...Kesalahpahaman...
Di dalam rumah yang megah dan mewah, Cassie tampak melamun meski sedang berbicara dengan Bryan.
"Babe? Babe! Babe!" panggil Bryan, suaranya mulai meninggi.
"Hah? Eh, ya?" sahut Cassie tersadar.
"You okay, Babe?" tanyanya cemas. "Aku janji, aku bakal buat mereka menderita karena udah bikin kamu dan keluargamu jadi kayak gini," tegas Bryan dengan penuh emosi.
"Kamu janji?" tanya Cassie, menatapnya ragu.
"Yeah, I promise," jawab Bryan, mengaitkan jari kelingkingnya dengan Cassie.
"Keluarga aku juga bakal bantu kita, jadi kamu tenang aja," lanjutnya dengan yakin.
----------------
Sementara itu, di rumah sakit, kamar tempat aku di rawat, Greysie juga terlihat melamun.
"Grey," panggilku pelan, mencoba menarik perhatiannya.
"Hah?" ucapnya, tersentak dari lamunannya.
"Kok malah ngelamun? Aku nanya soal kejadian waktu itu," kataku, mengingatkannya.
"Ra?" panggilnya ragu.
Aku menghela napas. "Ya?"
Greysie terlihat ragu. "Sebelumnya aku...," ia menatapku dengan ekspresi bimbang. "Kamu jangan marah, tapi... kalau kamu marah, aku ngerti. Aku tau ini mungkin bakal nyakitin kamu, jadi..."
"Grey," potongku, menatapnya serius. "Kamu tau kan aku gak suka basa-basi. Just say it!"
"Oke, oke," ia mengangguk pelan. "Tapi sebelum itu, aku mau minta maaf. Maaf kalau aku lancang atau nyinggung perasaan kamu," katanya. Aku tetap memandangnya dengan serius, menunggunya bicara.
"Soal ucapan kamu waktu itu...," Greysie menghela napas dalam-dalam. "Kamu bilang mau bunuh seseorang demi aku. Apa itu papa aku? Kamu... kamu kan yang nyerang papa aku?" tanyanya dengan suara pelan namun tajam.
Aku terdiam sejenak, lalu perlahan tersenyum. Melihat reaksiku, Greysie tampak semakin bingung. Ia mengerutkan kening dan memanggilku dengan suara pelan.
"Ra?" panggilnya, penuh keraguan.
"Kamu beneran ngomong kayak gini ke aku?" tanyaku dengan senyum tak percaya.
"Iya," jawabnya lirih. "Makanya aku say sorry ke kamu."
Mendengar kata-katanya, senyumku memudar. Aku menatapnya dengan tajam, dan Greysie hanya bisa terdiam. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar, lalu ia menelan ludah dengan gugup.
"Hnh," aku mendengus pelan, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
"Hahaha... hah... aiiishh fuc*k!" aku menggelengkan kepala, "Oh my god, Grey! Aku gak nyangka kamu punya pikiran kayak gitu tentang aku. Kamu serius?" tanyaku, masih tertawa dengan nada heran.
"Raa..." Greysie mencoba memanggilku sambil menyentuh tanganku.
"Stop!" bentakku, menepis tangannya dan beranjak dari tempat tidur.
"Please..." ucap Greysie, memohon dengan suara gemetar. Ia mencoba menggenggam tanganku, tapi aku segera melepaskannya.
"Fuck, Grey! Lepasin tangan aku!" teriakku.
"Maaf kalau aku egois, Ra," katanya dengan suara penuh penyesalan. "Tapi kamu tau kenapa aku kayak gini? Karena kamu selalu nyimpen sejuta rahasia. Kamu gak pernah cerita apapun ke aku!"
Aku menatapnya dengan mata yang penuh kekecewaan. "Mending aku pergi sekarang," kataku dingin. "Kita sama-sama marah, dan kamu tau, Grey? Aku kecewa banget sama kamu. Selama ini aku gak pernah punya pikiran buruk tentang kamu, tapi sekarang..."
Aku berhenti bicara, membayangkan saat-saat indah bersama Rasya di taman. Kenangan itu terasa begitu jauh, tergantikan oleh rasa sakit dan pengkhianatan.
Flashback On.
Di Taman.
"Sya, aku boleh tanya soal kasus yang melibatkan Grey waktu itu gak?" tanyaku hati-hati.
Rasya mengangguk kecil. "Iya, boleh. Tapi aku jawab sebisanya aja, ya. Kamu tahu kan, aku ini polisi, ada batasan yang gak bisa aku lewati."
"Iya, aku paham. Jadi, aku cuma mau tanya soal Pak Hartono. Waktu dia nemuin mayat itu, apa dia ngelihat sesuatu yang mencurigakan?" tanyaku, mencoba menahan rasa penasaran.
"Pak Hartono gak ngelihat apa-apa, tapi dia dengar sesuatu," jawab Rasya.
"Dengar sesuatu? Maksudnya suara apa?" tanyaku, semakin penasaran.
"Katanya dia dengar suara seperti gesekan besi waktu nemuin korban," jelas Rasya sambil mengeluarkan ponselnya. "Aku punya rekaman reka adegan dari penyelidikan. Coba kamu dengar sendiri," ucapnya, lalu menyodorkan ponsel ke arahku.
Aku memasang earphone, mendengar rekaman itu. Mataku membulat seketika. Suara itu—suara gesekan besi—terdengar sangat mirip dengan nada dering ponsel Greysie.
Beberapa Bulan Lalu.
Nada dering ponsel berbunyi terus-menerus, diikuti suara gesekan besi yang aneh. Aku bergegas mengeceknya.
"Grey, hp kamu bunyi," panggilku.
Tidak ada jawaban. Aku mendekati ponselnya. "Grey?" panggilku lagi, sedikit lebih keras.
Nada dering itu masih terus berbunyi. "Oh my God, mantan kamu nelpon lagi nih," ucapku, sedikit kesal.
Greysie keluar dari kamar mandi, wajahnya santai. "Hah? Siapa?" tanyanya.
"Rendi, mantan kamu. Kamu gak mau ganti nomor aja? Dia ganggu banget," ujarku.
"Ah, biarin aja, Ra. Lama-lama dia juga bakal capek sendiri," jawabnya ringan.
Aku mengerutkan kening. "Tapi, Grey, kenapa nada dering kamu itu terus sih? Suaranya aneh, kayak gesekan besi," tanyaku penasaran.
Greysie tertawa kecil. "Oh, itu. Iya, aku rekam sendiri. Aku gesekin pisau ke piring, terus aku edit buat nada dering."
Aku mengangkat alis. "Hobi kamu aneh banget, Grey. Tapi kenapa nada deringnya harus suara kayak gitu?"
Greysie tersenyum tipis. "Aku cuma kesel setiap kali Papa nelpon. Jadi, aku bikin nada dering itu buat pelampiasan."
Aku hanya mengangguk kecil, merasa heran tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.
Kembali ke Taman.
"Lista?" Rasya menjentikkan jarinya di depan wajahku. "Kok malah ngelamun."
"Hah? Oh, maaf, maaf," jawabku cepat sambil tersenyum canggung.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Iya, aku baik-baik aja," jawabku, mencoba menenangkan diri.
"Jadi, gimana? Kamu pernah dengar suara kayak gitu sebelumnya?" tanyanya lagi.
"Em..." Aku menggeleng pelan. "Gak, gak pernah." Tatapanku sempat goyah sebelum bertanya lagi, "Tapi... boleh nanya satu hal lagi gak? Waktu itu, gimana reaksinya Grey pas denger suara itu?"
Rasya memiringkan kepalanya, alisnya terangkat sedikit. "Hmm?" gumamnya dengan nada bingung.
"Ya... bukannya kamu yang lebih tahu soal sahabat kamu sendiri? Malah kamu yang jawab pertanyaan buat Greysie waktu itu," ujarnya, nada suaranya setengah bercanda, tapi ada sesuatu yang membuatku merasa dia mulai menyelidik.
"Aah..." Aku terkekeh canggung, mencoba menyembunyikan rasa gugup. "Iya, iya, bener juga. Aku lupa, hahaha." Suaraku terdengar terlalu ringan, terlalu dipaksakan.
Flashback Off.
Di Rumah Sakit.
"Nada dering? Kamu curiga ke aku?" tanya Greysie tiba-tiba.
"Hah? Aku gak pernah curiga ke kamu. Malah kamu yang curiga ke aku sekarang," jawabku tajam.
"Tapi kenapa kamu bahas soal nada dering hp aku?" desaknya.
"Grey!" suaraku meninggi. "Aku bahas itu karena kamu nuduh aku duluan! Makanya aku jadi kesal!"
"Oke, oke. Maaf, Ra. Aku gak bermaksud," ucapnya pelan.
Aku menghela napas berat. "Kamu mau tahu tentang aku kan? Oke, aku bakal cerita semuanya sekarang."
Aku menatap Greysie dengan mata berkaca-kaca. "Kamu bener, aku emang trauma karena orang tua aku dulu sering berantem. Semua dimulai waktu bisnis Ayah bangkrut. Ayah minta Bunda berhenti kerja, tapi Bunda gak bisa karena harus biayain aku dan adik aku."
Air mataku mulai mengalir. "Ayah pikir Bunda gak mau dengar dia lagi, dan itu bikin mereka berantem tiap hari. Padahal dulu keluarga kami bahagia, Grey. Tapi sekarang... semuanya hancur."
Aku terisak. "Aku sayang banget sama adik aku. Tapi kenapa dia harus mati?! Kamu nanya apa aku benci pembunuhnya? Ya! aku benci pembunuhnya, Grey. Tapi aku juga sayang sama Ayah!"
"Raa..." panggil Greysie pelan, tatapannya penuh rasa bersalah.
Aku melihat air matanya menetes, tapi aku terlalu dipenuhi rasa marah, kesal, sedih, dan kecewa untuk peduli. Aku ingin segera pergi dari ruangan itu, menjauh darinya, tapi Greysie tak membiarkan langkahku bergerak. Tangannya menggenggam erat lenganku, seperti mencoba menahanku agar tetap tinggal.
"Raa," ucapnya lagi, suaranya gemetar. "Maafin aku... Aku gak tau kalau selama ini kamu nahan sakit kayak gini sendiri. Maafin aku... Aku malah nuduh kamu yang gak-gak. Please, I'm so sorry, Ra," ujarnya, genggamannya semakin erat.
"Plis, Grey, lepasin!" pintaku, berusaha melepaskan tangannya dengan suara yang mulai pecah.
"Gak bisa, Raa. Kamu masih harus istirahat. Luka kamu nanti—"
"I don't care, Grey!" bentakku, memotong ucapannya.
"But I care, Ra!" jawabnya dengan nada yang lebih tinggi, nyaris putus asa.
Aku memelototinya, napasku memburu. "Fuc*k, Grey, I don't give a shit!" seruku dengan suara tajam. "Denger gak?!" Aku menatapnya penuh amarah. "Gue gak peduli! Lepasin gak?!"
Kami masih bertengkar hebat, suara kami menggema di ruangan. Aku terlalu sibuk dengan kemarahanku hingga hampir tidak sadar ada seseorang yang mengintip dari balik kaca kecil di pintu kamar rumah sakit. Namun, saat pandangan kami bertemu, tubuhku membeku.
"Rasya?" ucapku, mataku membulat karena terkejut.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Syabil_aw
Waduhhh, rasya nggak salah pahamkan?
2023-07-21
1
Syabil_aw
jadi benar dugaanku?
2023-07-21
1
Syabil_aw
yups, aku setuju
2023-07-21
1