Xaquille Home ....
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk sebanyak tiga kali dari luar. Audrey yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang seraya menatap isi kamar yang sangat cantik. Perlahan ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
Pintu terbuka lebar dan terlihat seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Audrey mengernyitkan alisnya sambil menatap pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Arman, sang supir pribadi Akandra. "Maaf mengganggu, Nona. Makan malam sudah siap, mari," ajak Pak Arman pada Audrey.
"Makan malam?" tanyanya dengan kening yang dikerutkan.
"Iya, Nona. Tuan Akandra meminta kami untuk menyiapkan makan malam untuk Nona," Pak Arman menjawab dengan sedikit senyuman.
"Lalu, di mana Tuan Akandra?" Audrey menatap ke sana ke mari mencari keberadaan sang pemilik rumah.
"Tuan Akandra sedang ada urusan. Mari Non," ajak Pak Arman sekali lagi.
Audrey hanya menganggukkan kepalanya sembari keluar dari kamarnya. Sebelum itu, ia menarik handle pintu untuk ditutup. Setelah itu barulah, dia mengikuti langkah pria paruh baya.
Sesampainya di meja makan, Audrey sempat melongo karena makanan yang ada di meja benar-benar banyak dan juga mewah. Dia yang merasa takut salah lihat pun segera mengucek-ngucek matanya untuk memastikan apa yang dia lihat itu nyata. "Silakan duduk, Non." Pak Arman menarik kursi untuk Audrey.
"Eh, Bapak tidak perlu seperti ini. Saya bisa melakukannya sendiri," ucap Audrey.
"Saya hanya menjalankan tugas, selamat menikmati, Non."
"Terima kasih, Pak."
Audrey duduk di kursi yang Pak Arman siapkan. Sedangkan para pelayan berjalan mendekati Audrey dan menuangkan beberapa makanan ke piring Audrey. Melihat itu, Audrey merasa tidak enak karena dia belum pernah diperlakukan seperti ini.
'Kenapa Pak Akandra begitu baik? Apa makanan ini aman? Bagaimana jika makanan ini sudah dicampur obat?' batin Audrey bertanya-tanya karena sikap ramah para pelayan sekaligus Tuan Akandra.
"Kenapa tidak dimakan dan hanya menatapnya saja? Tenanglah, Nona ... makanan ini aman dan tidak tercampur racun. Jika Nona tidak percaya biar kami yang akan mencicipinya terlebih dahulu," ucap salah satu pelayan.
"Itu tidak perlu, saya akan memakannya. Kalian semua bisa pergi. Jangan cemaskan saya karena saya pasti menghabiskan makanan ini," ucap Audrey dengan penuh rasa hormat.
Sejujurnya saat ini Audrey merasa tidak nyaman jika harus makan sembari ditemani banyak orang seperti itu. Dia bukan ratu, dia juga bukan siapa-siapanya Tuan Akandra tapi kenapa Tuan Akandra begitu baik padanya sampai memerintahkan para pelayannya untuk melayani orang asing seperti dirinya. Namun, meskipun Audrey telah meminta para pelayan itu untuk pergi, semua para pelayan masih tetap berdiri di belakang bahkan disamping Audrey.
"Kami hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Tuan Akandra, selama Nona Audrey belum memakan makanan ini, kami akan tetap di sini sampai kami melihat Nona memakannya," ucap kepala pelayan dengan tegas.
"Baiklah, baiklah. Saya akan makan makanannya, setelah itu biarkan saya pergi ke kamar."
Mau tidak mau, Audrey harus memakan makanan mewah yang berada di hadapannya. Dengan rasa yang was-was, dia mulai memegang alat makan berupa garpu dan pisau berwarna gold. Meski dia sempat ragu untuk melahap makanan itu, ia tetap memasukkannya ke dalam mulut.
'Hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama aku akan mati jika makanan ini beracun dan juga sebaliknya, aku akan selamat jika makanan ini memang tidak mengandung racun. Apa pun akhirnya nanti, aku akan merasa bersyukur karena aku akan terbebas dari suami kejam seperti Mas Devanka. Bismillah,' batin Audrey berbicara.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yullia Azahra
enak bgt jadi Audrey hehe
2023-06-12
1