...Bayangan Hitam...
The story is still in the flashback, exploring the character's past.
Di dalam rumahku, ibu dan adikku telah meninggal. Mereka meninggalkan aku seorang diri. Darah mereka mengalir memenuhi lantai, membanjiri rumah ini, sementara aku hanya berdiri mematung, terdiam tanpa suara. Malam yang sunyi terasa begitu bising di dalam kepalaku. Aku merasa sangat kosong, tidak merasakan apapun, seperti aku tersesat.
"Bu-nda... Ti-ya... apa mereka udah meninggal?" batinku bertanya, tak percaya.
Setelah beberapa saat terdiam, tubuhku terasa bergerak sendiri. Kakiku perlahan melangkah, meskipun aku tidak menginginkannya. Seakan ada sisi lain dari diriku yang menertawakan rasa sakit yang kurasakan, menikmati kehancuran yang menyesakkan.
Sementara itu, ayahku terisak keras, masih terkejut, penuh rasa bersalah. Tangannya yang gemetar melepaskan pisau yang baru saja ia gunakan. Dia memukul dirinya sendiri berulang kali, seperti mencoba terbangun dari mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.
Dia menatapku dengan wajah penuh keputusasaan, lalu melirik tubuh ibu dan adikku yang sudah tak bernyawa. Tangisannya kembali pecah. Suara jeritan dan isaknya memenuhi ruangan, menggema di telingaku, menghantam isi kepalaku. Rasanya, setiap tetes darah yang mengalir membawa serta tangisan dan penyesalan ayahku, menyusup hingga ke dalam nadiku.
Aku berjalan mendekati adikku yang tergeletak kaku. Menatap wajahnya yang kini pucat, lalu memandang wajah ibu yang diam tak bernyawa di sebelahnya.
"Ini nyata," gumamku dalam hati. "Tolong... Tolong bangunkan aku!" Tapi dunia tetap diam. Sebaliknya, suara-suara mulai muncul, memenuhi kepalaku.
"Hahaha... bunuh juga ayahmu. Dia telah merenggut bunda dan adikmu," bisikan itu terdengar, tajam dan menusuk.
Aku meremas kepala dengan kedua tanganku, mencoba mengusir suara itu. Pandanganku berputar, bibirku memucat. Tetesan keringatku jatuh, bercampur dengan darah yang menggenang di lantai.
"Pliss... hentikan! Hentikannn!" jerit batinku, memohon. Tapi bisikan itu semakin nyaring, semakin memaksa.
"Hahaha, kenapa? Lihat dia, lihat ayahmu. Dia juga sudah tidak ingin hidup lagi. Akhiri penderitaannya. Ayo, lakukan!"
"Nggak... Gak..." gumamku, memukul kepalaku sendiri. "Gak... gak... gakkk!" teriak batinku, semakin gelisah.
"Ayolah, darahmu pasti sedang bergejolak. Lihat darah merah segar itu. Tanganmu pasti ingin melakukannya. Dengarkan jantungmu... dengar bagaimana dia memompa darahmu dengan semangat. Kau tahu kau ingin melakukannya."
"Diammm!" Aku menutup telingaku rapat-rapat. "Diam! Diam! DIAM!"
Pertarungan dengan diriku sendiri berlangsung sengit. Aku meronta, berusaha melawan suara-suara itu. Tapi pada akhirnya, aku kembali terdiam, dengan tatapan kosong.
Pandangan mataku tertuju pada pisau yang tergeletak tak jauh dari ayahku. Perlahan, aku berjalan mendekat, lalu meraih pisau itu.
Senyuman samar terlihat di permukaan pisau yang kini ada di tanganku. Sementara itu, mataku memandangnya dengan kebencian yang membara.
Tanganku terangkat. Dengan gerakan cepat, aku mengayunkan pisau itu dan menusukkannya ke leher ayahku.
Ayahku tersentak, terkejut. Matanya perlahan beralih padaku, penuh rasa terkejut dan keheranan. Namun aku hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang dipenuhi kepuasan.
Darah memuncrat dari lehernya, mengenai wajahku. Setelah mencabut pisau itu, aku kembali menusuknya. Lagi. Lagi. Dan lagi.
Wajahku dipenuhi darah ayahku, begitu juga dengan tanganku. Tubuh kecilku kini bersimbah darah, tetapi aku hanya tertawa. Tawaku pecah, mengisi keheningan malam yang mencekam.
"Hahaha," aku tertawa, sambil menusuk. "Hahaha," tawaku semakin lepas, tatapanku penuh kebencian.
"Haha... Hahaha... Haaa... Hahaha!" Tawaku semakin keras, penuh kepuasan. Darah terus mengalir, memenuhi lantai yang sudah basah oleh penderitaan.
"I love you, Dad," ucapku, dengan senyuman kepuasan, mencabut pisau dari lehernya. Ayahku menatapku untuk terakhir kalinya sebelum perlahan menutup matanya.
Flashback Off.
Saat ini, aku sedang berada di rumah sakit, terbaring tidur dan memimpikan kejadian mengerikan yang menimpa keluargaku tujuh tahun lalu. Aku terbangun terkejut, teringat akan kejadian itu.
Suara napasku terdengar cepat dan pendek. Perlahan, aku melihat ke telapak tanganku. Pisau berlumuran darah merah segar memenuhi tanganku. Tiba-tiba, aku mendengar bisikan di telingaku.
"Do you recognize me?" bisikan di telinga kiri, membuatku refleks menoleh ke kiri.
"Apa kau ingat aku?" bisikan di telinga kanan, aku menoleh ke kanan dengan perasaan gelisah.
Bisikan itu membuatku sangat ketakutan. Aku terus melihat sekeliling, cemas, tetapi tak ada apa-apa yang terlihat. Meski begitu, bisikan itu terus mengacaukan pikiranku.
"Apa kau mengenaliku? Apa kau ingat aku?"
"Get the fuckk," aku memegang telinga, "out of my life!!" teriakku.
Greysie terkejut mendengarku berteriak. Ia ketakutan namun juga cemas padaku. Sejak tadi, Greysie berusaha menyadarkanku yang tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Flashback On. Sehari yang lalu, di rumah sakit saat aku menangis tanpa suara, perasaan marah, benci, sedih, takut, dan trauma memenuhi diriku. Pandanganku semakin menghitam, dunia terasa berputar. Aku tidak bisa mengendalikan diriku dan akhirnya pingsan.
Greysie terkejut melihatku. Kejadian ini sangat tidak biasa baginya sejak pertama kali mengenalku. Semua ini baru baginya. Ia merasa bersalah karena tidak tahu apapun tentang sahabat satu-satunya. Rasya juga terlihat sangat khawatir, sepertinya ia memahami perasaanku.
Rasya teringat akan dirinya dulu, kehilangan seseorang yang sangat disayanginya karena perbuatan pembunuh berantai. Hal itu menjadi trauma mendalam baginya.
Mereka terlihat panik dan segera memanggil dokter. Beberapa menit kemudian, dokter datang untuk memeriksa keadaanku.
"Gimana keadaan temen aku, dok?" tanya Greysie.
"Pasien terlihat sangat lelah, sepertinya dia stres akan sesuatu. Apa pasien memiliki trauma masa lalu?" tanya dokter. Rasya menatap Greysie dengan rasa penasaran.
"Em... Sepertinya iya, dok," jawab Greysie dengan gemetar.
"Pasien harus banyak istirahat dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang membuatnya stres. Saya sarankan agar pasien berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog," saran dokter.
"Baik, terima kasih, dok," ucap Greysie lirih, menahan tangis.
"Terima kasih, dok," kata Rasya sambil berjabat tangan dengan dokter tersebut.
Setelah dokter keluar ruangan, mereka mulai berbicara satu sama lain.
"Grey," Rasya bertanya dengan cemas, "aku... aku boleh nanya gak, kenapa Lista sampai kayak gini?"
"Hmp, hmf, dia..." Greysie menahan tangisnya.
Greysie mulai menceritakan masa lalu ku pada Rasya sepengetahuan dirinya, termasuk alasan kami bertengkar hebat sebelumnya. Mendengar itu, Rasya terkejut dan mengingat kembali semua kecurigaannya selama ini.
"Apa lo udah bunuh orang?! Jangan-jangan itu temen gue?!"
"Emangnya teman aku yang bunuh orang itu, pak?!"
"Hm, yaa, temen aku gak bunuh dia, jadi ngapain dibawa ke sana, pak?!"
Ingatan Rasya terus berlanjut, mengingat saat ia keluar dari ruangan polisi dan melihatku serta Greysie sedang berbicara. Namun, tanpa sengaja, ia mendengar perkataanku dan bersembunyi.
"Kok lo bisa terjebak dalam situasi kayak gini? Apa perlu gue bunuh tuh polisi?"
Rasya mengingat kembali perkataanku dan merasa heran mengapa aku selalu berbicara tentang membunuh seseorang. Namun, meskipun ia mencurigaiku, Rasya tetap berusaha mendekatiku dengan alasan untuk menyelidikiku. Padahal, itu hanya alasan. Dia tak bisa membohongi dirinya sendiri; sejak pertama kali melihatku di rumah Greysie, ia sudah merasa tertarik padaku. Selain terpesona, ia juga menyukai karakterku yang mirip dengan adiknya, Angeline.
Kadang, Rasya merasa bersalah padaku, namun di sisi lain, ia juga sudah mencurigai kami sejak awal pertemuan. Meskipun begitu, ia tetap menyukaiku, bahkan semakin lama semakin dalam perasaannya.
Melihat Rasya melamun setelah mendengar penjelasannya, Greysie langsung menegurnya.
"Rasya?" panggil Greysie.
"Ya? Eh, maaf, aku tadi keinget sesuatu," jelas Rasya.
"But... you okay now?" tanya Greysie.
"Yaa," Rasya tersenyum, "ya, ya, aku oke," jawabnya.
"Oky, then..." ucap Greysie sambil mengangkat kedua alisnya.
Beberapa saat kemudian, Rasya berpamitan pada Greysie karena harus mengurus sesuatu.
"Aku balik dulu, Grey, mau ngurus sesuatu," pamit Rasya sambil berdiri.
"Yeah, ok, hati-hati di jalan," ucap Greysie.
"Call aku ya, kalau Lista udah siuman," pinta Rasya.
"Sure," jawab Greysie sambil tersenyum.
Malam terasa berjalan lambat hingga akhirnya Greysie pun tertidur. Besoknya, Greysie terbangun dari tidurnya, duduk di kursi sambil menatapku.
"Ra, apa masih ada rahasia yang belum kamu ceritain ke aku?" gumam Greysie sambil menyilangkan tangan.
"Padahal, aku cuma mau kamu jujur ke aku. Karena aku ini sahabat kamu, aku selalu nungguin kamu cerita, tapi..." batin Greysie, ia terus menatapku.
Saat sedang menatapku dengan tatapan serius, Greysie malah teringat kembali kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu.
Two Years Ago.
Dua setengah tahun yang lalu. Greysie bersama pacarnya, Rendi, sedang makan di restoran mewah.
"Ren, aku mau nanya boleh?" tanya Greysie.
"Nanya apa, Grey?" jawab Rendi.
"Kamu kok sekarang musuhan sama Heafen? Bukannya kalian dulu sahabatan?" tanya Greysie.
"Gak papa, dia emang dari dulu mau bikin geng motor sendiri," jawab Rendi.
"Alasannya kenapa?" tanya Greysie lagi.
"Hm," Rendi berhenti makan, "mungkin dia gak puas sama kepemimpinan aku," jawab Rendi.
"Padahal aku sama Cara sahabatan, tapi kalian malah musuhan," ujar Greysie.
"Masalah aku sama Heafen biar jadi urusan kita berdua, kalian gak usah cemas," jelas Rendi.
"Hm, tapi awas aja ya kalau kalian berantem lagi," larang Greysie.
"Iya, iya... tenang aja, Grey," jawab Rendi tersenyum.
Setelah selesai makan, Rendi mengantar Greysie ke rumahku, karena kami sering bergantian menginap di rumah masing-masing. Greysie lebih sering menginap denganku padahal aku butuh waktu sendiri. Aku merasa nyaman berada di rumah meski hanya sendirian. Tapi Greysie tidak bisa tinggal sendiri, dia selalu ingin bersama-sama.
Di depan rumahku, Rendi berpamitan, lalu Greysie masuk ke rumah. Saat Greysie ingin membuka pintu kamar, ia mendengar suara barang yang dibanting dari dalam kamarku.
Braaakk...!
"Cara?!" gumam Greysie segera membuka pintu, dan melihatku sedang membanting serta menginjak-injak TV milikku.
"Fuckkk," teriakku sambil membanting TV, "fuckkk," aku menginjaknya, "fuckkk, fuckkk!" teriakku.
"FUCKKK!" teriakku sambil menendang tempat TV, "You're Fu*ck up!" aku memukul dinding, "My Family!" teriakku lagi.
"Fuckkk You!" teriak sambil melempar barang.
"Fuckkk!" teriakku lagi dengan air mata yang menetes.
Greysie terkejut melihatku seperti itu. Ia tidak berani menegurku. Selama ini, ia tidak pernah melihatku marah sampai seperti itu. Biasanya, jika aku marah padanya, aku hanya akan diam selama berhari-hari atau berminggu-minggu jika dia tidak mengambil langkah pertama untuk berbicara padaku.
Tak lama setelah itu, aku mengambil botol minuman dari lemari kecil di kamarku. Itu adalah lemari untuk menyimpan koleksi pribadiku. Setelah mengambil minuman keras, tanpa berpikir panjang, aku langsung meminumnya. Biasanya, aku hanya meminum itu jika benar-benar marah, dan malam itu adalah kedua kalinya aku meminumnya.
Setelah meminum banyak minuman keras, aku mulai merasa mabuk dan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak aku katakan.
"You know what?" cegukan, "you know what's my... biggest secret of... this life?" ujarku dengan suara tak jelas.
"No... I don't, emangnya apa rahasia terbesar kamu?" tanya Greysie bingung.
"Hegh," cegukan, "heh," tertawa kecil, "heh, hahahahahaha," aku tertawa lepas.
"Hahaha, haaaahh, hahahaaa," aku berhenti tersenyum, "aaiiishh," mataku menatap dengan benci, "fuckkk!" ucapku, raut wajahku marah bercampur tatapan benci.
Perlahan, aku mendekatkan wajahku pada Greysie, lalu berbisik padanya.
"I killed... my own fat," tersenyum, "her," berbisik pada Greysie, lalu tertawa lagi.
"Hahahaha... Haaahahaha, hahaha...," aku tertawa dengan rasa sakit.
Greysie membulatkan matanya, terkejut mendengar perkataanku, lalu menatapku heran karena aku tertawa.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Syabil_aw
😞
2023-07-24
1
Syabil_aw
Sadisnya, tapi keren😞
2023-07-24
1
Syabil_aw
Omooo, jadi keinget adegan psikopat yang semalem aku tonton huee
2023-07-24
1