Audrey yang mendengar itu seketika menoleh ke arah Akandra sembari mengernyitkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti dengan maksud ucapan Akandra. Sedangkan Akandra hanya tersenyum kecut sembari melewati Audrey dan berbisik kepada Devanka.
Entah apa yang Akandra bisikan, karena setelah itu Devanka langsung pergi meninggalkan Xaquille Home. Audrey hanya bisa menatap kepergian suaminya yang pergi tanpa mengatakan apa pun. Wanita yang digadaikan suaminya itu merasakan ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya sedikit gemetar kala Akandra memandangnya dengan tatapan yang penuh misteri.
"Kalian semua boleh pergi!" perintah Akandra pada para pelayan yang sedang berbaris itu.
Kemudian semua pelayan pun menundukkan kepalanya dan pergi. Sehingga tersisa Audrey dengan sang pemilik rumah. Jantung Audrey tak henti-hentinya terus berdegup karena takut. Kepalanya pun tertunduk tak berani menatap dua mata milik si empunya yang menakutkan itu.
"Ayo, ikuti saya!" Akandra mengajak Audrey ke salah satu kamar.
Audrey mengikuti Akandra dari belakang tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dalam benaknya saat ini hanyalah memikirkan cara untuk keluar dari rumah Akandra. Tanpa dia sadari, pria bertubuh atletis itu pun tiba-tiba menghentikan langkahnya sampai tubuh Audrey menabrak Akandra dari belakang.
Seketika bola matanya langsung membola. "Maafkan saya, Pak." Audrey menundukkan kepalanya sambil meminta maaf.
Akandra yang mendengar permintaan maaf Audrey langsung membalikkan badannya. Dia melipat kedua tangan di dada. Kemudian kedua matanya menatap Audrey dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Makanya kalau jalan itu pandangannya fokus ke depan! Jangan tertunduk seperti itu. oh iya, lebih baik urungkan niatmu untuk kabur dari rumah ini sebab tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari rumah ini dengan mudah!"
Akandra kembali melanjutkan jalannya menuju kamar. Sementara itu, Audrey hanya terdiam mematung. Dia melihat pria dengan bulu mata lentik pergi.
'Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini? Apa dia seorang cenayang?' Audrey bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ekhem! Ayo cepat! Mau sampai kapan berdiri di sana?"
Audrey lagi-lagi dikejutkan dengan pertanyaan Akandra. Kemudian dia berlari menyusul sang pemilik rumah. Sesampainya di hadapan Akandra, pria itu pun memberikan kunci kamarnya pada Audrey.
"Apa ini, Pak?" tanya Audrey dengan menerima kunci itu.
"Itu cincin!"
"Eoh?" Audrey mengerutkan keningnya.
"Itu kunci, Nona! Kenapa kamu bertanya hal konyol seperti itu?" Akandra menggelengkan kepalanya.
"Iya, saya tahu. Maksud saya kenapa Bapak memberikan kuncinya pada saya?" Audrey memasang wajah yang keheranan.
"Lantas ... apa harus saya yang membuka pintunya?" Akandra mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey disertai tatapan yang sangat tajam.
Gleuk!
Audrey tertegun pada saat kedua mata saling bertemu dan bertatapan satu sama lain. Setelah bertatap-tatapan selama beberapa detik, dia pun tersadar dan melangkah mundur berniat untuk menjauhi pria itu. Tidak membuang waktu lagi, wanita yang sudah bersuami ini segera membuka pintunya.
Melihat tingkah wanita yang berada dihadapannya, Akandra hanya bisa tersenyum kecil. Setelah pintu terbuka, dia pun ikut masuk bersama Audrey. Terlihat jelas, pada saat Audrey masuk ke kamar itu, matanya sudah terpana melihat keindahan kamar itu.
Sehingga tanpa dia sadari bibirnya sudah tersenyum lebar. "Apa kamu menyukai kamar ini, Nona?" tanya Akandra sembari mengetes Audrey dengan memegang bahunya yang tidak tertutup pakaian itu.
Seketika Audrey langsung terlonjak kaget. Kedua bola matanya menyorot tajam ke arah Akandra. Dengan sigap kedua tangannya ia silangkan di dada untuk menutupi barang berharganya.
Lagi-lagi Akandra hanya tersenyum miring, lalu kakinya melangkah ke arah lemari pakaian yang terbuat dari kaca transparan. Terlihat dengan jelas, pria pemilik ruangan ini mengambil salah satu pakaian tidur berupa piyama dan membawanya. Tanpa mengatakan apa pun, Akandra memberikan piyama itu pada Audrey, lalu pergi.
"Tunggu dulu!" ucap Audrey yang keheranan dengan Akandra yang tiba-tiba memberikan pakaian padanya.
"Jangan bertanya! Pakai saja piyamanya! Kamu lebih cocok dengan pakaian tertutup!" timpal Akandra tanpa menoleh ke arah Audrey.
"Tapi ... piyama ini milik siapa? Bagaimana jika pemilik pakaian ini marah jika aku yang pakai?"
Huft!
Akandra mendengus kesal. Dengan cepat dia membalikkan badan dan mendekati Audrey. Tatapannya merah pekat, entah apa yang terjadi. Yang jelas, tatapan Akandra saat ini menunjukkan jika dirinya sedang marah.
'Ada apa dengannya? Apa aku berbuat kesalahan?' tanya Audrey dalam hatinya dengan diselimuti ketakutan yang belum mereda.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yullia Azahra
baik juga yang punya rumah
2023-06-09
1