Untuk membongkar kedok si kepala sekolah hantu, di perlukan perjalanan panjang yang melelahkan.Mereka juga menebak semua harus menebak semua masalah hal mistis yang terjadi setiap harinya. Dunia yang hilang memang benar adanya, waktu yang terhapus namun hanya sebagian orang yang dapat memiliki penglihatan melihat alam lain membaca lagi cerita tersebut.
Waktu sekarang di wajibkan lebih ekstra menambah kesabaran dan siap menjadi wadah kotak suara yang mengharuskan berletih mengurai keadaan. Mencari teta-teki terputus, di dalam perpustakaan itu ibu penjaga perpu bertolak pinggang. Dia tampak tidak senang melihat buku yang tergeletak di dekat mereka.
“Anak-anak, hari ini perpus tutup lebih awal. Kalian bisa pindah di ruangan lain” ucapnya bergerak merapikan buku di rak lemari.
Mereka berempat pindah berjalan ke belakang sekolah, lebih tepatnya di bawah teras dekat parit kecil. Tidak ada yang berani membawa buku tengkorak itu kecuali Yumi. Petrok tidak tega melihat Yumi membawa buku setan, dia menarik dari tangannya lalu menutupi dengan jaket.
“Buku ini akan aku bawa setiap kita mau membukanya bersama-sama.”
“Kamu yakin kalau kamu yang bawa Pet?” tanya Kokom.
“Ya aku yakin, aku juga tidak berani membukanya tanpa kalian..”
Saat mereka terpisah ke kelas masing-masing, Dira sedari tadi menatap mereka dari atap gedung mengikuti Yumi. Langkah terhenti menoleh ke belakang, Yumi mengetahui ada yang mengikutinya . Dia berhenti mengurungkan niat masuk ke dalam kamar mandi.
Bangku Dira di kerubungi lalat, saat jam pelajaran di mulai dia mengetuk pintu masuk berjalan ke bangkunya. Dia melihat lurus ke depan, gerakan menoleh bersuara patahan tulang yang keras. Ibu guru tidak komplain dengan sikapnya yang tidak meminta ijin karena terlambat masuk.
Lalat berterbangan di atas kepala, suara lalat yang berisik memicu pandangan siswa-siswi lain. Dia tidak berkedip menatap Kokom. Ibu guru Inem mendekati, dia menyuruhnya maju ke depan menyelesaikan soal nomor dua. Menerima kapur ke tangan, dia mulai menjawab soal. Di bagian atas Dira menggambar tanda yang mirip di dalam buku tengkorak. Keributan di dalam kelas, teriakan mereka ketakutan melihat Dira yang kesurupan.
“Semuanya tenang, anak-anak!” ucap bu Inem.
Kelas tidak terkendali, tubuh Meka terhempas ke dinding. Bu Inem membantunya berdiri lalu membawanya keluar.Tidak ada yang tau apa makna simbol yang di gambar Dira, dia jatuh pingsan di bawa ke UKS.
Pemeriksaan Dira yang terlihat mengalami demam tinggi di pindahkan ke Rumah Sakit. Pak Sesem dan bu Inem mengantarnya, di kursi tunggu Inem memberitahu kabar mengenai Dira kepada ibu kepala sekolah.
“Pak, nomor ibu kepsek kok nggak aktif ya?”
“Mungkin lagi sibuk bu, nanti kita beritahu langsung saja.”
“Saya khawatir dengan keadaan semua anak-anak, kesurupan dan angka kematian membuat para murid trauma.”
“Mau gimana lagi bu, setiap sekolah pasti ada masalahnya. Sekarang tergantung kita bagaimana menyikapinya. Jujur saja saya juga sedikit takut.”
Kantor guru riuh perbincangan mengenai kejadian kelas 8 B. Kelas itu sudah di pindahkan tapi kejadian aneh tetap terjadi. Meka di bawa ke kamarnya, dia di temani Ima. Raut wajah masing-masing tampak masam, suara teriakan masuk ke dalam kelas. Marin yang histeris memijit kaki dan tangan Meka.
“Duh, kok bisa-bisanya kamu jadi korban kesurupan si Dira sih. Memang anak itu sikapnya makin aneh”
“Nggak apa-apa kok. Udah jangan ngomongin dia. Sekarang aku pengen pindah kelas. Di kasih sama pak Sesem nggak ya?”
“Loh! Kamu mau tinggalin aku! Aku ngambek nih. Padahal aku pindah sekolah biar kita barengan..”
Banyak hati murid yang gamang, bimbang dan takut. Ketidak tenangan ketika sedang sendirian atau ketakutan kalau ada makhluk halus merasuki. Tidak ada yang berani menjenguk atau melihat Dira yang baru saja pulang dari Rumah Sakit, semua teman-teman satu kamar menjauhi berpikir hantu yang merasukinya masih ada.
Kasurnya di hinggapi lalat, dia tidak mengeluarkan sepatah kata. Salmah yang berada di bawah tempat tidurnya mendengar suara dengkurannya yang sangat keras.
“Cepat sekali dia tertidur” gumamnya.
Dia menaiki tangga kasur, melihat Ima berdiri sambil tersenyum menatapnya. Salmah yang terkejut jatuh terbanting ke lantai. Ina yang baru terbangun mendengar suara berisik melihat Salmah di bawah kasurnya.
“Kamu nggak apa-apa Sal?”
“Nggak ada apa-apa, makasih ya..”
Sepanjang malam suara berisik terdengar, kasur bergoyang keras akan tetapi saat Salmah melihat lagi ke atas kasur itu terlihat Dira terlelap tanpa bersuara apapun. Salmah lebih memilih tidur di bawah kasur, membentangkan selimut dan bantalnya. Dia sangat mengantuk, di pagi hari teman sekamar berdiri mengerumuninya.
“Kamu ngapain tidur di bawah?” tanya Teti.
“Nggak, heheh.. lagi pengen tidur di bawah aja”
Peraturan yang ketat di sekolah itu mewajibkan murid-murid harus on time mengikuti setiap susunan jadwal yang di tetapkan. Anak-anak yang masih belum terbiasa setiap saat di panggi keluar masuk ke ruang BK. Cuaca yang mendung, panggilan siswi terakhir mendorong kaca mata bu Yani tidak jelas membaca nama siswa yang itu. Dia sendirian di dalam ruangan yang sedikit gelap karena cuaca mendung.
“Deya 7 G” panggilnya sebanyak dua kali.
Siswi itu masih saja duduk di kursi tunggu tidak menjawab apapun. Dia menunduk, rambutnya yang basah menutupi wajahnya. Bu Yani berusia lanjut yang tidak mengingat bahwa siswi tersebut sudah meninggal. Dia menghela nafas, bergerak dari kursi mendekatinya.
“Nak Deya kamu dengar panggilan ibu tidak? Kok kamu basah sekali, ayo ganti baju olahraga saja nanti kamu masuk angin” ucap bu Yani memegang tangannya yang sangat dingin.
Deya tersenyum, di sudut mata mengeluarkan air mata darah. Dia menyibakkan rambut menunjukkan batok kepalanya yang pecah. Bu Yani berteriak berlari tergopoh-gopoh keluar pintu. Tabrakan Pun tidak terhindar, bu Madan yang kesusahan membawa gelas di tangannya pun terjatuh.
“Duh, maaf bu! Itu si Deya kepalanya pecah. Dia murid atau hantu ya bu saya kaget sekali”
Bu Madan di bantu berdiri, dia sudah berumur enam puluh lima tahun, keinginannya yang keras untuk tetap bekerja walau tubuhnya ringkih dan tangannya tidak kuat memegang benda berat. Kakinya ngilu, dia menguatkan tubuh meraih kursinya sedangkan bu Yani membersihkan serpihan gelas yang pecah.
“Nggak ada murid di dalam sini bu. Si Deya ya, coba saya ingat-ingat dulu.”
Madan membuka lembaran daftar nama siswa kelas 7 G. Nama Deya yang terhapus dalam urutan nomor tiga belas. Madan masih mengingat-ingat masalah apa yang timbul sehingga dia di keluarkan dari kelas.
“Bu Madan! Saya baru ingat, Deya kan siswi yang melompat dari atap gedung!”
“Astagfirullah.. iya ibu benar!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
❥𝓡𝓮𝓭 𝓥𝓮𝓵𝓿𝓮𝓽❦
semuanya sampean pentol yang nanggung
2023-07-03
0
emak bawel
horornya terasa 😌😌😌😌
2023-07-02
0
Big Mom
sekolah kelabu. Banyak murid kesurupan, gangguan setiap hari membuat nggak ketidak tenangan proses belajar mengajar.
2023-06-27
0