Petrok hanya membalas semua pertanyaan anak-anak kelas 7 G dengan senyuman kecut. Dia menjauhkan diri dari yang lainnya. Di saat jam pelajaran pandangan melihat ke sekitar seperti orang ketakutan. Hari berikutnya jadwal kunjungan kelas dan wali kelas.
Mereka duduk di ruang tamu menunggunya, dia di dampingi ibunya menuruni tangga.
Senyuman, sapaan dan candaan mereka hanya di respon datar. Yumi memperhatikan manik matanya yang tidak normal. Dia melototi sosok berdiri di sampingnya, menyadari teman sekelas seolah melihat apa yang sedang dia alami. Petrok berlari menaiki tangga, semuanya tertegun akan sikapnya yang aneh.
“Kami pamit pulang ya bu” ucap ibu wali kelas pada Leli.
Ketukan pintu yang di hiraukan, dia menjerit mengatakan tidak mau di ganggu. Leli menghela nafas, seharian anaknya tidak mau keluar dari kamar. Gezi baru saja pulang kerja mendengar keluhan istrinya, dia juga merasa ada yang aneh pada anaknya. Dia mendengar laporan dari rapat pertemuan orang tua murid yang mengatakan Petrok, Amat, Eno dan Tora terakhir kali bermain bersama di ruangan IPA.
Dubraghh__
Dobrakan Gezi membuka pintu kamar anaknya. Petrok menggigil di sudut kamar. Dia membungkus tubuhnya dengan selimut. Gezi mengurungkan niat memarahinya saat menyentuh suhu tubuh anaknya yang panas. Dia mengangkatnya ke kasur, perlahan lalu memanggil Leli.
Di dalam tidur, Petrok berdiri di depan kelas. Di tangannya ada sebuah pisau lipat, pelajaran praktek IPA kali ini tidak di langsungkan di ruangan khusus. Akan tetapi, guru IPA yang ada di sampingnya bukan lah pak Sesem. Tampak ibu kepala sekolah yang tertawa menyeringai memerintahkannya memulai praktek pelajaran.
Antara sadar dan tidak, Petrok ingat bab terakhir membahas mengenai tekanan zat dan penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Namun di setiap meja berjejer bangkai hewan mati yang membusuk. Tangan ibu Kepsek yang dingin menyentuh tangannya. Dia tersenyum lebar mengarahkan pisau ke badan katak mati. Pisau tajam yang merobek mengeluarkan darah kental. Petrok kesakitan merasa tangannya tertusuk pisau.
“Ssthh! Arghh! Sakit!”
Dia berhenti melepaskan pisau.
“Ayo Pet, jangan berhenti.”
“Tapi bu, tangan saya sakit banget!” Ucapnya merintih kesakitan.
“Loh, ya justru bagus kalau kamu merasakan sakit. Berarti kamu terlalu menghayati pelajarannya.”
Ucapan aneh ibu Kepsek membuat dia semakin ketakutan. Ramai suara panggilan membangunkannya, dia melihat ada ibunya yang tertidur bersandar pada kursi.
Merasakan pergelangan tangannya sangat sakit. Pandangannya tertuju pada sosok yang berdiri di balik Tirai gorden tinggi terbawa angin kencang, hujan deras masuk membasahi terlihat kilatan cahaya petir dari langit membuat dia semakin ketakutan.
“Aku tidak suka suasana seperti ini. Aku ingat keanehan di sekolah setelah aku dan teman-teman memegang buku merah itu” gumamnya.
Leli terbangun melihat anaknya kembali sadar. Dia memeriksa suhu tubuhnya normal. Merasakan cuaca yang sangat dingin, dia menutup rapat jendela dan tirai. Menyalakan lampu hingga memasang lampu emergency sebagai jaga-jaga pemadaman listrik.
Setelah memberikan beberapa suap sup hangat dan meminumkannya obat. Leli meminta anaknya kembali beristirahat.
“Panggil ibu kalau kamu butuh sesuatu..”
“Terimakasih banyak bu” ucap Petrok.
“Bu, tunggu__” perkataannya terhenti.
Leli duduk di pinggir tempat tidur, dia mengusap kepala putranya. Dia tau putranya itu sangat sulit berkata jujur jika sedang menutupi sesuatu. Dia menunggu Petrok yang masih bingung memulai pembicaraan.
“Kalau nggak cerita sama ibu, sama siapa lagi?”
“Begini bu, Petrok takut akan kaitan kematian teman-teman karena menemukan buku merah yang ada di ruangan alat peraga IPA.”
Ting_Tong__
Bunyi bel memutuskan pembicaraan mereka. Leli membuka pintu tersenyum melihat kedatangan Edel. Pertemuan kedua sahabat lama itu membuat suasana rumah meriah walau hanya dua percakapan ringan dua ibu-ibu di dalamnya. Obrolan Leli terhenti saat mengatakan anaknya sedang sakit, dia menunjukkan kamar Petrok yang ternyata teman satu kelas Yumi.
“Kamu kenal Petrok nak?” tanya Leli.
“Ya bu, Petrok kan baru pindah ke kelas Yumi..”
Menyadari kedatangan Yumi, dia kembali menutup mata. Petrok benar-benar malas membuka pembicaraan karena takut banyak pertanyaan dari temannya.
“Petroknya lagi tidur bu, sebaiknya kita jangan ganggu” ucap Edel.
......................
Yumi sering melihat penampakan ibu kepala sekolah yang berpindah-pindah. Pernah dia melihat sosoknya berada di dua tempat yang berbeda. Sosok mencurigakan itu hanya dia yang mengetahuinya. Selama di sekolah, dia berusaha menghindari ibu kepala sekolah berhantu itu.
Mata batin Yumi melihat sosok berwajah menyeramkan di balik ibu kepsek. Wajah wanita tua menyeramkan yang memiliki tanduk di kepalanya. Sorot matanya seperti menyalakan api yang membara, jari jemari runcing menempel hewan-hewan kecil yang berjatuhan.
“Yumi, serahkan diri mu..” suara wanita tua menggema di udara.
Sosok anak yang terlahir memiliki penglihatan mata ghaib lainnya itu seolah pernah hidup di kehidupan sebelumnya. Hari ini matanya bengkak memerah, dia tidak sanggup berkata apapun.
Mimpi buruk membuat dia tidak bisa berhenti menangis.
Lahir di dalam hutan, bulan purnama yang bersinar terang menyinari segala bentuk kejahatan sehingga kekuatan yang tersembunyi atau sengaja bersembunyi ketakutan akan kelahirannya. Dia pewaris terakhir yang memiliki kekuatan istimewa dari para cenayang.
Bayi perempuan yang memiliki sinar kekuatan lapisan alam ghaib. Pada malam itu banyak makhluk halus maupun para dukun mengincar kekuatannya, sosok bayi yang di beri nama Punawa setiap malam selalu menangis karena merasakan banyak kekuatan hitam mengelilinginya.
“Ibu akan selalu melindungi mu anak ku” Ranjana memasang mata ghaib menjaga anaknya agar tidak tersentuh gangguan apapun.
Darah bayi yang bisa di jadikan kekuatan hitam terbesar, sedari kelahiran sampai dia terlahir kembali. Yumi melihat kematian sendiri yang menyakitkan, dia yang tidak bisa kembali ke tubuhnya sendiri karena waktu di alam lain telah terhenti.
Tanda simbol bintang di lengan tangannya sebagai tanda dia memiliki kekuatan mampu menghalangi kekuatan lain. Bisa menembus ruang dan waktu. Melihat kematian, jin, arwah bahkan dapat melepaskan diri dari tubuhnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
fanfan
yumi udah tau si ibu kepala sekolah berhantu. bilang ke emak cin
2023-07-14
0
dedi jurnal
7 G terus apa ada sesuatu?
2023-07-14
0
Forasima SMA N
Yumi melihat semua tandanya aku akan berada di jalur depan ya
2023-07-13
0