"Menikahinya?" Seketika bola mata Akandra langsung membulat dengan sempurna.
"Iya, Tuan. Hanya itu cara yang akan membebaskan Nona Audrey dari suami beserta penderitaannya," timpal Bi Lina disertai anggukan kepala.
"Mustahil! Bagaimana saya bisa menikahinya sedangkan dia masih berstatus sebagai istri orang,"
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Tuan. Selagi Tuan mau berjuang untuk menikahi Nona Audrey maka pasti akan ada jalannya,"
"Berjuang? Tidak, ini terkesan saya seperti sedang mengejar seorang wanita yang saya cintai. Saya tidak akan melakukan itu. Lagi pula, saya tidak mau jadi pebinor," tolak Akandra.
"Loh, bukannya Tuan Akandra tertarik pada Nona Audrey? Dari yang Bibi lihat Tuan sangat menyukai Nona Audrey." Bi Lina menatap lekat tuannya.
"Hush! Jangan katakan itu, saya tidak mungkin menyukai wanita yang sudah menjadi istri orang. Ingat, saya hanya membantunya saja, tidak lebih dari itu," timpal Tuan Akandra dengan tatapan yang palingkan.
"Bibi tahu seperti apa Tuan, Tuan tidak akan sebaik dan se-care ini pada seorang wanita. Entah kenapa hati kecil Bibi mengatakan jika Tuan menyukai Nona Audrey,"
"Itu perasaan Bibi saja, lagi pula saya tidak suka dengan wajahnya!"
"Baiklah, semoga itu hanya perasaan Bibi saja," ucap Bi Lina.
Padahal dalam hati kecilnya Bi Lina, dia sangat yakin jika tuannya ini sedang menyukai Nona Audrey. Meski Tuan Akandra tidak mengakuinya tapi dia sangat yakin akan hal itu. Apalagi melihat ekspresinya yang mendadak berubah pada saat membicarakan Nona Audrey.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Audrey keluar dari ruangan UGD. Melihat itu, Tuan Akandra dan Bi Lina pun langsung menghampirinya. Tanpa banyak basa-basi, Tuan Akandra langsung menanyakan kondisi Audrey.
"Dok, bagaimana keadaannya? Apakah dia selamat?" tanya Akandra dengan wajah yang panik.
"Untunglah pasien segera dibawa ke rumah sakit dan cepat ditangani, karena jika telat 2 menit saja maka akan fatal, nyawanya tidak akan tertolong. Tapi, syukurlah sekarang keadaannya sudah stabil. Luka sayatannya hampir memutus urat nadinya. Anda tidak perlu khawatir, karena pasien akan segera sadar," jelas sng dokter.
"Syukurlah. Terima kasih telah menyelamatkan nyawanya, Dok."
"Sudah menjadi tugas saya untuk menolong para pasien."
"Apa boleh saya menemuinya?" tanya Akandra dengan tatapan mengarahkan para pintu ruang UGD.
"Tentu saja, tapi hanya boleh satu orang. Kalaupun yang lain mau menemuinya, usahakan bergantian jangan terlalu ramai karena itu bisa mengganggu pasien," jawab Dokter.
"Baik, Dok."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Dokter pergi dari hadapan Akandra dan meningalkan ruang UGD.
Akandra hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Setelah itu, dia langsung memasukki ruang UGD untuk melihat kondisi Audrey. Sementara itu, Bi Lina hanya menunggu di luar.
Begitu berada di ruang UGD, dia melihat Audrey sedang terbaring tak berdaya dengan tubuh yang dipasang beberapa alat. Wajahnya sangat pucat. Perlahan Akandra berjalan menghampiri ranjang dan duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah ranjang.
"Audrey ... seberat apa pun masalah yang kamu hadapi, jangan pernah terlintas untuk mengakhiri hidupmu seperti ini. Ingatlah, bundir tidak akan menyelesaikan masalah. Kali ini aku akan mengawasimu agar tidak bertindak bodoh kek gini lagi. Kau harus ingat, jika saat ini kamu berhutang nyawa padaku. Sebagai balasannya kamu harus selalu bersamaku dengan begitu aku bisa melindungimu dari suami bejatmu itu," ujar Akandra dengan menatap iba ada Audrey.
****
Ruang rawat inap ...
Karena kondisi Audrey sudah membaik, Audrey pun dipindahkan ke ruang rawat inap. Kali ini, Audrey tidak ditemani oleh Akandra saja, akan tetapi ditemani juga oleh Bi Lina. Keduanya duduk di sebuah sofa yang sudah disediakan rumah sakit untuk keluarga pasien yang menginap atau datang menjenguk.
Akandra sengaja mengambil ruang VIP agar Audrey bisa segera pulih dan merasa nyaman. Dan benar saja, setelah beberapa jam lamanya, kini Audrey sudah mulai sadar dengan menggerakkan jemarinya satu persatu hingga secara perlahan membuka mata. Melihat perkembangan Audrey, Akandra merasa senang karena setelah berjam-jam lamanya dia menunggu akhirnya wanita yang dia tunggu itu sadar.
Berbeda dengan Audrey, pada saat dia membuka matanya, dia bertanya-tanya kenapa Tuan Akandra menolongnya dari kematian? Kenapa dia repot-repot membawanya ke rumah sakit, kenapa tidak membiarkannya mati saja? Kenapa hanya pria asing ini yang peduli padanya? Di mana suaminya?
Karena perasaan campur aduknya itu yang membuat lelehan air mata Audrey seketika menetes. Kemudian dia memalingkan wajahnya dari Akandra dan juga Bi Lina. Sedangkan Akandra dan Bi Lina yang melihat Audrey meneteskan air mata, langsung berjalan menuju ranjang.
"Akhirnya kamu sadar juga, Audrey." Akandra tersenyum tipis pada Audrey.
Audrey melihat senyuman itu akan tetapi dia memilih untuk tidak menatapnya. Dia terdiam tanpa menanggapi ucapan Akandra. Melihat itu, Bi Lina sangat memahami bagaimana perasaan Audrey sehingga dia menggenggam tangan wanita malang itu dan bersikap ramah.
"Syukurlah Nona Audrey sudah sadar, Nona tahu? Tuan Akandra ini sudah menunggu Nona sejak Nona masih ditangani di ruang UGD," jelas Bi Lina.
Mendengar itu, seketika dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Akandra. Dia menatap tajam pria tampan yang ada di hadapannya. Terlihat jelas pada jas dan kemejanya terdapat banyak noda darah.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Tuan." Tatapan Audrey semakin tajam dan serius.
"Baiklah. Bi, tinggalkan kami berdua!" perintah Akandra pada Bi Lina.
"Baik, Tuan." Tanpa berlama-lama, Bi Lina pun keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka berdua.
Akandra duduk di kursi sebelah ranjang Audrey. "Apa yang mau kamu katakan, Nona?" tanya Akandra dengan nada yang lembut.
"Kenapa Tuan menolongku?" tanya Audrey to the point.
"Pertanyaan macam apa ini?"
"Jawab saja, kenapa Tuan menolongku? Kenapa Tuan tidak membiarkanku mati saja? Aku sudah tidak tahan lagi hidup dengan semua penderitaan ini! Atau Tuan menolongku karena mengira aku ini Nona Alessa?" tuduh Audrey dengan meneteskan air mata.
"Cukup! Jangan pernah sangkut pautkan Alessa dengan dirimu! Kalian sangat berbeda! Lupakan kejadian malam itu, saat itu aku sedang mabuk!" tegas Akandra dengan ekspresi yang beda.
"Lalu, apa yang membuatmu menolongku? Apa aku harus melunasi hutang suamiku terlebih dahulu sebelum aku mati? Atau Tuan ingin bermalam denganku agar hutangku bisa segera lunas?"
"Hutang hutang dan hutang! Aku muak mendengarnya! Apa kamu pikir aku menerima tawaran gila dari suamimu hanya untuk menikmati tubuhmu? Bodoh! Niatku hanya satu, yaitu menolongmu dari pria bejat seperti Devan. Walau aku pria brengsek, tapi aku masih punya hati nurani! Aku tidak akan pernah meniduri wanita yang sudah bersuami! Aku akan tidur dengan wanita yang sudah menjadi istriku saja. Jangan pernah menilai seseorang dari luar atau dari kekayaan orang itu! Ingatlah, Nona ... tidak semua pria yang mapan, brengsek bisa melakukan hal itu! Dengarkan aku baik-baik! Aku menolongmu karena aku ingin memberimu kesempatan untuk hidup lebih baik lagi. Aku yakin kamu wanita yang kuat, makanya aku menolongmu. Tapi, jika langkah ini membuatmu tidak puas, maka akhiri saja hidupmu. Aku akan pastikan tidak akan menolongmu lagi! Camkan itu!" jelas Akandra panjang lebar. Setelah itu, Akandra beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Audrey.
Deg!
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Juan Sastra
nuntut cerai aja drey,, minta bantuan kandra
2023-10-09
1
Yullia Azahra
Audrey ditolong bukannya berterima kasih
2023-06-16
1