"Aarrgghh!" Akandra berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.
"Bagaimana dia bisa tahu soal Alessa? Apa semalam aku membuat kesalahan dengan menceritakan soal Alessa pada wanita itu? Enggak! Itu tidak boleh terjadi, aku harus membungkam mulut wanita itu agar tetap merahasiakan kematian Alessa!"
Dengan cepat Akandra keluar dari kamarnya dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Begitu dia keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan pelayan yang tengah mengantarkan sarapan. Pelayan yang melihat tuannya belum memakai pakaian hanya terpaku melihat tubuhnya yang atletis.
"Jaga matamu! Atau mau saya tusuk?" Akandra maju beberapa langkah dengan matanya yang menyorot tajam.
"Tidak, Tuan. Maafkan saya." Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya.
"Bagus! Sekarang bawa sarapan itu kembali, saya akan sarapan nanti! Minggir." Akandra menyenggol tubuh pelayan itu dan berjalan menuju kamar Audrey.
****
"Ahh, segarnya ...."
Audrey baru saja selesai mandi. Tubuhnya masih memakai handuk di atas lutut. Dengan kedua tangan memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Saat ini Audrey tengah berdiri di depan jendela sembari menghirup udara segar.
Sesekali dia memejamkan matanya. Baru kali ini dia bisa merasakan udara sesejuk ini. Selama ini Audrey hanya disibukkan dengan mencari uang tanpa bisa bersantai dan menikmati udara segar.
Brakk!
Pintu kamar tiba-tiba didobrak oleh seseorang. Hal itu membuat jantung Audrey rasanya mau lepas saat itu juga. Sontak, ia membalikkan badannya mentap ke arah pintu dan kedua bola matanya membelalak dengan sempurna pada saat melihat sosok pria tampan yang memasuki kamarnya.
Akandra masuk dengan langkah yang terburu-buru. Setelah itu, dia membanting pintu serta menguncinya. Tentu saja, Audrey ketakutan melihat tingkah Akandra yang cukup menakutkan itu. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama memakai handuk, dan berada di kamar yang sama.
Sontak Audrey menutupi dadanya dengan handuk mini yang ia pegang. Dia tidak bisa pergi ke manapun selain mematung. Jantungnya terus berdegup kencang seiring langkah Akandra yang semakin dekat.
"Sini!" Akandra menyambar lengan Audrey dan memojokkannya di dinding.
Kini tubuh Audrey sudah menempel dengan dinding. Dia semakin takut, karena jaraknya dengan Akandra sangat dekat. Dia takut sang pemilik rumah ini berbuat nekat padanya.
"Aa-apa yang Tuan lakukan? Tuan mau ngapain?" tanya Audrey dengan gelagapan karena takut.
"Apa yang kamu ketahui tentangku?" alih-alih menjawab, Akandra justru balik bertanya pada Audrey.
"Tidak ada, yang saya tahu Tuan adalah pemilik rumah ini dan juga pemilik bar serta pewaris hotel Xaquille. Selain itu saya tidak tahu apa-apa," jawabnya dengan jujur.
"Jangan berbohong! Jika kamu tidak tahu, bagaimana kamu bisa tahu tentang Alessa?" Akandra mengukung tubuh Audrey dengan kedua tangannya.
"Itu karena Tuan sendiri yang mengatakannya semalam. Jika Tuan tidak percaya, Tuan bisa tanyakan ini pada Pak Arman dan pria yang bersama Tuan semalam," jawab Audrey setenang mungkin.
"Affandra maksudmu?"
"Mungkin, saya tidak tau siapa pria itu."
"Baiklah, kalau begitu kamu ikut saya!" Akandra kembali menarik tangan Audrey dan membawanya keluar dari kamar.
"Tunggu dulu, Tuan! Saya belum memakai pakaian. Izinkan saya memakainya terlebih dahulu."
Mendengar itu, Akandra melepaskan tangan Audrey. "Ya sudah, cepatlah!"
"Tapi ... saya tidak mungkin memakai pakaian di depan Tuan. Bisakah Tuan tunggu di luar?" ucap Audrey dengan ragu.
"Saya tidak akan mengintipmu sedikitpun. Jadi, cepatlah! Saya tidak suka menunggu apalagi membuang-buang waktu!" tegas Akandra.
"Oh iya, Tuan. Bolehkah, saya meminjam pakaian yang ada di lemari itu? Saya tidak membawa pakaian saat kemari."
"Pakailah!" Akandra membalikkan badannya dengan melipat kedua tangan di dada.
"Terima kasih." Audrey berjalan menuju lemari dan langsung memakainya.
Selesai memakai pakaian, dia pun berdiri di belakang Tuan Akandra. "Mari, Tuan."
Akandra berbalik badan dan terdiam beberapa detik. Dia terpaku melihat Audrey yang memakai pakaian mendiang Alessa. Tanpa pria tampan itu sadari, lelehan air mata menetes di pipinya.
'Wanita ini benar-benar mirip denganmu, Alessa,' ucap Akandra dalam hati.
"Tuan baik-baik aja? Kenapa menangis?" tanya Audrey.
"Tidak apa-apa! Ayo," ajak Akandra sambil menyeka air matanya.
Audrey mengangguk dan mengikuti langkah sang pemilik rumah. 'Pria ini sangat aneh! Terkadang dia baik tapi terkadang dia juga menakutkan, apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Akandra?' batin Audrey bertanya-tanya disertai mata yang menatap ke arah punggung Akandra.
"Tuan Akandra, Tuan Akandra!" panggil Pak Arman yang terlihat sedang berlari ke arah mereka.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak memanggil namaku?" Akandra menghentikan langkahnya, begitupun dengan Audrey.
"Itu di luar, ada pria bikin rusuh teriak-teriak memanggil nama Tuan dan juga nama Nona Audrey," jelas Pak Arman dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Siapa?"
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yullia Azahra
Udah pasti itu suami Audrey hha
2023-06-14
1