BAB 6 (Part 2)

...Kejadian Malam Mencekam...

Di dalam kamar rumah sakit yang sunyi, aku sedang bertengkar hebat dengan Greysie. Namun, di tengah emosi yang memuncak, mataku tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang mengintip dari balik kaca kecil di pintu.

"Rasya?" gumamku, terkejut. Mataku membulat, mencoba memastikan sosok itu nyata.

"Em, hai," sapa Rasya canggung sambil membuka pintu dan melangkah masuk.

"Kamu..." Aku menatapnya heran. "Ngapain di sini?" tanyaku, masih dengan nada kesal.

"Aku bilang ke Rasya tadi kalau kamu di rumah sakit," sela Greysie cepat, mencoba menjelaskan.

"Em, tadi aku coba telepon kamu," ujar Rasya ragu. "Tapi Greysie yang angkat. Dia bilang kamu di rumah sakit, jadi... aku khawatir," lanjutnya pelan, tatapannya seperti mencari penjelasan.

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Rasya melanjutkan, "Em, maaf, tadi aku gak sengaja denger kalian berantem."

Mendengar itu, aku melepas genggaman tangan Greysie dengan paksa. Dia sempat menahan, tapi akhirnya melepaskan tangannya dariku. Rasya yang melihat tingkah kami hanya berdiri bingung, tak tahu harus berbuat apa.

"Em, kalian mau ke mana?" tanya Rasya, mencoba mencairkan suasana.

"Kita gak ke mana-mana," jawab Greysie singkat, lalu dengan cepat menarik tanganku dan menyuruhku duduk kembali di tempat tidur. Aku terpaksa menurutinya, meskipun hatiku memberontak.

"Aku tadi gak sengaja dengar kalian berantem. Kalian okay?" tanya Rasya lagi, kali ini lebih hati-hati.

"Yaah," jawab Greysie sambil tersenyum tipis. "Kita gak apa-apa, thank you."

Mereka berdua mulai berbicara, tetapi aku hanya diam. Hatiku masih dipenuhi emosi, ingin segera pergi dari ruangan ini. Tangisku yang tertahan sejak tadi terasa semakin berat. Aku tidak ingin ada yang melihatku menangis, termasuk Greysie, bahkan Rasya. Tapi air mata itu sudah terlalu sulit untuk ditahan.

"Lista, are you okay?" tanya Rasya, kali ini dengan nada cemas. Tatapannya seperti menusuk langsung ke hatiku.

Pertanyaannya membuat sesuatu di dalam diriku pecah. Seolah semua yang kupendam tak lagi bisa ditahan. Rasa sakit itu, yang sejak tadi coba kusembunyikan, akhirnya menyeruak.

Air mataku jatuh tanpa bisa kucegah. Isak tangis yang selama ini kutahan akhirnya meledak, membuat dadaku terasa sesak. Tangisan itu begitu menyakitkan, seperti mencurahkan semua luka yang sudah terlalu lama kupendam.

Greysie menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah. Mungkin dia tidak pernah menyangka bahwa ucapannya akan melukaiku sampai seperti ini. Aku tenggelam dalam tangisku, mengingat kembali malam mencekam itu—malam yang terus menghantuiku hingga hari ini.

Flashback On.

Di rumahku yang semula tenang, suasana berubah menjadi mencekam. Ayah dan Ibu kembali bertengkar hebat. Suara mereka memenuhi setiap sudut ruangan, membuat jantungku berdegup kencang.

“Kamu mentang-mentang kerja jadi manajer, sekarang udah berani nyuruh-nyuruh aku?!” bentak Ayah dengan nada penuh kemarahan.

“Aku gak nyuruh kamu, Mas,” ujar Ibu, suaranya bergetar sambil memegang tangan Ayah. “Tapi... kamu harus berhenti minum-minum. Anak kita masih kecil, Mas. Kamu gak kasihan lihat mereka?” Tatapan Ibu mengarah ke pintu kamar tempat aku mengintip.

Ayah melirik pintu. Matanya menangkap bayanganku sebelum aku buru-buru bersembunyi di balik pintu.

“Mas, tolong, ini demi anak-anak kita,” pinta Ibu, suaranya penuh harap. “Aku butuh kamu yang dulu, Mas, yang bisa bantu aku ngurus mereka. Kita gak bisa begini terus.”

Ayah menghela napas berat. “Kamu mau aku ngapain, hah?!” bentaknya lagi, kali ini dengan sorot mata penuh kebencian.

“Bisnis aku udah hancur! Bangkrut! Ide-ideku dicuri sama mereka! Kamu lihat ini?” Ayah menunjuk botol minuman di atas meja. “Ini! Lihat minuman ini!”

“Kita bisa mulai dari awal lagi, Mas,” ucap Ibu dengan suara yang nyaris putus. “Aku janji akan selalu dukung kamu. Aku akan ada di sisi kamu sampai bisnis kamu sukses lagi.”

Ayah terlihat sedikit luluh. Tapi suasana berubah ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia mengangkat telepon itu, dan setelah selesai berbicara, emosinya kembali meledak. Dengan penuh amarah, Ayah mengambil pisau dari dapur.

“Mas, kamu mau apa dengan pisau itu?” tanya Ibu, cemas, sambil mencoba menghentikan Ayah.

“Lepasin, gak usah ikut campur!” Ayah menepis tangan Ibu dengan kasar. “Aku bunuh mereka sekarang juga!”

“Jangan, Mas!” pinta Ibu sambil memohon. “Tolong, jangan hancurkan hidup kamu. Lihat anak-anak kita, Mas!”

Aku dan adikku, Tiya, keluar dari kamar, mencoba menghentikan Ayah. Namun, ia sudah dikuasai amarah. Ketika Tiya memegang tangannya untuk menahan, Ayah tanpa sadar menepis dengan kasar.

Lalu, waktu terasa melambat.

Darah. Aku melihat darah mengalir deras dari leher Tiya. Pisau di tangan Ayah secara tak sengaja melukainya.

“Tiya?!” teriakku gemetar.

Ayah berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan wajahnya berubah pucat ketika melihat tubuh Tiya tergeletak di lantai.

“Tiya? Tiya!” Ibu berteriak sambil berlari mendekati Tiya. Ia memeluk tubuh kecil itu dengan penuh kepanikan. “Sayang, bangun! Ini Bunda, Sayang. Bangun, tolong!”

Ayah akhirnya menghampiri Tiya dengan ekspresi bersalah. “Ti... Tiya, Sayang?” gumamnya sambil menyentuh tangan Tiya. Tapi Ibu dengan cepat menepis tangan Ayah.

“Jangan sentuh anakku!” teriak Ibu penuh amarah. “Semua ini salah kamu, Mas! Semua ini salah kamu!”

Sementara itu, aku hanya berdiri mematung, tubuhku kaku, tidak tahu harus berbuat apa.

Beberapa menit kemudian, Ibu masuk ke kamar dan kembali dengan membawa pistol milik Ayah. Ia menodongkan pistol itu ke arah Ayah, tangisannya tak terbendung.

“Kamu udah bunuh anak aku!” bentaknya dengan suara bergetar.

“Sayang, tolong tenang,” ujar Ayah, mencoba mendekati Ibu. “Aku salah, aku tahu. Kamu gak perlu maafin aku. Tapi, tolong, kita gak boleh gini. Cara ada di sini. Dia lihat semuanya.”

Namun, Ibu tetap pada amarahnya. Pistol itu masih diarahkan ke Ayah. Mereka akhirnya saling memperebutkan senjata itu.

Dalam kekacauan, Ibu tersandung kursi, dan mereka terjatuh bersama. Saat itu, pisau yang masih digenggam Ayah tak sengaja malah menusuk dada Ibu.

Darah segar mengalir deras dari tubuh Ibu, membasahi lantai rumah kami. Ibu terkulai lemah, matanya perlahan menatapku dengan penuh kepiluan. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi suaranya terlalu lemah untuk kudengar. Lalu, matanya tertutup perlahan.

Melihat dua kejadian mencekam malam itu, aku hanya bisa berdiri diam, tubuhku terasa ringan, seperti jiwaku sudah hilang. Tatapanku kosong, melihat dua orang yang paling kucintai di dunia ini mati di depan mataku.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Syabil_aw

Syabil_aw

kalau ada yang nyata, pasti orang kayak Clara udah jadi psikopat sih kalau nggak stress.

2023-07-24

1

Syabil_aw

Syabil_aw

udah bu, tembak aja kalau nggak tahan

2023-07-24

1

Syabil_aw

Syabil_aw

😞

2023-07-24

1

lihat semua
Episodes
1 Cast Introduction
2 BAB 1 (Part 1)
3 BAB 1 (Part 2)
4 BAB 1 (Part 3)
5 BAB 2 (Part 1)
6 BAB 2 (Part 2)
7 BAB 2 (Part 3)
8 BAB 3 (Part 1)
9 BAB 3 (Part 2)
10 BAB 3 (Part 3)
11 BAB 4 (Part 1)
12 BAB 4 (Part 2)
13 BAB 4 (Part 3)
14 BAB 5 (Part 1)
15 BAB 5 (Part 2)
16 BAB 5 (Part 3)
17 BAB 6 (Part 1)
18 BAB 6 (Part 2)
19 BAB 6 (Part 3)
20 BAB 7 (Part 1)
21 BAB 7 (Part 2)
22 BAB 7 (Part 3)
23 BAB 8 (Part 1)
24 BAB 8 (Part 2)
25 BAB 8 (Part 3)
26 BAB 9 (Part 1)
27 BAB 9 (Part 2)
28 BAB 9 (Part 3)
29 BAB 10 (Part 1)
30 BAB 10 (Part 2)
31 BAB 10 (Part 3)
32 BAB 11 (Part 1)
33 BAB 11 (Part 2)
34 BAB 11 (Part 3)
35 BAB 12 (Part 1)
36 BAB 12 (Part 2)
37 BAB 12 (Part 3)
38 BAB 13 (Part 1)
39 BAB 13 (Part 2)
40 BAB 13 (Part 3)
41 BAB 14 (Part 1)
42 BAB 14 (Part 2)
43 BAB 14 (Part 3)
44 BAB 15 (Part 1)
45 BAB 15 (Part 2)
46 BAB 15 (Part 3)
47 BAB 16 (Part 1)
48 BAB 16 (Part 2)
49 BAB 16 (Part 3)
50 BAB 17 (Part 1)
51 BAB 17 (Part 2)
52 BAB 17 (Part 3)
53 BAB 18 (Part 1)
54 BAB 18 (Part 2)
55 BAB 18 (Part 3)
56 BAB 19 (Part 1)
57 BAB 19 (Part 2)
58 BAB 19 (Part 3)
59 BAB 20 (Part 1)
60 BAB 20 (Part 2)
61 BAB 20 (Part 3)
62 BAB 21 (Part 1)
63 BAB 21 (Part 2)
64 BAB 21 (Part 3)
65 BAB 22 (Part 1)
66 BAB 22 (Part 2)
67 BAB 22 (Part 3)
68 BAB 23 (Part 1)
69 BAB 23 (Part 2)
70 BAB 23 (Part 3)
71 BAB 24 (Part 1)
72 BAB 24 (Part 2)
73 BAB 24 (Part 3)
74 BAB 25 (Part 1)
75 BAB 25 (Part 2)
76 BAB 25 (Part 3)
77 BAB 26 (Part 1)
78 BAB 26 (Part 2)
79 BAB 26 (Part 3)
80 BAB 27 (Part 1)
81 BAB 27 (Part 2)
82 BAB 27 (Part 3)
83 BAB 28 (Part 1)
84 BAB 28 (Part 2)
85 BAB 28 (Part 3)
86 BAB 29 (Part 1)
87 BAB 29 (Part 2)
88 BAB 29 (Part 3)
89 BAB 30 (Part 1)
90 BAB 30 (Part 2)
91 BAB 30 (Part 3)
92 BAB 31 (Part 1)
93 BAB 31 (Part 2)
94 BAB 31 (Part 3)
95 BAB 32 (Part 1)
96 BAB 31 (Part 2)
97 BAB 31 (Part 3)
98 BAB 32 (Part 1)
99 BAB 32 (Part 2)
100 BAB 32 (Part 3)
101 BAB 33 (Part 1)
102 BAB 33 (Part 2)
103 BAB 33 (Part 3)
104 BAB 34 (Part 1)
105 BAB 34 (Part 2)
106 BAB 34 (Part 3)
107 BAB 35 (Part 1)
108 BAB 35 (Part 2)
109 BAB 35 (Part 3)
110 BAB 36 (Part 1)
111 BAB 36 (Part 2)
112 BAB 36 (Part 3)
113 BAB 37 (Part 1)
114 BAB 37 (Part 2)
115 BAB 37 (Part 3)
116 ~END~
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Cast Introduction
2
BAB 1 (Part 1)
3
BAB 1 (Part 2)
4
BAB 1 (Part 3)
5
BAB 2 (Part 1)
6
BAB 2 (Part 2)
7
BAB 2 (Part 3)
8
BAB 3 (Part 1)
9
BAB 3 (Part 2)
10
BAB 3 (Part 3)
11
BAB 4 (Part 1)
12
BAB 4 (Part 2)
13
BAB 4 (Part 3)
14
BAB 5 (Part 1)
15
BAB 5 (Part 2)
16
BAB 5 (Part 3)
17
BAB 6 (Part 1)
18
BAB 6 (Part 2)
19
BAB 6 (Part 3)
20
BAB 7 (Part 1)
21
BAB 7 (Part 2)
22
BAB 7 (Part 3)
23
BAB 8 (Part 1)
24
BAB 8 (Part 2)
25
BAB 8 (Part 3)
26
BAB 9 (Part 1)
27
BAB 9 (Part 2)
28
BAB 9 (Part 3)
29
BAB 10 (Part 1)
30
BAB 10 (Part 2)
31
BAB 10 (Part 3)
32
BAB 11 (Part 1)
33
BAB 11 (Part 2)
34
BAB 11 (Part 3)
35
BAB 12 (Part 1)
36
BAB 12 (Part 2)
37
BAB 12 (Part 3)
38
BAB 13 (Part 1)
39
BAB 13 (Part 2)
40
BAB 13 (Part 3)
41
BAB 14 (Part 1)
42
BAB 14 (Part 2)
43
BAB 14 (Part 3)
44
BAB 15 (Part 1)
45
BAB 15 (Part 2)
46
BAB 15 (Part 3)
47
BAB 16 (Part 1)
48
BAB 16 (Part 2)
49
BAB 16 (Part 3)
50
BAB 17 (Part 1)
51
BAB 17 (Part 2)
52
BAB 17 (Part 3)
53
BAB 18 (Part 1)
54
BAB 18 (Part 2)
55
BAB 18 (Part 3)
56
BAB 19 (Part 1)
57
BAB 19 (Part 2)
58
BAB 19 (Part 3)
59
BAB 20 (Part 1)
60
BAB 20 (Part 2)
61
BAB 20 (Part 3)
62
BAB 21 (Part 1)
63
BAB 21 (Part 2)
64
BAB 21 (Part 3)
65
BAB 22 (Part 1)
66
BAB 22 (Part 2)
67
BAB 22 (Part 3)
68
BAB 23 (Part 1)
69
BAB 23 (Part 2)
70
BAB 23 (Part 3)
71
BAB 24 (Part 1)
72
BAB 24 (Part 2)
73
BAB 24 (Part 3)
74
BAB 25 (Part 1)
75
BAB 25 (Part 2)
76
BAB 25 (Part 3)
77
BAB 26 (Part 1)
78
BAB 26 (Part 2)
79
BAB 26 (Part 3)
80
BAB 27 (Part 1)
81
BAB 27 (Part 2)
82
BAB 27 (Part 3)
83
BAB 28 (Part 1)
84
BAB 28 (Part 2)
85
BAB 28 (Part 3)
86
BAB 29 (Part 1)
87
BAB 29 (Part 2)
88
BAB 29 (Part 3)
89
BAB 30 (Part 1)
90
BAB 30 (Part 2)
91
BAB 30 (Part 3)
92
BAB 31 (Part 1)
93
BAB 31 (Part 2)
94
BAB 31 (Part 3)
95
BAB 32 (Part 1)
96
BAB 31 (Part 2)
97
BAB 31 (Part 3)
98
BAB 32 (Part 1)
99
BAB 32 (Part 2)
100
BAB 32 (Part 3)
101
BAB 33 (Part 1)
102
BAB 33 (Part 2)
103
BAB 33 (Part 3)
104
BAB 34 (Part 1)
105
BAB 34 (Part 2)
106
BAB 34 (Part 3)
107
BAB 35 (Part 1)
108
BAB 35 (Part 2)
109
BAB 35 (Part 3)
110
BAB 36 (Part 1)
111
BAB 36 (Part 2)
112
BAB 36 (Part 3)
113
BAB 37 (Part 1)
114
BAB 37 (Part 2)
115
BAB 37 (Part 3)
116
~END~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!