Seseorang yang sudah lelah dengan rasa sakitnya mungkin akan memilih untuk menyerah. Tapi ironisnya, sebagian orang baru akan peduli setelah semuanya terlambat.
Flashback On.
Sekitar sebulan lalu, aku melihat Greysie berdiri di atap gedung setinggi 155 lantai. Wajahnya… begitu penuh luka yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rasanya seperti ada badai yang berputar dalam dirinya. Aku hanya berdiri mematung, tak mampu berkata apa-apa. Bahkan untuk menangis pun rasanya terlalu berat. Kaki ini bergerak sendiri mendekatinya, seperti tahu ke mana harus melangkah. Air mata yang jatuh dari pipinya menetes satu per satu, seolah membawa beban dunia bersamanya. Setiap tetes air mata itu menyakitiku.
Aku berjalan perlahan, menggenggam tangannya erat. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya menatapnya, mataku mencari sesuatu dalam tatapan kosongnya. Kalau dia melompat, aku tahu aku akan mengikutinya.
"Kamu ngapain di sini?!" Greysie berteriak, suaranya pecah oleh tangis.
Aku tetap diam.
"Jawaaab! Jawab gak?!" bentaknya lagi, suaranya meninggi, hampir memohon.
Aku hanya menatapnya dalam, mencoba memahami apa yang dia rasakan. Semua itu terasa terlalu berat, bahkan untukku yang hanya menyaksikan.
"Jawab, Ra! Jangan diem aja!" teriaknya, mengguncang pundakku.
Aku ingin berbicara, tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokanku. Dia menangis lebih keras, memukul dadaku, dan berteriak lagi.
"Hey! lo denger gak sih?!."
"Hey...! jawabbb guaaa!." teriak Greysie dengan tangis yang meledak, sementara aku masih tetap diam menatapnya.
"Jawa...aaab" ucap Greysie dengan suara melemah.
Greysie terus menatapku dengan air mata yang masih mengalir deras membasahi pipinya. Perlahan aku menutup mata sambil menikmati suara kendaran dan hembusan angin yang memasuki pori pori kulitku. Namun disaat aku ingin melompat bersamanya, ia menahanku, menarik tubuhku hingga kami terjatuh di atas atap gedung ini.
Greysie yang terbaring bangun, lalu berdiri tepat di atas tubuhku sambil memegang kedua pundakku, wajah yang berlinang air mata itu seolah melontarkan pertanyaan kenapa?! serta tatapan marah bercampur perasaan sakit yang mendalam.
"Kenapa...?! kenapa?! kenapa lo disini?! lo ngapain disini?! Ngapain disini...?." teriak Greysie sambil menggoyangkan tubuhku.
Sesekali Greysie memukulku, memegang kepalanya, berteriak tak jelas dan memukul dirinya sendiri. Aku bisa melihat jelas dari raut wajahnya yang nampak marah, tetapi ia tidak bisa melampiaskan amarahnya itu padaku.
"Aaah...! siaaal...! siaaal! fuckkk! fuckkk you! fuckkk this world...!" teriak Greysie sambil menangis.
"I hate you so...much." kata Greysie menatap dengan tatapan bersalah.
Bibirku gemetar, air mataku juga ikut menetes, aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangis tetapi tak bisa kulakukan, aku pun bangun dan langsung memeluknya, kubisikan sesuatu di telingannya.
"I hate this world to."
Flashback Off.
---
Di dapur, aku melihat dua orang berjalan melewati pintu. Salah satunya adalah seorang detektif, dan yang lainnya… Greysie.
"Ra...?" Greysie memanggilku dengan suara lirih.
"Grey...?" Aku hampir tak percaya melihatnya.
Aku berlari menghampirinya, memeluknya erat.
"Why you didn't answer my call?" tanyaku dengan nada kesal, masih memeluknya.
"HP-ku ketinggalan di kamar," jawabnya sambil tersenyum lemah.
Sebelum aku sempat membalas, detektif itu angkat bicara. "Greysie, bisakah kamu ikut kami sebentar? Kami perlu memintai keterangan lebih lanjut."
"Emangnya teman saya yang bunuh orang itu, Pak?!" tanyaku dengan nada tajam.
Detektif itu tersenyum kecil, mencoba meredakan ketegangan. "Panggil saja saya Rasya. Kita santai aja, ya. Saya rasa usia kita nggak beda jauh. Kalian umur berapa?"
"19," jawabku singkat, tak menggubris uluran tangannya.
"Umur aku 21 tahun, salam kenal ya. Em...terkait pertanyaan kamu tadi, kami belum bisa memberikan keterangan yang bersifat resmi karena semuanya masih berupa dugaan sementara." jelas Detektive Rasya.
"Hm yaa...temen aku gak bunuh dia, jadi ngapain di bawa ke sana pak?!." ujarku tak mau tau dengan mimik paksa dan tak suka.
"Sepertinya kamu over protektif ya." kata Detektive Rasya sambil tersenyum kecil.
"Kalau iya emang kenapa." jawabku masih ketus.
Sementara itu Greysie yang juga sebenarnya merasa bersalah padaku, takut untuk menegurku, ia pun tersenyum canggung dan mencoba untuk mencairkan suasana.
"Maaf pak, maaf...temen aku emang gini, cuek sama orang baru. Tapi aslinya dia baik kok, em...emang agak susah aja sama orang baru, maaf pak, ehh Ras...em...Rasya." ujar Greysie tersenyum canggung.
Greysie tersenyum kecil, lalu berkata, "Em...aku siap kok kalau harus di mintai keterangan lebih lanjut."
Mendengar perkataan Greysie makin membuatku menatapnya dengan mimik kesal bukan main, ia pun hanya tersenyum kaku saat tak sengaja berkontak mata denganku.
"Ok baiklah...sepertinya tim kami juga sudah sampai untuk memeriksa tempat ini lebih lanjut, kalau begitu silahkan ikuti kami." ajak detektive Rasya.
---
Di kantor polisi, aku duduk di ruang tunggu, menunggu Greysie yang sedang diperiksa. Waktu terasa berjalan lambat. Satu jam berlalu sebelum dia keluar dari ruangan itu, aku menatapnya dengan wajah yang kesal.
"And...why dia sangat tenang? menjengkelkan!" batinku.
Greysie menghampiriku dengan senyum lelah. "Lama ya? Mukamu nggak bisa bohong, kesel banget, kan?" tanyanya.
"Tau, kok nanya lagi?" jawabku ketus.
Dia hanya tertawa kecil. "Iya, iya, maaf ya." Greysie menyandarkan kepalanya di pundakku, mencoba mencairkan suasana.
"Kok bisa sih lo kejebak situasi kayak gini? Apa perlu gue bunuh tu polisi?" ujarku dengan nada kesal, mendorongnya menjauh.
"Ra, jangan ngomong sembarangan," bisik Greysie sambil menutup mulutku. "Ini kantor polisi, tau!."
Aku mendengus kesal. Dia hanya tertawa kecil, lalu menepuk pundakku namun aku hanya memberikan tatapan kesal padanya.
Setelah urusan di kantor polisi selesai, kami memutuskan untuk pergi ke sebuah taman karena aku sudah terlanjur bolos sekolah dan Greysie juga tidak bersekolah hari ini.
---
Tiba di taman favorite kami. Suasananya sangat nyaman dan tenang. Kami berjalan untuk mencari tempat duduk, namun tiba-tiba saja seseorang menyenggolku.
Brakkk...!
"Agh...aaiiisshh," ujarku, sedikit merintih.
Seorang gadis yang menyenggolku langsung menunduk meminta maaf dengan raut wajah bersalah dan tatapan cemas. "Maaf, maaf, aku gak sengaja, aku gak sengaja", pinta Mela sambil mengulurkan tangan padaku.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Greysie sambil membantuku berdiri.
"Iya, gak apa-apa... hufff... fu*ck," umpatku.
Mendengar umpatan itu, Mela hanya bisa diam, menunduk sambil meremas-remas tangannya.
"Eh, sorry-sorry, bukan kamu maksudnya. Siapa yang ngejar kamu?" tanyaku pada Mela sambil tersenyum.
"Eh? Anu... kok tau kalau aku lagi di kerjar?" tanya Mela dengan mimik canggung.
"Kelihatan dari muka kamu," jawabku singkat.
"Ra?" sela Greysie, lalu mengepalkan tangannya, menahan amarah.
Mela yang tidak tahu apa yang terjadi merasa bingung dan tak tahu harus berkata apa. Sementara itu, aku menatap wajah Mela yang terdapat lebam, begitu juga dengan telapak tangannya.
"Ra, stop, Ra! Cukup!" bentak Greysie.
"Hm?" sahutku tak peduli.
"Please, jangan kayak gini lagi. Ini bukan urusan kita. Lebih baik kita pergi aja ke tempat lain," pinta Greysie sambil menarik tanganku, berusaha mengajakku pergi dari sana.
"Gak!" bentakku sambil menepis tangannya.
Saat sedang bertengkar kecil dengan Greysie, tiba-tiba saja ada anak-anak sekolahan seumuran kami muncul. Mereka adalah siswa-siswi dari SMA Harapan. Para siswi mulai tertawa sambil memanggil nama Mela. Di belakang mereka ada sekumpulan siswa, pacar dari keenam siswi tersebut.
Mela yang ketakutan tanpa sadar bersembunyi di belakangku. Greysie langsung mengalihkan pandangannya dan menatap tajam pada para siswa-siswi tersebut.
"Mela! Sini lo! Berani-beraninya lo lari dari kita, Mela!" teriak seorang siswi bernama Kesya.
"Oh... jadi kalian yang berani bully saudara gue?" sahutku.
"Hah? Saudara? Hahaha... emang lo punya saudara, Mel?" ledek Kesya tak percaya.
"Dia saudara kembar gue. Lo mau bully dia? Bully dia sekarang, di depan mata gue!" ujarku sambil mendorong Mela ke arah mereka.
Mendengar ucapanku, mereka malah terawa terbahak-bahak, begitu juga pacar mereka. Salah satu dari mereka kemudian menghampiri kami.
"Keknya dia ketua geng anak-anak alay ini," batinku.
"M-maaf, Kesya," pinta Mela, memohon maaf dengan wajah takut.
"Elo...!" ucap Kesya sambil mendorong dan memukul kepala Mela berkali-kali.
"Heh... hahaha. Kesya?" ujarku tersenyum miring. "Jadi itu nama lo? Hn."
Kesya yang tadinya memukul Mela terhenti. Ia menatapku dengan ejekan. "Apaan sih? Gak jelas banget," gumam Kesya, memutar bola matanya.
Aku perlahan berjalan menghampiri Mela, membisikkan sesuatu di telinganya, tersenyum sambil memandang Kesya. Lalu aku berdiri dan mulai memukuli Kesya serta teman-temannya. Saat melihat batu, aku langsung mengambilnya dan memukuli pacar mereka yang berani ikut campur hingga mereka tak sadarkan diri. Aku terus memukuli Kesya dengan tanganku, menikmati sensasi darah yang mengalir dari tubuhnya menyentuh kulitku. Ia hampir mati di tanganku jika Greysie tidak segera menghentikanku. Semuanya nampak kacau, aku hanya tersenyum.
"Ra? Kita mau sampai kapan di sini? Ayo kita pergi dari sini. Kamu mau nungguin sampai polisi dateng?"
"Tau kan? Terus kenapa nanya? Lebih baik telepon polisi sekarang sebelum aku bunuh mereka semua," jawabku kesal.
"Hufff...." Greysie hanya bisa menghela napas berat sambil mengetik 112.
"Hallo..." ucap Greysie.
Beberapa saat kemudian polisi datang. Siswa dari SMA Harapan dibawa ke rumah sakit. Di antara mereka semua, keadan Kesya adalah yang paling parah, meskipun aku hanya memukulnya dengan tangan kosong.
Greysie menatapku. Aku menatapnya balik. Kami beradu pandang, pikiran kami seolah berbicara dan saling memahami.
Mata Greysie bertanya, "Kamu kenapa gini lagi?"
Sedang aku menjawab dengan tatapan, "Lo tau kan kalau gue lagi kesel hari ini."
Polisi kemudian membawa kami ke kantor polisi. Di sana aku dimintai keterangan mengenai perbuatanku. Ketika di tanya mengapa aku memukuli anak-anak dari SMA Harapan, jawabku tetap sama: aku sedang kesal, dan mereka membuatku semakin kesal. Jawaban itu membuat polisi harus menahanku di sel anak remaja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar pukul 01:35 malam, seseorang berjubah hitam berjalan masuk ke sebuah ruangan. Ia mengayunkan sebilah pisau pada anak bernama Kesya. Kesya membuka matanya dan terkejut melihat seseorang memegang pisau, mengarahkannya ke tenggorokannya. Ia ingin berteriak, tetapi pisau itu lebih dulu menancap ke tenggorokannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Humairah Ira
kasihan skli😭😭😭
2023-09-01
1
Humairah Ira
waw
2023-09-01
0
ミフタン
siapa itu yang nancapin pisau ke tenggorokan Kesya😱
2023-07-17
2