BAB 5 (Part 1)

Berita terbaru...

Seorang pemilik perusahaan ternama bernama Arya Allen Wijaya ditemukan tak sadarkan diri di sebuah taman. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dengan luka yang cukup parah.

Polisi menduga kejadian ini merupakan ulah seorang pembunuh berantai yang baru memulai aksinya. Di kantong baju korban, polisi menemukan alat perekam suara yang berisi rekaman pesan dari pelaku dengan suara yang telah disamarkan.

"Para pemirsa, mari kita dengarkan bersama rekaman yang ditemukan oleh pihak kepolisian," ujar pembawa berita.

(Audio Play):

"Belum saatnya kau mati. Ini adalah peringatan terakhir dariku. Aku memperhatikan setiap kelakuanmu. Hati-hati, atau kau akan menjadi mangsa berikutnya. Kalau tidak, kau akan berakhir seperti manajer sombong itu—mati dengan cara paling buruk. Kau akan menggantikannya sebagai mangsa favoritku, hahaha. Manajer itu terlalu percaya diri, berpikir tak ada yang bisa menyentuhnya. Maka aku memilih untuk... membelah otaknya. Rasanya... seperti kotoran. Hahaha!"

"Baiklah, para pemirsa. Itu adalah rekaman audio yang ditemukan di tempat kejadian," terang pembawa berita.

"Selanjutnya, mari kita saksikan laporan dari saudara Andi yang berada di lokasi," tambah pembawa berita lainnya.

(Live Report).

"Baik, para pemirsa. Saat ini saya berada di taman tempat korban ditemukan oleh warga," jelas reporter, memperlihatkan lokasi kejadian.

"Menurut keterangan polisi dan saksi mata, korban mengalami luka parah di bagian kepala akibat hantaman benda keras. Pergelangan tangan dan kakinya juga patah," lanjut reporter sambil menghampiri seorang saksi.

"Bapak, bisa dijelaskan bagaimana Anda menemukan korban?" tanya reporter.

"Saya sedang bersih-bersih di taman ini, lalu melihat seseorang tergeletak di dekat tanaman bunga," ujar saksi sambil menunjuk lokasi. "Lukanya sangat parah, jadi saya langsung melapor ke pihak berwajib," tambahnya.

"Baik, terima kasih, Pak," ujar reporter. Ia kemudian menatap kamera. "Demikian laporan dari saya, Andi. Kembali ke studio."

"Terima kasih, Andi," balas pembawa berita.

"Polisi juga menyatakan bahwa kasus ini tidak terkait dengan pembunuhan Simon Hiller, manajer perusahaan Mekar J. Namun, tersangka utama pembunuhan berantai dua tahun lalu, M.M. dan R.L., tetap menjadi fokus penyelidikan karena bukti-bukti yang masih memberatkan mereka."

"Demikian laporan berita hari ini. Saya Agung."

"Dan saya Wita. Terima kasih atas perhatian Anda," tutup pembawa berita.

Di Sekolah.

Aku dan Greysie sedang makan di kantin. Seperti biasa, banyak siswa yang melirik Greysie. Wajah mereka jelas menunjukkan kekaguman, bahkan rasa suka pada sahabatku ini.

Telepon Berbunyi.

"Halo, Mah," sapa Greysie sambil menempelkan telepon ke telinganya.

"Grey... Papa kamu masuk rumah sakit. Dia diserang orang. Sekarang Papa lagi dioperasi," ujar ibunya sambil menangis. Wajah Greysie langsung berubah, ia berdiri terkejut.

Flashback On.

Dua Hari Sebelumnya. Saat Cassie terkejut melihat aku dan Greysie yang datang dari luar kelas. Kami sedang memperhatikan tingkah Cassie yang tampak aneh. Aku melirik Greysie dengan raut bingung, sementara ia hanya mengangkat bahu.

Di dalam toilet, Cassie memandang dirinya sendiri di cermin dengan wajah penuh amarah. Ia mengeluarkan kantong plastik dari tasnya, lalu memakainya di kepala sambil berteriak frustrasi.

Beberapa saat kemudian, Cassie kembali duduk di tempatnya. Kami yang khawatir langsung menghampirinya.

"Are you okay, Cass?" tanyaku.

"I'm okay," jawabnya sambil tersenyum.

"You look pale, Cass. If you need help, tell us," sambung Greysie.

"I'm fine, don't worry," katanya, mencoba meyakinkan.

"Malah muka kalian yang... Kalian gak apa-apa?" tanya Cassie sambil menulusuri wajah kami yang sedikit lebam.

"Em, we're good, tadi..." jawabku menjelaskan kejadian sebelumnya, di mana mobil berisikan orang-orang yang memakai jas hitam menghentikan mobil kami.

"Oh may god guys! kalian beneran gak pp?" tanya Cassie, raut wajah terkejut.

"Kita oke kok. Kita bukan tandingan mereka" jawab Greysie sedikit tersenyum miring.

"Kalian udah tau siapa yang nyuruh mereka?" tanya Cassie.

"Of course we know" jawabku sambil tersenyum melirik Greysie. "Easy for us to find out" lanjutku.

"Oh ya?" kata Cassie kaku, matanya melirik sekitar. Aku dan Greysie tersenyum.

Malam Harinya, Pukul 20:55, di sebuah apartemen. Ayah Greysie sedang bersama seorang wanita yang menjadi selingkuhannya. Suara telepon tiba-tiba berbunyi. Ia mengangkatnya.

"Kau terlihat sangat menikmati waktu dengan wanita itu," ujar seseorang di ujung telepon.

"Siapa kamu?!" tanyanya panik, memandang sekeliling.

"Lihat pesan yang kukirimkan padamu," balas suara itu, lalu tertawa kecil.

Ketika membuka pesan, wajah Ayah Greysie memerah. Ia melihat foto dirinya bersama selingkuhannya sekarang.

"Apa-apaan ini?! Siapa kamu?!" bentaknya, marah.

"Pertanyaan yang salah," jawab suara itu santai.

"Seharusnya kau bertanya apa yang akan terjadi padamu. Kau adalah calon mangsaku sekarang. Aku tahu segalanya—termasuk kelakuan kotormu. Jangan sampai berita tentang dirimu dan wanita itu tersebar ke media, haha." ancamnya, lalu menutup telpon.

"Sialan...!" umpat Ayah Greysie. Ia langsung menghubungi Hendry, sekretaris pribadinya.

"Lacak nomor ini sekarang. Jangan sampai ada yang tau!" perintahnya.

"Baik, Pak," jawab Hendry.

---

Sementara itu, di sebuah ruangan, Cassie terlihat sangat marah. Ia berteriak sambil membanting barang-barang di sekitarnya.

"Aaahhh!" teriak Cassie sambil membanting barang. "Fuc*k! Fuckkk!"

"Hey, hey, calm down babe," ucap Bryan mencoba menenangkannya.

"I hate them, babe!" Cassie menatap Bryan tajam. "They ruined my family!" bentaknya.

"I know, I know babe," jawab Bryan sambil memegang wajah Cassie. "Tapi kamu harus tenang sekarang. Aku janji akan balas mereka dan keluarganya," tambahnya, berusaha menenangkan.

Arsen Barnard Bryan Walker adalah anak dari pemilik perusahaan W. Electric sekaligus CEO perusahaan tersebut. Di usianya yang baru 21 tahun, ia sudah menjadi CEO muda yang sukses. Bryan telah berpacaran dengan Cassie selama lebih dari dua tahun.

Awalnya, mereka dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing untuk mempererat hubungan bisnis antara perusahaan ternama mereka. Namun, mereka menolak perjodohan itu karena sudah memiliki pasangan masing-masing. Siapa sangka, ternyata pasangan mereka adalah pacar sendiri.

Setelah menenangkan Cassie, Bryan lalu menelepon Edrick. Edrick Michael, 23 tahun, adalah sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan Bryan.

"Bagaimana? Sudah diselidiki?" tanya Bryan.

"Sudah, Pak. Tapi ternyata cukup sulit menyelidiki orang seperti Arya Allen Wijaya. Dia sangat teliti dan berhati-hati setiap saat. Tapi kemarin, dia membuat sedikit kesalahan yang memberi saya celah," jelas Edrick sambil mengirimkan foto kepada Bryan.

"Kerja bagus," ucap Bryan tersenyum saat melihat foto-foto itu.

"Terima kasih, Pak," balas Edrick.

---

Sementara itu, di rumahku, jam menunjukkan pukul 01:50 malam. Greysie sedang berada di kamarku, mengerjakan sesuatu di laptopnya. Namun, baterai laptopnya hampir habis, dan ia lupa membawa charger.

"Ra, boleh pinjam charger laptop gak?" tanya Greysie sambil mengecek sekitar. Aku tidak menjawab.

"Raaa," panggilnya lagi sambil memegang bahuku. "Aku mau pinjam charger laptop."

"Hm?" gumamku sambil menggaruk mata.

"Aku cari-cari gak ada, sorry," ucap Greysie dengan tatapan minta maaf.

"Emfff... aku simpan di tas...," jawabku setengah mengantuk. "Kayaknya di bawah."

"Oke," balas Greysie sambil memelukku sebentar. "Sorry."

Aku hanya bergumam sebelum kembali tertidur. Greysie lalu mencari tas hitam di bawah tempat tidurku.

"Hm," gumamnya heran sambil menatap tas itu. "Ini tas kamu, Ra?" tanyanya. Tapi aku sudah tertidur lagi.

Perlahan, Greysie membuka tas tersebut. Ia menemukan kain hitam di dalamnya. Saat mencoba mengeluarkannya, sesuatu terjatuh dari kantong tas.

Matanya membulat. Itu adalah sebuah pisau. Greysie memegang kain hitam yang ternyata adalah jubah lengkap dengan topi, masker, sarung tangan, dan sepatu serba hitam.

"Apa ini?" gumamnya bingung. "Sejak kapan Cara ngoleksi barang kek gini?"

Greysie memeriksa tas itu lebih lanjut. Ia menemukan benda-benda tajam seperti gergaji, palu, dan kunci inggris.

"Grey...," panggilku pelan, masih dengan mata tertutup. "Kamu udah dapet chargernya?"

Greysie buru-buru mengembalikan semua barang ke dalam tas dan mengambil tas lain.

"I-iya, sudah," jawabnya gugup.

"Tadi suara apa? Kayak ada yang jatuh," tanyaku masih setengah tidur.

"Eh, iya... aku gak sengaja nyenggol barang. Kamu tidur lagi aja," jawab Greysie.

"Mm," gumamku sebelum tertidur lagi.

Besoknya, aku bangun dan langsung mencari keberadaan Greysie karena dia tidak ada di tempat tidur saat aku bangun.

"Dia ke mana?" pikirku sambil mengecek kamar mandi dan sekeliling rumah.

"Grey? Grey?" panggilku, memeriksa setiap sudut rumah.

Saat aku memeriksa garasi, mobil Greysie sudah tidak ada. Aku segera mengambil ponsel untuk meneleponnya.

"C'mon, c'mon... angkat," gumamku cemas.

"Halo, Ra," jawab Greysie akhirnya.

"Kamu di mana?" tanyaku khawatir.

"Aku di rumah," jawabnya santai.

"Loh, kok gak bilang? Ngapain? Papa kamu udah pulang dari luar negeri?" tanyaku penasaran.

"Papa aku udah beberapa hari di Indonesia, Ra. Aku ada urusan bentar tadi. Kamu lagi tidur, aku gak tega bangunin," jelasnya.

"Hm, bikin orang khawatir aja," balasku.

"Hehe, iya, maaf ya," ucap Greysie.

"Jadi kapan balik?" tanyaku.

"Nanti malam, oke?"

"Hm iya, aku juga mau urus sesuatu," jawabku. 

Sisi lain, di apartemen, Ayah Greysie mengetahui identitas pemilik nomor yang mengancamnya. Ia marah besar setelah tahu orang itu memiliki status tinggi. Ayah Greysie segera mengumpulkan anak buahnya.

"Berani-beraninya dia macam-macam dengan saya. Siapkan peralatan dan berkas-berkasnya!" perintahnya.

"Baik, Pak," jawab Hendry.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sebuah bangunan tua, mereka masuk ke dalam. Tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci. Lampu padam, membuat suasana semakin mencekam.

Langkah kaki perlahan terdengar mendekat. Ayah Greysie mengarahkan senter ke sumber suara. Ia melihat sepatu hitam milik seseorang. Orang itu tersenyum, lalu menghilang.

Tak lama kemudian, gas tidur menyebar. Mereka batuk-batuk, pusing, lalu pingsan.

Satu jam kemudian, Ayah Greysie terbangun di kursi dengan tangan dan kakinya terikat.

Langkah kaki terdengar mendekat. Seseorang dengan pisau berjalan ke arahnya, menggores dinding dengan tajam.

"How is it?! you know my voice?" bisik orang itu sambil mengarahkan pisau ke lehernya.

Ayah Greysie gemetar ketakutan, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

"Look!" ucapnya menatap mata Ayah Greysie, sorot matanya sangat tajam.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

CatForD

CatForD

apa? ada apaa??

2023-08-05

1

ミフタン

ミフタン

itu pasti gak mungkin kan..gak gak😥

2023-07-19

1

ミフタン

ミフタン

kayaknya terjadi salah paham😭

2023-07-19

1

lihat semua
Episodes
1 Cast Introduction
2 BAB 1 (Part 1)
3 BAB 1 (Part 2)
4 BAB 1 (Part 3)
5 BAB 2 (Part 1)
6 BAB 2 (Part 2)
7 BAB 2 (Part 3)
8 BAB 3 (Part 1)
9 BAB 3 (Part 2)
10 BAB 3 (Part 3)
11 BAB 4 (Part 1)
12 BAB 4 (Part 2)
13 BAB 4 (Part 3)
14 BAB 5 (Part 1)
15 BAB 5 (Part 2)
16 BAB 5 (Part 3)
17 BAB 6 (Part 1)
18 BAB 6 (Part 2)
19 BAB 6 (Part 3)
20 BAB 7 (Part 1)
21 BAB 7 (Part 2)
22 BAB 7 (Part 3)
23 BAB 8 (Part 1)
24 BAB 8 (Part 2)
25 BAB 8 (Part 3)
26 BAB 9 (Part 1)
27 BAB 9 (Part 2)
28 BAB 9 (Part 3)
29 BAB 10 (Part 1)
30 BAB 10 (Part 2)
31 BAB 10 (Part 3)
32 BAB 11 (Part 1)
33 BAB 11 (Part 2)
34 BAB 11 (Part 3)
35 BAB 12 (Part 1)
36 BAB 12 (Part 2)
37 BAB 12 (Part 3)
38 BAB 13 (Part 1)
39 BAB 13 (Part 2)
40 BAB 13 (Part 3)
41 BAB 14 (Part 1)
42 BAB 14 (Part 2)
43 BAB 14 (Part 3)
44 BAB 15 (Part 1)
45 BAB 15 (Part 2)
46 BAB 15 (Part 3)
47 BAB 16 (Part 1)
48 BAB 16 (Part 2)
49 BAB 16 (Part 3)
50 BAB 17 (Part 1)
51 BAB 17 (Part 2)
52 BAB 17 (Part 3)
53 BAB 18 (Part 1)
54 BAB 18 (Part 2)
55 BAB 18 (Part 3)
56 BAB 19 (Part 1)
57 BAB 19 (Part 2)
58 BAB 19 (Part 3)
59 BAB 20 (Part 1)
60 BAB 20 (Part 2)
61 BAB 20 (Part 3)
62 BAB 21 (Part 1)
63 BAB 21 (Part 2)
64 BAB 21 (Part 3)
65 BAB 22 (Part 1)
66 BAB 22 (Part 2)
67 BAB 22 (Part 3)
68 BAB 23 (Part 1)
69 BAB 23 (Part 2)
70 BAB 23 (Part 3)
71 BAB 24 (Part 1)
72 BAB 24 (Part 2)
73 BAB 24 (Part 3)
74 BAB 25 (Part 1)
75 BAB 25 (Part 2)
76 BAB 25 (Part 3)
77 BAB 26 (Part 1)
78 BAB 26 (Part 2)
79 BAB 26 (Part 3)
80 BAB 27 (Part 1)
81 BAB 27 (Part 2)
82 BAB 27 (Part 3)
83 BAB 28 (Part 1)
84 BAB 28 (Part 2)
85 BAB 28 (Part 3)
86 BAB 29 (Part 1)
87 BAB 29 (Part 2)
88 BAB 29 (Part 3)
89 BAB 30 (Part 1)
90 BAB 30 (Part 2)
91 BAB 30 (Part 3)
92 BAB 31 (Part 1)
93 BAB 31 (Part 2)
94 BAB 31 (Part 3)
95 BAB 32 (Part 1)
96 BAB 31 (Part 2)
97 BAB 31 (Part 3)
98 BAB 32 (Part 1)
99 BAB 32 (Part 2)
100 BAB 32 (Part 3)
101 BAB 33 (Part 1)
102 BAB 33 (Part 2)
103 BAB 33 (Part 3)
104 BAB 34 (Part 1)
105 BAB 34 (Part 2)
106 BAB 34 (Part 3)
107 BAB 35 (Part 1)
108 BAB 35 (Part 2)
109 BAB 35 (Part 3)
110 BAB 36 (Part 1)
111 BAB 36 (Part 2)
112 BAB 36 (Part 3)
113 BAB 37 (Part 1)
114 BAB 37 (Part 2)
115 BAB 37 (Part 3)
116 ~END~
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Cast Introduction
2
BAB 1 (Part 1)
3
BAB 1 (Part 2)
4
BAB 1 (Part 3)
5
BAB 2 (Part 1)
6
BAB 2 (Part 2)
7
BAB 2 (Part 3)
8
BAB 3 (Part 1)
9
BAB 3 (Part 2)
10
BAB 3 (Part 3)
11
BAB 4 (Part 1)
12
BAB 4 (Part 2)
13
BAB 4 (Part 3)
14
BAB 5 (Part 1)
15
BAB 5 (Part 2)
16
BAB 5 (Part 3)
17
BAB 6 (Part 1)
18
BAB 6 (Part 2)
19
BAB 6 (Part 3)
20
BAB 7 (Part 1)
21
BAB 7 (Part 2)
22
BAB 7 (Part 3)
23
BAB 8 (Part 1)
24
BAB 8 (Part 2)
25
BAB 8 (Part 3)
26
BAB 9 (Part 1)
27
BAB 9 (Part 2)
28
BAB 9 (Part 3)
29
BAB 10 (Part 1)
30
BAB 10 (Part 2)
31
BAB 10 (Part 3)
32
BAB 11 (Part 1)
33
BAB 11 (Part 2)
34
BAB 11 (Part 3)
35
BAB 12 (Part 1)
36
BAB 12 (Part 2)
37
BAB 12 (Part 3)
38
BAB 13 (Part 1)
39
BAB 13 (Part 2)
40
BAB 13 (Part 3)
41
BAB 14 (Part 1)
42
BAB 14 (Part 2)
43
BAB 14 (Part 3)
44
BAB 15 (Part 1)
45
BAB 15 (Part 2)
46
BAB 15 (Part 3)
47
BAB 16 (Part 1)
48
BAB 16 (Part 2)
49
BAB 16 (Part 3)
50
BAB 17 (Part 1)
51
BAB 17 (Part 2)
52
BAB 17 (Part 3)
53
BAB 18 (Part 1)
54
BAB 18 (Part 2)
55
BAB 18 (Part 3)
56
BAB 19 (Part 1)
57
BAB 19 (Part 2)
58
BAB 19 (Part 3)
59
BAB 20 (Part 1)
60
BAB 20 (Part 2)
61
BAB 20 (Part 3)
62
BAB 21 (Part 1)
63
BAB 21 (Part 2)
64
BAB 21 (Part 3)
65
BAB 22 (Part 1)
66
BAB 22 (Part 2)
67
BAB 22 (Part 3)
68
BAB 23 (Part 1)
69
BAB 23 (Part 2)
70
BAB 23 (Part 3)
71
BAB 24 (Part 1)
72
BAB 24 (Part 2)
73
BAB 24 (Part 3)
74
BAB 25 (Part 1)
75
BAB 25 (Part 2)
76
BAB 25 (Part 3)
77
BAB 26 (Part 1)
78
BAB 26 (Part 2)
79
BAB 26 (Part 3)
80
BAB 27 (Part 1)
81
BAB 27 (Part 2)
82
BAB 27 (Part 3)
83
BAB 28 (Part 1)
84
BAB 28 (Part 2)
85
BAB 28 (Part 3)
86
BAB 29 (Part 1)
87
BAB 29 (Part 2)
88
BAB 29 (Part 3)
89
BAB 30 (Part 1)
90
BAB 30 (Part 2)
91
BAB 30 (Part 3)
92
BAB 31 (Part 1)
93
BAB 31 (Part 2)
94
BAB 31 (Part 3)
95
BAB 32 (Part 1)
96
BAB 31 (Part 2)
97
BAB 31 (Part 3)
98
BAB 32 (Part 1)
99
BAB 32 (Part 2)
100
BAB 32 (Part 3)
101
BAB 33 (Part 1)
102
BAB 33 (Part 2)
103
BAB 33 (Part 3)
104
BAB 34 (Part 1)
105
BAB 34 (Part 2)
106
BAB 34 (Part 3)
107
BAB 35 (Part 1)
108
BAB 35 (Part 2)
109
BAB 35 (Part 3)
110
BAB 36 (Part 1)
111
BAB 36 (Part 2)
112
BAB 36 (Part 3)
113
BAB 37 (Part 1)
114
BAB 37 (Part 2)
115
BAB 37 (Part 3)
116
~END~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!