None of it was real, it was all an illusion...
*******
Cerita dimulai dengan adegan dua orang berdiri di tepi jurang masing-masing, seolah satu gunung telah terbelah. Akar dari dua pohon di atasnya saling terputus, rusak dengan sendirinya. Mereka saling berhadapan, menodongkan pistol ke arah kepala masing-masing.
"Hnh..." suara tawa kecil disertai senyum tipis yang mengerikan. "Kau yang memulai ini, dasar psychopath!" katanya dengan nada biasa, namun terasa mengintimidasi.
"Hahahaha..." tawa khasnya bergema di ruang hampa jurang tersebut. Ia tersenyum tipis sebelum menjawab, "Hmm, bukankah semua ini salahmu? Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu semuanya."
Semenit berlalu dalam keheningan. Orang di tepi jurang itu tersenyum tipis mendengar ucapan lawannya.
"Hmm..." Wajahnya terlihat seolah sedang berpikir, meski jelas itu dibuat-buat. Dengan ekspresi pura-pura, ia sedikit memainkan bibirnya sebelum berkata, "Apa kau tidak melihat cermin di wajahku ini?"
"Hn..." Mereka tertawa kecil bersama, tetapi tawa itu penuh ketegangan.
...*Pengenalan oleh Cara Callista*...
Namaku Cara Callista. Yap, namaku berarti humoris, cantik, dan mempesona, sesuai dengan karakterku. Aku memiliki seorang sahabat bernama Freya Valerie Greysie. Namanya berarti perempuan yang dihormati, banyak disukai, serta memiliki kekuatan dan keindahan yang menawan.
Kami sudah bersahabat sejak kelas tiga SMP hingga sekarang, di SMA. Greysie lebih cantik dariku. Dia juga sangat populer di kalangan siswa dan siswi sekolah kami. Selain itu, orang tuanya kaya raya dan menjadi penyumbang dana terbesar di sekolah. Dibandingkan denganku yang berasal dari keluarga biasa saja, Greysie terlihat seperti bintang di langit. Tapi aku senang berteman dengannya. Dia selalu membantu saat aku kesulitan dan sangat royal.
Namun, di balik semua itu, ada sisi gelap dalam hidup Greysie yang tidak diketahui orang lain.
Kedua orang tuanya selalu bertengkar. Ayahnya berselingkuh, sementara ibunya, yang tak tahan dengan perilaku suaminya, memilih minum-minum bersama pria di klub malam. Greysie sering menjadi sasaran amarah ayahnya. Hanya karena nilai sekolahnya menurun, ia dipukul tanpa ampun. Ayahnya menuntut kesempurnaan darinya.
Tekanan itu membuat Greysie beberapa kali mencoba bunuh diri. Lima kali aku melihatnya mencoba mengakhiri hidupnya. Untung saja aku selalu ada untuk menghentikannya. Orang tuanya tidak pernah tahu hal ini.
Aku pernah membujuk Greysie untuk pergi ke psikolog. Aku menemaninya, dan hasilnya dia didiagnosis mengalami trauma, kecemasan berlebih, kontrol impuls yang buruk, psikosomatis, dan hampir depresi.
...***Tiga Bulan Lalu***...
Senin pagi, seperti biasa, seluruh siswa berbaris di halaman sekolah. Mataku mencari-cari di antara kerumunan.
"Di mana dia? Apa terlambat?" pikirku cemas.
Jantungku mulai berdetak cepat. Pikiran-pikiran buruk bermunculan. "Gak mungkin. Aku tahu dia gak pernah terlambat," gumamku, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Namun, semakin lama aku tidak melihatnya, kecemasanku semakin menjadi. Nafasku tersengal, tubuhku gemetar, dan keringat dingin mulai mengalir.
"Apa mungkin... itu terjadi lagi?" batinku gemetar.
Aku segera mengeluarkan ponsel dan mencoba meneleponnya.
"Greysie, tolong angkat... Angkat, plis..."
Namun, tidak ada jawaban. Kekhawatiranku semakin memuncak. Tanpa sadar, aku keluar dari barisan dan berlari. Guru-guru memanggilku, tapi aku tidak peduli.
---
Beberapa saat kemudian, aku sampai di depan gerbang rumah Greysie. Besi hitam menjulang tinggi, tampak dingin dan sunyi. Dengan napas tersengal, aku memukul-mukul gerbang itu.
"Greysie! Tolong buka pintunya! Greysie!"
Sepuluh menit berlalu, dan akhirnya seorang penjaga membukakan pintu. Aku langsung berlari masuk, memanggil-manggil namanya. Rumah itu terasa kosong, hampa.
Aku menaiki tangga dengan napas memburu. Sampai di ujung tangga, aku melihat pintu kamar Greysie yang berwarna cokelat gelap. Aku mengetuknya dengan keras, berteriak memanggilnya.
"Greysie! Plis jawab!"
Tidak ada jawaban. Tanganku mulai gemetar, air mataku mengalir deras. "Grey jangan kek gini lagi..."
Keheningan begitu mencekam hingga aku mendengar suara langkah kaki.
Tak... tek... tak... tek...
Aku menoleh ke arah suara itu, tubuhku membeku.
"Grey...?"
Langkah kaki itu mendekat, tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang memegang lenganku. Tubuhku gemetar, mataku perlahan menoleh ke belakang. Sebuah noda merah mencolok terlihat di ujung pandanganku.
"Itu... darah?" pikirku dengan napas tertahan.
"Gr-ey...?" panggilku dengan suara bergetar.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Humairah Ira
wow
2023-09-01
1
CatForD
astagaa... kasihan bngt, semoga lekas pulih!
2023-08-05
3
Iyan
Tolong bilang kalo ini bukan horor
2023-07-18
1