BAB 5 (Part 3)

...Kecurigaan Greysie...

Dua minggu lalu. Bryan menerima laporan dari Edrick bahwa Arya Wijaya, ayah Greysie, telah mengetahui bahwa mereka sedang menyelidikinya.

"Aku kehilangan kontak dengan orang-orang yang kita suruh, Pak. Sepertinya Arya Wijaya sudah tahu kalau kita sedang menyelidikinya. Sekarang dia malah menyelidiki Pak Bryan dan bersiap untuk membalas," jelas Edrick.

"Hm... kalau begitu, aku gak punya pilihan selain melawannya secara langsung. Pancing dia ke tempat yang sudah kita siapkan," ujar Bryan tegas.

"Baik, Pak," jawab Edrick singkat.

----------------

Hari ini. Di dalam rumah Bryan, ia sedang berbicara dengan Cassie, pacarnya. Mereka merencanakan sesuatu yang jahat.

"Babe," ucap Cassie dengan nada memohon sambil menatap Bryan, "aku mau mereka lebih menderita lagi."

"Yeah, I know, babe," jawab Bryan sambil menggenggam tangan Cassie. "Ini baru permulaan. Kita akan buat mereka dan keluarganya itu semakin hancur. Ide kamu untuk membuat keretakan di antara mereka itu benar-benar cemerlang. Gak lama lagi, hubungan mereka pasti rusak dengan sendirinya."

Cassie tersenyum puas, sementara Bryan melirik ke arah papan rencana yang penuh dengan detail strategi mereka.

---

Di kamar rumah sakit. Greysie sedang duduk di ranjang, memikirkan banyak hal. Ingatan tentang percakapannya denganku terus berputar di kepalanya.

"Lo mau gue bunuh seseorang buat lo?" tanyaku waktu itu.

"Iya, terserah lo," jawab Greysie sambil menutup telinga. "Gue udah gak peduli lagi."

Dia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu. Namun, ingatannya terus berlanjut. Ia terkejut saat terlintas gambaran sebilah pisau yang terjatuh dari kantong jubah hitam, serta bercak darah di sekitar tombol misterius yang pernah dilihatnya.

"Argh..." Greysie menggelengkan kepala. "Gak, gak... gue ngapain sih..." ucapnya sambil melihat ke arahku. "Gak mungkin, Cara..."

"Grey?" panggilku pelan. Dia tetap diam, terlihat melamun.

"Grey?" ulangku sambil memegang tangannya. "You okay?"

"Hah? Em, eee... kamu udah bangun, Ra?" jawab Greysie gugup.

"Hm... kamu kenapa?" tanyaku, menatapnya penuh rasa ingin tahu.

"Em, gak apa-apa. I’m okay," jawabnya dengan senyuman kecil, meskipun jelas ada sesuatu yang mengganggunya.

"Kapan aku bisa pulang? Aku gak betah di rumah sakit kayak gini," tanyaku mencoba mencairkan suasana.

"Kamu sebenarnya..." ucap Greysie sambil menatapku tajam. "Kenapa sih?"

"Maksud kamu?" tanyaku bingung.

"Ini kok bisa gini?" Greysie menatapku penuh tanya.

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada ragu, "Kemarin... kamu tau kan beberapa minggu terakhir ini kita sering diserang orang asing? Nah, kemarin pas aku lagi keluar sendiri, tiba-tiba mereka nyerang aku."

"Kapan kejadiannya?" Greysie menatapku curiga. "Luka kamu ini kayak udah berhari-hari. And why gak obatin di rumah sakit?"

"Em..." Aku menunduk sejenak. "Kejadiannya udah seminggu... lebih, maybe."

"Hah? Barengan sama Papa aku maksudnya? Kapan tepatnya?" tanya Greysie lagi, kini semakin serius.

"Malam itu... pas kamu lagi gak di rumah," jawabku sambil mengingat kejadian minggu lalu.

Flashback On.

"Kamu lagi di mana?" tanyaku.

"Aku lagi di rumah, Ra," jawab Greysie melalui telepon.

"Lah, kok gak bilang? Ngapain? Emang papa kamu udah pulang dari luar negeri?" tanyaku lagi.

"Em, papa aku gak lagi di luar negeri, Ra. Dia udah beberapa hari di Indonesia. Aku ada urusan bentar. Kamu tadi masih tidur, aku gak tega bangunin," jelasnya.

"Hm, bikin orang khawatir aja," balasku kesal.

"Hehe, iya, iya. Maaf, ya," sambung Greysie.

"So? Kapan balik?" tanyaku.

"Ntar malam aku ke sana. Gak apa-apa, kan?" tanyanya.

"Yah, aku juga mau ngurus something," jawabku.

"Oke..." balas Greysie.

Beberapa jam berlalu. Sekarang waktu menunjukkan pukul 02:19 tengah malam. Greysie memarkir mobilnya di garasi rumahku. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Ra," panggilnya sambil membuka pintu kamarku. Namun, aku tidak ada di sana.

"Kemana dia?" gumam Greysie. Ia mulai merasa cemas dan mencoba meneleponku.

"Kok gak diangkat sih?" batinnya gelisah.

Saat masih menelepon, Greysie mendengar suara dari dalam kamar. Ia mengikuti arah suara tersebut, membuka laci, dan menemukan ponselku di sana. Rupanya aku tidak membawanya, membuatnya sulit melacak keberadaanku.

Sementara itu, aku sedang berada di kamar mandi ruang rahasia, sibuk mengobati luka yang terus mengeluarkan darah. Wajahku memucat, dan aku berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa.

Greysie, yang semakin khawatir, memutuskan mencari ke semua tempat yang dia tahu, tetapi tetap tidak berhasil menemukan aku. Akhirnya, ia kembali ke rumahku dengan harapan aku sudah pulang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04:50 pagi ketika Greysie masuk ke kamar dan mendapati aku tertidur. Keesokan harinya, di kantin sekolah.

"Ra, kok kamu pucat banget?" tanya Greysie sambil menatapku khawatir.

"Hah? Aku... emmm, semalam... aku demam," jawabku pelan.

"Kok gak bilang?! Tapi sekarang gimana? Masih sakit?" tanyanya, memeriksa keningku. "Dingin banget badan kamu," lanjutnya, tangannya kini menyentuh leherku.

"Ra," ucapnya cemas, "keringat kamu banyak banget." Ia mengambil tisu dan mengelap wajahku. Aku hanya diam.

"Kamu semalam ke mana sih, Ra? Aku nyariin kamu," tanyanya lagi, kali ini nada suaranya lebih tegas. "Hey! Aku nanya, malah diem aja," serunya kesal.

"Fans kamu banyak banget," godaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Hah?" Greysie menoleh ke arah yang kutunjuk. "Hm, kayaknya mereka suka sama kamu, Ra," ujarnya santai.

"Mereka itu lihatin kamu, bukan aku, Grey," balasku sambil tertawa kecil.

Di sisi lain kantin, lima siswa pemain basket yang berparas tampan tertawa sambil mencuri pandang ke arah kami.

"Lihat tuh, Than," ucap Alfie, melirikku. "Cara lagi lihatin gue."

"Hm, kegeeran lu, bro," balas Athan sambil terkekeh.

"Kalau kalian berdua gak bisa dapetin Cara atau Greysie, giliran gue, ya. Siapa tau salah satu dari mereka suka sama kita," celetuk Axel kepada Andre dan Dion.

"Yoi, bro," sahut Andre.

"Boleh juga tuh," timpal Dion sambil tersenyum lebar.

"Aelah, bro. Mending kalian incar anggota Hell Angel atau Cassie aja. Mereka juga cantik," ujar Athan, mencoba mengalihkan perhatian.

"Iya, di sekolah ini banyak cewek cantik, gak cuma mereka berdua," tambah Alfie.

"Ya, emang, bro. Tapi siapa sih yang gak ngincar dua cewek bersahabat itu?" Axel menambahkan sambil tertawa kecil.

Di sisi lain. Aku kembali menatap Greysie. "Grey, si Alfie itu suka sama kamu. Kelihatan dari mukanya."

"Iya, biarin aja. Itu juga si Athan suka sama kamu," balas Greysie sambil tersenyum.

"Hm... Tapi... Menurut aku dia lebih suka kamu, deh," ujarnya lagi.

"Yaelah, terus aja gitu, Grey," balasku sambil menggeleng.

"Gitu gimana?" tanyanya bingung.

"Terus aja gak peka," ujarku sambil memukul kepalaku sendiri.

"Haha, iya ya? Tapi kan ada kamu, si pengamat handal," ledeknya.

Namun, senyumnya memudar. Ia kembali serius. "Tapi... jangan pikir aku lupa sama pertanyaanku tadi. Kamu tuh hobi banget ya ngalihin topik pembicaraan. Aku nanya, kok malah bahas yang lain," ujarnya tegas. "Ra, muka kamu pucat banget," lanjutnya.

Aku menatap bingung. Sebelum sempat menjawab, ponsel Greysie berdering. Ia mengangkatnya. Suara ibunya terdengar panik.

"Grey, papa kamu masuk rumah sakit. Dia diserang orang. Sekarang sedang dioperasi," jelas ibunya, terisak.

"Apa Mah?!" Greysie langsung berdiri, terkejut.

Flashback Off.

Saat ini, di dalam rumah sakit, aku dan Greysie masih terlibat dalam perdebatan sengit.

“Kamu biarin luka kamu selama seminggu?!” Greysie menatapku dengan kemarahan yang jelas di matanya. “No, no... bukan seminggu,” dia menggelengkan kepala dengan geram. “Itu sudah dua minggu! DUA MINGGU, Ra!” bentaknya.

“Aku udah obatin sendiri, Grey,” jawabku pelan, menatapnya dengan penuh rasa bersalah. “Lagi pula, dengan situasi waktu itu, aku gak mau bikin kamu tambah cemas. Karena itu...,” aku menatapnya ragu, “aku gak mau obatin di rumah sakit ini.”

“Kenapa kamu gak obatin di rumah sakit lain, Ra?!” Greysie tetap bersikeras, tak menerima alasanku.

“Sama aja, Grey. Nanti kamu bakal bingung lagi kalau aku tiba-tiba hilang. Aku gak mau nambah beban pikiran kamu,” jelasku, mencoba membuatnya mengerti.

Namun, Greysie tampak tak terima. Dia hanya memandangku dengan tatapan penuh kemarahan yang bercampur kekecewaan.

“Kalau sekarang aku yang nanya, kamu bakal jawab gak?” tanyaku tegas, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Mau nanya apa?” Greysie balas bertanya, masih dengan nada kesal.

“Saat kejadian itu, sebulan yang lalu, kamu dari mana? Mau apa? Dan kenapa kamu bisa kayak gitu?” tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

“Maksud kamu kejadian yang waktu itu? Kenapa baru nanya sekarang? Itu udah lebih dari sebulan, Ra,” jawabnya datar, namun ada sedikit keterkejutan di wajahnya.

“Kamu kan tau, aku tipe orang yang lebih suka ngertiin orang lain dengan ngasih mereka waktu. Aku gak mau langsung nanya kenapa, gimana, atau seperti apa,” jelasku tenang.

“Maksudnya kayak aku? Yang langsung nanya kejadian saat itu juga tanpa mikir apa kamu bisa cerita ke aku atau gak?” balas Greysie dengan nada menyindir.

“Hah?” Aku menatapnya heran. “Aku kan gak bilang gitu, Grey. Aku paham kamu kok. Tiap orang kan beda-beda. Aku gak mungkin nyuruh kamu buat selarasin pikiran sama aku.”

Greysie tertawa kecil, namun terlihat dipaksakan. “Hehe...”

“Kamu belum jawab pertanyaan aku,” tegasku lagi.

Greysie tampak bingung. “Emmm... aku...” jawabnya kaku, jelas ada sesuatu yang disembunyikannya.

 

Sementara itu, di tempat lain, Cassie sedang bersama Bryan. Mereka sibuk merencanakan sesuatu yang besar.

“Aku mau mereka dan keluarganya menderita lebih dari ini. Kamu gak bisa jatuhin perusahaan milik ayah atau ibunya itu?” tanya Cassie dengan nada penuh dendam.

Bryan memegang wajah Cassie, mencoba menenangkannya. “Aku tahu, babe. Aku udah siapin bukti untuk menjatuhkan Arya Allen Wijaya. Tapi kamu tau kan, perusahaan dia itu nomor satu di negara ini. Nggak gampang buat ngejatuhin semuanya sekaligus.”

Cassie mendengus kesal. “Kalau begitu, kenapa kamu gak sekalian patahin aja semua tulangnya?”

Bryan tersenyum kecil. “Sabar, babe. Kita harus bertahap. Sekarang, kondisi Arya Wijaya udah cukup menguntungkan buat kita. Kalau bukti ini tersebar ke media, pasti bakal berdampak besar ke perusahaannya.”

Cassie terdiam dengan perasaan kesal, matanya menerawang, mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.

Flashback On.

Beberapa waktu lalu, Cassie dikerumuni oleh empat gadis yang dikenal sebagai "Six Hell’s Angels".

“Lo apain temen kita, hah?!” Riska menarik kerah baju Cassie dengan kasar.

“Lo yang bunuh dia, kan? Ngaku, loe!” teriak Mindy sambil menendang meja di depan Cassie.

Zey mendekat, mendorong kepala Cassie berulang kali. “Berani-beraninya lo lawan kita. Lo lupa, ya, siapa yang berkuasa di sekolah ini?”

Putri menuangkan sisa minuman ke baju Cassie. “Mulai sekarang, hidup lo bakal kayak neraka di sekolah ini!”

Mereka memukul Cassie tanpa ampun. Siswa-siswa lain hanya menonton, beberapa tertawa, sebagian lagi terlalu takut untuk ikut campur sampai akhirnya aku dan Greysie membantunya.

Setelah kejadian itu, Cassie pulang dengan amarah membara. Di rumah, dia membanting barang-barang dengan frustasi. Saat melampiaskan emosinya, matanya tertuju pada CCTV di sudut ruangan. Rasa penasaran mulai menguasainya. Cassie segera mencari ruang kendali CCTV untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum polisi menangkap kedua orang tuanya. Cassie memeriksa setiap sudut rumah, tetapi ruang kendali CCTV yang ia cari tidak kunjung ditemukan.

"Kenapa ada CCTV, tapi ruang kontrolnya gak ada?" pikir Cassie, kebingungan.

Saat mulai putus asa, Cassie teringat bahwa ada satu ruangan yang belum ia periksa: kamar ayah dan ibunya. Ia pun melangkah masuk, berharap menemukan petunjuk. Namun, setelah menggeledah kamar itu, hasilnya tetap nihil.

Ketika hendak keluar, pikirannya tiba-tiba melayang ke sebuah benda yang diberikan ayahnya di hari ulang tahunnya beberapa tahun lalu.

Tiga tahun lalu, di taman rumah keluarga Cassie.

"Sayang, Ayah punya hadiah spesial buat kamu," ujar ayahnya, menyerahkan sebuah kotak kecil.

"Apa ini, Yah?" tanya Cassie penasaran sambil menerima kotak tersebut.

Cassie membuka kotak kecil itu dan mendapati kunci mobil di dalamnya. Namun, perhatiannya segera tertuju pada sebuah tombol kecil yang terlihat seperti gantungan kunci.

Ayahnya mengambil gantungan itu dan memperlihatkannya pada Cassie. "Sayang, kalau kamu pencet tombol ini, kamu akan temukan ruangan rahasia di rumah kita," katanya dengan senyum penuh arti.

"Ruangan rahasia?" Cassie menatap ayahnya dengan antusias. "Ayah serius?"

"Of course, sayang," jawab ayahnya, membuat Cassie melompat kegirangan.

"Benar, nih? Aah, aku sayang Ayah!" Cassie memeluk ayahnya dengan erat.

Cassie langsung berkeliling rumah sambil memencet tombol kecil itu, tetapi tidak ada yang terjadi. Dengan kesal, ia menganggap ayahnya hanya bercanda.

Mengingat kejadian itu, Cassie segera mengambil kunci mobilnya dari saku celana. Ia menatap tombol kecil itu sejenak sebelum menekannya.

Tiba-tiba, terdengar bunyi mekanik. Sebuah pintu di bagian luar terbuka perlahan. Cassie melangkah mendekat dengan hati-hati. Di balik pintu itu, ia mendapati pintu lain dengan sistem biometrik.

Cassie mendekatkan matanya ke pemindai iris dan menempelkan telapak tangannya ke pemindai. Setelah pemindaian selesai, pintu kedua terbuka perlahan, memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Di dalam ruangan itu, tubuh-tubuh hewan yang diawetkan dipajang bersama tengkorak manusia dan hewan. Bahkan, ada bagian tubuh manusia seperti jempol yang dijadikan pajangan. Dinding-dinding ruangan dipenuhi senjata api dan pedang berbagai jenis.

Cassie berusaha menahan rasa takutnya. Ia segera menuju ruang kendali CCTV yang ada di ruangan itu. Setelah menghidupkan monitor, ia memeriksa rekaman sehari sebelum kedua orang tuanya ditangkap.

Dalam rekaman itu, terlihat seseorang mengenakan jubah hitam masuk ke rumah. Lampu-lampu dimatikan, tetapi mode malam pada CCTV otomatis aktif. Orang itu menuju ruang bawah tanah dengan membawa sesuatu.

Di ruang bawah tanah, suasananya tampak menyeramkan, penuh dengan pajangan tengkorak dan alat penyiksaan. Orang berjubah itu tampaknya tahu persis lokasi ruang rahasia tersebut.

Tiba-tiba, ayah Cassie muncul dan memukul kepala orang berjubah itu. Mereka terlibat pertarungan sengit. Sementara itu, ibu Cassie memberikan sebatang besi kepada suaminya. Malam itu menjadi sangat kacau.

Ibu Cassie akhirnya menyemprotkan sesuatu ke mata orang berjubah itu, membuatnya kesakitan. Ketika ia membuka matanya, ayah Cassie menusukkan besi ke perutnya. Namun, meskipun orang itu berhasil menahan besi dengan tangannya, besi itu sudah menusuk sekitar beberapa centi meter ke dalam perutnya. Ia kemudian meraih tengkorak manusia dan memukul kepala ayah Cassie dengan keras, membuatnya terluka.

Orang berjubah itu melarikan diri sambil menahan rasa sakit. Dalam rekaman, penutup kepala dan maskernya terlepas. Wajahnya terlihat jelas di layar.

Cassie tertegun. "What?! What the fuc*k?! Ngapain si Greysie disitu?!" serunya, tak percaya.

Flashback Off.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

ミフタン

ミフタン

whattt sulit di percaya,,,itu bener?😦

gak mungkin😭

2023-07-19

1

ミフタン

ミフタン

gi mn GK mau di incar coba orang aja mereka cewek badass gitu😆udah cntk badass lagi😆

circle sebelah mah cntk doang😆

2023-07-19

3

ミフタン

ミフタン

badass beutt wkwkwk....good girl😆💓

2023-07-19

1

lihat semua
Episodes
1 Cast Introduction
2 BAB 1 (Part 1)
3 BAB 1 (Part 2)
4 BAB 1 (Part 3)
5 BAB 2 (Part 1)
6 BAB 2 (Part 2)
7 BAB 2 (Part 3)
8 BAB 3 (Part 1)
9 BAB 3 (Part 2)
10 BAB 3 (Part 3)
11 BAB 4 (Part 1)
12 BAB 4 (Part 2)
13 BAB 4 (Part 3)
14 BAB 5 (Part 1)
15 BAB 5 (Part 2)
16 BAB 5 (Part 3)
17 BAB 6 (Part 1)
18 BAB 6 (Part 2)
19 BAB 6 (Part 3)
20 BAB 7 (Part 1)
21 BAB 7 (Part 2)
22 BAB 7 (Part 3)
23 BAB 8 (Part 1)
24 BAB 8 (Part 2)
25 BAB 8 (Part 3)
26 BAB 9 (Part 1)
27 BAB 9 (Part 2)
28 BAB 9 (Part 3)
29 BAB 10 (Part 1)
30 BAB 10 (Part 2)
31 BAB 10 (Part 3)
32 BAB 11 (Part 1)
33 BAB 11 (Part 2)
34 BAB 11 (Part 3)
35 BAB 12 (Part 1)
36 BAB 12 (Part 2)
37 BAB 12 (Part 3)
38 BAB 13 (Part 1)
39 BAB 13 (Part 2)
40 BAB 13 (Part 3)
41 BAB 14 (Part 1)
42 BAB 14 (Part 2)
43 BAB 14 (Part 3)
44 BAB 15 (Part 1)
45 BAB 15 (Part 2)
46 BAB 15 (Part 3)
47 BAB 16 (Part 1)
48 BAB 16 (Part 2)
49 BAB 16 (Part 3)
50 BAB 17 (Part 1)
51 BAB 17 (Part 2)
52 BAB 17 (Part 3)
53 BAB 18 (Part 1)
54 BAB 18 (Part 2)
55 BAB 18 (Part 3)
56 BAB 19 (Part 1)
57 BAB 19 (Part 2)
58 BAB 19 (Part 3)
59 BAB 20 (Part 1)
60 BAB 20 (Part 2)
61 BAB 20 (Part 3)
62 BAB 21 (Part 1)
63 BAB 21 (Part 2)
64 BAB 21 (Part 3)
65 BAB 22 (Part 1)
66 BAB 22 (Part 2)
67 BAB 22 (Part 3)
68 BAB 23 (Part 1)
69 BAB 23 (Part 2)
70 BAB 23 (Part 3)
71 BAB 24 (Part 1)
72 BAB 24 (Part 2)
73 BAB 24 (Part 3)
74 BAB 25 (Part 1)
75 BAB 25 (Part 2)
76 BAB 25 (Part 3)
77 BAB 26 (Part 1)
78 BAB 26 (Part 2)
79 BAB 26 (Part 3)
80 BAB 27 (Part 1)
81 BAB 27 (Part 2)
82 BAB 27 (Part 3)
83 BAB 28 (Part 1)
84 BAB 28 (Part 2)
85 BAB 28 (Part 3)
86 BAB 29 (Part 1)
87 BAB 29 (Part 2)
88 BAB 29 (Part 3)
89 BAB 30 (Part 1)
90 BAB 30 (Part 2)
91 BAB 30 (Part 3)
92 BAB 31 (Part 1)
93 BAB 31 (Part 2)
94 BAB 31 (Part 3)
95 BAB 32 (Part 1)
96 BAB 31 (Part 2)
97 BAB 31 (Part 3)
98 BAB 32 (Part 1)
99 BAB 32 (Part 2)
100 BAB 32 (Part 3)
101 BAB 33 (Part 1)
102 BAB 33 (Part 2)
103 BAB 33 (Part 3)
104 BAB 34 (Part 1)
105 BAB 34 (Part 2)
106 BAB 34 (Part 3)
107 BAB 35 (Part 1)
108 BAB 35 (Part 2)
109 BAB 35 (Part 3)
110 BAB 36 (Part 1)
111 BAB 36 (Part 2)
112 BAB 36 (Part 3)
113 BAB 37 (Part 1)
114 BAB 37 (Part 2)
115 BAB 37 (Part 3)
116 ~END~
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Cast Introduction
2
BAB 1 (Part 1)
3
BAB 1 (Part 2)
4
BAB 1 (Part 3)
5
BAB 2 (Part 1)
6
BAB 2 (Part 2)
7
BAB 2 (Part 3)
8
BAB 3 (Part 1)
9
BAB 3 (Part 2)
10
BAB 3 (Part 3)
11
BAB 4 (Part 1)
12
BAB 4 (Part 2)
13
BAB 4 (Part 3)
14
BAB 5 (Part 1)
15
BAB 5 (Part 2)
16
BAB 5 (Part 3)
17
BAB 6 (Part 1)
18
BAB 6 (Part 2)
19
BAB 6 (Part 3)
20
BAB 7 (Part 1)
21
BAB 7 (Part 2)
22
BAB 7 (Part 3)
23
BAB 8 (Part 1)
24
BAB 8 (Part 2)
25
BAB 8 (Part 3)
26
BAB 9 (Part 1)
27
BAB 9 (Part 2)
28
BAB 9 (Part 3)
29
BAB 10 (Part 1)
30
BAB 10 (Part 2)
31
BAB 10 (Part 3)
32
BAB 11 (Part 1)
33
BAB 11 (Part 2)
34
BAB 11 (Part 3)
35
BAB 12 (Part 1)
36
BAB 12 (Part 2)
37
BAB 12 (Part 3)
38
BAB 13 (Part 1)
39
BAB 13 (Part 2)
40
BAB 13 (Part 3)
41
BAB 14 (Part 1)
42
BAB 14 (Part 2)
43
BAB 14 (Part 3)
44
BAB 15 (Part 1)
45
BAB 15 (Part 2)
46
BAB 15 (Part 3)
47
BAB 16 (Part 1)
48
BAB 16 (Part 2)
49
BAB 16 (Part 3)
50
BAB 17 (Part 1)
51
BAB 17 (Part 2)
52
BAB 17 (Part 3)
53
BAB 18 (Part 1)
54
BAB 18 (Part 2)
55
BAB 18 (Part 3)
56
BAB 19 (Part 1)
57
BAB 19 (Part 2)
58
BAB 19 (Part 3)
59
BAB 20 (Part 1)
60
BAB 20 (Part 2)
61
BAB 20 (Part 3)
62
BAB 21 (Part 1)
63
BAB 21 (Part 2)
64
BAB 21 (Part 3)
65
BAB 22 (Part 1)
66
BAB 22 (Part 2)
67
BAB 22 (Part 3)
68
BAB 23 (Part 1)
69
BAB 23 (Part 2)
70
BAB 23 (Part 3)
71
BAB 24 (Part 1)
72
BAB 24 (Part 2)
73
BAB 24 (Part 3)
74
BAB 25 (Part 1)
75
BAB 25 (Part 2)
76
BAB 25 (Part 3)
77
BAB 26 (Part 1)
78
BAB 26 (Part 2)
79
BAB 26 (Part 3)
80
BAB 27 (Part 1)
81
BAB 27 (Part 2)
82
BAB 27 (Part 3)
83
BAB 28 (Part 1)
84
BAB 28 (Part 2)
85
BAB 28 (Part 3)
86
BAB 29 (Part 1)
87
BAB 29 (Part 2)
88
BAB 29 (Part 3)
89
BAB 30 (Part 1)
90
BAB 30 (Part 2)
91
BAB 30 (Part 3)
92
BAB 31 (Part 1)
93
BAB 31 (Part 2)
94
BAB 31 (Part 3)
95
BAB 32 (Part 1)
96
BAB 31 (Part 2)
97
BAB 31 (Part 3)
98
BAB 32 (Part 1)
99
BAB 32 (Part 2)
100
BAB 32 (Part 3)
101
BAB 33 (Part 1)
102
BAB 33 (Part 2)
103
BAB 33 (Part 3)
104
BAB 34 (Part 1)
105
BAB 34 (Part 2)
106
BAB 34 (Part 3)
107
BAB 35 (Part 1)
108
BAB 35 (Part 2)
109
BAB 35 (Part 3)
110
BAB 36 (Part 1)
111
BAB 36 (Part 2)
112
BAB 36 (Part 3)
113
BAB 37 (Part 1)
114
BAB 37 (Part 2)
115
BAB 37 (Part 3)
116
~END~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!