"Gr-ey?" panggilku pelan, suaraku bergetar.
Aku menoleh perlahan ke belakang, dan seketika terkejut melihat sosok itu berdiri begitu dekat. Mataku membelalak, napasku tercekat.
"Aaahh!!" aku berteriak, panik, sambil menepis tangannya yang berusaha menyentuhku. Kakiku spontan bergerak mundur, tubuhku gemetar hebat hingga punggungku menabrak meja dapur. Tanganku meraba-raba permukaan meja, mencari pegangan, tetapi sosok itu malah semakin mendekat, mencoba meraihku lagi.
"Si-siapa lo?!" seruku, gemetar. Pandanganku tak lepas dari pistol yang terselip di balik jaket hitamnya.
"Dia pasti udah ngelakuin sesuatu..." batinku. Pikiranku berlari liar, mencoba merangkai kemungkinan-kemungkinan buruk.
Mataku terus melirik ke arah pistolnya. Dengan suara yang lebih tegas, aku mendesak, "Lo udah bunuh orang, ya?! Jangan-jangan... itu temen gue?!"
Orang berjaket hitam itu tetap bungkam. Dia hanya menatapku dingin, tanpa ekspresi, lalu melangkah lebih dekat. Tangannya kembali mencoba meraihku.
"Hey... stop!" bentakku sambil menepis tangannya dengan kuat. Namun, reaksinya tidak berubah. Dia justru tersenyum tipis, yang entah kenapa membuatku semakin takut.
"Tenang, tenang..." katanya, suaranya terdengar rendah namun cukup jelas. "Gue bukan orang jahat."
Senyumnya melebar, tetapi aku tidak bisa mempercayainya. Napasku semakin memburu. Dia melanjutkan, "Gue detektif. Gue ke sini untuk menyelidiki kasus pembunuhan di sekitar lingkungan ini. Ada beberapa rumah yang kami curigai sebagai tempat persembunyian pelaku pembunuhan berantai."
Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Aku langsung tegang, bersiap melawan jika dia mengeluarkan senjata. Tapi yang muncul hanyalah kartu identitas polisi. Dia mengangkatnya di hadapanku, membiarkanku membaca detailnya.
"Kami cuma ingin kasih tahu supaya kalian lebih waspada. Sepertinya kasus ini terkait dengan pembunuhan berantai yang sudah berlangsung dua tahun terakhir," tambahnya. Nada suaranya tenang, seperti mencoba menenangkan diriku.
Aku tetap berdiri kaku, bingung. Tatapanku terpaku pada wajahnya. Dia terlihat sangat muda, bahkan terlalu muda untuk seorang detektif polisi.
"Dia ini beneran detektif?" pikirku, ragu.
Seakan membaca pikiranku, dia tersenyum lagi. "Gue tau, lo pasti heran. Banyak orang juga mikir gue terlalu muda buat jadi detektif." Dia mengulurkan tangannya ke arahku.
"Em...Makasih..." gumamku pelan, akhirnya menerima uluran tangannya.
"Udah gak takut lagi, kan?"
Aku mengangguk kecil, meskipun perasaan was-was masih tersisa.
---
Flashback On.
Satu jam sebelumnya, di pinggiran hutan dekat perumahan elit, seorang pekerja rumah tangga bernama Hartono membawa kantong sampah besar untuk dibuang. Majikannya melarang sampah itu dibuang di tempat pembuangan umum atau halaman belakang, sehingga Hartono terpaksa pergi ke hutan kecil di sekitar perumahan.
Setelah membuang sampah, Hartono berbalik untuk pulang. Tapi langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu—sosok manusia tergeletak di tanah, tidak bergerak. Penasaran, dia mendekat untuk memeriksa.
Namun, ketika jaraknya cukup dekat, dia tersentak. "Ya Allah..." gumamnya lirih. Tubuh itu berlumuran darah, dengan beberapa bagian yang tampak hilang. Dia mundur beberapa langkah, lalu berlari sambil berteriak.
"Tolong! Tolong! Ada orang mati! Ada orang mati!" teriaknya. Tapi tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah. Lingkungan elit itu memang cenderung sepi, dengan penghuni yang jarang berinteraksi.
Hartono terus berlari, hingga seorang gadis remaja muncul dari salah satu halaman rumah.
"Pak, ada apa kok teriak-teriak?" tanyanya, berjalan mendekat.
Hartono berhenti, terengah-engah, wajahnya pucat. "Di... di hutan! Ada mayat, Neng!" katanya dengan suara terputus-putus.
Gadis itu mengangkat satu alisnya. "Pak, tenang dulu. Tarik napas, jelasin pelan-pelan."
Setelah mengatur napas, Hartono menjelaskan kejadian itu. Tapi respons gadis itu tidak seperti yang dia bayangkan. Dia hanya menatap Hartono dengan ekspresi datar, bahkan sempat tersenyum tipis.
"Bapak yakin cuma lihat mayat? Gak lihat pembunuhnya juga?" tanya gadis itu santai.
Hartono menggeleng. "Enggak, Neng. Tapi... tadi bapak dengar suara aneh. Kayak gesekan besi."
Gadis itu memiringkan kepalanya, berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. "Nih, pakai ini buat lapor polisi."
Hartono dengan tangan gemetar mengambil telpon si gadis dan menelpon Operator 112.
"Ha-halo..." suara Hartono terdengar gemetar saat berbicara.
"Halo, ini layanan gawat darurat. Ada yang bisa kami bantu?" jawab operator dengan nada tenang.
"Eh...em...saya tadi lihat ada mayat di hutan dekat perumahan sini, Bu," ujar Hartono gugup.
"Bapak bisa berikan nama dan alamatnya?" tanya operator.
"Nama saya Hartono. Em...alamatnya di Perumahan Indah," jawabnya terbata-bata.
Sementara Hartono masih berbicara di telepon, seorang gadis remaja itu hanya berdiri diam dengan tangan bersilang. Sesekali ia tersenyum, membuat Hartono merasa semakin canggung. Setelah selesai menelpon, Hartono menyerahkan ponsel si gadis dengan wajah penuh tanda tanya.
"Aneh banget...kenapa anak itu malah santai banget?" pikir Hartono dalam hati.
Si gadis menerima ponselnya sambil tersenyum kecil, seolah membaca pikiran Hartono.
"Hn..." ia tertawa kecil, menunduk sebentar, lalu menatap Hartono lagi.
Tawa itu membuat Hartono semakin bingung. Tapi, bukannya merasa risih, si gadis malah tertawa lepas.
"Bfff...hahaha! Maaf, Pak, maaf," katanya sambil menahan tawa. "Tapi muka Bapak lucu banget, kayak orang takut gitu. Apa Bapak takut sama saya?" godanya sambil tersenyum.
Hartono menggaruk lehernya yang tak gatal, tertawa kecil dengan canggung. "Eh...anu...bukan, Neng. Bapak cuma heran aja. Kok Neng nggak kaget atau takut dengar kejadian tadi?"
Si gadis memiringkan kepala sambil mengerutkan bibir. "Kaget kok, Pak. Aku kaget kok Bapak bisa tahu, hehe," jawabnya santai.
"Tahu apa?" batin Hartono bingung. Ia pun bertanya langsung, "Maksudnya tahu apa, Neng?"
Si gadis mendekat sedikit dan berkata pelan, "Tahu suara gesekan besi tadi."
Mata Hartono membulat. Jantungnya berdegup kencang. Tapi, si gadis malah tertawa lagi.
"Hahaha! Bercanda, Pak! Jangan dianggap serius," katanya sambil mengembalikan ponselnya ke dalam kantung celana. "Udah, Pak. Saya masuk dulu, ya."
Hartono mengangguk gugup. "I-iya...makasih, Neng," jawabnya terbata-bata.
Gadis itu berjalan masuk ke rumahnya, masih terkekeh kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hartono hanya bisa berdiri di tempat, masih memikirkan sikap gadis tadi yang aneh tapi santai.
---
Beberapa Menit Kemudian. Polisi tiba di lokasi. Hartono memberikan keterangan kepada seorang detektif muda berpenampilan rapi dengan potongan rambut ala Korean comma hair.
"Jadi, gadis itu memberikan ponselnya untuk Bapak telepon bantuan?" tanya si detektif.
"Iya, tapi..." Hartono berhenti sejenak, ragu-ragu.
"Tapi apa?" tanya detektif, penasaran.
"Dia...aneh. Anak itu kelihatan terlalu tenang. Seharusnya, anak seusia dia kaget atau takut dengar soal mayat di hutan," jelas Hartono.
Detektif mengangguk sambil mencatat. "Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya. Kami akan menghubungi Bapak lagi jika diperlukan."
Sementara itu, polisi menyisir hutan dan area sekitar. Tak lama kemudian, seorang gadis remaja berlari ke arah rumah tempat mereka berada sambil berteriak, "Greysie! Greysie!"
Detektif memperhatikan gadis itu dengan pandangan heran, seolah mencoba menilai sesuatu. "Siapa dia? Apa dia gak lihat kekacauan ini?" pikirnya.
Detektif melihatnya sekilas, lalu memutuskan untuk mengikuti gadis itu. Ia terus memanggil, tapi gadis itu tidak menghiraukannya. Gadis itu langsung menuju dapur, seperti mendengar sesuatu.
Flashback Off.
---
Masih di dapur, Cara Calista—si gadis remaja—bertemu dengan detektif yang tadi mengikutinya.
"Kamu temannya Greysie, ya?" tanya detektif.
"Eh, kok tahu, Pak?" tanyaku menatapnya bingung.
"Tadi kami dapat keterangan dari teman kamu soal kasus ini," jelas detektif.
"Hah? Jadi, sekarang teman aku di mana, Pak?" tanyaku cemas.
"Sepertinya dia masih di dalam rumah ini bersama rekan saya," jawab detektif.
"Kami menduga rumah ini digunakan pelaku pembunuhan berantai sebagai tempat pelarian. Ada darah yang baru kami temukan tadi," lanjutnya.
Saat detektif menjelaskan, Aku mendengar langkah kaki mendekat. Suara itu semakin jelas. Tiba-tiba, seorang pria muncul di depan pintu dapur bersama seorang gadis remaja. Mereka berhenti sejenak, lalu menoleh ke arahku dan detektif.
"Ra...?"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Humairah Ira
👍👍👍
untukmu broo
2023-09-01
0
Penelop3
Salam kenal dr lolipop 😁
2023-08-09
3
CatForD
sapose??
2023-08-05
1