Suara gesekan menggesek lantai, dia mendengus merasakan hawa manusia kental di dalam ruangan itu. Dari belakang Fael mengangkat kursi memukulnya, kursi terbanting bersama tubuhnya terpecah di dinding.
“Anak-anak, coba kalian lihat lukisan asli yang terbuat dari manusia ini. Sungguh indah bukan? Ihihih” ucap bu kepsek memperlihatkan wajahnya berubah menyeramkan.
Yumi melihat kekuatan batu hijau di bagian kepalanya, sebuah tanda dia di hidupkan dari kematian. Kekuatan yang bertumpu di tanduknya yang besar, Yumi tidak kuat menahan kekuatan besar iblis yang ingin menguasai dirinya. Kokom mengangkatnya membawa berlari. Di tengah ruangan mereka terpisah sehingga Deya menjerit sekuat-kuatnya.
“Deya,, kau tidak ingin menjadi siswi yang popular? Aku bias mengabulkan semua keinginan mu”
Ibu Kepsek berwujud manusia tersenyum meminta dia menyambut tangannya. Sosok yang menyeramkan terlihat normal di pandangannya. Deya mengangguk setuju meraih tangannya yang dingin. Kepsek hantu membawanya terbang ke atas atap. Dia berjanji setelah persyaratan di penuhi maka tidak akan ada hambatan apapun mencapai keinginannya.
Keinginan Deya hanya satu, ingin meraih juara satu seperti Yumi dan bias mendapatkan perhatian Petrok maupun si jenius Kokom. Tapi meminta dengan setan tanpa berusaha dengan hasil keringat sendiri sama saja menumbalkan diri untuk di mangsa. Kekuatan kepsek semakin besar meneguk darah segar anak kecil. Deya terjun dari atap gedung, suara jeritannya terdengar teman-temannya. Dia meninggal tepat di bawah kaki setan.
“Ahahah…” tawa bu kepsek sambil menghisap darahnya.
“Apa yang di pikirkan Deya sampai mau mengikuti perkataan bu kepsek?” bisik Kokom melihatnya dari balik dinding.
“Hiks, Deya..” Yumi menangis tidak sanggup berkata lagi hanya bias terisak pilu.
“Cepat, kita harus menemukan buku terkutuk itu!” Petrok melihat pintu berwarna merah.
Piloks simbol tengkorak mirip pada buku. Dia menunjuk meminta teman-temannya mengikuti, sukma Dira melayang memperhatikan teman-temannya mulai menyentuh ujung pena.
“Jangan sentuh, kalian akan jadi makanannya. Kalian hanya perlu membaca apa isi penghapus mantra terkutuk itu” ucap Dira memasang posisi berjaga.
“Tapi Dira, di dalam buku ini menyebutkan salah satu harus di jadikan tumbal agar memutuskan rantai dan mengembalikan waktu yang hilang. Mau atau tidak, aku harus memegang pena kepala tengkorak.”
Yumi mulai menegakkan pena.
Tangannya di geser Dira, dia membenamkan diri agar teman-temannya yang lain bias membuka lembar selanjutnya.
Mereka menutup semua pembatas dengan taplak meja, Yumi membaca bagian pengembalian waktu. Huruf-huruf yang sulit terbaca karena pudar di tutupi bekas tetesan darah.
“Cepat! Aku tidak bisa menahannya bergerak!” ucap Dira.
Yumi menggunakan mata batin menembus kejadian masa lalu, dia melihat sekelompok manusia berpakaian hitam mengelilingi jasad bu kepsek. Di bawah bulan yang bersinar, mantra di ucapkan dari buku. Beberapa waktu sebelum kematiannya, bu Pentol berpesan agar di hidupkan kembali guna mencapai kekuasaan yang kekal abadi.
Semasa muda wanita itu rajin mendatangi dukun. Dia terlalu banyak di dudukkan ilmu penjagaan sehingga lambat laun dirinya di kuasai iblis. Sosok kepala sekolah hantu yang sering mengganggu benar adanya. Bu Pentol memiliki sisi lain mengincar darah manusia.
Yumi berjalan membuka pintu kembali ke dunia nyata, dia memanggil Kokom, Obe dan Dira agar segera masuk. Mereka tersenyum tidak sabar ingin kembali, tapi Dira malah mencengkram kuat tangannya. Dia mengeluarkan wujudnya yang lain menarik paksa dia masuk ke dalam. Dira menutup pintu, menahan Yumi agar tidak masuk kembali ke masa lalu.
“Tidak! Dira! Ayo pulang! Dira!” panggil Yumi.
......................
Perkemahan kacau balau, para orang tua menjemput dengan raut wajah yang gusar. Tidak ada yang berani bertanggung jawab dalam masalah berat ini. Seperti biasa ruangan kepala sekolah kosong dan nomornya tidak aktif. Empat siswa-siswi menghilang secara misterius, mereka mulai mengaitkan rumor kematian Jasmin dan sosok makhluk halus menyerupai kepala sekolah.
Sekolah itu seperti Viral akan tragedi kematian para murid. Garis pembatas polisi, para wartawan dan detektif mengusut penyelidikan. Para pekerja yang berada di lingkungan sekolah tidak henti di interogasi. Penyelidikan pemanggilan guru secara bergilir semakin membuat ketidak tenangan karena harus mengangkat telepon dan memenuhi panggilan.
Liburan sekolah di habiskan dengan berbaring di atas kasur. Sepulang dari perkemahan demamnya naik turun dan sering kali dia mengigau. Jarum infus menggantung di kamarnya, suster pribadi mengganti sambil mengecek suhu tubuhnya. Kedua orang tuanya khawatir melihat kondisi anaknya yang tidak kunjung membaik.
“Buk, tadi kata pak Selamet kalau anak-anak lain pada di bawa berobat ke rumah mbah Surip”
“Nggak, ibu nggak pernah percaya sama dukun pak. Buktinya dulu kita bawa dukun ke rumah, eh si Yumi menunjuk bilang ada yang ngikutin pak tua itu malah Tanya-tanya masalah penampakan hantu lainnya. Ibu nggak mau anak kita jadi azas manfaat para dukun.”
“Yumi..Yumi! kemari lah!”
Panggilan suara kepala sekolah menggema di langit-langit ruangan. Dia masih dalam keadaan sadar namun matanya terasa sangat berat untuk di buka. Mendengar dengan jelas perdebatan kedua orang tuanya yang duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Sosok penampakan hantu kepsek mulai hadir yang dia rasakan makin mendekatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Mawar 🌹
Yumi hati hati ya kakak jemput ni kalau nakal. itu bu pentol kurang kerjaan apa ya buat labirin hantu
2023-06-25
0
Dewi
pentol ke mana ? tiap dia ngomong gigi q mau copot
2023-06-23
0
BTS
pentolan aja di tambahin
2023-06-20
0