Suara barang-barang yang jatuh terdengar seperti perkelahian. Aku terbangun karena mendengarnya.
"Kok gelap banget?" batinku.
"Grey?" panggilku, sambil meraba tempat tidur. "Kok nggak ada? Grey..." tanganku terus meraba, mencari telepon milikku.
Setelah menemukannya, aku langsung menyalakan lampu senter. Aku melihat ke tempat tidur, tetapi Greysie tidak ada di sana.
"Grey, kamu di mana?" panggilku.
"Ini kok lampu apartemen mati sih?" gumamku heran.
Kemudian, aku berjalan keluar kamar. Mataku membulat saat melihat seseorang yang berusaha menyakiti Greysie. Orang itu ingin menyayat leher Greysie, sementara Greysie berusaha keras menahannya.
Melihat itu, tubuhku refleks bergerak mendekat. Aku membantu Greysie, dan perkelahian sengit pun terjadi. Orang yang memakai jubah hitam itu sangat kuat, sehingga kami kewalahan melawannya.
Untung saja meskipun kami wanita, kami juga terlatih dalam ilmu bela diri, jadi kami bisa sedikit menyeimbangkan kekuatan saat melawan pria berotot tinggi dua meter itu.
Saat perkelahian masih berlangsung, pisau yang dipegang pria itu terjatuh. Dia memanfaatkan kesempatan saat kami lengah.
Pria berjubah hitam itu mencekikku. Greysie yang melihat itu berusaha mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memukulnya.
Greysie mengambil vas bunga yang ada di dekat jendela, lalu memukul kepala pria tersebut hingga ia tak sadarkan diri.
"Uhuk, uhuk," aku menarik napas pendek, "uhuk, uhuk, uhuk," sambil memegangi leherku.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Greysie sambil langsung memelukku. Aku melihat ke samping dan terkejut.
"Grey, orang tadi kemana?" tanyaku panik.
Greysie langsung melihat ke samping. Lampu senter dari teleponku masih menyala sejak tadi. Greysie mengambilnya untuk mencari pria itu, namun pria berotot tinggi dua meter yang memakai jubah hitam tersebut sudah pergi.
Tak lama kemudian, lampu apartemen kembali menyala. Kami segera menghubungi polisi untuk melaporkan kejadian ini. Kamar kami terlihat sangat kacau, barang-barang pecah dan berserakan di mana-mana.
"Kamu nggak apa-apa, Grey?" tanyaku, sambil melihat tangan Greysie.
"Hm," jawab Greysie, mengangguk.
"Biar aku obatin tanganmu," kataku, lalu pergi mengambil kotak P3K.
Tak lama kemudian, polisi datang.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Rasya dengan wajah khawatir.
"Iya, kita nggak apa-apa," jawabku.
"Kalian bisa jelasin kejadian ini gimana?" tanya Rasya sambil mengambil buku catatan. Greysie mulai menjelaskan semuanya, dan Rasya mencatat setiap penjelasan darinya.
"Lista, aku boleh minta keterangan dari kamu?" tanya Rasya.
"Mm, yaa," jawabku, lalu menjelaskan.
"Ada nggak orang yang kalian curigai?" tanya Rasya.
"Hmm, nggak tahu juga sih, mungkin seseorang yang kesal sama aku," jelasku tanpa ekspresi.
"Kita nggak tahu pasti, mungkin ada yang nggak suka dengan sikap kita," sambung Greysie sambil tersenyum.
"Untuk saat ini, siapa yang kalian curigai?" tanya Rasya lagi.
"Gak ada sih, kita nggak tahu juga," jawabku singkat.
"Hm, oke... Terus, kalian tahu dari mana kalau orang yang nyerang kalian itu cowok?" tanya Rasya.
"Hm," Greysie mengerutkan bibir, "bagi kita mudah sih untuk bedain antara cowok dan cewek. Selama ini kita juga sering latihan bela diri, jadi... kita tahu betul gimana bentuk tubuh mereka. Lagi pula, badan orang yang nyerang kita tadi kekar dan tinggi," jelas Greysie.
Rasya mencatat semuanya, namun ia masih terlihat sedikit curiga. Kemudian polisi memeriksa sekitar dan CCTV.
"Ok, baiklah, nanti kami akan memintai keterangan lebih lanjut dari kalian. Sebaiknya kalian lebih berhati-hati mulai sekarang," kata Rasya sambil melihat ke arahku. "Kalian mau kemana sekarang? Nanti biar aku yang anterin," tanya Rasya.
"Kita mau ke rumah Grey, tapi kita nggak apa-apa kok, kita pergi sendiri aja. Soalnya, Grey bawa mobil dan aku juga bawa motor," jelasku menolak usul Rasya.
"Hm, iya, tapi... takutnya nanti pas kalian di jalan orang itu bakal nyerang kalian lagi," pinta Rasya.
"Hm, nggak apa-apa Sya, kita juga bisa jaga diri kok," tolakku lagi.
"Oke, tapi aku jagain kalian dari belakang ya," pinta Rasya.
"Hm," Greysie mengerutkan bibir, "iya, oke, kalau kamu maksa," jawabku sambil mengangkat kedua alis.
---
Beberapa saat kemudian, kami tiba di depan rumah Greysie. Rasya berpamitan dan kami masuk ke dalam rumah. Aku langsung masuk ke kamar dan berbaring. Sementara Greysie masih di luar kamar, menelepon seseorang.
"Kerja bagus," ucap Greysie menutup telepon. Dia melihat ke belakang dan terkejut.
"U okay?" tanyaku heran.
"Eemm, ya," jawab Greysie gugup.
"Owwhkeyy," aku mengangkat satu alis. "Kamu nggak tidur lagi? Sekarang udah jam 04:10," aku melihat jam tangan, "besok kita sekolah, nanti ngantuk lagi," jelasku.
"Emm, ok," ucap Greysie sambil berjalan ke kamar. Aku mengikutinya.
Di Kamar.
"Grey..." panggilku.
"Hmm?" jawabnya.
"Besok aku bakal pulang ke rumah aku," balasku.
"Hm, why?" tanyanya.
"Gak apa-apa sih, cuma aku kan udah kelamaan di sini," jelasku.
"Hm, tapi kan Ra di rumah kamu nggak ada siapa-siapa juga, mending kita bareng aja," saran Greysie.
"Iya, tapi... ada yang mau aku urus di sana," jelasku lagi.
"Kalau gitu aku bakal ikut, aku nginep sama kamu lagi aja," pinta Greysie.
"Hm, up to you, Grey," balasku.
Setelah keluargaku meninggal, aku tetap tinggal di rumah orang tuaku. Meskipun bisnis yang dikelola ayahku bangkrut, ayahku tak pernah terlibat dalam hutang apa pun. Sebelum ibuku meninggal, dia sudah menyiapkan tabungan biaya kuliah untuk aku dan Tiya. Namun, karena Tiya telah meninggal, aku menggunakan bagian miliknya untuk membuka usaha sendiri. Saat aku masih duduk di bangku SD, aku sangat suka menabung uang jajan. Begitu lulus SMP, aku langsung membuka usaha menggunakan biaya kuliah adikku dan tabunganku. Karena aku suka nge-gym, usaha pertama yang aku buka adalah tempat gym. Setelah tempat gymku sukses, saat aku kelas 2 SMA, aku membuka usaha baru, yaitu tempat les lukis, karena aku sangat suka melukis.
Saat SD dan SMP, aku sering memenangkan lomba melukis di tingkat nasional maupun internasional. Kemudian saat SMA, aku juga mendapatkan banyak penghargaan atas karya-karyaku, bahkan diakui oleh pelukis-pelukis terkenal dari luar negeri. Tempat les lukis milikku kini menjadi tempat yang terkenal, karena banyak anak-anak dari berbagai kalangan datang untuk mengasah kemampuan mereka. Di tempat les, aku mempekerjakan lima orang sebagai guru les lukis. Mereka awalnya pengangguran atau pekerja paruh waktu yang menyia-nyiakan bakat mereka. Namun, aku menemukan mereka dan mengasah kemampuan mereka, agar mereka bisa mengajarkan bakat mereka kepada orang lain. Aku bisa melihat potensi dalam diri mereka, selama mereka mau berusaha dan mendapat sedikit bantuan dariku untuk mengasah kemampuan mereka agar bisa menjadi pelukis sukses. Mereka berlima sudah mendapatkan beberapa penghargaan atas karya-karya mereka, sehingga orang-orang yang datang senang diajar oleh mereka. Terkadang, aku juga datang ke tempat les untuk mengajarkan beberapa hal secara pribadi.
Sekarang, tempat gymku sudah membuka cabang ketiga, dan tempat les lukis milikku sudah kuperluas dengan membeli bangunan baru yang lebih besar karena banyak orang yang mendaftar. Aku juga berencana membuka tempat les baru setelah kuliah nanti, karena menurutku bakat tidak boleh disia-siakan. Sering kupikirkan bahwa bakat yang kumiliki ini mungkin berasal dari ayahku, mungkin juga ibuku. Jika saja ayahku sedikit lebih sabar dan mau bekerja sama dengan ibuku, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Kami mungkin masih menjadi keluarga yang bahagia hingga sekarang.
---
Besoknya, kami berangkat ke sekolah. Seperti biasa, sekolah ini dipenuhi oleh siswa-siswi dari berbagai kalangan, mulai dari yang berada di kalangan atas, sedang, hingga biasa. Aku termasuk salah satu siswi yang berasal dari kalangan sedang, sedangkan Greysie berasal dari kalangan atas.
Di dalam kelas, aku malah merenung saat guru menjelaskan materi. Guru melihatku dan mulai memanggil namaku.
"Callista, coba jelaskan kembali bagian ini," kata Guru sambil menunjuk papan tulis. Aku terdiam dan tak menjawab.
"Callista!" panggil Guru, mengeraskan suaranya.
"Ehh, ya bu?" jawabku terkejut.
"Hm, kamu nggak perhatikan saya mengajar? Coba jelaskan kembali bagian ini," keluh Guru, menunjuk papan tulis.
"Eh, maaf bu, eh..." jawabku meminta maaf, lalu berusaha menjelaskan kembali apa yang telah diajarkan.
"Hm, lain kali jangan bengong lagi," tegur Guru.
"Iya, baik bu," jawabku.
"You okay?" tanya Greysie.
"Yeah," aku menelan ludah, "I’m good," jawabku.
Beberapa jam berlalu. Bell pulang berbunyi. Kami pun pergi ke rumah Greysie untuk mengambil barang-barang. Greysie mengambil barang-barangnya sementara aku menunggunya di luar, bersender di mobil. Beberapa menit kemudian, Greysie keluar dari rumahnya.
"Barang-barang aku, Grey, udah semua?" tanyaku, tersenyum sambil meledeknya.
"Hm, yaah, masa aku sendirian yang siapin barang-barang? Udah gitu tangan aku masih sakit," jawab Greysie sedikit kesal.
"Hm, kan udah perjanjian tadi, siapa yang kalah suit dia yang bakal ngambil barang," ledekku padanya.
"Yaa, yaa, yaaaaa," gerutu Greysie sambil menaruh koper di bagasi mobil.
"Hahaha, sini aku bantu," ucapku sambil masih meledeknya.
"Hnh," terlihat kesal, "Lambat kamu," ujar Greysie menutup bagasi mobil.
"Hahahaha, aku naik motor ya, Grey?" pamitku, masih meledek.
"Gak usah ahh, lagi pula di rumah kamu masih ada tuh motor kamu yang satunya lagi," keluh Greysie, dia sepertinya merajuk.
"Hm, yaudah, yaudah, okey," jawabku dengan senyum ejek, "Biar aku yang nyetir," sambil merebut kunci mobilnya, "Tangan kamu masih sakit kan?" ujarku.
"Hnh," gerutu Greysie, terlihat sangat kesal padaku.
Kami masuk ke dalam mobil, aku terus memperhatikan Greysie, wajahnya sangat kesal, dan dia terus menghela napas berat dengan tangan bersilang.
"Hn," ucapku sambil tersenyum melihatnya.
Wajah kesal Greysie sangat tidak enak dipandang. Karena melihatnya terus cemberut, aku berusaha keras untuk menghiburnya agar dia tidak merasa kesal lagi padaku.
"Ekstrovert kok cemberut sih, harusnya ceria dong," ujarku, melihat Greysie.
"Aku ENTP, bukan ekstrovert," jawab Greysie dengan nada ketus.
"Hn," sambil tersenyum, "ENTP kan ekstrovert, Grey," sambungku.
Greysie hanya diam dan melirik kesal padaku. Aku tertawa melihatnya.
"Hahaha, sorry Grey," ucapku, sementara tanganku memencet tombol pemutar musik.
"This is your favorite song!" teriakku sambil melihatnya. Aku menyetel lagu I Wanna Be Your Slave dan mulai berjoget.
"And if you want to use me, I could be your puppet," bisikku padanya. Dia tersenyum, lalu...
"Cause I’m the devil who’s searching for redemption!" teriak kami bernyanyi dan berjoget bersama.
Dua jam kemudian, kami sampai di rumahku, tempat di mana segala kenangan indah dan buruk tercampur menjadi satu.
Greysie keluar dari mobil untuk membuka pintu gerbang rumahku, karena tidak seperti di rumahnya, di sini tidak ada satpam yang membukakan pintu. Aku keluar dari mobil dan mengambil koper dari dalam bagasi.
Di depan pintu rumah, aku mengeluarkan kunci dari kantung celanaku, lalu membuka kuncinya. Kemudian aku memasukkan PIN pada sistem smart door lock. Perlahan, aku memutar gagang pintu untuk membukanya. Pintu terbuka.
"Haaa," aku menarik napas, "Oh my god!" ucapku terkejut, membulatkan mata.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
CatForD
hayolohh
2023-08-05
1
ミフタン
ni si rasya suka nih🤭
2023-07-19
1
tintakering
pd banget 🙂
2023-07-06
1