Gambaran masa silam

Melompat masuk ke dalam air merelakan sepatunya yang berat. Dia berpikir gelembung pernapasannya terlihat dari permukaan, menyelam ke dasar kolam menunggu si pria tua pergi. Dia yang mulai kehilangan nafas melihat ke atas tidak ada lagi penampakannya. Keluar dari air, membuka sepatu mencari sandal di dalam loker. Sepatunya yang basah di masukkan ke dalam dan mengganti bajunya dengan baju olahraga.

Sukma Sari Middlebare school.

Tulisan bercetak miring yang tertulis di kaos panjang dan celana olahraga. Campuran nama dua negara yang membingungkannya. Dia memperhatikan bangunan bercat dinding hitam. Kalau mau menjerit, dia mau meluapkan semua ketakutannya. Kematian teman-temannya di depan mata. Dia berlari mencari ruang IPA. Denah kelas terpampang di dalam mading klasik, dia kesulitan membaca bahasa Belanda. Kalau di wilayahnya, bahasa Belanda akan di pelari ketika di jenjang sekolah menengah atas.

Membaca peta buta, mengingat dan menghafal-hafal lagi letak lokasi.

Suara tangisan menyebabkan kalang kabut, dia ketakutan mendekati suara tersebut. Obe di cekik, tubuhnya terangkat ke atas oleh sosok kuntilanak. Wajah Obe merah padam, dari belakang Kokom membacakan surah An nas, salah satu dari lima jus yang baru dia hafal. Sosok itu menjatuhkan Obe ke lantai, dia menyangganya segera membawa keluar ruangan.

Kelas kosong di lantai dua, di perhitungkan Kokom lokasi ruangan IPA melewati lorong kelas pada lantai paling atas.

“Duh, kaki ku sakit!”

“Sabar Be, kita akan ke UKS. Aku mau memastikan di luar aman.”

Dua wanita ketakutan berlari masuk, mereka seperti tidak melihat keberadaannya dan Obe. Seragam sekolah berciri khas gaya luar negeri. Seorang wanita berkulit putih dan satunya lagi berkulit sawo matang. Kejadian mereka sama persis yang mereka alami. Salah satunya terluka, kaki di perban. Sosok wanita berkulit putih meninggalnya sendiri. Si wanita kulit sawo matang terlelap, di bangunkan suara coretan keras. Obe melihat pulpen tengkorak bergerak sendiri menulis setiap lembar buku.

“Ayo kita pergi Kom!” Langkah kaki pincang berdiri di depannya.

“Kalian ngapain disini?“ kata siswi berseragam SSMS membawa ransel di pundak.

Kokom tau dia bukan manusia, seragam sekolah yang dia temukan di ruang olahraga tertulis singkatan yang sama. Obe asik mengobrol, sosok itu memandu jalan ke ruang IPA. Takut tejadi peristiwa yang bukan-bukan. Dia terpaksa bungkam tidak berani memberitahu Obe.

“Obe lagi pincang, situasi sulit ini mustahil mengajaknya kabur” batin Kokom.

“Terimakasih atas bantuan mu, saya Obe dan ini teman saya Kokom.”

“Saya Sari, murid kelas 8B. Aku pergi dulu ya sebentar lagi kelas di mulai..”

Sari berlari membuka pintu, kelas yang di maksud berjalan di masa lalu. Obe ikut membuka pintu melihat ramai anak sekolah. Penampilan ibu kepala sekolah berbeda, dia memakai setelah hitam bertopi aneh melihat murid yang lewat seolah mencari sesuatu.

”Obe, kau tunggu disini. Aku mau mencari Yumi.

"Sebentar, kita perhatikan bu Pentol"

"Duh, nggak ada waktu lagi!"

Petunjuk misteri tidak memberikan jawaban apapun. Putaran detik di masa lalu mengunci mereka di gedung berhantu. Sosok pria yang menyeret cangkul menarik Yumi ke dalam ruang kelas, Kokom memukul kepalanya. Dia mengangkat melemparkan ke meja, pelipisnya berdarah. Yumi membantunya berdiri. Mereka berlari hingga berhenti melihat dua lorong yang sangat panjang. Penampakan Bebi menunjuk ke bagian sisi kanan, Kokom berlari menarik adiknya namun Bebi langsung menghilang.

“Bebi sudah meninggal, hiks” ucap Yumi.

“Nggak mungkin adik aku meninggal Yum! Hiks"

Suara seretan cangkul terdengar, Yumi menarik Kokom segera pergi. Mereka menembus bagian ruangan kelas. Di dalam pandangan mata batin Yumi, dia melihat suasana aktivitas kelas di era lalu. Wajah-wajah dua bangsa yang berbaur di dalamnya. Ada yang berbahasa asing dan ada pula yang berbahasa Indonesia.

“Kak nanti pulang sekolah kita main kelereng yuk.”

“Nggak bisa, aku mau jualan membantu ibu” ucap anak laki-laki yang menempel paku di kepalanya.

Sosok anak tersebut memegang buku tengkorak hitam. Dia menggenggam pena yang sama persis, mulutnya komat-kamit menulis, seketika seisi kelas berubah ribut.Dia tidak akan pernah berhenti menulis sekalipun di dalam ruangan semua murid berhamburan keluar. Dia tertawa terbahak-bahak, melihat Yumi lalu menunjukkan ke papan tulis. Sosok berbaju putih menggerakkan tangannya untuk berjalan. Yumi berlari menyebrang ke gedung lain di susul Kokom yang memapah Obe.

“Yumi tunggu kami!” teriak Obe.

Mereka masuk ke dalam ruangan tata usaha. Pintu yang terbuat dari setengahh kaca itu di tutupi dengan taplak meja. Mereka juga mengganjal pintu dengan kursi. Mengintip dari celah bolongan, sosok pria tua berjalan melewati ruangan.

“Gais jangan bersuara, dia ada di luar” bisik Kokom.

Yumi memeriksa laci, dia menemukan rekaman kaset mode jaman dulu. Kaset gulung yang menggunakan pit kaset. Layar berbentuk televisi sebagai monitor. Memasukkan salah satu kaset, Yumi mematikan suara agar tidak terdengar dari luar.

Gambaran memperlihatkan gambaran suasana sekolah, semua terlihat tampak biasa saja sampai pandangan mereka tertuju pada anak kecil yang memegang buku. Setiap kali dia menulis, keanehan pada murid lain kesurupan. Mereka saling menggigit, bola mata merah perubahan yang lain pada gigi taring memanjang.

“Ahahah!” tawanya menggelegar.

“Hei! Dasar kau anak penyihir! Pergi kau dari sekolah ini!”

Rombongan orang tua tua siswa mengusirnya, dia di arak mengelilingi kampung. Pelaku di balik musibah besar hingga membakar tubuh anak itu adalah pak Kasiman. Dia tertawa memberikan upah pada beberapa pria yang dia sewa untuk melancarkan tujuannya.

Melihat anaknya akan di bakar, dia menangis berteriak minta ampun pada orang-orang yang mulai menyalakan api. Wanita berkulit putih berambut pirang bersujud ada mereka namun dia di pukul dan di ikat.

"Ahahah, saksikan kematian anak mu yang memiliki sihir iblis! dia membunuh orang yang tidak bersalah. Kenapa kau menutupinya Amora?"

"Bajingan kau Kasim! dia anak mu! kenapa kau memperlakukannya seperti itu? bunuh sana aku! lepaskan anak ku! hiks!"

"Ayo bakar keduanya! dengan begini maka desa kita akan aman! ahahah!"

"Kasim! aku bersumpah akan menuntut balas!"

Karena dia mau ikut di bakar, Amora melarikan diri masuk ke dalam hutan. Luka di kaki melebar tertusuk duri. Dia merobek lengan bajunya, bersembunyi di balik pohon besar sambil menahan rasa sakit. Mengambil duri, mengikat kaki nya hingga seseorang berteriak menemukannya.

"Itu dia si wanita penyihir! cepat kita tangkap dia!"

"Arghh!" Amora jatuh ke jurang. Tubuhnya terbanting di tangkap sosok pria tua berjanggut dan berkumis putih.

Para warga berpikir dia sudah tewas, mereka kembali ke tengah mimbar peradilan untuk membakar anaknya. Api mulai menyala, suara kesakitan tubuhnya di lahap api.

Terpopuler

Comments

micika kun 🧶

micika kun 🧶

para orang tua kompromi dl deh kalau mau menyekolahkan disini

2023-07-17

1

♥Kumna

♥Kumna

SAM'S! positif sekolah Belanda ni. Amor C minor di siksa Kasiman jadi ubah dirinya berwujud iblis

2023-07-16

0

Cemara

Cemara

Tanda Tanya besar bangun Belanda atau Jepang

2023-07-14

0

lihat semua
Episodes
1 Kaki tangan Iblis
2 Kerasukan iblis
3 Retaknya daging manusia
4 Racun
5 Teror hantu kepsek
6 Buku setan
7 Penampakan hantu kepsek
8 Terik
9 Berpindah ke dimensi lain
10 Kehilangan Dira dan lainnya
11 Meninggalnya Punawa
12 Gambaran masa silam
13 Naga berkepala dua
14 Mencari jalan pulang
15 Kekuatan bu Pentol
16 Menyiksa Grigi
17 Keputusan misteri
18 Keanehan yang terjadi di gedung sekolah
19 Kejanggalan Dira
20 Bersinggah
21 Riwayat Topi Penyihir Pentol
22 Hantaman
23 Disana terjerat setan
24 Kemelut
25 Terkuak
26 Pintu labirin terbuka
27 Berpindah ke masa silam
28 Tersesat
29 Mencekam
30 Sekolah lalu
31 Sengsara
32 Tajamnya kesesatan Rinal
33 Terjerat gangguan Pentol
34 Dunia carut marut
35 Menempa asa mistis
36 Bunyi tetesan darah
37 Pertahanan menghadapi Pentol
38 Tipuan si hantu
39 Awal sesatnya Amora
40 Menyiksa
41 Mengguncang
42 Dendam
43 Mengelabui si Kasim
44 Menyayat
45 Sifat asli Kasiman
46 Menyita waktu
47 Mengancam
48 Labirin Menyala
49 Kekacauan yang di ciptakan ibu kepsek hantu
50 Kembalinya sosok lain
51 Sengsara
52 Seribu topeng iblis
53 Pengancau
54 Tempat lain
55 Gusar
56 kelam
57 Dunia berpaut iblis
58 Tidak ada keadilan
59 Seribu topeng segumpal hati
60 Di jebak
61 Kemalangan
62 Peralihan
63 Hantam
64 Dunia hantu
65 Tajam
66 Membuang topi hitam
67 Manusia iblis
68 Jangan sampai kena mental
69 Tidak Ada keadilan
70 Sekutu setan
71 Menangkap/Memperangkap
72 Pintu rahasia lainnya
73 Mengincar korban
74 Sari
75 Memaksa
76 Hampir hilang kendali
77 Kibas setan
78 Kebusukan
79 Sesat
80 Skandal Sarma
81 Sengketa jeritan batin
82 Rantai alam bawah sadar
83 Racun iblis
84 Jerami setan
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Kaki tangan Iblis
2
Kerasukan iblis
3
Retaknya daging manusia
4
Racun
5
Teror hantu kepsek
6
Buku setan
7
Penampakan hantu kepsek
8
Terik
9
Berpindah ke dimensi lain
10
Kehilangan Dira dan lainnya
11
Meninggalnya Punawa
12
Gambaran masa silam
13
Naga berkepala dua
14
Mencari jalan pulang
15
Kekuatan bu Pentol
16
Menyiksa Grigi
17
Keputusan misteri
18
Keanehan yang terjadi di gedung sekolah
19
Kejanggalan Dira
20
Bersinggah
21
Riwayat Topi Penyihir Pentol
22
Hantaman
23
Disana terjerat setan
24
Kemelut
25
Terkuak
26
Pintu labirin terbuka
27
Berpindah ke masa silam
28
Tersesat
29
Mencekam
30
Sekolah lalu
31
Sengsara
32
Tajamnya kesesatan Rinal
33
Terjerat gangguan Pentol
34
Dunia carut marut
35
Menempa asa mistis
36
Bunyi tetesan darah
37
Pertahanan menghadapi Pentol
38
Tipuan si hantu
39
Awal sesatnya Amora
40
Menyiksa
41
Mengguncang
42
Dendam
43
Mengelabui si Kasim
44
Menyayat
45
Sifat asli Kasiman
46
Menyita waktu
47
Mengancam
48
Labirin Menyala
49
Kekacauan yang di ciptakan ibu kepsek hantu
50
Kembalinya sosok lain
51
Sengsara
52
Seribu topeng iblis
53
Pengancau
54
Tempat lain
55
Gusar
56
kelam
57
Dunia berpaut iblis
58
Tidak ada keadilan
59
Seribu topeng segumpal hati
60
Di jebak
61
Kemalangan
62
Peralihan
63
Hantam
64
Dunia hantu
65
Tajam
66
Membuang topi hitam
67
Manusia iblis
68
Jangan sampai kena mental
69
Tidak Ada keadilan
70
Sekutu setan
71
Menangkap/Memperangkap
72
Pintu rahasia lainnya
73
Mengincar korban
74
Sari
75
Memaksa
76
Hampir hilang kendali
77
Kibas setan
78
Kebusukan
79
Sesat
80
Skandal Sarma
81
Sengketa jeritan batin
82
Rantai alam bawah sadar
83
Racun iblis
84
Jerami setan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!