Flashback On.
Sekitar dua bulan yang lalu, di sebuah taman—tempat favorit aku dan Greysie—kami sedang bermain game. Permainannya sederhana: siapa yang mendapatkan poin terbanyak, dia menang.
"Keknya aku bakalan ngalahin kamu," celetuk Greysie sambil tiba-tiba mengambil telepon milikku.
"Bisa gak sih," balasku sambil menatapnya tajam, "sehari aja gak jahil?" Aku menyandarkan kepalaku di atas meja, merasa kesal.
"Haha, gak bisa," katanya sambil menjulurkan lidah. "Kamu lebih suka silat, karate, taekwondo, atau boxing?" tanyanya sambil membaca chat di teleponku.
"Hm, aku belajar silat pas SD, karate pas SMP, terus taekwondo dan boxing pas SMA. Kamu juga tahu, kita kan sama-sama latihan tiap hari," jawabku malas, masih dengan posisi kepala bersandar.
"Iya, maksud aku tuh, kamu lebih suka yang mana, Cara Callista?" tanyanya lagi, mengerutkan kening. Tiba-tiba, ia menambahkan, "Loh, Ra... ini Heafen minta balikan sama kamu?" Nada suaranya berubah penasaran.
"Hm, aku suka semuanya, Freya Valerie Greysie. Kita kan sama-sama ambil semua jenis bela diri," balasku sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Dan yaa, dia minta balikan. Aku harus jawab apa, Grey?" tanyaku, mengintip Greysie dari sela-sela jariku.
"Hahaha, aku juga bisa judo, asal kamu tau," sahutnya sambil menatapku. "Tapi, kamu masih cinta sama dia, kan, Ra?" tanyanya sambil mulai mengetik sesuatu di chat Heafen.
"Serius?" tanyaku penasaran.
"Serius apaan nih maksudnya?" balas Greysie sambil menatapku yang sudah berdiri.
"Kata lo tadi bisa judo juga. Weh, gak percaya," ujarku sambil mengerutkan alis. "Lo ngetik apaan sih, anjir?" bentakku sambil merebut telepon darinya.
"Hahaha, sorry," balas Greysie sambil mengerucutkan bibir. Ia menyipitkan matanya, lalu berkata, "Kok manggil 'lo-gue' lagi sih? Udah dibilangin, 'lo-gue' tuh buat musuh-musuh kita. Jadi, kita tiap hari latihan bela diri buat apa, Ra?" katanya dengan nada sedikit kesal.
Aku tidak menjawab, malah sibuk membalas chat dari Heafen. Tiba-tiba, teleponku berbunyi. Heafen menelepon. Aku terpaksa mengangkatnya.
"Halo," ucap Heafen dengan suara lembut yang terdengar di telingaku.
"Iya, halo," balasku canggung.
"Kamu lagi di mana?" tanyanya lembut.
"Emm," aku melirik Greysie, "aku lagi di taman bareng Grey," jawabku dengan nada bingung.
"Hm, jadi tadi Grey yang balas chat aku, ya?" tanyanya.
"Iya, aku... I'm so sorry. Aku gak tau kalau dia bakal balas chat kamu," jawabku kaku.
"Hm, iya gak apa-apa, meskipun aku sempat berharap tadi," katanya pelan. Suaranya terdengar sedih.
"Aku... maafin aku," pintaku.
"Iya, gak apa-apa. Tapi... kamu mau gak, aku ngajak kamu keluar? Anggap aja untuk perpisahan kita. Tapi gak sekarang kok, karena aku juga masih di Amrik," pintanya lembut.
"Em, aku..." aku melirik Greysie lagi, "iya, aku mau," jawabku pelan.
Selesai menelepon, Greysie langsung bertanya, "Kenapa, Ra? Kalian balikan lagi?"
"Kok jahat banget sih, Grey? Aku gak tega sama Heafen. Aku loh yang mutusin dia, dan itu udah dua setengah tahun yang lalu," jawabku sedih. "Kamu bikin dia berharap lagi dengan sesuatu yang gak mungkin," tambahku dengan mata berkaca-kaca.
Greysie menatapku penuh rasa bersalah. "Maafin aku, aku gak tau bakal kayak gini," katanya sambil memelukku. "Aku kira kamu mau balikan sama dia lagi," jelasnya.
"Kamu kan tau, Grey, aku yang mutusin dia. Aku udah jahat banget. Aku tinggalin dia, mutusin dia sepihak tanpa kejelasan. Sampai sekarang, Heafen gak tau alasan kenapa kita putus. Tapi kamu tau, kan, Grey?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Iya, iya. I'm really sorry. Maafin aku. Don't be sad. Aku tau kok alasan kamu mutusin dia. Tapi... sekarang gimana kalau kita lanjut main aja? Udah 1-0 kan? Tadi aku yang menang," katanya mencoba menghiburku.
Aku mengangguk. "Oke. Kalau gitu, bulu tangkis? Voli? Anggar? Ski?" tanyanya lagi.
"Yeah," jawabku tersenyum tipis. "Aku bisa semuanya. Kita kan sama-sama ambilnya," tambahku.
"Kalau seni? Drum? Gitar? Piano? Biola?" tanyanya lagi.
"Same-same. Yang lain, Grey. Gak seru nih. Kalau nyanyi gimana?" tanyaku sambil tersenyum licik.
"Emang kamu bisa nyanyi?" tanyanya balik.
"Hm, emang ada ya orang yang gak bisa nyanyi?" balasku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Gak ada sih. Hahaha," jawabnya sambil tertawa.
"Yap, semua orang juga bisa nyanyi. Hahaha," balasku ikut tertawa.
"Hahaha. Kalau main bola kaki gimana?" tanyanya lagi.
"Aku bisa lah," jawabku percaya diri.
"Seriusan?" tanyanya tak percaya.
"Iyalah. Dulu pas SD aku sering main." jawabku bangga.
"Aku gak bisa," katanya sedih.
"Hahaha. Berarti poin kita sama, 1-1," ledekku.
"Hm, aw dah males. Besok libur, Ra. Kita mau ngapain? Liburan atau?" tanyanya.
"Hm, gimana kalau gym aja?" saranku.
"Gak hiking nih?" tanyanya lagi.
"Kita butuh olahraga lebih supaya makin kuat," jawabku spontan.
"Hm, iya juga. Tapi hiking kan bisa bikin kuat juga karena medan gunung yang menantang," tambahnya.
"Lagi pengen gym aja. Supaya tempat gym aku juga jadi makin ramai," ujarku sambil tersenyum meledek.
"Hm, oke deh," balasnya sambil mengerucutkan bibir dan mengangkat kedua alisnya.
Flashback Off.
----------------
Saat ini, jam 21:10 malam. Suara langkah kaki terdengar samar di sebuah ruangan yang gelap. Seseorang dengan sepatu berwarna hitam berjalan perlahan menghampiri anak bernama Riska. Tiba-tiba, lampu padam, meninggalkan ruangan dalam kegelapan total.
Dengan tangan gemetar, Riska menyalakan lampu senter dari ponselnya. Cahaya kecil itu menyorot seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Orang itu menatapnya dengan senyum menyeramkan dan tatapan tajam yang penuh intimidasi.
"Aaahhh...!" Riska menjerit panik.
Beberapa detik kemudian, lampu menyala kembali. Riska memandang ke cermin di depannya, tetapi sosok yang tadi ada di belakangnya kini menghilang. Dia menggigil ketakutan, tubuhnya lemas, namun segera bangkit dan berlari keluar dari ruangan itu.
Di sudut lain toilet, terlihat sepasang kaki dengan sepatu hitam. Orang itu memegang sebilah pisau di tangan, berdiri diam dalam bayangan gelap.
---
10 menit sebelumnya. Di sebuah restoran, aku dan Greysie sedang menikmati makan malam. Saat itu, teleponku berbunyi, dan aku segera mengangkatnya.
"Grey, aku ke toilet bentar," pamitku sambil berjalan meninggalkan meja, ponsel masih di telingaku.
"Halo," sapaku di telepon.
"Halo, Lista. Kamu lagi ngapain?" suara Rasya terdengar di telpon.
"Em, lagi jalan," jawabku santai.
"Hm, ganggu gak?" tanyanya lagi.
"Gak, gak kok," balasku sambil tersenyum kecil.
"Besok kamu ada waktu gak?" tanyanya lagi, terdengar antusias.
"Hm, yaa," jawabku spontan.
"Ok, kalau gitu besok aku jemput kamu, ya?" ucap Rasya terdengar senang.
"Iya," balasku singkat, sedikit tersipu.
"Oke, see you," pamitnya. Aku menutup telepon, senyumku tak bisa hilang, tapi mendadak aku mendengar teriakan keras.
Aaahhh...!
Aku menoleh dan melihat Riska keluar dari toilet dengan wajah ketakutan.
"Dia kenapa?" gumamku sambil berjalan menghampirinya.
"Hey, hey, kamu oke?" tanyaku penasaran, mencoba menghentikannya.
"Gak papa, aku pergi dulu," jawab Riska tergesa-gesa dengan wajah pucat, lalu berlari menjauh.
"Hey, tung..." panggilku, namun dia sudah terlalu jauh.
Aku berbalik dan melangkah mendekati pintu toilet. Tepat saat aku ingin membukanya, seseorang dari dalam mendorong pintu keluar. Aku terkejut melihat siapa yang keluar.
"Cassie?" tanyaku, menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Eh, Raa," jawab Cassie dengan nada kaku.
"Kamu... lagi makan di sini juga?" tanyaku, memperhatikan gelagatnya yang aneh.
"Iya, em," jawabnya sambil mengalihkan pandangan.
"Hm, tadi aku lihat Riska di sini. Kamu barengan sama dia, atau ketemu di dalam? Dia gak apa-apain kamu lagi, kan?" tanyaku khawatir.
"Em... emang tadi ada Riska? Aku gak tau. Soalnya aku lagi di WC dalam, terus tiba-tiba lampunya mati. Aku kaget dengar suara teriakan, tapi pas keluar lampu udah nyala, dan gak ada siapa-siapa," jelas Cassie dengan nada terbata.
"Hmm," gumamku sambil berpikir.
"Aku pergi dulu, ya," pamit Cassie cepat, lalu berlari pergi.
"Yeah, oke. Hati-ha..." aku berhenti bicara, melihatnya pergi dengan tergesa. "Aneh," pikirku dalam hati.
---
Beberapa menit kemudian, aku kembali ke meja, namun wajah Greysie tampak kesal. Sesuatu pasti terjadi saat aku pergi tadi.
"Kamu kenapa?" tanyaku, duduk di kursi.
Greysie menyerahkan ponselnya padaku tanpa bicara.
"Hah? What the...?" aku terkejut melihat layar ponselnya. "Omaygatt, udah berapa kali dia hubungin kamu?" tanyaku penasaran.
"Tiga minggu terakhir ini dia sering banget ngehubungin aku. Dan yang lebih parah, tadi pas kamu ke toilet, dia nyamperin aku ke sini," jelas Greysie dengan nada kesal.
"Oh my god! Kok baru bilang sekarang?" tanyaku, bingung sekaligus heran.
"Hm, aku gak mau kamu nyamperin dia lagi," jawab Greysie tegas.
"Terus, tadi dia ngapain?" tanyaku, ingin tahu lebih lanjut.
Flasback On.
Dua puluh menit lalu. Rendi Aldrige Zaferino, mantan pacar Greysie, terus memperhatikan kami yang sedang tertawa di meja. Setelah memesan makanan, aku pergi untuk mengangkat telepon.
Saat melihat Greysie sendirian, Rendi meminjam ponsel temannya untuk menelepon Greysie. Dia tahu, jika menggunakan nomornya sendiri, Greysie tidak akan mengangkatnya.
Ponsel Greysie berdering, sebuah nomor baru muncul di layar. Dia mengangkat telepon itu.
“Halo?” ucap Greysie.
“Halo, Grey,” sahut Rendi di telpon.
“Rendi?” Greysie mengerutkan dahi.
“Aku senang kamu masih ingat suaraku,” ujar Rendi dengan nada santai.
“Ngapain nelpon pakai nomor baru? Kalau gak penting, aku tutup,” balas Greysie tegas, hendak menutup telepon.
“Eh, jangan tutup dulu, Grey. Kamu lagi di mana?” tanya Rendi buru-buru.
“Rumah!” jawab Greysie ketus.
“Oh ya?” tanya Rendi lagi.
“Kenapa sih? Aku tutup, ya,” ucap Greysie kesal.
“Jangan dulu, Grey. Kamu beneran gak lagi di luar?” desak Rendi.
“Iya, puas?!” bentak Greysie.
“Beneran?” ujar Rendi sambil berjalan mendekat.
“Karena aku lagi lihat kamu sekarang. Hai, Grey,” sapanya tiba-tiba.
Greysie terkejut dan menoleh ke samping. “Kamu!” matanya membulat. Rendi sudah duduk di tempatku.
“Siapa bilang kamu boleh duduk!” ucap Greysie kesal.
“Kan gak ada siapa-siapa di sini, Grey,” jawab Rendi santai.
“Itu tempat duduk Cara, tahu!” bentak Greysie.
(BTW, “Cara” ini bacaannya “Kara,” ya, guys.)
“Iya, tapi dia lagi gak ada,” balas Rendi dengan senyum kecil.
Greysie semakin kesal, terlebih ketika Rendi memegang tangannya. “Grey, kita gak bisa balik kayak dulu lagi gak? Aku masih sayang sama kamu,” ucap Rendi serius.
Greysie langsung menarik tangannya dengan kasar. “Gak bisa! Aku juga gak mau!” balasnya tajam.
“Tapi aku nyesel banget, Grey. Aku benar-benar sayang sama kamu, kamu tahu itu kan?” ujar Rendi, memohon, memgang kedua tangan Greysie lagi.
“Don’t you ever touch me again! Mending kamu pergi, atau aku yang pergi,” tegas Greysie.
“Oke, oke, aku yang pergi. Tapi aku janji, aku pasti bakal dapetin kamu lagi. Aku akan tetap berusaha, bagaimanapun caranya,” ucap Rendi sambil berjalan mundur. Ucapannya menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Flashback Off.
---
“Oh my God, Grey, aku pikir dia udah nyerah sama sikap kamu,” ucapku membulatkan mata.
“Kan?” balas Greysie sambil mengkode.
“BTW, tadi pas aku ke toilet, aku ketemu Cassie sama Riska,” kataku memberitahu Greysie.
“Hah? Mereka ke sini berdua?” tanya Greysie.
“Gak sih,” jawabku sambil menjelaskan kejadian tadi.
Setelah selesai makan, kami pulang ke rumah Greysie. Sesampainya di sana, aku langsung berbaring karena lelah.
Beberapa menit kemudian, ponsel Greysie berdering. Dia keluar untuk mengangkat telepon.
“Ya, Om. Halo,” ucap Greysie sambil menutup pintu kamarnya.
“Grey, Om udah selidiki soal keluarga teman kamu itu. Ada yang janggal dari kasus keluarganya,” jelas Hendry, sekretaris ayahnya.
“Janggal gimana, Om?” tanya Greysie.
Hendry menjelaskan panjang lebar tentang kasus pembunuhan yang menimpa keluarga Cara. Dari laporan polisi, ditemukan bukti-bukti yang mengarah pada pembunuh berantai, tetapi juga ada kejanggalan. Sidik jari pembunuh tidak ditemukan, sementara sidik jari anggota keluarga Cara justru ada di senjata pembunuhan.
Selain itu, pembunuh berantai yang ditangkap menyangkal keterlibatannya. Sebaliknya, dia mengklaim sesuatu yang mengejutkan: “Penerusku sudah berbakat sejak dini.”
Greysie terkejut mendengar cerita itu. “Kalau gitu, makasih, Om,” ucap Greysie sambil menutup telepon.
Dia masuk kembali ke kamar dengan wajah pucat. Aku masih tertidur, tapi terbangun ketika dia mencoba memperbaiki posisiku.
“Kamu gak tidur?” tanyaku.
“Belum ngantuk,” jawabnya singkat.
“Kamu kenapa?” tanyaku, melihat wajahnya yang pucat.
Greysie menatapku dalam. “Kamu gak benci sama pembunuh keluarga kamu?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Lalu, tanpa menjawab, aku bangkit dan keluar kamar.
“Kamu trauma, kan, Ra?” ucap Greysie dari belakang. Aku hanya melirik, tapi tetap berjalan pergi.
“Kamu trauma karena orang tua kamu juga dulu sering berantem, iya kan?” lanjut Greysie dengan suara yang lebih keras.
Langkahku terhenti. Aku mengepalkan tangan setelah mendengar perkataannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
ミフタン
untung ada sahabat baik ya yang sama sama mengerti perasaan kita😭
2023-07-18
3
tintakering
trauma...🙂
2023-07-01
1