(Masih dalam Flashback Bab sebelumnya/Sehari sebelumnya).
Di dalam kamar, waktu menunjukkan pukul 14:30 siang. Rasya sedang memandangi foto para tersangka kasus pembunuhan berantai yang ada di mejanya. Wajahnya serius, matanya menelusuri setiap detail gambar itu.
Saat asyik dengan pikirannya, suara langkah kaki terdengar mendekat. Instingnya segera waspada. Rasya membuka laci di depannya, mengambil pistol, dan mengarahkannya ke pintu cokelat di hadapannya. Dengan tenang, ibu jarinya membuka pengaman pistol, sementara telunjuknya siap menekan pelatuk.
Gagang pintu perlahan bergerak. Pintu terbuka, menampilkan seorang pria berwajah tampan dengan potongan rambut Korean side bangs yang familiar.
“Baaa! Hahaha!” seru pria itu, mencoba mengejutkan Rasya.
DORRR!
Tembakan melesat. Pria itu terjatuh ke lantai.
“Woy, udah! Gak usah pura-pura mati,” ujar Rasya sambil menurunkan pistolnya.
“Bro, lu nembak gue barusan,” balas pria itu dari lantai. “Jadi, gue mati sekarang.”
Rasya hanya mendengus kesal dan kembali duduk. Fokusnya kembali ke foto tersangka.
“Lu suka cewek ini, ya?” tanya pria itu sambil menunjuk salah satu wanita di foto. Tiba-tiba, ia sudah berdiri di belakang Rasya, membuatnya sedikit terkejut.
“Hah?! Gak. Gue suka yang ini,” jawab Rasya sambil menunjuk wanita lain di foto.
“Menurut gue sih, yang ini lebih cantik,” kata pria itu, menunjuk foto sebelumnya.
Rasya menatapnya dengan pandangan tajam. “Ini tuh tersangka kasus pembunuhan berantai,” jelasnya tegas.
“Hah?!” Mata pria itu membulat. “Yang mana?”
“Dua-duanya,” jawab Rasya singkat.
Pria itu hanya mengangguk kecil, lalu menunjuk salah satu foto. “Hm gak apa. Gue suka yang ini. Namanya siapa?”
“Namanya…” Rasya menatap foto wanita itu dengan seksama. “Cara Callista.”
“Hm, namanya cantik seperti orangnya,” ujar pria itu sambil tersenyum kecil.
“Itu bukan namanya,” potong Rasya dengan nada kesal. “Itu nama gebetan gue. Kalau ini,” ia menunjuk foto lain, “namanya Greysie.”
“Ohh,” pria itu tertawa kecil. “Lu udah bucin banget, bro. Baru kali ini gue lihat lu sebucin ini sama cewek. By the way, nama asli Greysie siapa?”
Rasya menunjuk sebuah berkas di sebelahnya. “Baca sendiri di situ.”
Pria itu membuka berkas dan membaca, “Freya Valerie Grey…sie.” Senyumnya melebar. “Hmm, namanya lebih cantik dari yang tadi. Pasti orangnya juga lebih cantik, ya, bro?”
Rasya hanya mendengus, merasa tak perlu menjawab.
“Jadi, mau gue kenalin sama mereka?” tawar Rasya. “Gue udah lumayan deket sama mereka.”
“Nanti aja, bro. Lu tau kan gue sibuk,” jawab pria itu sambil terus memperhatikan foto Greysie.
“Iya, tau. Makanya lu gak pernah dapet cewek yang lu mau,” balas Rasya. “Sekarang udah ada, eh, lu malah…”
“Jangan khawatir soal gue,” pria itu memotong. Ia menepuk pundak Rasya. “Yang gue khawatirin itu lu. Lu butuh seseorang yang bisa buat lu bahagia, bikin lu senyum lagi.”
“Adik lu gimana kabarnya?” tanya Rasya, mengalihkan pembicaraan.
“Dia baik-baik aja, bro.” Pria itu tersenyum, lalu menatap foto Greysie lebih dekat. “Kayaknya gue pernah ketemu dia.”
“Hah? Di mana?” tanya Rasya.
“Waktu itu gue lagi ada pasien darurat di rumah sakit. Gue gak sengaja tabrakan sama dia di lorong, tapi dia langsung pergi begitu aja.”
“Rumah sakit? Kapan?” Rasya mulai terlihat penasaran.
“Dua minggu lalu, kira-kira,” jawab pria itu. Rasya tampak berpikir keras.
Malam harinya, pukul 01:30. Langit gelap gulita, kilat biru menyambar dari balik awan hitam. Hujan deras mengguyur, memecah keheningan malam. Sebuah mobil hitam berhenti di taman sepi.
Seseorang dengan jubah hitam keluar dari mobil. Ia membuka bagasi dan menyeret seorang pria berusia sekitar 40 tahun keluar. Pria itu tampak tak berdaya, tubuhnya lemas.
Flashback Off.
Besok siang, saat jam istirahat di sekolah SMA Permata. Aku dan Greysie sedang duduk di kantin, menikmati makan siang seperti biasa. Suasana santai mendadak berubah ketika suara notifikasi panggilan telepon terdengar dari ponsel Greysie. Ia mengangkat panggilan itu dengan ekspresi biasa, namun seketika wajahnya berubah panik.
"Apa, Mah?!" serunya sambil berdiri tiba-tiba, menarik perhatian orang di sekitarnya.
Aku hanya bisa menatap bingung saat Greysie mendengarkan penjelasan ibunya di telepon. Setelah beberapa saat, ia menutup panggilan dengan tergesa-gesa.
"Grey, ada apa?" tanyaku, mencoba memahami situasinya.
"Papa aku masuk rumah sakit, dia diserang, Ra!" jawabnya cepat, berjalan menjauh dengan langkah tergesa.
Aku mengikuti di belakangnya. "Kamu khawatir, Grey?" tanyaku lagi, mencoba membuatnya lebih tenang.
"Of course, ya!" Ia menoleh, matanya tajam. "That’s my dad, Ra. Kok nanya kayak gitu?"
"Emmm," aku meliriknya sekilas, lalu menunduk. "I’m sorry. Just... forget it." Tanpa berkata lagi, kami segera pergi ke rumah sakit.
Di Rumah Sakit.
Begitu sampai, Greysie langsung berlari menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Aku berusaha mengejarnya, mencoba mengimbangi langkah cepatnya. Sesampainya di depan ruang UGD, kami menemukan ibunya sedang duduk di ruang tunggu, wajahnya basah oleh air mata.
"Ma!" Greysie langsung memeluk ibunya erat. "Papa kenapa, Mah?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Mama juga gak tahu, Grey." Suara ibunya terdengar lirih, tangisnya semakin menjadi.
Aku berdiri di belakang mereka, hanya bisa mengamati dengan hati yang ikut merasa pilu. Sementara itu, di balik pintu ruang UGD, dokter dan perawat sibuk melakukan operasi. Bau antiseptik memenuhi udara, suara alat medis bergema di sepanjang lorong.
Operasi berlangsung selama beberapa jam. Setelah selesai, seorang dokter keluar dari ruang UGD. Ia mendekati kami, wajahnya penuh kelelahan.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya ibu Greysie dengan nada cemas.
"Operasinya berjalan lancar," kata dokter itu, menatap kami satu per satu. "Pasien mengalami gegar otak ringan dan akan segera siuman. Tapi..." Ia ragu sejenak, seperti enggan melanjutkan.
"Tapi apa, Dok?" Greysie mendesaknya, matanya penuh kekhawatiran.
Dokter menarik napas panjang sebelum menjawab, "Kaki kanan pasien mengalami patah tulang yang cukup parah. Berdasarkan luka yang kami temukan, sepertinya ini akibat tindakan sengaja. Sayangnya, pasien kemungkinan besar tidak akan bisa berjalan normal lagi. Ia akan membutuhkan kursi roda atau tongkat bantu seumur hidup."
Mendengar penjelasan itu, air mata langsung membanjiri wajah ibu Greysie. Greysie sendiri tampak terdiam, namun sorot matanya berubah. Ada kemarahan yang membara di sana, seperti api yang siap menyala kapan saja.
Hari Berikutnya.
Pagi itu, aku melihat Rasya berbicara dengan dokter yang mengoperasi ayah Greysie, dr. Aric. Mereka tampak serius, membahas sesuatu yang mungkin terkait dengan kejadian ini. Aku mendekat perlahan, mencoba mencuri dengar.
Ternyata, pertemuan ini bukan kebetulan. Dr. Aric terlibat langsung dalam perawatan ayah Greysie, sementara Rasya, sebagai detektif, menangani kasus pembunuhan berantai yang kini menyeret nama seorang pengusaha terkenal di Indonesia.
Semuanya terasa saling terkait, seolah ada benang merah yang menghubungkan tragedi ini dengan kasus besar yang sedang ditangani Rasya. Aku hanya bisa berdiri di pinggir, mencoba memahami teka-teki besar yang perlahan mulai terungkap.
Beberapa hari berlalu, kami terus menjaga ayah Greysie di rumah sakit, bergantian setiap menit dan jam. Akhirnya, setelah beberapa waktu, ayahnya perlahan membuka mata dan mulai sadar.
"Pah?" suara Greysie terdengar cemas.
Aku dan ibunya langsung berdiri, menatap penuh harap saat ayah Greysie membuka matanya. Begitu sadar, ia menatap kami dengan mata membulat, terlihat ketakutan. Keringat mengalir deras dari keningnya. Greysie menoleh ke arahku, lalu aku meliriknya dengan perasaan bingung.
"Pah? Papa gak apa-apa?" tanya Greysie, mendekat dengan khawatir.
"Kamu gak apa-apa?" seru ibunya, terlihat cemas.
Ayah Greysie terlihat sangat pucat, matanya terus mengarah pada kami dengan tatapan penuh ketakutan.
"Ada apa?" batinku, menatap matanya yang penuh kebingungan.
"Om gak apa-apa?" tanyaku, mencoba memegang tangannya, tapi ia langsung menepis tanganku seolah ingin menjauh dari kami.
---
Lebih dari seminggu berlalu. Ayah Greysie akhirnya diperbolehkan pulang, namun sejak sadar, ia belum pernah mengucapkan sepatah kata pun.
Setibanya di depan pintu gerbang rumah mereka, satpam segera membukakan pintu. Mobil berhenti, dan sopir membukakan pintu mobil. Kami masuk dan menuju kamar, di mana ayah Greysie dibaringkan di tempat tidur. Tak lama kemudian, kami keluar untuk memberinya waktu istirahat.
"Mah," Greysie duduk di kursi dengan ekspresi serius. "Mama yang ngurus perusahaan papa sekarang?" tanyanya.
"Iya, sayang. Kalau kamu udah kuliah dan lulus, mama ingin kamu yang ambil alih perusahaan papa, karena mama juga udah ngurus perusahaan mama sendiri," jawab ibunya dengan penuh perhatian.
"Aku bisa bantuin mama sekarang, kok. Aku gak mau mama kecapekan dan sakit," pinta Greysie dengan tulus.
"Gak apa-apa, sayang," ibunya mengelus rambut Greysie dengan lembut. "Untuk sekarang, biar mama lihat kinerja para manajer dulu," jelasnya.
"Em," Greysie mengerutkan bibir, sedikit kecewa. "Oke, mah. Tapi mama janji jangan sampai kecapekan, ya?"
"Iya, sayang," ibunya memegang tangan Greysie. "Mama tau kamu pintar. Pasti bisa memimpin perusahaan papa nanti. Tapi untuk sekarang, fokus dulu sama sekolah, ya?"
"Hm," Greysie tersenyum. "Iya, mah," jawabnya.
"Grey..." panggilku pelan.
"Hm?" Greysie menoleh ke arahku, tampak sedikit bingung.
"Aku mau ke rumah bentar," jawabku singkat.
"Emmm," Greysie menatapku dengan ragu. "Aku ikut. Kamu mau ngapain?" tanyanya, penasaran.
"Em, mau ngurus sesuatu. Kamu gak perlu ikut. Mending jagain papa kamu dulu, kan masih sakit," jelasku.
"Biar tante yang jagain om, Grey ikut aja gak apa-apa," sela ibunya, memberi izin.
"Emmm, aku..." ucapku, agak ragu.
"Ok, thank you, Mah," jawab Greysie, langsung menarik tanganku dan mengajak pergi.
Di garasi rumah.
"Kamu ngapain ngikut?" tanyaku sambil menyilangkan tangan, bersandar di dinding saat Greysie membuka pintu mobilnya.
"Emangnya kenapa kalau aku ikut?" tanya Greysie dengan santai, lalu masuk ke dalam mobil. Aku hanya diam dan tidak menjawab.
Greysie menatapku dengan tatapan penasaran sebelum menyalakan mesin mobil.
"Aku naik motor, Grey," jawabku sambil berjalan ke arah motorku.
"Hah?" Greysie melihatku dengan terkejut. "Kenapa baru bilang?" tanyanya. Aku tidak menjawabnya. Greysie keluar dari mobil dan naik ke motorku. Setelah itu, aku menyalakan motor dan kami pun pergi.
Di perjalanan, Greysie terlihat merenung, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
"Dari kemarin tingkah lakuku sangat aneh," pikirnya, kebingungan.
"Ra, kamu gak pa-apa? Dari kemarin kamu kelihatan pucat banget, kamu sakit?" tanya Greysie dengan khawatir.
"Bicaranya nanti aja, aku lagi fokus lihat jalan!" jawabku dengan suara tegas, agak kesal.
Greysie menghela napas panjang. Ia merasa aneh karena biasanya aku selalu berbicara dengannya meskipun sambil mengendarai motor.
Setibanya di rumah, kami masuk ke dalam rumahku. Greysie sudah duduk di sofa, menungguku selama sekitar 30 menit. Karena bosan, ia bangkit dan mulai mengamati seisi rumahku, memeriksa setiap barang, sesekali melirik jam tangannya.
"Hmm," ia melirik jam dinding, "Cara ngapain sih lama banget?" gumam Greysie. Ia berjalan keluar rumah dan melihat sekeliling.
"Aww, bosan banget," katanya, sambil menatap jam tangannya. "Hufff," ia menghela napas panjang.
Detik-detik jam dinding terdengar jelas di telinga Greysie, sementara ia terus memperhatikan detik yang bergulir pada jam tangannya.
"Udah 45 menit, Cara ngapain sih?" pikir Greysie. Ia pun kembali masuk dan memanggilku.
"Raaa!" panggil Greysie, melihat sekeliling. Ia berjalan pelan, menyusuri setiap sudut rumah, matanya terus mencari keberadaanku.
Setelah mencariku ke sana kemari, langkahnya terhenti di sebuah lorong. Greysie masuk lebih jauh ke dalam, namun semakin ia melangkah, semakin gelap suasananya.
Greysie mengambil ponselnya dari saku celana, menyalakan lampu senter untuk menerangi jalan di depannya.
"Raa?" ia memanggil, melihat sekeliling, "Ra? Are you there?" Ia terus berjalan lebih dalam.
Semenara itu, di dalam toilet, aku sedang menahan sakit saat mengobati luka di perutku.
"Aargh," aku menahan napas, "Hmph," menggigit kain yang aku gigit erat, "Aargh, hmf, fuuuh, hmg, fuc*k!" ucapku, sedikit berteriak, sebelum akhirnya membalut lukaku dengan perban.
Sementara itu, Greysie masih berjalan di lorong, namun tak sengaja ia menggeser sesuatu di dinding—sebuah penutup tombol yang tersembunyi. Karena warnanya hampir sama dengan dinding, ia hampir tak menyadarinya jika tidak terlepas. Greysie penasaran dan ingin menekan tombol tersebut.
Setelah selesai mengobati lukaku, aku keluar dari toilet dan segera bergegas, mengingat Greysie adalah tipe orang yang mudah bosan. Namun, langkahku terhenti ketika melihat sesuatu di CCTV.
"Grey? Ngapain dia di sini?" pikirku. Aku teringat malam itu—masih ada bekas darah di depan pintu ruangan ini. Aku terluka dan belum sempat membersihkannya.
Saat tangan Greysie hendak menekan tombol merah itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia mengangkatnya.
"Kamu di mana?" tanyaku, melihatnya dari CCTV.
"Em... aku..." jawab Greysie, terlihat ragu.
"Aku udah selesai," balasku.
"Em, oke, aku ke sana," jawab Greysie, lalu menutup telepon dan segera menutup tombol itu kembali.
Setelah Greysie pergi, aku keluar dari ruangan dan berjalan menuju sofa, tempat dia menunggu. Aku menghampirinya.
"Udah, Ra?" tanya Greysie. Aku mengangguk.
Di perjalanan menuju rumahnya, Greysie tampak melamun, mengingat kejadian tadi. Ketika ia hendak menekan tombol merah itu, ia melihat ada bekas darah di sekitar tombol tersebut.
Flashback On. Beberapa saat yang lalu, Greysie melihat tombol tersebut dengan rasa penasaran.
"Ini tombol apa?" pikir Greysie, melihat sekeliling.
"Apa ini?" ia menyentuh tombol itu dengan jari telunjuknya, "Ini...," matanya membesar, "darah?!" gumam Greysie. Flashback Off.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di rumah Greysie. Di dalam kamar, Greysie masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Ia terus memandangku yang sedang berbaring.
"Ra," ia menatapku dengan tatapan bertanya, "Kok kamu penuh dengan rahasia sih?" pikirnya.
"Ra," panggilnya.
"Mm?" sahutku.
"Kamu oke?" tanya Greysie.
"Oh my God, Grey," aku menatap heran, "I AM OKAY, harusnya aku yang nanya," balasku.
"Hehe, abisnya kamu dari kemarin diem terus, aku kira kamu sakit, soalnya kamu pucat banget. Aku kemarin terlalu kaget dengan kejadian yang nimpa papa sampai gak sadar," ungkapnya.
"Aku gak pa-apa, jadi... sekarang aku yang nanya, kamu oke sekarang?" tanyaku.
"Yeah, I mean... aku bakal cari orang yang bikin papa aku jadi kayak gitu," jawab Greysie.
"Kamu serius dengan ucapan kamu itu?" tanyaku.
"Yes," jawabnya, menatap heran, "Why not?"
"Nothing," jawabku singkat.
Greysie terlihat bingung. Karena merasa capek berdiri, ia langsung melompat ke tempat tidur dan menindihku.
"Agh," aku menahan sakit, "mmfff," aku memegang perutku. Greysie terkejut dan langsung bangun.
"Em, sorry, sorry, Ra," ia memegang tanganku, "Maafin aku," pinta Greysie dengan tulus. Aku masih memegang perutku, menahan rasa sakit.
Greysie penasaran dan berusaha melihat perutku, namun aku menghentikan tangannya. Namun, semakin cemas dan penasaran, ia memaksa untuk melihat.
Ketika Greysie hendak membuka bagian bawah bajuku, tangan kananku menahan tangan kirinya, sementara tangan kiriku masih memegang perutku yang sakit. Namun, ketika tangan kanan Greysie mencoba membuka sedikit bagian bajuku, tanganku menahan tangannya lagi. Tapi, Greysie berhasil menahan kedua tanganku dengan tangan kirinya, lalu membuka bagian bawah bajuku.
Greysie terkejut saat melihat perban di perutku. Darah sudah merembes, mengubah perban yang semula putih polos menjadi merah kental.
"Oh my God, Ra! What happened to you?" tanyanya, dengan ekspresi terkejut. Aku tak menjawab pertanyaannya.
Greysie segera membuka perban di perutku. Aku hanya bisa pasrah, melihat luka itu yang terlihat sangat parah, membuatnya marah padaku.
"Hey," Greysie menatap marah, "Raaa, what the ff..." ujarnya. Lalu bergegas mengambil kotak P3K untuk mengobati lukaku.
"Raa," ia menatap cemas, "Kita harus ke rumah sakit, luka kamu parah banget, ini harus dijahit, Ra! Kok bisa gini? Ini kenapa?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
"Aku gak mau ke rumah sakit," jawabku singkat.
"Hey, Ra!" bentaknya.
Greysie memaksaku untuk pergi ke rumah sakit, lalu segera membantuku berjalan dan membantuku masuk ke dalam mobil.
---
Di rumah sakit. Dokter sedang menjahit lukaku. Setelah selesai, Greysie bersama dokter keluar dari ruangan untuk berbicara.
"Gimana keadaan temen aku, Dok? Apa dia baik-baik aja?" tanya Greysie cemas.
"Pasien sudah stabil sekarang, tapi dia tidak boleh banyak bergerak. Pasien harus banyak istirahat," jelas Dr. Aric.
"Itu luka apaan, Dok?" tanya Greysie, terlihat bingung.
"Itu luka tusukan. Apa pasien diserang oleh seseorang?" tanya Dr. Aric dengan serius.
"Saya juga gak tahu, Dok," jawab Greysie, bingung.
"Sebaiknya kalian melapor ke pihak berwajib," saran Dr. Aric. Greysie hanya terdiam, merenung.
"Em, kalau begitu... saya permisi dulu karena masih ada pasien yang menunggu," pamit Dr. Aric.
"Iya, terima kasih, Dok," balas Greysie dengan nada pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah orang tua Greysie. Ayahnya sedang tidur di kamarnya. Dalam tidurnya, ia bermimpi, seseorang menyeretnya. Meskipun matanya terasa sangat berat, ia masih sedikit tersadar.
Matanya berusaha membuka, lalu ia meraba sekitar dan menemukan pisau yang disembunyikannya di balik lengan bajunya. Saat merasa orang yang menyeretnya lengah, ayah Greysie langsung menusukkan pisau ke perutnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
CatForD
😒
2023-08-05
1
ミフタン
siapa si sebenarnya pelakunya akhhh😤
2023-07-19
1
ミフタン
ihhh cara knp lgi😥
2023-07-19
1