...Kebenaran di Balik Trauma...
Di dalam rumah sakit, Greysie duduk di kursi, melamun mengenang kejadian dua setengah tahun yang lalu, saat aku mabuk berat dan mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak aku katakan.
"Omongan Cara waktu itu..." Greysie menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. "Apa semua itu benar?" gumamnya, tangannya masih terlipat di depan dada.
"Hm, aku harus cari tahu lebih banyak soal ini. Pasti omongan Cara waktu itu ada hubungannya dengan traumanya sekarang. Kemarin, saat berantem sama aku, Cara bilang sesuatu yang aneh. Dia bilang dia benci pembunuh keluarganya, tapi di sisi lain, dia juga sayang sama ayahnya. Aku nggak ngerti. Apa jangan-jangan ayahnya yang bunuh keluarganya sendiri?" Greysie terdiam sejenak, berpikir keras. "Lalu, apa akhirnya Cara yang bunuh ayahnya sendiri?" batin Greysie terus bertanya.
Greysie menatapku dengan serius, berdiri dan menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan kecemasan, tapi juga rasa penasaran yang mendalam tentang kebenaran diriku. Ia lalu berjalan mendekati pintu. Perlahan, tangannya memutar gagang pintu, tapi tiba-tiba ia berhenti saat mendengar teriakanku.
"Haaah!" aku berteriak, napasku pendek dan terengah-engah.
Aku terus memandang ke kiri, kanan, dan depan, seolah mencari sesuatu yang tidak tampak. Rasa gelisah dan takut menyeliputi diriku, merasuki kulit, daging, hingga ke tulang-tulangku.
Greysie yang cemas cepat menghampiriku, berusaha menyadarkan aku yang tengah dilanda ketakutan dan kecemasan yang luar biasa.
"Raaa!" panggil Greysie, berjalan cepat ke arahku.
"Ra, hey, Ra, sadar, Ra! Ini aku," ucapnya sambil memegang wajahku. "Ini aku, Ra."
"Get the fuck out of my life!" aku menutup telinga, berteriak. "Out of my life!!"
"Haa!, Raaa," Greysie terkejut, menatapku dengan cemas. "Raa, sadar, Ra! Hey, Raa!" Ia terus memegang wajahku dengan lembut. "Ini aku, Ra. Ini aku. Lihat aku, lihat aku. Ini Grey, ini aku," ucapnya, berusaha menenangkanku.
Suara Greysie menyadarkanku, aku menatapnya, "Grey..." ucapku lirih, termenung, merasa terperangkap dalam perasaan yang tak bisa aku ungkapkan.
"Kamu kenapa?" tanya Greysie, dengan tatapan cemas yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
"Ak..." Aku terdiam, air mata mulai menetes.
"Emfff..." lirihku, suara itu hampir tak terdengar. Aku tak bisa berkata-kata lagi.
Tiba-tiba, aku menangis tersedu-sedu. Tangisku semakin menjadi, seakan aku baru saja diterjang ombak besar yang memukulku dengan kekuatan luar biasa.
Suaraku serak dan semakin kecil. Setiap tarikan napasku terasa sesak, seperti aku akan kehabisan napas. Di saat mereka memberiku tekanan yang tak tertahankan, aku merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi pada diriku.
Kesendirian malam yang sunyi seakan menguasai hidupku. Suara-suara mengerikan memenuhi kepalaku, sementara kedua tanganku menutupi telingaku, berharap suara itu berhenti. Tapi, air mata mengalir deras, mewakili perasaan yang tak bisa aku ungkapkan, serta kegelapan menjadi saksi bisu penderitaanku. Hatiku terus berteriak tolong, namun tak ada yang mendengarnya.
"Tolong..." batinku, sambil menatap Greysie dengan pandangan penuh harapan. "Aku!" teriakku dalam hati.
Greysie menatapku dengan penuh keprihatinan. Baru kali ini ia melihatku dalam keadaan seburuk ini, seperti terbelenggu dalam penderitaan yang tak bisa dilepaskan. Belenggu itu seakan menjadi bagian dari diriku yang sulit untuk diterima. Greysie akhirnya memelukku erat, seakan tak ingin melepaskanku dari pelukannya.
---
Keesokan harinya, Rasya datang bersama seorang dokter. Ternyata, dokter itu adalah orang yang merawat Ayah Greysie dan menjahit lukaku sebelumnya. Wajahnya terasa familiar.
"Hai, em, Lista, kamu udah mendingan?" tanya Rasya, sambil tersenyum. Aku mengangguk dan membalas senyumannya.
Greysie dan Rasya saling menyapa dengan senyuman. Sementara itu, dokter datang untuk memeriksa kondisiku.
"Em, kenalin, ini teman aku, dr. Aric," Rasya memperkenalkan. "Dia ahli bedah di rumah sakit ini," lanjutnya.
Dokter Aric kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Greysie sebagai bentuk perkenalan.
"Salam kenal," ucap Aric sambil tersenyum. "Nama aku Aric."
"Salam kenal," Greysie membalas sambil tersenyum. "Aku Greysie."
Aric kemudian menjabat tanganku, "Salam kenal, aku Aric."
"Calista" jawabku lirih sambil tersenyum tipis.
"Eh, jadi... Aric mau ngecek keadaan kamu, Lista," seru Rasya. Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
Dokter Aric mulai memeriksa lukaku dan mengganti perbannya. Sesekali, Rasya dan Aric saling melirik satu sama lain sebelum kembali memperhatikan kami.
Ruangan terasa sunyi, seakan ada ketegangan yang menggelayuti udara di antara kami. Greysie menyilangkan tangan dan terus menatapku, sementara Aric yang sedang mengganti perban di perutku tampak seperti berada di tengah situasi yang canggung.
"Oke, em... sudah selesai," ujar dr. Aric sambil melihatku. "Callista, sebaiknya jangan banyak bergerak dulu," lanjutnya, melirik Rasya yang tampak bingung.
"Kapan saya boleh pulang, dok?" tanyaku dengan ekspresi ceria, mencoba memecah keheningan. Aku terus tersenyum.
"Hm," Aric tersenyum, "Callista, kamu harus lebih memahami kondisi tubuh kamu. Luka ini adalah luka tusukan yang tidak diobati dengan benar selama berhari-hari. Apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya. Meskipun lukanya tidak dalam, bisa saja mengancam nyawa kalau sampai infeksi karena dibiarkan begitu saja," jelas Aric dengan nada mengomel.
"Hm, oke, makasih dok," ucapku sambil tersenyum.
Greysie tersenyum puas, terlihat senang melihatku dimarahi oleh dokter. Ia terus tersenyum sambil memandangi dr. Aric, dan aku melihatnya.
"Hm, rupanya gitu," batinku. Aku tersenyum dan melambai ke arah Greysie. Dia menghampiriku.
"Kamu suka sama dokter itu, kan?" tanyaku, sedikit meninggikan suara.
Greysie terkejut dan secara refleks menoleh ke arah Aric. Akhirnya, mereka saling bertatap-tatapan.
---
Sementara itu, di sebuah apartemen, seorang pria tampan dengan potongan rambut Korean medium undercut terlihat marah. Ia sedang melihat beberapa foto di ponselnya, kemudian menelpon seseorang.
"Kapan ini?" tanya pria berpotongan rambut Korean medium undercut dengan ekspresi tegas.
"Sekitar tiga minggu yang lalu, Bro," jawab pria muda dengan gaya rambut taper fade yang juga tampan.
"Lu kenal cowok yang ada di sebelahnya?" tanya pria itu lagi.
"Hm, gue nggak kenal, bro, tapi mukanya kelihatan oke. Kayaknya mantan lu suka sama dia," jawab pria berambut taper fade.
"Minggu depan gue balik ke Indo, lo kumpulin anak-anak," perintah pria berwajah tegas itu.
"Siap, Bro," jawab pria berambut taper fade itu dengan tegas.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Syabil_aw
wkwkwkk saingan lo berat bro
2023-07-24
1
ミフタン
wkwk cemburu
2023-07-21
1