Penjaga sekolah tidur di ruangan yang bersebelahan dengan ruangan kepala sekolah. Sosok pria yang menggantikan pak Karman itu belum apa-apa udah menjerit ketakutan. Dia mendengar suara tawa wanita, bantingan benda keras semakin mengagetkannya. Suroto memegang alat pemukul, dia melirik ke kanan dan kiri takut ada bahaya yang mengintai.
Lampu berkedip, suara cekikikan kembali terdengar. Tidak kuat menahan takut sampai dia buang air kecil di celana. Pria itu membuka pintu lalu pergi melompati pagar sekolah. Celana bagian belakang robek, seolah hari itu adalah hari kesialannya.
“Tolong…”
Satpam yang datang pukul enam tiga puluh mulai membuka gerbang, tapi dia melihat kelas-kelas masih tertutup. Biasanya penjaga sekolah membuka tiap-tiap ruangan kelas, kantor guru dan ruangan lainnya. Bani melotot melihat ruangan tempat Suroto tidak terkunci, dia melihat semua benda masih berada di tempatnya.
“Kemana perginya bapak itu?” gumam Bani mencari lagi di bagian sisi ruangan lain.
Kunci lusinan khusus membuka pintu yang di beri tanda tulisan masih tersimpan di laci.Dia membuka setiap ruangan, langkah sepatunya yang berat menapak berbunyi nyaring. Didekat perpustakaan, ada sosok penampakan kuntilanak terbang. Bani berbalik pergi kembali ke pos gerbang depan.
“Haduh kagetnya aku! Udah pagi gini masih ada aja hantu!” gumamnya.
Selesai ujian kenaikan kelas, siswa dan siswi menunggu nilai hasil ujian. Para guru yang sibuk mengoreksi hasil lembar jawaban, membagi nilai berlanjut melakukan sistem remedial bagi murid yang nilainya di bawah KKM (Kriteria ketuntasan minimal).
Banyak murid yang tidak hadir tanpa. keterangan setelah kehujanan semalam, tetap saja absen masih berjalan sampai batas waktu libur sekolah nanti. Di kantor guru, meja penuh tumpukan kertas dan alat tulis. Hena memakai jaket, wajahnya pucat, dia duduk menepuk pelan pundak Sarma.
“Wajah ibu pucat sekali, ibu sakit?”
“Ya bu, saya mau cerita__”
Hena meraih tisu mengusap hidungnya yang lagi flu. Ceritanya membuat Sarma semakin takut pulang malam. Dia bergidik merasakan suasana menyeramkan. Di rapat kenaikan kelas nanti semoga saja kepala sekolah menyetujui jam pelajaran normal sehingga murid tidak pulang sampai malam.
Murid yang bernama Yumi di kenal sebagai murid yang bisa melihat makhluk halus. Mereka sering mendapati dia berbicara sendiri, hingga pada tahun lalu di saat peristiwa kesurupan. Hanya dia yang tampak tenang duduk di kelasnya.
Bunyi bel istirahat pertama di gandrungi ganggu demi gangguan yang tidak henti.
Empat orang siswi melihat ibu kepala sekolah berdiri di bagian ruangan IPA. Dia memanggil mereka agar masuk ke dalam ,keempatnya segera berlari mendatanginya. Di dalam ruangan, mereka tidak melihat ibu kepala sekolah disana. Amat terkejut merasa ada yang menyentuh lehernya.
“Arggh! Apaan itu!”
Pertok menggoyangkan tangan alat peraga tengkorak manusia. Dia tersenyum melihat raut wajah Amat yang ketakutan. Ibu kepala sekolah tiba-tiba berdiri di depan memberikan sebuah buku kemudian pergi menutup pintu.
“Loh bu, kok kami di kunci?” tanya Eno menarik gagang pintu.
“Bu kepala sekolah, buka bu” panggil Tora yang mulai panik.
Mereka melihat sebuah buku bersampul merah, ada tanda aneh di depannya. Pada lembar pertama, terlihat gambar-gambar coretan bentuk hantu dengan cat warna terang. Petrok menjauhi berdiri di sudut dinding.
“Tenang, ini Cuma buku. Ada pensil ni lucu banget bentuk tengkorak" ucap Enzo berlagak berani.
"Wah bentuknya unik ya!" Tora memperhatikan bagian rahang berjejer gigi tengkorak yang terbuka lebar. Dia memasukkan jari sambil tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba jarinya terjepit meneteskan darah.
"Duhh sakit!" rintihnya. Darahnya yang menetes di jadikan tanda iblis mulai mengincar.
Amat mengamati bentuk pensil lalu melihat lembar di pertengahan seperti sebuah permainan yang menggunakan kata-kata berulang. Ketiganya mempraktekkan semua langkah-langkah hingga pensil di tegakkan.
“Kalian yakin? Ini namanya kita manggil setan! Aku nggak ikutan ya!” ucap Petrok merasakan ada yang memperhatikannya.
“Ah cemen kamu Pet, palingan ini Cuma permainan biasa. Tunggu aja disitu, kami mau cobain mainan ini dulu.
Eno mulai memegangi pensil. Angin bertiup kencang di susul suara Guntur. Pada perkataan terakhir yang menyebutkan datanglah, pensil bergerak sendiri melingkari jawaban aku datang. Ketiganya ketakutan melepaskan pensil berlari keluar.
“Tunggu! Jangan tinggalkan aku!” teriak Petrok.
Di belakangnya muncul sosok penampakan. Dia menoleh, meringis ketakutan lalu berlari pergi. Petrok melihat jelas arah lari mereka masuk ke dalam kelas. Akan tetapi, sesampainya di dalam dia tidak menemukan mereka. Bertanya pada salah satu teman yang mengatakan tidak melihat Amat, Eno dan Petrok.
Kepala sekolah hantu itu membuat ketiga siswa masuk ke waktu alam ghaib. Terpisah tanpa sadar berlari ke tempat yang berbeda. Amat masuk ke dalam kelas yang sedang memulai pelajaran. Dia ingat ruangan itu adalah kelas 7 B. Tapi dia tidak mengenali satupun teman-teman di dalamnya.
Dia duduk di bangkunya, melihat semua murid yang sibuk mendengarkan penjelasan dari ibu kepala sekolah.
“Eh, sekarang pelajaran apa?” bisiknya ke teman yang duduk di sebelahnya.
Dia membalas tatapan Eno, wajahnya memperlihatkan kulit-kulit terkelupas. Eno terkejut ketakutan, berdiri melihat semua yang duduk bukan lah manusia.
“Eno, ada apa dengan mu? ayo buka halaman dua ratus” ucap ibu kepala sekolah.
“Tapi bu..”
Eno ketakutan bergerak kembali duduk. Dia menjatuhkan pulpen, gemetaran meraih sambil melihat kaki semua murid yang menggantung. Hal yang paling menakutkan melihat ibu kepala sekolah melayang terbang mendekatinya.
“Eno, kenapa kamu tidak memperhatikan buku mu. Hihih..”
“Argh! Hantu! Tolong!”
Suara jeritan Eno di dengar Tora yang berdiri di atas langit-langit gedung sekolah. Asal teriakan mengarah ke sisi gedung bagian olahraga. Dia melihat seorang guru yang sedang berdiri di bagian tepi. Rambutnya yang panjang tertiup angin seolah membawanya terjun saat dia merentangkan tangan.
“Bahaya bu! Bu!” teriak Eno berlari akan menariknya.
Dia tidak sadar ikut lompat dari atas, Eno terjun bebas jatuh membuat semua siswa yang masih melakukan senam pagi berteriak ketakutan. Polisi menyelidiki tidak ada motif pembunuhan atau hal mencurigakan lainnya. Murid-murid di pulangkan, rapat pertemuan guru dan orang tua murid di gelar secara mendadak karena banyaknya keluhan wali serta orang tua murid yang meminta anaknya pindah sekolah.
“Bapak/ibu semuanya, kami benar-benar minta maaf atas kejadian yang tidak pernah kami duga. Pada saat kejadian berlangsung, seluruh murid sedang melakukan kegiatan senam pagi di lapangan. Pihak kepolisian sudah menyelidiki bahwa tidak ada tanda-tanda pembunuhan atau motif lainnya. Kami akan berusaha sekuat tenaga lebih menjaga keselamatan anak-anak..”
Permintaan maaf dari seluruh guru mengakhiri pertemuan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
kang online
good story
2023-07-17
0
hujan
setaannnn
2023-07-17
0
Hijau Daun 🍃
si kepala sekolah hantu kasih kode kematian
2023-07-16
0