Pukul 01:20 tengah malam. Suara isak tangis terdengar dari balik selimut. Gemetar dan penuh rasa takut, tangisan itu membuatku terbangun.
"Grey," panggilku seraya membuka selimutnya.
"Kamu sakit?" tanyaku cemas. Wajahnya terlihat sangat pucat, keringat dingin membasahi keningnya.
"Grey, badan kamu dingin banget. Kamu kenapa nangis?" tanyaku lagi, lebih khawatir.
"Aku gak bisa tidur," ucapnya pelan, hampir tak terdengar di sela isaknya. Tubuhnya gemetar, membuatku langsung memeluknya erat.
Aku tahu, ini pasti karena masalah dengan ayahnya. Greysie selalu bereaksi seperti ini: murung, tidak bisa tidur, tidak mau makan, sering merasa pusing, gemetar, berkeringat dingin, hingga kadang menyakiti dirinya sendiri.
Haruskah aku memberitahu ayah dan ibunya? Tapi, penyakit seperti ini tidak semua orang mengerti. Banyak yang menyepelekan. Jika aku memberi tahu ayahnya, akankah dia berubah? Atau malah semakin parah? Apa aku harus memakai cara terakhirku? pikirku sambil terus memeluknya.
----------------
Keesokan harinya. Aku berdiri di depan rumah Greysie, memikirkan apa yang harus kulakukan. Rasanya gelisah, takut, dan marah bercampur jadi satu. Sesekali aku melihat jam di tanganku, mondar-mandir, menggigit kuku, menahan tangisan.
Saat aku masuk ke dalam rumah tiba-tiba suara pintu terbuka serta teriakan mengagetkanku.
"Greysieee!" suara keras Ayah Greysie memecah suasana.
Aku segera berbalik dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penuh amarah. "Greysieee! Mana kamu?! Sini kamu sekarang!" bentaknya dengan suara menggelegar.
"Om, om, jangan marah dulu. Ini salah aku. Tolong jangan marahi Grey," ujarku berusaha menahannya.
Sementara itu, di dalam kamar, Greysie mendengar teriakan ayahnya. Dia gemetar, memegangi kepalanya, lalu menangis semakin keras. Dengan langkah terburu-buru, dia keluar menghampiri kami.
Di dapur, ibunya yang sedang sibuk langsung menghentikan kegiatannya dan ikut datang ke ruang depan.
"Apa kamu pikir saya akan biarkan anak ini merusak reputasi saya dan perusahaan saya?!" bentak ayahnya, wajahnya memerah.
"Perusahaan kamu baik-baik saja!" sela ibunya marah. "Kalau ada masalah, itu karena ulahmu sendiri! Selingkuh terus-terusan, sampai aku gak bisa hitung lagi!"
"Kamu jangan ikut campur! Ini urusan saya dengan anak itu!" bentaknya mengusir istrinya.
Melihat mereka bertengkar, Greysie mendekat, berusaha menghentikan. Namun ayahnya justru menarik tangan kanannya kasar. "Kamu mau pergi? Pergi aja sendiri!" bentak Ayahnya lagi.
"Okay! ayo kita pergi dari sini Grey." kata Ibunya marah sambil menarik tangan kiri Greysie.
"Om, tante, Grey kesakitan!" aku berteriak mencoba melerai mereka.
"Om kok jahat banget sama Grey? Grey kan anak om sendiri. Apa om beneran gak peduli sama Grey?" tanyaku berkaca-kaca.
"Itu salah dia sendiri. Kamu jangan ikut campur! Lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Ayahnya sambil menarik tanganku keluar.
Melihat Ayahnya kasar padaku membuat Greysie memohon di kaki ayahnya sambil menangis.
"Pa, Pa... Papa jangan sakitin Cara... aku aja Pa, aku salah, maafin aku..." pinta Greysie sambil menangis.
"Apah?! Berani-beraninya kamu nyuruh dan ngatur saya! Harusnya kamu tetap diam." teriak Ayahnya lalu memukuli Greysie memakai ikat pinggang.
Melihat itu, tubuhku bergerak spontan, berusaha melindunginya. Tapi aku malah didorong hingga terjatuh.
"Pah! jangan sakiti teman aku pliss..." Greysie memohon sambil menangis. "Aku yang salah, Pah. Aku aja yang dihukum."
"Diam kamu!" bentak ayahnya, menepis tangan Greysie. Dia terus memukul dan menendangnya tanpa ampun.
Aku yang masih terjatuh hanya bisa menatap mereka. Kepalaku terasa penuh dengan suara-suara, telingaku berdengung. Perlahan, aku bangkit dan berjalan ke dapur. Mataku menangkap pisau yang tergeletak di atas meja. Tanpa berpikir panjang, aku mengambilnya.
Dengan pisau di tanganku, aku berjalan perlahan kembali ke ruang depan. Pandanganku tertuju pada Ayah Greysie.
"Ra...?" Greysie memanggilku dengan suara gemetar. Ayah dan ibunya juga terdiam melihatku. Tanpa berkata apa-apa, aku langsung menusukkan pisau itu ke tubuh Ayah Greysie, tepat di jantungnya.
Saat dia terjatuh, aku tersenyum puas. Pisau itu kembali aku hunjamkan, berkali-kali.
"Hahahahaha!" tawaku pecah di tengah suara jeritan Ibunya.
Namun, ketika aku ingin menusuk lagi, Greysie menahan tanganku. "Ra...?" ucapnya lirih, matanya penuh ketakutan.
Aku melihatnya, lalu melihat tubuh Ayah Greysie yang bersimbah darah. Perlahan, aku sadar apa yang baru saja kulakukan.
"Grey...?" ucapku lirih, tatapanku berpindah ke tangan yang penuh darah. Bisikan-bisikan memenuhi kepalaku, "Terima dirimu itu... terima... hahaha... accept it!"
Aku menutup mata, mencoba mengusir suara-suara itu. Tapi semuanya semakin kacau. Greysie tergeletak lemah, menangis, dan memohon. Tatapannya penuh rasa putus asa, seakan berkata, "Jangan lakuin ini pliss..."
Kepalaku sangat pusing dengan suara-suara tawa dan teriakan yang mencekam. Suara isak tangis masih terdengar jelas, napas dan detak jantung terdengar cepat, aku pun tersadar dari ilusiku.
Aku melihat Greysie tergeletak lemas setelah dipukuli habis-habisan oleh ayahnya. Sementara itu, kedua orang tuanya masih bertengkar hebat, seolah tidak peduli dengan keadaan anak mereka.
Melihat Greysie yang tergeletak tak berdaya, aku segera berdiri dan menghampirinya. Tubuhnya gemetar, napasnya terdengar pendek dan cepat, air matanya terus mengalir. Tatapannya yang kosong mengarah padaku, penuh kesakitan, seakan berbicara: "Aku tidak ingin hidup lagi. Kalau kau bisa, tolong bunuh aku sekarang."
Dadaku terasa sesak melihatnya seperti itu. Aku memeluknya erat, menangis dalam kepedihan yang tak tertahankan.
Namun, suara pertengkaran ayah dan ibunya terus bergema, disertai dentuman barang-barang yang dibanting ke lantai. Tak lama, ayah Greysie mendekat ke arah kami, diikuti ibunya yang berusaha menahan langkahnya. Ayahnya memisahkan pelukanku dengan Greysie secara kasar.
"Kata mamamu, kamu kemarin ke rumah sakit?!" tanyanya dengan nada marah.
"Iya, Pah..." jawab Greysie lirih, menahan sakit.
"Sakit apa kamu sampai harus ke rumah sakit? Cepat jawab!" bentak ayahnya sambil menarik tubuh Greysie.
Greysie hanya diam, bibirnya gemetar, dan air matanya terus mengalir deras. Melihat itu, ayahnya mulai memeriksa pergelangan tangannya. Ketika ia menemukan bekas luka sayatan di tubuh anaknya, amarahnya semakin memuncak.
Dia menampar Greysie hingga terjatuh ke lantai. "Kenapa ada banyak bekas luka sayatan di sini?! Jangan bilang kamu coba bunuh diri! Sudah berapa kali kamu melakukan ini, hah?!" teriaknya dengan suara menggema.
"Hmfff... Ak... aku..." Greysie mencoba menjawab, tapi tertahan oleh tangisnya.
"Jawab! Jangan hanya menangis!" bentak ayahnya lebih keras.
Ibunya berusaha menenangkan suaminya. "Hei, kamu sudah gila, ya?!" teriaknya sambil mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya pada anaknya.
"Om, tolong berhenti!" aku ikut berteriak sambil menarik tangannya.
Namun, ayah Greysie malah menepis tanganku dengan kasar, hingga secara tidak sengaja menampar wajahku.
Plakkk....!
"Aaah!" aku memalingkan wajah sambil menahan sakit di pipiku.
Melihat itu, Greysie memohon pada ayahnya lagi sambil memegang kakinya. "Pah, tolong... Jangan sakiti Cara..." ucapnya dengan suara gemetar, berlinang air mata.
"Aku... Aku akan jawab, Pah. Aku akan jawab..." katanya lagi dengan tubuh gemetar.
"Ya sudah, cepat jawab!" desak ayahnya sambil menekan tangan Greysie.
"Hmff... Enam... enam kali, Pah..." jawab Greysie akhirnya, dengan suara nyaris tak terdengar.
"Enam?! Enam kali kamu bilang?! Berani-beraninya kamu!" teriak ayahnya sambil memukul dan menendang Greysie lagi.
"Pah, sakit... Ampun, Pah. Maafin aku... Maafin aku..." Greysie menangis, memohon ampun.
Aku mencoba melindungi Greysie dari amarah ayahnya yang semakin tak terkendali. Namun, usaha kami tak membuahkan hasil. Bahkan, ibunya yang mencoba melerai pun didorong hingga terjatuh.
"Om, cukup! Semua ini terjadi karena om! Kalau om gak terus-menerus nyakitin Grey secara fisik dan mental, dia gak akan seperti ini. Ini semua salah om!" teriakku penuh emosi.
Ayahnya membentakku, "Sudah kubilang, jangan ikut campur!" Dia lalu menyeretku keluar rumah.
"Pah, jangan!" Greysie memohon sambil menahan kaki ayahnya.
Kami terus berusaha melindungi satu sama lain hingga akhirnya ayahnya menyerah karena kelelahan. Dengan perasaan kesal dan marah, ia pergi meninggalkan kami.
---
Setelah ayahnya pergi, ibunya langsung menghampiri kami. "Greysie, sini, Mama obatin luka kamu. Cara, Tante juga akan obatin luka kamu ," ucapnya sambil membantu kami berdiri.
Mereka duduk di sofa, sementara aku tetap berdiri. Ibunya mulai mengobati luka Greysie, tapi aku menyadari bahwa luka di perut Greysie terbuka lagi.
Di saat yang sama, aku melihat darah terus menetes dari tanganku ke lantai. Ternyata jahitan di telapak tanganku juga terbuka.
"Sayang, kenapa kamu gak bilang ke Mama? Tolong jangan coba bunuh diri lagi. Kenapa kamu gak cerita ke Mama?" ucap ibunya, mulai menangis.
Greysie menatap ibunya dengan kesal. "Mama masih punya waktu buat aku? Di mana Mama saat aku butuh? Mama pasti lebih sibuk mabuk-mabukan di klub, kan!" balas Greysie dengan suara tinggi.
Ibunya menangis lebih keras. "Kamu tahu dari mana? Maafkan Mama, sayang. Mama seperti itu karena Papa kamu terus-menerus selingkuh..." ujarnya sambil mencoba memegang tangan Greysie.
Greysie menepis tangan ibunya. "Kenapa Mama lahirin aku?! Kenapa?! Aku mau mati aja!" teriaknya sambil mengambil pisau untuk melukai dirinya lagi.
Brakkk....!
Terdengar suara tubuh jatuh. Mereka langsung berhenti bertengkar dan menoleh ke arahku.
"Ra? Ra! Raa!" Greysie berteriak panik sambil berlari menghampiriku.
Napas pendekku terdengar semakin cepat, pandanganku mulai menghitam, dan suara-suara tawa menggema di kepalaku. Semua perlahan menghilang saat aku menutup mataku.
"Raa, bangun! Raa, kamu kenapa?!" Greysie mengguncang tubuhku, panik.
"Mama, cepat telepon ambulans!" teriak Greysie sambil menangis.
Ibunya juga terlihat cemas. "Cara kenapa, Grey?! Apa dia sakit?" tanyanya dengan panik.
"Ak... Aku gak tau, Ma. Ini pertama kalinya aku lihat Cara kek gini," jawab Greysie, gemetar.
"Mama pliss... cepet telepon ambulans sekarang!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Humairah Ira
semangat kax
2023-09-03
0
ミフタン
kerenn semangat Thor👍
2023-07-18
1
Syabil_aw
suka sih sama bab yang satu ini ada greget sebel sama sedihnya
2023-07-03
1