekali kau pak, aku doakan kau mulai sekarang rajin ketemu hantu!” ucap pak Edison melonggarkan dasinya.
“Huh, mana ada sih hantu yang berani sama saya pak!” jawabnya bangga.
Dia membawa benda yang di anggap jimat dari sosok dukun yang dia percaya bisa melindunginya dimana pun dia berada. Tapi, ucapan Edison seperti sebuah kutukan baginya. Dia mulai merasa ada yang mengikutinya. Di toilet, dia melihat pintu-pintu terkunci. Dari bawah ada banyak kaki berbentuk mengerikan. Teriakan ketakutan, pintu terkunci rapat, lampu berkedip. Di sudut dinding ada sosok penampakan Jasmin yang menatap dirinya.
“Rinal, kau sudah membunuh ku. Rinal..”
“Tidak! Pergi!” dia mengeluarkan jimat dari dalam kantung. Seketika penampakan menghilang, Rina; keluar berlari lalu terjatuh sampai dia merangkak menjerit masuk ke dalam ruangan kantor kepala sekolah.
“Bu kepala sekolah! Jasmin hantu kurang ajar! Dia udah mati masih saja menganggu saya!”
“Ada apa pak Rinal, saya lihat bapak sangat berkeringat” ucap si kepala sekolah yang menggoyang kakinya di kursi putar.
Tanpa melihat si kepala sekolah yang memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat. Rinal sibuk mengambil tisu di atas meja mengusap wajahnya. “Bapak mau saya pertemukan dengan bu Jasmin biar bapak nggak di ganggu beliau lagi?
“Ibu ini bagaimana sih, masa masih sempat bercanda”
Dia melihat kursi kosong yang berputar sendiri, Rinal pingsan tepat di bawah mejanya. Keanehan yang terjadi pada dirinya terbangun melihat ruangan kepala sekolah berubah mirip suasana di dalam hutan. Sosok yang berdiri di dekat pohon wajahnya mirip ibu kepsek yang mengeluarkan gigi taring panjang. Tanduk runcing tumbuh di atas kepalanya, dia memilki mata ketika menempel pada dahi.
Sosok lain yang ada di sampingnya seperti menyatu dengan tubuhnya. Sebagian anggota tubuh tertempel di tubuh sosok lain mirip penampakan hantu gendoruwo. Kemanapun dia pergi, gerakannya mengikuti dengan aromanya yang sangat busuk.
“Tolong! Arghh! Siapa kau!” teriak Rinal mendorong kuat bagian tangan makhluk itu.
“Aku sosok yang kau panggil! Penuhi janji mu. Aku haus!”
Sosok itu meneteskan air liur, Rinal berlari kencang berdiri di tengah lapangan. “Pak Rinal, silahkan hari ini kamu yang jadi Pembina upacaranya” ucap kepsek yang tiba-tiba berdiri di depannya.
Barisan murid-murid hantu, iringan suara piano mengiringi lagu dalam mengibarkan bendera. Rinal membuka mata melihat kakinya yang putus. Dia berteriak, terbangun di alam yang lain hingga tersadar di alam manusia. Para guru mengelilinginya berpikir dia telah berhenti bermimpi buruk.
“Bapak sudah bangun? Tadi kok tidur di kursi ibu kepala sekolah?” tanya Sarma mengerutkan dahi melihat bekas luka di bagian dengkul.
Celananya robek terlihat bajunya sangat kotor berbau amis. Rinal tidak menjawab pertanyaannya, dia berlari meninggalkan kerumunan. Melajukan sepeda moto menemui si dukun. Dia menuntut mengapa di serang sosok Jasmin hingga penampakan lainnya.
“Pak Rinal, memangnya bapak pikir saya mudah mengabulkan semua keinginan bapak tanpa adanya persyaratan bapak memberi makan dan minuman makhluk itu?”
“Pantas saja, ada hantu yang minta minum. Pak, saya juga melihat sosok itu tubuhnya menempel di badan saya! Bantu saya mengusirnya pak”
“Hei pak Rinal, dia yang bapak panggil mana bisa pergi seperti orang makan cabai. Minta langsung pedas lalu setelah selesai di abaikan. Ingat ya pak, kematian bu Jasmin akan selamanya jadi duri di hidup bapak. Saya tidak mau terlibat di dalamnya!”
Rinal yang angkuh dan sombong berpikir dukun itu penakut dan tidak memiliki kehebatan apapun. Dia beranjak pergi, si dukun melotot melihat gelagat pria itu.
“Makhluk hitam akan terus mengikuti mu. Dia harus di beri makan!”
“Ah sudah lah bapak tau apa. Aku sendiri yang akan mengatasinya.”
Pergi mencari dukun opung Edak, dia menuju luar kota hingga masuk ke sebuah perkampungan demi mencari sosok dukun yang di kabarkan sangat sakti melebihi kekuatan dukun yang lainnya. Dia bertekad mencari ilmu dan makhluk penjaga. Dia juga meminta supaya tidak di ganggu makhluk halus atau sosok hantu Jasmin.
“Hem, banyak sekali pertanyaan mu anak muda. Perlu kau tau, sosok arwah penasaran yang mengikuti mu sampai berani masuk menerobos dinding mantra ku ini ingin membunuh mu.”
“Tolong mbah, bantu saya..”
Jimat yang di berikan jauh lebih sakti dari dukun mbah Surip. Rinal mengikuti semua petunjuk yang di anjurkan si dukun. Dia menggantungkan sebuah kepala tengkorak di depan pintu rumahnya.
......................
Peraturan yang di sampaikan dari forum grup bahwa setiap staf pegawai yang hadir memberikan surat cuti dari dokter. Ibu kepsek juga berpesan agar kegiatan ekstrakulikuler pramuka berkemah di sekolah pada minggu depan di wajibkan seluruh guru mengikutinya.
“Kalau pramuka gini saya tidak berani, lebih baik saya cuti jauh-jauh hari dari pada melihat penampakan hantu. Saya masih trauma” ucap Hena.
“Saya paham ketakutan ibu, tapi kalau kita semua takut terus siapa yang menjaga anak-anak? Kita bertanggung jawab menjamin keselamatan mereka agar tidak terulang peristiwa yang mengerikan itu.”
Sesem menyembunyikan rasa takut mengingat gangguan yang sering dia alami di sekolah.
Sementara di tempat lain Yayan dan Tumira menunggu kabar anak mereka di depan meja ritual mbah Surip yang selama berjam-jam mengucapkan kata-kata aneh ke foto Amat. Dia di banting sosok mengerikan, penampakan makhluk yang membawa Amat masuk ke Alam lain.
“Uhuk! Aku tidak bisa menyelamatkannya”
“Tolong mbah, apapun caranya! Saya mau Amat di temukan. Hiks”Tumira memelas menyatukan kedua tangan.
“Anak mu di tawan sosok lain, dia memanggil makhluk itu. Sekalipun aku bisa membawa tubuhnya, dia sudah menjadi mayat!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
waroeng makan 🍴🍱sindi
gak ada lawan si pentol ini
2023-07-14
0
Daun ubi
pentol
2023-07-13
0
Violet✨🟣
bu jasmin!! akan ku bantu kamu membalaskan dendam
2023-07-13
0