Era lalu, putaran masa kepahitan melawan arus jeram.
Rekaman masih menyala memutar cerita kelam, sosok anak kecil yang di bakar hidup-hidup. Karena tubuhnya telah hangus, mereka meninggalkannya. Seorang pria membawanya masuk ke dalam rumahnya yang terletak di bagian sisi barat hutan. Dua orang yang posisi ruangnya berbeda. Mendeteksi denyut jantung melemah dan nafas yang mulai terengah-engah, ki Bata sosok jelmaan naga berkepala dua itu mencoba mengobatinya. Tenaga dalam habis-habisan dia kerahkan demi menyelamatkan wanita yang terjatuh dari jurang. Melihat kondisi kritis anak kecil di depannya, sangat tipis kemungkinan untuk hidup.
“Duh sakit! Dimana aku” Amora bangkit dari kasur yang terbuat dari bambu.
Dia berjalan ke sisi ruangan di sebelahnya, dia terkejut melihat anak perempuan yang hangus terbakar. Mendekat mengamati bentuk tubuh dan menamatkan wajah yang sudah hangus terbakar,. Dia memeluk Pentol dengan tangisan mengerang.
“Simpan tenaga mu untuk membalas semua perlakuan mereka. Kau jangan nampak lemah di depan anak mu.”
“Kamu siapa tuan? Terimakasih menolong ku dan anak ku..”
“Aku adalah Ki Bata. Aku jelmaan naga berkepala dua. Aku menyelamatkan kalian atas panggilan dari salah satu wujud ku. Kau tinggal pilih meminta satu permintaan pada ku. Manik mata Amora mengingat kejahatan yang di lakukan Kasiman.
“Terimakasih banyak telah menolong kami ki. Saya akan selalu mengingat kebaikan aki.”
“Aku tidak habis pikir dengan semua orang-orang desa ini, mereka lebih mempercayai sosok manusia yang menganggap dirinya seperti Tuhan.”
“Dia pria sesat Ki, aku sangat kecewa di tipu dengannya.
...☠️☠️☠️...
NAGA BERKEPALA DUA.
Duka-duka zaman sejarah yang terlewati. Seorang raja yang di kutuk atas kesombongannya, dia membesar-besarkan kekuatan berhenti di tengah hutan bersama para prajuritnya. Kesalahan fatal mengganggu seorang pria yang sedang melakukan persemedian. Dia yang merasa menguasai semua wilayahnya, mengusir pria tua itu hingga membunuhnya. Kutukan hadir dari si pahit lidah sang petapa, raja yang agung berubah menjadi naga berkepala dua.
Satu kepala bersisi baik dan satunya lagi simbol kejahatan. Dari situ ilmunya terbagi dua antara kebaikan dan kejahatan. Amora merasa dirinya sangat beruntung di selamatkan sosok makhluk penunggu dimensi yang tidak terlihat.
Kepala naga simbol ilmu putih sebagai penjaga wilayah hutan dan gunung. Cerita yang telah lama terpendam ini terkuat agar wanita yang di hadapannya bisa memiliki keputusan.
...☠️☠️☠️...
“Aku tidak ada lagi memiliki rasa belas kasih. Kini yang ku pilih adalah memiliki ilmu hitam yang tiada tara. Bisa menandingi kesaktian Kasiman.”
“Baiklah kalau itu keputusan mu, bersiaplah menerima ilmu ku.”
Naga yang sakti mengeluarkan cahaya merah dari mulut bagian kepala kirinya. Dinding gua dan semua di dalamnya hilang bagai tertiup angin. Amora merasa tubuhnya sangat panas, dia yang tidak tahan merasakan bara seolah membakar tubuhnya membuat dia mencari air atau apa saja yang bisa merendam atau mendinginkannya.
“Huah!! Air! Pentol, tunggulah ibu akan segera kembali.”
Amora menutupi anaknya dengan sihir menggunakan ilmu yang baru dia miliki. Dia terbang menuju dataran tinggi, mendeteksi arus aliran mata air hingga melangkah masuk ke dalam dasarnya. Beberapa detik kemudian rasa panas itu pun menghilang, dia mengambil air di atas daun besar mangkuk-mangkukan. Dia kembali menuju ke sang buah hati, saat sampai air yang di tangannya tumpah. Tubuh anaknya dingin membeku. Tidak ada lagi tanda-tanda denyut nadinya.
“Nee, mijn zoon kan niet sterven. Kom op, schat .(Tidak, anak ku tidak boleh meninggal. Ayo bangun sayang).” Tangisan Amora berubah menjadi darah.
Dia menggunakan ilmunya, semua ilmu yang dia kumpulkan termasuk menarik jantungnya secara waras dan sadar. Tidak memperdulikan lagi rasa sakit yang di derita. Dia hanya ingin anaknya hidup. Membawa dendam dalam keabadian. Amora mengorbankan seluruh jiwa dan raganya agar menghidupkan anaknya.
Bisa saja dia masih hidup, ilmu hitam membangkitkan mayat merubah anaknya yang harus ketergantungan dengan semua sesajian seumur hidupnya. Amora takut jika suatu saat dia tiada siapa yang akan meneruskan semua itu.
“Dengan ini, maka seluruh umur ilmu hitam kehidupan ku berkali lipat untuk mu anak ku. Begitu juga dengan ilmu yang baru saja di turunkan naga kepala dua. Ibu akan selalu ada menunggu mu di alam lain” ucap Amora memasukkan semua kekuatan cahaya merah ke dalam tubuh anaknya.
Pecah tubuh wanita itu berkeping-keping, naga kepala dua menyaksikan bagaimana kekuatannya di pindahkan untuk anaknya. Wilayah desa Tandan mengalami gempa bumi, kaki kecil yang bisa menapak lagi itu menghentikan getaran gempa menstabilkan keseimbangan alam. Efek dari kekuatan sang penjaga gunung yang goyah.
Tubuhnya yang hangus terbakar kembali normal. Pandangan penglihatannya juga lebih tajam, dia bisa melihat dunia lain bersamaan dunia nyata.
Membuka mata melihat ibunya meninggal, sisa tulang ekor di genggam memperlihatkan wajahnya yang penuh dendam. Pembunuhnya adalah ayahnya sendiri, sosok Kasiman yang yang tidak pernah menganggap dia adan ibunya ada. Pentol memukul bumi sebanyak tujuh kali, dia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tanah. Mantra pembangkit buku setan yang di tarik bagian tangan sebelah berwarna hitam legam.
Ada tengkorak sebagai simbol kekuatan naga ilmu ghaib hitam. Dia berjanji pada diri sendiri akan membalaskan dendam atas kematian ibunya. Tulang ekor ibunya di bawa kemanapun dia berada, tulang itu bahkan di jadikan mainan kalung di lehernya. Cukup dengan membayangkan wajahnya saja satu persatu warga-warga yang mengaraknya keliling desa sampai membakarnya tewas seketika.
“Ada apa ini tuan, engkau berkata bisa menjadi pelindung kami. Hampir semua warga meninggal secara tiba-tiba”
“Apakah kau mulai meragukan kekuatan ku Manan? Aku bisa mencekik mu tanpa menyentuh sekarang juga. Kematian mereka tidak ada hubungan dengan ku, bisa saja di dalam hati mereka tidak sepenuhnya mempercayai ku sehingga mudah terkena sihir lainnya!”
Ucapan manis, sihir yang hebat dan ancaman yang di layangkan. Kasiman duduk di singgasana sambil membawa tongkat kebanggaannya. Puluhan orang tunduk di hadapannya, mereka di suruh mengunyah kulit mayat yang dia sediakan di dalam peti.
Manan sebagai pengawal pendampingnya pertaman kali maju di ikuti pengikut lainnya. Beberapa dari mereka tidak kuat menelan, merasakan belatung dan cacing menggeliat membuat mereka memuntahkan isi perutnya.
“Maafkan kami ya tuan ku, kami tidak bisa menelannya.”
“Dasar bodoh! Mati lah kalian seperti yang lainnya. Jangan meminta apapun dari ku!”
“Tidak! Kami tidak mau mati tuan ku, kami akan mencobanya sekali lagi” ucap pria pengawal para pengikutnya.
Tanpa mengunyah, kulit mayat di telan ke masuk ke dalam kerongkongan di tendang dengan air sebanyak-banyaknya. Kasim tertawa terbahak-bahak, dia mulai meramu ilmu di dalam botol berasap dari alam lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
🌺Artilia
durian runtuh
2023-07-13
0
𝘼𝙏𝙀𝙀ⁿᵃᵍᵉʳ𝙕
hadir
2023-07-07
0
𝘼𝙏𝙀𝙀ⁿᵃᵍᵉʳ𝙕
dia datang
2023-07-07
0