Rumah sakit ....
Bi Lina sudah kelelahan karena mencari keberadaan Audrey yang tak kunjung ditemukan. Sejenak dia beristirahat di bawah pohon yang berada si belakang rumah sakit. Dia duduk di sebuah kursi panjang dengan memandang ke arah danau.
"Minumlah dulu, Bi. Saya tahu Bibi lelah," ucap seorang pria yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah wanita paruh baya itu.
Sontak Bi Lina pun menengok ke samping. Dia melihat seorang pria dewasa yang tak asing. Pria itu tidak lain tidak bukan adalah Akandra Xaquille, tuannya sendiri.
"Tuan, datang ke mari?" Bi Lina menatap keheranan sembari menerima sebotol air mineral.
"Tentu saja, bagaimana saya bisa berdiam diri saja tanpa mencari wanita itu. Dia tidak bisa pergi semudah itu! Sedangkan hutang suaminya masih sangat banyak dan mustahil akan dilunasi oleh pria gila seperti Devan!" timpal Akandra dengan kesal.
Akandra tentu saja kesal, karena hutang Devanka bukan hanya puluhan juta saja melainkan ratusan juta. Dan sekarang, orang yang Devan gadaikan telah melarikan diri. Itulah kenapa Akandra sangat kesal pada saat mendengar kabar Audrey hilang.
"Sebenarnya Audrey hilang karena kesalahan saya, Tuan," ucap Bi Lina dengan napas yang panjang.
"Kesalahan Bibi? Apa maksudmu?" tanya Akandra sembari mengerutkan dahinya.
"Sebelum Bibi pergi membeli buku, Nona Audrey sempat bertanya mengenai Nona Alessa,"
"Apa yang dia tanyakan? Apa dia bertanya mengenai kematiannya?" tebak Akandra dengan wajah yang penasaran.
"Tidak, Tuan. Dia bertanya mengenai kemiripan wajahnya dengan Nona Alessa."
"Lalu, apa jawaban Bibi?"
"Bibi menunjukkan foto Nona Alessa padanya. Selain itu Nona Audrey juga bertanya tentang asal usul Nona Alessa dan Tuan tahu? Setelah Bibi mengatakan nama panti asuhan Nona Alessa berasal, Nona Audrey langsung mencabut seluruh alat yang terpasang dan berusaha pergi. Seandainya saya tahu jika Nona Audrey sedang menipu, saya tidak akan meninggalkannya. Maafkan saya, Tuan. Saya telah membuat kesalahan besar dengan menceritakan asal usul Nona Alessa," Bi Lina menjelaskan semua kejadian sebelum Nona Audrey pergi.
"Kenapa Bibi seceroboh ini? Seharusnya Bibi lebih berhati-hati dan jangan mudah mempercayai orang lain. Tapi, jika dipikir-pikir Audrey memang sangat mirip dengan Alessa. Apa mungkin dia saudari kembarnya Alessa? Jika benar begitu, kenapa Alessa tidak pernah memberi tahuku akan hal itu?" Kini Akandra dibuat bingung dengan keadaan ini.
"Bibi juga berpikir seperti itu. oh iya, Tuan. Sepertinya Bibi tahu ke mana Nona Audrey pergi," ujar Bi Lina.
"Ke mana?"
"Ke panti asuhan Harapan Mama,"
"Ya sudah, tunggu apalagi. Ayo kita ke sana. Bibi ikut denganku, ayo!" Akandra beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju basement rumah sakit. Sedangkan Bi Lina, dia mengikuti tuannya dari belakang.
****
Brakk!
Daniel bersama Pak Arman mendobrak pintu kontrakan Devanka. Dia yakin jika Nona Audrey ada bersama suaminya. Namun, setelah pintu berhasil terbuka, Devanka tengah asyik minum-minum bersama dua orang gadis muda di sampingnya.
Melihat itu, Pak Arman segera mengambil ponsel di sakunya dan memotret apa yang dilakukan Devanka. Sementara itu, Daniel langsung berjalan ke arah pria yang tengah mabuk itu. Dan dalam hitungan detik, Daniel menarik kerah kemeja Devanka dan memukulnya dengan keras.
"Di mana istrimu?" bentak Daniel dengan mata yang memerah akibat emosi.
Bukan tanpa sebab Daniel semarah ini. Dia sangat membenci pria yang suka mempermainkan wanita termasuk istrinya sendiri. Bisa-bisanya dia bersenang-senang dengan gadis lain sedangkan istrinya digadaikan.
"Haha, pertanyaan bodoh! Cuih!" Devanka meludahi wajah Daniel.
"Br*ngs*k!" Daniel kembali memukul wajah Devanka tepatnya di sudut bibir.
Devanka mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya dan menatap tajam ke arah Daniel. "Aku tidak tahu di mana Audrey! Bukankah dia sudah aku gadaikan pada tuanmu? Kenapa kamu datang menemuiku? Kurang kerjaan sekali kalian!" tegas Devanka.
"Asal kamu tahu saja, Audrey menghilang! Dan kamu harus mencarinya sampai dapat! Jika tidak, Tuan Akandra akan memberimu pelajaran! Ayo, Pak Arman," ajak Daniel pada Pak Arman yang sedang berdiri di belakangnya.
"Audrey! Awas saja kalau ketemu, akan kuhajar dirimu karena berani bermain-main denganku!" Devanka mengepalkan kedua tangannya.
****
Panti asuhan Harapan Mama ....
"Ibu, Ibu!" panggil salah satu anak panti dengan panik dan napas yang ngos-ngosan.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat panik?" tanya Ibu panti yang tengah duduk dan merawat Audrey.
"Itu, Bu. Di luar ... di luar--"
"Di luar ada apa? Tenanglah dulu, dan bicara pelan-pelan."
"Di luar ... ada pria mabuk yang mencari Kak Audrey. Dia membawa benda tajam, kami takut, Bu. Kami takut Kak Audrey disakiti oleh pria itu," jelas anak panti.
"Tenanglah, biar Ibu yang temui pria itu. Kalian jaga Kak Audrey baik-baik ya. Ingat, jangan keluar dari kamar ini dan bila perlu kunci kamarnya! Ibu pergi dulu," pesan Ibu panti seraya beranjak dari duduknya.
Dan benar saja, setelah Ibu panti keluar dari kamar, anak panti yang berada di kamar Audrey dirawat langsung dikunci. Sementara itu, di sisi lain Ibu panti berjalan dengan dihantui rasa takut menuju keluar panti. Dia melihat pria mabuk itu memang memegang sebuah pisau dapur di tangan kanannya.
Perlahan Ibu Panti menghampiri pria itu. "Permisi, anda siapa? Kenapa membuat keributan di sini?" tanya Ibu panti dengan baik-baik.
"Aku suaminya Audrey. Aku tahu Audrey ada di sini. Cepat, suruh dia keluar sekarang juga!" bentak Devanka dengan terus meneguk minuman beralkohol yang dia pegang. Ternyata pria mabuk itu adalah Devanka, suaminya Audrey.
"Audrey tidak ada di sini. Bahkan sudah lama Audrey tidak pernah datang ke panti ini," jawab Ibu panti.
Mendengar itu, Devanka tersenyum kecut. Perlahan dia mendekati Ibu panti seraya menyodorkan pisau itu di leher Ibu panti. "Berani bermain-main denganku, maka pisau ini akan menyayat lehermu! Mau?" ancam Devanka.
Ibu panti bergetar sekujur tubuh. Bagaimana tidak, dia hendak dilukai oleh pria mabuk itu. "Saya tidak tahu di mana Audrey! Anda datang ke tempat yang salah," jawab Ibu panti dengan suara yang gemetar.
"Oh iya? Baiklah, mari kita buktikan ucapanmu." Devanka membuat sebotol minuman keras itu dan menarik lengan Ibu panti serta menyeretnya ke dalam panti.
"Tunjukkan di mana dia bersembunyi! Jika tidak menuruti perkataanku maka aku akan melukai semua anak-anak yang ada di sini!" Devanka kembali mengancam Ibu panti.
Mendengar hal itu, Ibu panti benar-benar dilema. Dia dibuat kesulitan, di satu sisi dia ingin membantu dan menolong Audrey dari suaminya. Akan tetapi, di sisi lain dia juga tidak bisa membiarkan anak-anak panti terluka.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja Audrey sadar dan keluar dari kamar. Dengan wajah yang pucat pasi, dia berjalan ke arah suami serta Ibu panti. "Jangan sakiti Ibu panti dan anak-anak panti. Aku akan ikut bersamamu, ayo." Audrey menarik lengan suaminya dan membawanya keluar.
Begitu sampai di luar, benar saja dengan ucapan Devanka beberapa jam yang lalu kalau dia akan menghajar istrinya jika ketemu. Saat itu juga, dia memukul istrinya sampai jatuh tersungkur. Dengan tubuh yang masih lemas, Audrey hanya bisa terkulai lemas dengan menatap sayu ke arah suaminya.
"Jika kamu ingin melukaiku, maka lakukanlah! B*n*h aku agar aku bisa terbebas darimu dan penderitaanmu!" ucap Audrey lemas.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Jangan kamu pikir aku tidak berani melakukan ini. Akan kutunjukkan jika aku bisa memb*n*hmu!" Devanka hendak men*s*k dada Audrey.
"Tidak!" teriak Ibu panti.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Juan Sastra
punya istri cantik justru di gadaikan lalu memungut lacur jalanan.. audrey kok betah malah minta di bunuh segala,, jadi wanita jgn terlalu bego napa,,heh audrey dunia tak selebar daun kelor
2023-10-10
2
Yullia Azahra
jahat betul c,Devanka lebih dari binatang
2023-06-19
1