Ibu panti menghela napas panjang. "Ibu sudah lama menunggu pertanyaan ini darimu, Audrey. Akhirnya setelah sekian lama kamu bertanya mengenai saudari kembarmu," ujar Ibu panti.
"Jadi benar ... kalau aku mempunyai saudari kembar?" tanya Audrey sekali lagi untuk memastikannya.
Ibu panti mengangguk mantap. "Benar, kamu mempunyai saudari kembar."
"Apa nama saudari kembarku, Alessa?" tebak Audrey.
Mendengar itu, sontak Ibu panti membelalakkan matanya karena terkejut. "Benar, nama saudarimu Alessa. Tapi, dari mana kamu tahu soal saudari kembarmu? Apa kamu sudah bertemu dengan Alessa?" tanya Ibu panti.
"Tidak, aku tidak pernah bertemu dengannya. Yang ingin aku tanyakan sebenarnya, kenapa Ibu menyembunyikan semua ini dariku? Kenapa Ibu tidak pernah memberi tahuku soal Alessa?" tanya Audrey dengan mata yang berkaca-kaca seakan ingin menangis.
"Maafkan, Ibu. Semua ini terjadi begitu cepat. Dulu waktu kalian masih bayi, kalian diadopsi oleh keluarga yang berbeda. Semenjak itu kalian jarang mengunjungi panti. Namun, setelah beberapa tahun, kamu menjadi lebih sering datang ke panti. Sementara Alessa dia tidak pernah datang. Tapi, setelah kamu menikah keadaan jadi berbanding terbalik. Alessa mulai mendatangi panti dan sering bermain bersama anak-anak panti. Dan semenjak itulah, Alessa meminta Ibu untuk tidak memberi tahumu mengenai saudari kembarmu," jelas Ibu panti.
"Tapi, kenapa? Apa alasannya untuk tidak memberi tahuku? Apa dia tidak ingin memiliki saudari kembar sepertiku?" Audrey akhirnya pun meneteskan air mata dengan mengeluarkan suara yang lirih.
"Untuk hal itu, Ibu tidak tahu pasti, Nak."
"Apa Ibu tahu? Karena ulahnya inilah yang membuatku tidak bisa bertemu dengannya. Aku tidak punya kesempatan untuk bertemu dengannya," tangisan Audrey semakin pecah.
"Apa maksudmu?"
"Alessa udah enggak ada, Bu. Alessa sudah meninggal," jawab Audrey dengan langsung memeluk sang Ibu panti.
Deg!
Jantung Ibu panti seketika berhenti berdetak. Rasanya seperti disambat petir di siang bolong. Seketika air matanya langsung berjatuhan membanjiri pipinya.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un, kenapa kamu baru memberi tahu Ibu? Bagaiamana Alessa bisa meninggal? Apa dia sakit?" tanya Ibu panti dengan suara tangisnnya yang pecah.
"Aku tidak tahu. Aku baru mengetahuinya sekarang. Aku juga baru tahu jika aku memiliki saudari kembar. Aku menyesal, kenapa aku tidak mengetahui ini sedari dulu. Mungkin aku tidak akan kehilangan saudariku." Audrey memeluk erat Ibu panti.
"Ibu turut berduka cita ya, Nak. Maafkan Ibu, seharusnya Ibu tidak menuruti permintaan Alessa. Seharusnya Ibu memberi tahumu soal ini. Ibu menyesal, maafkan Ibu." Ibu panti membalas pelukan Audrey dengan penuh kehangatan.
Namun, Audrey tidak mengeluarkan suara lagi. Karena panik, Ibu panti pun melepaskan pelukannya. Dan benar saja, begitu pelukan itu terlepas Audrey langsung jatuh pingsan.
"Audrey!" pekik Ibu panti dengan histeris.
Ibu panti mencoba untuk menyadarkan Audrey dengan menepuk-nepuk kedua pipinya agar tersadar. Namun, upayanya tidak berhasil. Dia semakin panik pada saat melihat pergelangan tangan Audrey mengeluarkan darah segar yang keluar dari sela-sela lilitan perban di pergelangan tangannya.
"Anak-anak, bantu Ibu!" teriak Ibu panti memanggil semua anak-anak panti.
Dengan cepat, beberapa anak panti yang sudah besar datang. Melihat anak panti sudah berada di hadapannya, Ibu panti segera meminta anak panti untuk membantunya. "Nak, tolong bantu Ibu membawa Audrey ke kamarnya. Dan untuk Adam, kamu telepon dokter Hendrik sekarang juga, cepat!" perintah Ibu panti.
"Baik, Bu."
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yullia Azahra
baik sekali ibu panti ini
2023-06-19
1