BAB 3 (Part 2)

...Siapa Dia?...

Di dalam kegelapan, pantulan cahaya terlihat di kaca bening. Wajah yang penuh ketakutan berubah menjadi senyuman. Tatapan matanya menusuk, bibir pucat itu perlahan bergerak dan berbisik.

"Stop pretending! It's you!" bisikan itu terdengar di telingaku. Senyuman itu membuat tubuhku gemetar ketakutan.

"Hahaha, accept it! Accept! Terima! Terima itu!" suara teriakan muncul dari balik kaca. Aku tak mampu mengendalikan bayangan hitam yang terus menghantuiku.

----------------

Di rumah sakit, aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Tanganku gemetar, tubuhku dipenuhi rasa takut. Perlahan, aku menatap kedua telapak tanganku, lalu mengalihkan pandangan ke depan.

"Aku melihatnya. Aku melihat dia... Dia menatapku. Siapa dia? Apa aku berhalusinasi? Gak..." Aku menggelengkan kepala sambil bergumam, "Nggak!"

Beberapa kali aku mencoba memejamkan mata, tapi bayangan itu terus muncul.

"Mata itu... Senyuman itu," batinku.

"Raaa!" teriak Greysie. Aku tersadar oleh suara kerasnya. Dia tampak panik, wajahnya penuh ketakutan dan kekhawatiran.

"Grey? Kamu kenapa nangis?" tanyaku penasaran.

"Kamu udah sadar, Ra! What happened to you?" Greysie langsung memelukku erat.

"Aku nggak apa-apa, Grey. Aku yang harusnya nanya, kenapa kamu nangis? Dan... ini rumah sakit?" tanyaku, menatap infus di tanganku.

"Kemarin kamu pingsan, Ra. Kamu sakit? Kamu kan nggak pernah pingsan sebelumnya. Kok bisa?" ucap Greysie bingung.

"Hah? Aku juga gak tahu. Memangnya aku kenapa?" jawabku, sama bingungnya.

"Aku nggak tahu. Tiba-tiba kamu jatuh pas aku lagi berantem sama Mama. Kamu nggak sadar sama kondisi badan sendiri?" jelas Greysie, masih heran.

Aku mencoba mengingat kejadian kemarin, tetapi ingatanku justru membawa kembali kenangan kelam tujuh tahun yang lalu.

Saat itu, di pantai. Suara anak-anak terdengar bahagia, tapi tiba-tiba semuanya berubah gelap gulita. Lautan biru berubah menjadi merah. Aku berada di rumah, menyaksikan tetesan cairan merah kental menyentuh lantai, mengalir memenuhi ruangan rumahku.

"Bunda... Tiya..." ucapku dengan suara gemetar, air mata mengalir deras.

Di ruangan yang gelap itu, aku kembali melihat kedua telapak tanganku. Darah merah kental menutupi semuanya. Aku menoleh ke samping, melihat bayangan di cermin. Tatapan kosong itu perlahan menyusup ke pikiranku.

---

Suara napasku terdengar berat. Greysie makin panik melihatnya. Ia pun memelukku erat. "Nggak apa-apa, nggak apa-apa," bisiknya, "I’m here. Kamu nggak perlu cerita kalau itu nyakitin buat kamu."

Matanya berkaca-kaca. Ini pertama kalinya dia melihatku dalam keadaan seperti ini. Greysie tahu bahwa aku hidup sebatang kara. Seluruh keluargaku meninggal tujuh tahun lalu, dibunuh oleh seorang pembunuh berantai.

Keluargaku dulunya bahagia. Ayah seorang pebisnis sukses, Ibu seorang manajer umum. Tapi bisnis Ayah bangkrut, dan dia berubah menjadi pemabuk. Dia memaksa Ibu berhenti bekerja karena gengsi. Hingga suatu malam, segalanya hancur. Malam itu, nyawa mereka direnggut, termasuk adikku yang kusayangi.

Greysie memandangiku dengan banyak pertanyaan di benaknya. Dia membuka ponsel dan mencari informasi tentang pembunuhan berantai tujuh tahun lalu. Setelah itu, dia menelpon Hendry, sekretaris pribadi ayahnya.

"Halo, Om. Om lagi di mana?" tanya Greysie.

"Di apartemen. Ada apa, Grey?" jawab Hendry.

"Bisa ke sini nggak, Om? Aku di rumah sakit Medical Group. Ada yang mau aku omongin," pinta Greysie.

"Oke, Om ke sana sekarang."

Setelah menutup telepon, Greysie keluar ruangan. Di lorong, dia tak sengaja menyenggol seseorang. "Maaf, maaf," ucapnya cepat sebelum pergi.

Orang itu adalah seorang dokter. Langkahnya terhenti, dia menoleh dan melihat rambut Greysie dari belakang. Saat Greysie berbelok, dokter itu melihat sekilas wajahnya.

"Aku harap suatu saat bisa bertemu dia lagi," gumamnya sambil tersenyum.

Beberapa jam kemudian. Greysie menemui Hendry di depan rumah sakit, ia meminta Hendry untuk menyelidiki kejadian yang menimpa keluargaku tujuh tahun yang lalu.

---

Satu minggu kemudian, di sekolah SMA Permata. Seorang siswi sedang di bully habis-habisan oleh sekelompok pembully di sekolah.

"Dasar anak pembunuh!" teriak Vanya pada Cassie.

"Hahaha, rasain, tuh!" Raya melempar Cassie dengan telur busuk.

"Lo boleh hina gue, tapi jangan hina keluarga gue!" balas Cassie, menempelkan dirinya pada Raya.

"Apa sih, anjing! Emang bener kan kalau orang tua lo tuh P E M B U N U H!" bentak Raya.

Cassie, yang dipenuhi amarah, akhirnya menghajar Raya habis-habisan.

"Ternyata bener ya, lo anak pembunuh! Berani-berninya lo sama kita!" Vanya mencoba menampar Cassie, tapi tangannya ditahan.

"Lo... selanjutnya!" ancam Cassie dengan tatapan tajam.

Cassie Merletta Milstone adalah tetangga Greysie. Orang tuanya, M.L dan R.L, adalah pembunuh berantai terkenal. Kini, Cassie dikucilkan, hanya pacarnya yang masih bertahan di sisinya.

Ayah dan Ibunya di tahan karena semua bukti memberatkan mereka. Kasus yang menimpa keluarga mereka juga bukanlah kasus biasa melainkan kasus terkenal pembunuhan berantai selama dua tahun, dimana melibatkan anak Presiden sehingga sulit bagi mereka untuk lolos begitu saja.

---

Dua hari kemudian, di pinggiran sungai, seorang pemulung menemukan kantong plastik berisi mayat. Polisi segera datang untuk menyelidiki. Luka sayatan di tubuh korban mirip dengan metode pembunuh berantai M.L dan R.L.

TKP.

Polisi tiba di tempat kejadian dan langsung memulai investigasi atas kasus baru ini. Kasus tersebut menjadi perhatian khusus karena merupakan pembunuhan pertama setelah penangkapan M.L dan R.L, dua pelaku pembunuhan berantai yang sebelumnya mengguncang masyarakat.

Saat memeriksa TKP, polisi menemukan bahwa modus pembunuhan kali ini serupa dengan metode yang digunakan oleh M.L dan R.L.

"Pak Agus, coba lihat bagian ini," ujar Detektif Rasya sambil menunjuk luka sayatan di tubuh korban. "Tubuh korban disayat dari bagian atas hingga bawah."

"Sayatannya sangat banyak dan dalam," Detektif Rasya melanjutkan, "Pergelangan tangan korban juga patah. Selain itu, jari telunjuk dan ibu jarinya hilang. Di bagian wajah, kaki, dan perut korban terdapat banyak luka lebam. Sepertinya korban sempat dikeroyok sebelum dibunuh."

"Kelihatannya si pelaku sangat marah pada korban," sambung Detektif Agus sambil mengamati kondisi tubuh korban.

"Betul, saya yakin pembunuhnya punya dendam pribadi dengan korban ini," balas Rasya sambil menghela napas panjang.

"Huff... Nggak habis-habis, ya. Heran," gumam Agus sambil melirik ke samping. Ia terkejut ketika melihat seseorang tengah menatap mereka dari kejauhan.

"Hahaha, sabar, Pak. Ini kan memang sudah tugas kita," ujar Rasya menenangkan.

"Pak, pak, coba lihat ke sana. Itu anak yang kemarin, bukan?" tanya Agus sambil menarik lengan Rasya dan menunjuk ke arahku.

Aku berdiri di kejauhan dengan tangan bersilang, memandang mereka dengan tenang. Saat Rasya mengarahkan pandangannya padaku, aku tersenyum dan melambaikan tangan.

"Heii... hai. Saya ke sana sebentar, Pak," pamit Rasya pada Agus sambil menepuk pundaknya, lalu berjalan mendekatiku.

---

"Hai, ehm... kamu ngapain di sini?" tanya Rasya dengan nada sedikit canggung.

"Hai. Kebetulan kita lewat sini, terus lihat tempat ini ramai banget, jadi kita berhenti bentar. Dan... kebetulan juga lihat kamu di sini, jadi..." jawabku sambil mengangkat kedua bahu.

"Haii," sapa Greysie sambil melambai dari dalam mobil.

"Oh, hm... haii, Grey," balas Rasya melambai ke arahnya.

"Ini rame banget, ada apa sih?" tanyaku.

"Hm, jadi... ada pembunuhan di sini. Kalian hati-hati kalau keluar malam, ya," jelas Rasya dengan nada canggung. "Ehm, aku kira kamu mau ngomong soal yang kemarin. Hehehe, soalnya aku nungguin call kamu, tapi..."

"Hm," gumamku sambil menggaruk leher yang tak gatal. "Maaf, maaf, aku lupa. Kemarin papa Grey pulang, jadi... ya begitulah."

"Hm, iya nggak apa-apa. Tapi lain kali bisa, kan?" tanyanya sambil melirik ke arah perban di telapak tanganku.

"Of course. Tapi nanti kamu aja yang call aku, ya. Sepertinya kamu lagi sibuk sekarang," balasku santai.

"Hm, oke. Aku call nanti, ya. Kalau gitu aku balik ke sana dulu," pamit Rasya.

"Tunggu bentar," ujarku sambil menarik lengan bajunya.

"Iya? Ada apa?" tanyanya penasaran.

"By the way, siapa yang jadi korban?" tanyaku.

Rasya menatapku dari atas hingga bawah. "Baju kalian mirip. Jangan-jangan..."

"Hm?" gumamku sambil menaikkan alis.

"Kamu nggak penasaran kenapa?" tanya Rasya curiga.

"Apa? Eh... iya kenapa?" jawabku sambil tersenyum kecil.

"Korban bajunya sama seperti kalian. Mungkin teman kalian?" jelas Rasya.

"Ra? What?" tanya Greysie dari dalam mobil dengan gerakan bibir tanpa suara.

"Sini," panggilku sambil melambaikan tangan, menyuruhnya keluar dari mobil.

"Kita boleh lihat nggak?" tanyaku pada Rasya.

"Kamu nggak kaget?" balas Rasya, kini menatapku penuh curiga.

"Pembully sudah seharusnya men—" ucapanku terpotong saat Greysie tiba-tiba menutup mulutku.

"Maaf, Rasya. Cara ini mulutnya nggak bisa dijaga. Dia suka ceplas-ceplos kalau ngomong, hehe. Apa yang dia pikirkan, itu juga yang dia omongin. Kadang nggak lihat situasi," jelas Greysie sambil menutup mulutku erat.

"Oh, hehehe," balas Rasya tertawa canggung. Aku berusaha melepaskan tangan Greysie dan menatapnya kesal.

"Maaf, tapi kalian nggak boleh ke sana. Masih dalam penyelidikan polisi. Nggak apa-apa, kan?" jelas Rasya pada kami.

"Iya, nggak apa-apa," jawab Greysie cepat.

"Hm, oke," balasku singkat.

"Kalau gitu aku ke sana dulu, ya," pamit Rasya.

"Iya, kita juga udah telat, kayaknya," sambung Greysie sambil menarikku menjauh dan melambaikan tangan pada Rasya.

"Bye, hati-hati di jalan," ucap Rasya sambil melambaikan tangan.

---

Tiba di sekolah, kami melangkah masuk ke dalam kelas. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda hari ini. Suasana kelas begitu aneh; hampir semua orang berbisik-bisik sambil melirik ke arah Cassie.

"Dia kali ya yang bunuh Vanya," bisik Clara pada Vindiya.

"Iya, jangan-jangan dia," balas Vindiya dengan nada was-was.

Tak lama kemudian, Riska, Mindy, Putri, dan Zey masuk ke kelas. Begitu melihat Cassie, mereka langsung menghampirinya dengan langkah penuh amarah.

"Lo apain temen kita, hah?!" seru Riska sambil mencengkeram kerah baju Cassie.

"Lo yang bunuh dia, kan?! Ngaku lo!" tukas Mindy, menendang meja Cassie dengan kasar.

"Berani-beraninya lo sama kita! Lo lupa ya? Di sekolah ini Six Hell Angels yang berkuasa. Jangan coba-coba cari masalah sama kita!" Zey menambahkan sambil mendorong kepala Cassie berulang kali.

"Iya, kita kasih lo pelajaran! Hidup lo gak bakal tenang lagi di sekolah ini!" Putri menyambar, lalu menuangkan sisa minumannya ke baju Cassie.

Mereka mulai memukul Cassie tanpa ampun. Anak-anak lain hanya tertawa, sebagian terlihat tidak peduli, dan sisanya diam ketakutan.

Sementara itu, aku hanya berdiri memandangi mereka. Di sisi lain, Greysie terlihat gelisah. Dia bangkit, ingin menghentikan aksi mereka. Aku cepat menarik tangannya dan menggelengkan kepala. "Aku gak mau kejadian kayak kemarin terulang," kataku tegas, menatap wajahnya serius. "Papa kamu bisa bunuh kamu."

"Tapi... aku..." lirih Greysie, pandangannya terarah pada Cassie yang babak belur.

"No," potongku dengan nada tegas.

"Aku..." suaranya makin pelan, seolah memohon agar aku mengizinkannya bertindak.

"Biar aku yang urus," kataku akhirnya.

"Tapi kamu..." balas Greysie ragu, wajahnya penuh kecemasan.

Aku tidak menjawab. Sebagai gantinya, aku melangkah maju ke tengah kerumunan.

"Hey!" teriakku lantang. Mereka langsung berhenti memukuli Cassie dan berbalik menatapku dengan wajah kesal.

"Apa? Lo mau ikut campur?" tanya Riska dengan nada menantang.

"Lo punya bukti kalau Cassie yang bunuh Vanya?" tanyaku tenang, menatap mereka tanpa ekspresi.

"Iya, buktinya orang tua dia tuh pembunuh! Kemarin dia juga mukul Raya sampai masuk rumah sakit!" tegas Riska.

"Apasih, anjing? Lo jangan seneng dulu ya karena temenan sama Greysie. Kita juga bisa bikin hidup lo menderita di sekolah ini," sela Zey, matanya penuh amarah.

Aku tersenyum tipis. "Loh, berarti kalau gue gak temenan sama Grey, kalian bakal ganggu gue juga?" tanyaku santai.

"Jangan pikir kita takut sama lo, ya! Lo itu gak ada apa-apanya di mata kita," seru Mindy penuh kesal.

"Ok, ok, maafin gue," ucapku sambil mengangkat kedua telapak tangan, berpura-pura menyerah.

"Ssst, kita jangan cari masalah sama dia," bisik Riska pada teman-temannya. "Gue gak mau bokap gue sampai hukum gue lagi cuma gara-gara dia."

Aku mendekati mereka perlahan. "Gue kalau jadi kalian, gak bakal berani gangguin dia," ucapku pelan, mataku menatap tajam satu per satu dari mereka.

"Coba lo pikir. Kalau omongan kalian bener, emangnya kalian gak takut bakal jadi korban selanjutnya? Siapa tahu, besok... atau sebentar lagi... kalian bakal matti."

Aku menyentuh wajah Riska, "Kalian gak takut kalau muka cantik kalian," lalu menyentuh kulit Mindy dengan jari telunjuk, "kulit halus ini..." Berbisik di telinga Zey, "Bakal dikuliti, dimutilasi..." Menatap Putri, "Biji mata lo dicongkel, lidah lo dipotong-potong..." Menjulurkan lidah sambil menatap mereka satu per satu. "Dan isi perut lo bakal jadi makanan buat anjing. Guk guk!" Kemudian menirukan lolongan, membuat Riska menutup mata karena terkejut.

"Apa gue salah kalau bilang pembully seperti kalian pantes dapet hukuman?" tanyaku datar.

Mereka terdiam, wajah-wajah ketakutan mulai terlihat. Aku berbalik menatap seluruh kelas. "Lo semua seneng banget, ya, ngancurin hidup orang? Lo pada punya bukti apa? main nuduh-nuduh aja. Kalau punya otak, dipake buat mikir, bukan buat bikin spekulasi!"

"Lo!" kataku sambil menunjuk salah satu siswi di kelas kami.

"Lo bisa milih mau lahir dimana?" tanyaku kekeh membuatnya menggelengkan kepala.

Mereka semua terdiam. Aku menghampiri Cassie, membantunya berdiri. Dia hanya menangis tersedu-sedu, tak mampu berkata apa-apa.

Di sisi lain, Riska dan gengnya kembali ke tempat duduk dengan wajah kesal. Mereka membanting buku salah satu murid dengan kasar, namun aku dan Greysie hanya menatap mereka tanpa ekspresi.

Sementara itu, Alfie yang duduk di pojok kelas berseru pada Athan. "Cewek gua tuh, keren, kan?" katanya bangga.

"Sejak kapan lu pacaran sama Cara, bro? Udah gak usah ngayal," balas Athan sambil tertawa.

"Awas aja, bentar lagi dia bakal jadi milik gua," ujar Alfie penuh percaya diri.

"Hm... gue udah berkali-kali denger omongan lu kayak gitu. Sampai sekarang gak ada tuh Cara jadi milik lu. Udahlah bro, masih banyak cewek cantik diluar sana, contohnya Greysie tapi dia milik gua." kata Athan sambil tersenyum melihat Greysie.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jam 21:10 malam. Suara langkah kaki menggema di lorong. Seseorang dengan sepatu hitam berjalan perlahan mendekati seorang gadis remaja. Tiba-tiba, lampu mati, membuat ruangan gelap gulita.

Gadis itu buru-buru menyalakan senter ponselnya. Saat cahaya menerangi ruangan, dia terkejut melihat seseorang berdiri tepat di belakangnya. Tatapan tajam dan senyuman menyeramkan orang itu membuatnya berteriak keras.

"Aaahhh...!"

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Humairah Ira

Humairah Ira

trauma

2023-11-18

1

CatForD

CatForD

kamu gak halu dehh

2023-08-05

1

ミフタン

ミフタン

jadi tambah suka nihh,baguss bangett👍

2023-07-18

1

lihat semua
Episodes
1 Cast Introduction
2 BAB 1 (Part 1)
3 BAB 1 (Part 2)
4 BAB 1 (Part 3)
5 BAB 2 (Part 1)
6 BAB 2 (Part 2)
7 BAB 2 (Part 3)
8 BAB 3 (Part 1)
9 BAB 3 (Part 2)
10 BAB 3 (Part 3)
11 BAB 4 (Part 1)
12 BAB 4 (Part 2)
13 BAB 4 (Part 3)
14 BAB 5 (Part 1)
15 BAB 5 (Part 2)
16 BAB 5 (Part 3)
17 BAB 6 (Part 1)
18 BAB 6 (Part 2)
19 BAB 6 (Part 3)
20 BAB 7 (Part 1)
21 BAB 7 (Part 2)
22 BAB 7 (Part 3)
23 BAB 8 (Part 1)
24 BAB 8 (Part 2)
25 BAB 8 (Part 3)
26 BAB 9 (Part 1)
27 BAB 9 (Part 2)
28 BAB 9 (Part 3)
29 BAB 10 (Part 1)
30 BAB 10 (Part 2)
31 BAB 10 (Part 3)
32 BAB 11 (Part 1)
33 BAB 11 (Part 2)
34 BAB 11 (Part 3)
35 BAB 12 (Part 1)
36 BAB 12 (Part 2)
37 BAB 12 (Part 3)
38 BAB 13 (Part 1)
39 BAB 13 (Part 2)
40 BAB 13 (Part 3)
41 BAB 14 (Part 1)
42 BAB 14 (Part 2)
43 BAB 14 (Part 3)
44 BAB 15 (Part 1)
45 BAB 15 (Part 2)
46 BAB 15 (Part 3)
47 BAB 16 (Part 1)
48 BAB 16 (Part 2)
49 BAB 16 (Part 3)
50 BAB 17 (Part 1)
51 BAB 17 (Part 2)
52 BAB 17 (Part 3)
53 BAB 18 (Part 1)
54 BAB 18 (Part 2)
55 BAB 18 (Part 3)
56 BAB 19 (Part 1)
57 BAB 19 (Part 2)
58 BAB 19 (Part 3)
59 BAB 20 (Part 1)
60 BAB 20 (Part 2)
61 BAB 20 (Part 3)
62 BAB 21 (Part 1)
63 BAB 21 (Part 2)
64 BAB 21 (Part 3)
65 BAB 22 (Part 1)
66 BAB 22 (Part 2)
67 BAB 22 (Part 3)
68 BAB 23 (Part 1)
69 BAB 23 (Part 2)
70 BAB 23 (Part 3)
71 BAB 24 (Part 1)
72 BAB 24 (Part 2)
73 BAB 24 (Part 3)
74 BAB 25 (Part 1)
75 BAB 25 (Part 2)
76 BAB 25 (Part 3)
77 BAB 26 (Part 1)
78 BAB 26 (Part 2)
79 BAB 26 (Part 3)
80 BAB 27 (Part 1)
81 BAB 27 (Part 2)
82 BAB 27 (Part 3)
83 BAB 28 (Part 1)
84 BAB 28 (Part 2)
85 BAB 28 (Part 3)
86 BAB 29 (Part 1)
87 BAB 29 (Part 2)
88 BAB 29 (Part 3)
89 BAB 30 (Part 1)
90 BAB 30 (Part 2)
91 BAB 30 (Part 3)
92 BAB 31 (Part 1)
93 BAB 31 (Part 2)
94 BAB 31 (Part 3)
95 BAB 32 (Part 1)
96 BAB 31 (Part 2)
97 BAB 31 (Part 3)
98 BAB 32 (Part 1)
99 BAB 32 (Part 2)
100 BAB 32 (Part 3)
101 BAB 33 (Part 1)
102 BAB 33 (Part 2)
103 BAB 33 (Part 3)
104 BAB 34 (Part 1)
105 BAB 34 (Part 2)
106 BAB 34 (Part 3)
107 BAB 35 (Part 1)
108 BAB 35 (Part 2)
109 BAB 35 (Part 3)
110 BAB 36 (Part 1)
111 BAB 36 (Part 2)
112 BAB 36 (Part 3)
113 BAB 37 (Part 1)
114 BAB 37 (Part 2)
115 BAB 37 (Part 3)
116 ~END~
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Cast Introduction
2
BAB 1 (Part 1)
3
BAB 1 (Part 2)
4
BAB 1 (Part 3)
5
BAB 2 (Part 1)
6
BAB 2 (Part 2)
7
BAB 2 (Part 3)
8
BAB 3 (Part 1)
9
BAB 3 (Part 2)
10
BAB 3 (Part 3)
11
BAB 4 (Part 1)
12
BAB 4 (Part 2)
13
BAB 4 (Part 3)
14
BAB 5 (Part 1)
15
BAB 5 (Part 2)
16
BAB 5 (Part 3)
17
BAB 6 (Part 1)
18
BAB 6 (Part 2)
19
BAB 6 (Part 3)
20
BAB 7 (Part 1)
21
BAB 7 (Part 2)
22
BAB 7 (Part 3)
23
BAB 8 (Part 1)
24
BAB 8 (Part 2)
25
BAB 8 (Part 3)
26
BAB 9 (Part 1)
27
BAB 9 (Part 2)
28
BAB 9 (Part 3)
29
BAB 10 (Part 1)
30
BAB 10 (Part 2)
31
BAB 10 (Part 3)
32
BAB 11 (Part 1)
33
BAB 11 (Part 2)
34
BAB 11 (Part 3)
35
BAB 12 (Part 1)
36
BAB 12 (Part 2)
37
BAB 12 (Part 3)
38
BAB 13 (Part 1)
39
BAB 13 (Part 2)
40
BAB 13 (Part 3)
41
BAB 14 (Part 1)
42
BAB 14 (Part 2)
43
BAB 14 (Part 3)
44
BAB 15 (Part 1)
45
BAB 15 (Part 2)
46
BAB 15 (Part 3)
47
BAB 16 (Part 1)
48
BAB 16 (Part 2)
49
BAB 16 (Part 3)
50
BAB 17 (Part 1)
51
BAB 17 (Part 2)
52
BAB 17 (Part 3)
53
BAB 18 (Part 1)
54
BAB 18 (Part 2)
55
BAB 18 (Part 3)
56
BAB 19 (Part 1)
57
BAB 19 (Part 2)
58
BAB 19 (Part 3)
59
BAB 20 (Part 1)
60
BAB 20 (Part 2)
61
BAB 20 (Part 3)
62
BAB 21 (Part 1)
63
BAB 21 (Part 2)
64
BAB 21 (Part 3)
65
BAB 22 (Part 1)
66
BAB 22 (Part 2)
67
BAB 22 (Part 3)
68
BAB 23 (Part 1)
69
BAB 23 (Part 2)
70
BAB 23 (Part 3)
71
BAB 24 (Part 1)
72
BAB 24 (Part 2)
73
BAB 24 (Part 3)
74
BAB 25 (Part 1)
75
BAB 25 (Part 2)
76
BAB 25 (Part 3)
77
BAB 26 (Part 1)
78
BAB 26 (Part 2)
79
BAB 26 (Part 3)
80
BAB 27 (Part 1)
81
BAB 27 (Part 2)
82
BAB 27 (Part 3)
83
BAB 28 (Part 1)
84
BAB 28 (Part 2)
85
BAB 28 (Part 3)
86
BAB 29 (Part 1)
87
BAB 29 (Part 2)
88
BAB 29 (Part 3)
89
BAB 30 (Part 1)
90
BAB 30 (Part 2)
91
BAB 30 (Part 3)
92
BAB 31 (Part 1)
93
BAB 31 (Part 2)
94
BAB 31 (Part 3)
95
BAB 32 (Part 1)
96
BAB 31 (Part 2)
97
BAB 31 (Part 3)
98
BAB 32 (Part 1)
99
BAB 32 (Part 2)
100
BAB 32 (Part 3)
101
BAB 33 (Part 1)
102
BAB 33 (Part 2)
103
BAB 33 (Part 3)
104
BAB 34 (Part 1)
105
BAB 34 (Part 2)
106
BAB 34 (Part 3)
107
BAB 35 (Part 1)
108
BAB 35 (Part 2)
109
BAB 35 (Part 3)
110
BAB 36 (Part 1)
111
BAB 36 (Part 2)
112
BAB 36 (Part 3)
113
BAB 37 (Part 1)
114
BAB 37 (Part 2)
115
BAB 37 (Part 3)
116
~END~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!