Ingin melihat iblis di dalam diri seseorang? Cobalah ulangi tiga kali kata-katamu yang tadinya membuatnya sampai terdiam.
Breaking News.
Semalam, pukul 01:10, seseorang yang mengenakan jubah hitam terlihat membawa sebilah pisau. Ia kemudian membunuh seorang remaja berusia 19 tahun secara brutal.
Korban dibunuh dengan cara yang mengerikan: anggota tubuhnya dipotong, tenggorokannya dicabut, membuatnya tersadar selama beberapa detik sebelum kehabisan napas dan meninggal. Kedua telapak tangan korban juga dipotong, dan salah satu jari tangan kanannya masih belum ditemukan.
Menurut keterangan polisi, kasus ini terkait dengan serangkaian pembunuhan berantai yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Dalam minggu ini saja, dua nyawa telah melayang. Korban sebelumnya adalah Simon Hiller, seorang manajer perusahaan Mekar J. Simon juga dibunuh dengan cara yang sadis—kemaluannya dipotong, otaknya dibelah, dan sebagian otaknya masih belum ditemukan.
Polisi terus berusaha menemukan pelaku utama di balik kasus ini.
----------------
Di Tempat Kejadian, tepatnya di rumah sakit tempat seorang gadis bernama Kesya di bunuh secara brutal oleh pembunuh berantai.
"Sepertinya pembunuh ini memiliki pola dan motif tertentu dalam memilih korbannya. Dari catatan sebelumnya, korban-korban ini punya masalah serius dalam pekerjaan, hubungan, atau hal lainnya," jelas Detektif Rasya.
"Pak Rasya, apakah ada petunjuk baru terkait pelaku utama?" tanya Detektif Agus.
"Ya, kemarin saya menyelidiki latar belakang Simon Hiller. Dari luar, dia tampak bersih, tetapi setelah ditelusuri, dia ternyata kerap bermain kotor. Saya menemukan bukti dan saksi bahwa dia sering melakukan pelecehan seksual terhadap wanita, bahkan memperkosa sekretarisnya sendiri," terang Detektif Rasya.
"Dia memanfaatkan otaknya untuk menipu, memanipulasi bukti, dan mengendalikan polisi, persidangan, hingga media," lanjutnya.
"Bagaimana dengan korban remaja ini, Pak?" tanya Detektif Agus.
"Itu yang menjadi fokus saya sekarang. Pak Agus, tolong mintai keterangan dari kerabat korban," pinta Detektif Rasya.
"Baik, Pak."
"Jangan lupa untuk mencari semua informasi yang berhubungan dengan korban ini," tambahnya.
"Bagaimana dengan dua remaja yang bersahabat itu? Salah satunya patut dicurigai karena ditemukan darah Simon Hiller di rumahnya. Yang satunya lagi terlibat pertengkaran dengan korban sebelum kejadian," tanya Detektif Agus.
"Salah satu dari mereka memang mungkin menjadi tersangka. Tapi kita tidak bisa gegabah. Mereka masih remaja, dilindungi hukum. Kita harus mencari bukti kuat dan mengikuti prosedur," tegas Detektif Rasya.
"Baik pak."
Di Kantor Polisi. Entah mengapa kami dipertemukan oleh detektif ini. Aku dan Greysie saling menatap, berbicara melalui pikiran—hanya kami yang tahu isi percakapan itu.
"Hei," Detektif Rasya menjentikkan jarinya, "kalian jangan diam saja."
"Emang lo mau nanya apaan? Kemarin kan gue udah jawab semuanya," jawabku ketus.
"Kurang ajar, anak ini!" geram Detektif Tony. "Bicara yang sopan!"
"Kan kemarin teman lo bilang pakai bahasa santai aja karena umur kita gak jauh beda," ujarku sambil melirik Detektif Rasya dengan pandangan mengejek.
Greysie nampak menahan tawa.
"Kurang ajar!" keluh Detektif Tony, berdiri, namun segera ditahan oleh Detektif Rasya.
"Pak Tony, sabar. Saya yang menyuruh mereka santai," jelas Rasya. Ia lalu menatap Greysie. "Kemarin kamu bilang mendengar suara barang jatuh dari dapur. Saat kamu mendekati suara itu, kamu melihat darah. Apa yang kamu lakukan saat itu?"
Greysie tersenyum. "Gak banyak, Pak. Saya cuma memeriksa sekitar dapur, lalu keluar rumah karena penasaran. Di luar, ada orang yang teriak minta tolong. Jadi... ya saya pinjamkan HP saya untuk nelpon."
"Kenapa kamu gak langsung lapor polisi?" tanya Rasya. "Dan kenapa kamu terlihat begitu tenang setelah mendengar ada yang terbunuh?"
"Hmm... itu... karena saya udah biasa lihat darah, Pak," jawab Greysie datar.
"Maksud kamu?" tanya Rasya curiga.
Aku melirik Greysie, melihat tangannya gemetar.
"Biar aku yang jawab," sahutku tegas.
"Orang tua Grey terus bertengkar sejak dia kecil. Ibunya juga selalu mabuk bersama pria lain, itu terjadi karena ayahnya selalu gonta ganti pasangan."
"Tapi... tapi dengan kelakuan mereka yang seperti itu, mereka masih menuntun Grey untuk sempurna. Kalau gak Grey pasti akan di pukuli habis-habisan sama ayahnya, apa itu adil bagi dia? Aku sebagai sahabat gak bisa terima hal itu."
Mendengar penjelasanku membuat Rasya menghela napas, ia ikut merasa prihatin mendengarnya. Aku melanjutkan penjelasanku, "Dia udah berapa kali mencoba bunuh diri depan mata aku, apa aku harus diam aja melihat itu? Dan sekalian aku jelasin kenapa aku mukul para pembully itu. Alasannya karena aku lagi kesel Grey harus terlibat masalah seperti ini, itu bakalan buat ayahnya mukul... pokoknya aku gak mau sampai itu terjadi. Mereka para pembully juga menghancurkan mental orang lain tanpa rasa bersalah. Coba kalian pikir gimana kalau korban bullying memilih untuk bunuh diri? Siapa yang bakalan kalian salahin? Pasti bukan mereka yang ngebully kan?!." jelasku dengan emosi.
---
Di Hotel.
Kami menginap di hotel karena rumah Greysie masih menjadi tempat penyelidikan polisi. Kami di bebaskan karena terbukti tidak bersalah, meskupun para orang tua pembully tidak terima aku di bebaskan, untung saja polisi yang menangani kami tidak menerima suap. Aku juga diskors dari sekolah selama tiga minggu karena memukul para pembully.
Keesokan paginya, aku masih tertidur. Suara berita dari TV membangunkanku.
Berita hari ini, ditemukan korban baru... polisi menemukan tersangka utama... pasangan suami istri Monsieur Milstone dan Rellenda Lubis.
Tiba-tiba, terdengar suara keras dari kamar mandi.
Brakkk....!
"Grey...?" Aku berlari, membuka pintu, dan tertegun melihat tubuhnya bersimbah darah.
"Grey? Grey bangun...! Kamu kenapa?!" Aku berusaha menghentikan perdarahannya sambil gemetar ketakutan.
"Grey... Grey... Ehmm..."
Aku berlari keluar kamar mandi. Tanganku meraba tempat tidur, mencari telepon genggam milikku.
"Ha-halo..." ucapku gemetar.
"Hallo, ada yang bisa kami bantu?"
Suaraku seakan tersentak, tak mau keluar. Aku kembali ke dalam kamar mandi, menelpon sambil menekan luka di perut Greysie.
"Lantai 22, nomor 37. Ho-hotel Pavillion... tolong... tolong temen aku, temanku tertusuk. Tolong cepat datang..."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Humairah Ira
ngeri ya
2023-09-01
0
CatForD
ngerii
2023-08-05
1
Iyan
Bener sih, pasti cuma bilang 'namanya juga anak-anak' 'cuma bercanda aja' kalo udah kejadian, mereka pasti bilang 'bukan gue yang bunuh, dia bunuh diri sendiri kan'
2023-07-18
2