BAB 4 (Part 1)

Sarah Althea Sintiya adalah nama adik kecilku yang sangat aku sayangi.

Saat itu, kami bermain di pantai bersama Ayah dan Ibu, tertawa bahagia seperti keluarga harmonis pada umumnya. Namun, tiba-tiba, laut yang berwarna hijau kebiruan berubah menjadi merah kehitaman, membasahi lantai rumahku.

Aku terdiam membisu. Adik kecilku telah tiada. Amarahku meluap, darahku mendidih, dan saat tersadar, hanya aku yang tersisa. Aku membuang pisau dari tanganku dengan gemetar.

"Bundaaa, Tiyaaa," panggilku pelan, suaraku bergetar penuh duka.

 

----------------

"Grey, stop! Aku gak mau bahas soal ini!" bentakku, mengepalkan tangan.

"Gimana aku gak bahas, Ra? Aku khawatir sama kamu! Kamu gak pernah cerita ke aku, dan kalau pun cerita, pasti masih ada yang kamu sembunyiin. Aku sahabat kamu, loh!" balas Greysie, suaranya meninggi.

Aku tidak memedulikannya dan langsung berjalan keluar kamar.

"Ra, Raa! Kamu mau ke mana?" panggil Greysie, mengejarku.

Ia mencoba menghentikan langkahku dengan menarik tanganku, tapi aku melepaskannya dengan kasar. Aku terus berjalan menuruni tangga, keluar dari rumahnya, lalu menyalakan motor dan pergi begitu saja.

"Raaa! My God!" teriak Greysie, memegangi kepalanya dengan cemas.

Aku melaju dengan motor, menyalip setiap kendaraan di jalan. Perasaanku kacau, sedih, dan marah bercampur menjadi satu. Aku berhenti di sebuah pantai—tempat kenangan keluargaku dulu.

Angin malam yang sejuk menusuk kulitku, suara deburan ombak memberikan ketenangan. Aku memastikan tidak ada siapa pun di sana selain diriku. Setelah yakin, aku mulai berteriak dan menangis hingga suara serakku hilang.

Beberapa saat yang lalu, Greysie menemukan kunci mobilnya dan segera menyusulku menggunakan GPS yang terpasang di ponsel kami. Dia tiba di pantai dan melihat motorku terparkir. Greysie mulai mencariku.

Dia melihatku duduk di atas batu, memandang laut dengan tatapan kosong. Ketika hendak mendekat, ia mendengar teriakanku yang meluapkan amarah dan kesedihan. Langkahnya terhenti, dan tanpa sadar, air mata mulai mengalir di pipinya.

Greysie belum pernah melihatku seperti ini. Baginya, aku adalah sahabat yang ceria, selalu tersenyum, meskipun terkadang sisi introvertku muncul. Aku selalu menghibur, menjaga, dan melindunginya. Trauma mendalam seperti ini adalah sisi diriku yang tak pernah ia ketahui.

"Kenapa selama ini aku jadi sahabat yang gak peka sih," gumam Greysie, menyalahkan dirinya sendiri.

Dengan perlahan, dia berjalan mendekat dan langsung memelukku erat. Aku menangis sejadi-jadinya, setiap tarikan napas terasa seperti menyayat.

"Hey, hey, Ra. Lihat aku. Tarik napas dalam-dalam, ikutin aku," kata Greysie lembut, memegang wajahku.

Beberapa saat kemudian, aku mulai tenang. Aku melihat Greysie dan berusaha melepaskan tangannya, ingin pergi dari sana.

"Hey," dia memegang tanganku, "kamu mau ke mana lagi, Raa?"

"Grey," ucapku dengan suara gemetar, "aku lagi mau sendiri. Pliss..."

"Ra, aku gak mungkin biarin kamu sendirian dengan keadaan seperti ini," ucapnya, lembut namun tegas.

Mendengar itu, sontak aku duduk sambil memegang kepala, menahan amarah yang meluap. Aku duduk menunduk, menarik rambutku sendiri sambil terisak.

Greysie menggenggam tanganku, pelan-pelan melepaskan cengkeramanku dari rambutku. Aku masih gemetar, tenggelam dalam pikiranku. Suara anak-anak tertawa bahagia memenuhi kepalaku. Telingaku berdengung, lalu...

Pantai itu begitu indah, airnya hijau kebiruan, burung-burung berkicau, rumput bergoyang ditiup angin. Awan tampak menawan.

"Cara, nanti kalau udah besar mau mobil atau motor?" tanya Ayah, tersenyum.

"Hm, aku lebih suka motor, Yah," jawabku sambil tersenyum lebar.

"Ayah udah tau itu," sahut Ayah, terkekeh.

"Ayah, aku juga mauuu," sela Tiya, cemberut.

"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Ayah lembut.

"Aku lebih suka mobil, Yah," jawab Tiya dengan senyum manisnya.

"Bunda gimana?" sela Ibu, tersenyum kecil.

"Bunda nanti bareng aku aja," jawabku cepat.

"Ih, Bunda sama aku aja! Mobil lebih bagus dari motor," sela Tiya.

"Yaudah, deh," aku merajuk.

"Jangan berantem, ya," ucap Ibu, mengerutkan bibir.

Aku dan Tiya saling pandang, lalu serempak berkata, "Iya, Bunda," sebelum berpelukan. Ayah pun ikut memeluk kami. Kami bermain kejar-kejaran dan tertawa bahagia.

Aku dan Tiya memang berbeda. Aku tomboy, sementara Tiya menyukai hal-hal feminin seperti warna pink, boneka, dan balet. Sedangkan aku lebih suka dance, warna lebih gelap, dan olahraga fisik.

Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi malam yang mencekam. Aku mendengar suara barang-barang dibanting kasar. Ayah dan Ibu bertengkar hebat. Aku mengintip dari balik pintu, mataku membelalak saat Ayah menampar Ibu.

Botol-botol minuman keras berserakan di lantai. Aku melihat Tiya menangis ketakutan. Aku memeluknya erat, menutup telinganya dari suara kekacauan di luar kamar.

Flashback Off.

Napasku terdengar cepat, isak tangisku membuatku kesulitan bernapas.

"Hey, hey, Ra, Raaa," ucap Greysie berusaha menyadarkanku.

Beberapa saat kemudian, kami menginap di sebuah apartemen. Aku merasa sangat lelah dan mengantuk. Sekarang pukul 02:30 malam. Saat sampai di kamar apartemen, aku langsung berbaring, rasanya sangat capek. Tak lama kemudian, aku pun tertidur pulas.

 

Besoknya, pada jam 14:20 siang. Nada dering panggilan telepon terus berbunyi. Aku terbangun karena mendengarnya.

"Omay gatt, lupa kalau ada janji sama dia," gumamku, membulatkan mataku.

Menelpon.

"Halo, Sya," ujarku, menaruh telepon di telingaku.

"Halo Lista, em... jadi... hari ini kita... kamu bisa nggak?" tanya Rasya canggung.

"Em, iya Sya, maaf aku ketiduran tadi karena kecapean semalam," jawabku pelan.

"Em, kalau kamu nggak bisa hari ini nggak apa-apa," ucap Rasya khawatir.

"Bisa kok, aku lagi di apart sekarang. Aku mau mandi dulu, nanti bakal aku kirim alamatnya," sambungku.

Greysie keluar dari kamar mandi. Dia terus melihat ke arahku, wajahnya terlihat sedih dan khawatir.

"Ok, aku siap-siap jemput kamu," balas Rasya.

"Iya, nanti call aku kalau kamu udah sampai," sahutku.

"Okey, see you..." pamit Rasya di telepon.

"See you," balasku dan menutup telepon.

Setelah itu, aku langsung pergi ke kamar mandi melewati Greysie tanpa sepatah kata. Dia melihatku lalu menghela napas.

"Hmfff."

Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Greysie sedang duduk di tempat tidur sambil melihat HP miliknya, kemudian dia melihat ke arahku. Aku berjalan menghampirinya, lalu mengecek laci dan terus melihat ke arahnya.

Aku berdiri di depan Greysie dengan tangan bersilang sambil terus memandanginya. Dia melihatku, kemudian aku mulai memeriksa kantung celananya dan mengambil kunci mobil miliknya.

Saat aku mendapatkan kunci mobil Greysie, aku langsung keluar dan mengambil baju dari dalam mobilnya. Untung saja dia membawa baju.

Setelah beberapa menit, aku kembali ke dalam kamar. Greysie masih dengan aktivitasnya, mengotak-atik HP miliknya.

Sebenarnya terlihat jelas di wajahnya kalau dia sangat ingin berbicara denganku mengenai kejadian semalam, tetapi dia berusaha keras untuk menahan pertanyaannya.

Telponku berdering, aku mengangkatnya.

"Halo Lista, aku udah di depan apart," ucap Rasya.

"Oke, bentar lagi aku turun," sambungku.

"Ok, aku tungguin kamu di sini ya," balas Rasya. Aku menutup telepon.

"Grey..." panggilku, sontak dia langsung melihat ke arahku.

Sebenarnya aku tertawa melihat kelakuannya, tetapi wajahku terlihat biasa saja.

"Hmf, aku keluar bentar sama Rasya," pamitku sambil tersenyum padanya, lalu pergi begitu saja.

"Hmfff," ucap Greysie menghela napas, dia menatapku berjalan keluar.

---

 

Di luar, Rasya sedang menungguku. Aku melihatnya dan melambaikan tangan padanya.

"Haii," sapaku tersenyum.

"Hai..." balas Rasya tersenyum.

Rasya kemudian membukakan pintu mobil miliknya. Di dalam mobil, suasana masih terasa sedikit canggung.

"Kamu udah makan belum?" tanya Rasya.

"Belum," jawabku spontan.

"Kita makan dulu gimana?" saran Rasya.

"Mm, yeah," jawabku.

"Oh yaa, kamu beneran nggak apa-apa kan? Soalnya tadi... di telepon..." tanya Rasya canggung.

"Aku baik kok, don't worry," jawabku tersenyum.

Kami kemudian pergi ke restoran untuk makan. Setelah selesai makan, Rasya mengajakku untuk pergi ke taman.

Di taman, kami berjalan berdampingan. Banyak orang di sana. Anak-anak terlihat sangat bahagia, ada juga orang yang sedang berlari untuk olahraga sore.

Rasya melihat penjual es krim, dia mengajakku untuk membelinya. Kemudian kami memakan es krim itu bersama. Aku melihat ada keluarga yang terlihat sangat bahagia di taman. Mereka tertawa lepas, membuatku teringat kenangan bersama keluargaku. Aku tersenyum melihat mereka, sementara Rasya melihatku tersenyum.

"Kamu kangen sama keluarga kamu?" tanya Rasya pelan.

"Hmff, yaah sometimes," jawabku tersenyum.

"Hmm," melihat pemandangan, "aku juga," balas Rasya.

"Siapa?" tanyaku padanya.

"Adik aku, namanya Angeline, Anneke Angeline," jawab Rasya, melihatku.

"Namanya cantik, pasti orangnya juga cantik," kataku tersenyum padanya.

"Yaa... mirip seperti," memandangku, "kamu... cantik..." sahut Rasya.

"Hn," tersenyum, "oh yaa, kalau kamu, nama asli kamu siapa kalau aku boleh tau?" tanyaku.

"Hmm, aku... aku Rasya Fernandes," jawab Rasya sambil mengulurkan tangan.

"Hm," tersenyum, "aku... Cara Callista," ucapku berjabat tangan dengannya.

"Nama kamu juga cantik," sambung Rasya, dia tersenyum padaku.

"Em," tersenyum, "by the way, dia di mana sekarang?" tanyaku.

"Mm? Siapa?" tanya Rasya.

"Adik kamu," jawabku.

"Em, dia... dia udah nggak ada," jelas Rasya, tersenyum, namun wajahnya terlihat sedih.

"I'm so sorry," ucapku sedih.

"Mmm, ya, nggak apa-apa," ujar Rasya tersenyum.

"Adik kamu sakit?" tanyaku lagi.

"Mmm," menggelengkan kepala, "dia... dia dibunuh, sampai sekarang aku nggak tau siapa pembunuhnya, tapi aku yakin kalau itu ulah pembunuh berantai. Entah apa salah adik aku sampai..." jelas Rasya, menunduk. Aku menatapnya prihatin.

Beberapa saat kemudian, kami pergi ke sebuah tempat untuk bermain game layaknya couple. Rasya mulai menembak dan mendapatkan banyak hadiah.

"Dia sangat mahir, mungkin karena polisi," kata hatiku tersenyum sambil melihatnya.

Semuanya terlihat sangat menyenangkan. Kami hampir memainkan semua jenis permainan yang ada di tempat ini. Karena merasa lapar, kami memutuskan untuk pergi mencari makan.

Rasya sangat pandai memilih tempat, suasananya sangat bagus. Angin sejuk berhembus sambil menikmati pemandangan rerumputan.

Tak lama kemudian, aku memeriksa telepon genggam milikku, segera mengirim chat untuk Greysie.

"I'm okay, and aku pulangnya bakal malem banget keknya,"

Sementara itu, di dalam kamar. Suara notifikasi HP berbunyi. Greysie memeriksa telepon miliknya, dia membaca pesan masuk lalu tersenyum. Greysie merasa lega karena membaca chat dariku, rasa cemasnya padaku mulai mereda.

Beberapa jam kemudian, sekarang pukul 01:11 malam, aku perlahan membuka pintu kamar. Greysie sudah tertidur pulas. Aku merapikan posisi tidurnya lalu duduk sambil memikirkan sesuatu, aku terus memandanginya yang sedang tertidur. Tak lama kemudian, notifikasi berbunyi, chat masuk.

"Kamu udah tidur?" tanya Rasya.

"Belum," balasku.

Kami saling mengirimkan chat selang beberapa menit. Kemudian, karena aku sudah merasa sangat mengantuk, aku pun tertidur dengan posisi duduk.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 02:40 malam. Greysie terbangun, dia melihatku tertidur dengan posisi duduk.

"Hmfff," ucap Greysie tersenyum, dia memperbaiki posisi tidurku, lalu pergi ke dapur untuk minum.

Saat Greysie sedang minum, tiba-tiba terdengar suara barang terjatuh.

Brakk.......!

Bayangan hitam lewat. Greysie melihat dan mengecek sekitar, tetapi tak menemukan apapun yang mencurigakan. Namun tiba-tiba saja lampu apartemen mati.

Greysie tak bisa melihat apapun karena gelap, lalu dia mulai meraba sekitar. Namun saat Greysie sedang mencari HP atau alat penerang lain, tiba-tiba saja pantulan cahaya dari benda logam mengenai matanya, itu adalah pisau.

Greysie menangkap pisau dengan tangan kanannya. Pisau itu hampir menusuk matanya, jarak antara mata Greysie dengan ujung pisau hanya sekitar 0,5 mm saja.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

CatForD

CatForD

gua merinding bayanginnya

2023-08-05

1

ミフタン

ミフタン

siapa itu yang mau mencoba menusuk grey memakai pisau lagi?😥

bagusss bangett jadi tambah penasaran nih Thor lnjt lnjt🤭

2023-07-19

2

Syabil_aw

Syabil_aw

ngeri sendiri aku

2023-07-05

1

lihat semua
Episodes
1 Cast Introduction
2 BAB 1 (Part 1)
3 BAB 1 (Part 2)
4 BAB 1 (Part 3)
5 BAB 2 (Part 1)
6 BAB 2 (Part 2)
7 BAB 2 (Part 3)
8 BAB 3 (Part 1)
9 BAB 3 (Part 2)
10 BAB 3 (Part 3)
11 BAB 4 (Part 1)
12 BAB 4 (Part 2)
13 BAB 4 (Part 3)
14 BAB 5 (Part 1)
15 BAB 5 (Part 2)
16 BAB 5 (Part 3)
17 BAB 6 (Part 1)
18 BAB 6 (Part 2)
19 BAB 6 (Part 3)
20 BAB 7 (Part 1)
21 BAB 7 (Part 2)
22 BAB 7 (Part 3)
23 BAB 8 (Part 1)
24 BAB 8 (Part 2)
25 BAB 8 (Part 3)
26 BAB 9 (Part 1)
27 BAB 9 (Part 2)
28 BAB 9 (Part 3)
29 BAB 10 (Part 1)
30 BAB 10 (Part 2)
31 BAB 10 (Part 3)
32 BAB 11 (Part 1)
33 BAB 11 (Part 2)
34 BAB 11 (Part 3)
35 BAB 12 (Part 1)
36 BAB 12 (Part 2)
37 BAB 12 (Part 3)
38 BAB 13 (Part 1)
39 BAB 13 (Part 2)
40 BAB 13 (Part 3)
41 BAB 14 (Part 1)
42 BAB 14 (Part 2)
43 BAB 14 (Part 3)
44 BAB 15 (Part 1)
45 BAB 15 (Part 2)
46 BAB 15 (Part 3)
47 BAB 16 (Part 1)
48 BAB 16 (Part 2)
49 BAB 16 (Part 3)
50 BAB 17 (Part 1)
51 BAB 17 (Part 2)
52 BAB 17 (Part 3)
53 BAB 18 (Part 1)
54 BAB 18 (Part 2)
55 BAB 18 (Part 3)
56 BAB 19 (Part 1)
57 BAB 19 (Part 2)
58 BAB 19 (Part 3)
59 BAB 20 (Part 1)
60 BAB 20 (Part 2)
61 BAB 20 (Part 3)
62 BAB 21 (Part 1)
63 BAB 21 (Part 2)
64 BAB 21 (Part 3)
65 BAB 22 (Part 1)
66 BAB 22 (Part 2)
67 BAB 22 (Part 3)
68 BAB 23 (Part 1)
69 BAB 23 (Part 2)
70 BAB 23 (Part 3)
71 BAB 24 (Part 1)
72 BAB 24 (Part 2)
73 BAB 24 (Part 3)
74 BAB 25 (Part 1)
75 BAB 25 (Part 2)
76 BAB 25 (Part 3)
77 BAB 26 (Part 1)
78 BAB 26 (Part 2)
79 BAB 26 (Part 3)
80 BAB 27 (Part 1)
81 BAB 27 (Part 2)
82 BAB 27 (Part 3)
83 BAB 28 (Part 1)
84 BAB 28 (Part 2)
85 BAB 28 (Part 3)
86 BAB 29 (Part 1)
87 BAB 29 (Part 2)
88 BAB 29 (Part 3)
89 BAB 30 (Part 1)
90 BAB 30 (Part 2)
91 BAB 30 (Part 3)
92 BAB 31 (Part 1)
93 BAB 31 (Part 2)
94 BAB 31 (Part 3)
95 BAB 32 (Part 1)
96 BAB 31 (Part 2)
97 BAB 31 (Part 3)
98 BAB 32 (Part 1)
99 BAB 32 (Part 2)
100 BAB 32 (Part 3)
101 BAB 33 (Part 1)
102 BAB 33 (Part 2)
103 BAB 33 (Part 3)
104 BAB 34 (Part 1)
105 BAB 34 (Part 2)
106 BAB 34 (Part 3)
107 BAB 35 (Part 1)
108 BAB 35 (Part 2)
109 BAB 35 (Part 3)
110 BAB 36 (Part 1)
111 BAB 36 (Part 2)
112 BAB 36 (Part 3)
113 BAB 37 (Part 1)
114 BAB 37 (Part 2)
115 BAB 37 (Part 3)
116 ~END~
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Cast Introduction
2
BAB 1 (Part 1)
3
BAB 1 (Part 2)
4
BAB 1 (Part 3)
5
BAB 2 (Part 1)
6
BAB 2 (Part 2)
7
BAB 2 (Part 3)
8
BAB 3 (Part 1)
9
BAB 3 (Part 2)
10
BAB 3 (Part 3)
11
BAB 4 (Part 1)
12
BAB 4 (Part 2)
13
BAB 4 (Part 3)
14
BAB 5 (Part 1)
15
BAB 5 (Part 2)
16
BAB 5 (Part 3)
17
BAB 6 (Part 1)
18
BAB 6 (Part 2)
19
BAB 6 (Part 3)
20
BAB 7 (Part 1)
21
BAB 7 (Part 2)
22
BAB 7 (Part 3)
23
BAB 8 (Part 1)
24
BAB 8 (Part 2)
25
BAB 8 (Part 3)
26
BAB 9 (Part 1)
27
BAB 9 (Part 2)
28
BAB 9 (Part 3)
29
BAB 10 (Part 1)
30
BAB 10 (Part 2)
31
BAB 10 (Part 3)
32
BAB 11 (Part 1)
33
BAB 11 (Part 2)
34
BAB 11 (Part 3)
35
BAB 12 (Part 1)
36
BAB 12 (Part 2)
37
BAB 12 (Part 3)
38
BAB 13 (Part 1)
39
BAB 13 (Part 2)
40
BAB 13 (Part 3)
41
BAB 14 (Part 1)
42
BAB 14 (Part 2)
43
BAB 14 (Part 3)
44
BAB 15 (Part 1)
45
BAB 15 (Part 2)
46
BAB 15 (Part 3)
47
BAB 16 (Part 1)
48
BAB 16 (Part 2)
49
BAB 16 (Part 3)
50
BAB 17 (Part 1)
51
BAB 17 (Part 2)
52
BAB 17 (Part 3)
53
BAB 18 (Part 1)
54
BAB 18 (Part 2)
55
BAB 18 (Part 3)
56
BAB 19 (Part 1)
57
BAB 19 (Part 2)
58
BAB 19 (Part 3)
59
BAB 20 (Part 1)
60
BAB 20 (Part 2)
61
BAB 20 (Part 3)
62
BAB 21 (Part 1)
63
BAB 21 (Part 2)
64
BAB 21 (Part 3)
65
BAB 22 (Part 1)
66
BAB 22 (Part 2)
67
BAB 22 (Part 3)
68
BAB 23 (Part 1)
69
BAB 23 (Part 2)
70
BAB 23 (Part 3)
71
BAB 24 (Part 1)
72
BAB 24 (Part 2)
73
BAB 24 (Part 3)
74
BAB 25 (Part 1)
75
BAB 25 (Part 2)
76
BAB 25 (Part 3)
77
BAB 26 (Part 1)
78
BAB 26 (Part 2)
79
BAB 26 (Part 3)
80
BAB 27 (Part 1)
81
BAB 27 (Part 2)
82
BAB 27 (Part 3)
83
BAB 28 (Part 1)
84
BAB 28 (Part 2)
85
BAB 28 (Part 3)
86
BAB 29 (Part 1)
87
BAB 29 (Part 2)
88
BAB 29 (Part 3)
89
BAB 30 (Part 1)
90
BAB 30 (Part 2)
91
BAB 30 (Part 3)
92
BAB 31 (Part 1)
93
BAB 31 (Part 2)
94
BAB 31 (Part 3)
95
BAB 32 (Part 1)
96
BAB 31 (Part 2)
97
BAB 31 (Part 3)
98
BAB 32 (Part 1)
99
BAB 32 (Part 2)
100
BAB 32 (Part 3)
101
BAB 33 (Part 1)
102
BAB 33 (Part 2)
103
BAB 33 (Part 3)
104
BAB 34 (Part 1)
105
BAB 34 (Part 2)
106
BAB 34 (Part 3)
107
BAB 35 (Part 1)
108
BAB 35 (Part 2)
109
BAB 35 (Part 3)
110
BAB 36 (Part 1)
111
BAB 36 (Part 2)
112
BAB 36 (Part 3)
113
BAB 37 (Part 1)
114
BAB 37 (Part 2)
115
BAB 37 (Part 3)
116
~END~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!