"Devanka, suami Nona Audrey," jawab Pak Arman.
"Ya sudah, biar saya yang temui dia." Akandra dengan wajahnya yang kesal berjalan menuju pintu utama.
Audrey yang mendengar nama suaminya pun mengikuti langkah Akandra menuju pintu. Sesampainya di luar, keduanya melihat Devanka sedang berdiri sembari memegang dua botol minuman beralkohol. Mengetahui orang yang dia tunggu sudah muncul di hadapannya, Devanka pun mendekati sang istri dengan langkah yang sempoyongan.
"Istriku, haha. Kamu terlihat sangat cantik setelah tinggal di rumah mewah ini, haha," Devanka meracau dengan tawa yang tidak jelas.
"Mas, kam--"
"Berhenti!" potong Akandra dengan menghadang jalan Audrey yang hendak mendekati suaminya.
Audrey langsung menghentikan langkahnya sembari menoleh ke arah Akandra. "Tapi, Tuan ... dia suamiku,"
"I know. Stop and stay there!" perintah Akandra dengan suara yang tegas.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Audrey harus menuruti perintah Akandra. Saat ini dia tidak berdaya sebab ia hanya istri yang digadaikan suaminya. Ingin rasanya dia mendekati Devanka dan memeluknya akan tetapi tidak bisa karena persyaratan yang sudah ditandatangani suaminya.
"Apa yang membuatmu datang ke mari? Ingatlah, hutangmu cukup banyak dan butuh waktu lama untuk melunasinya!" tegas Akandra. Dia kembali mengingatkan Devanka.
"Haha, saya ingat itu. Saya datang ke mari bukan untuk mengambil Audrey, melainkan saya ingin meminta uang pada istriku," celetuk Devanka tanpa perasaan.
"Apa? Uang?" seketika bola mata Audrey terbelalak dengan sempurna.
"Ya, uang. Cepat berikan aku uang!" bentak Devanka.
"Gila kamu, Mas? Aku tidak punya uang. Kamu tahu sendiri kalau aku sekarang tidak bekerja! Bukankah kamu sendiri yang menggadaikan aku pada Tuan Akandra? Lalu, untuk apa kamu datang ke mari jika kamu hanya ingin meminta uang, hah?" timpal Audrey dengan nada kesal.
"Sebab uang lebih menggoda darimu, Sayang. Hidup ini memerlukan banyak uang, dan kamu sebagai ATM berjalanku harus selalu sedia uang disaat aku datang menemuimu dan meminta uangnya!"
Deg!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Audrey merasa jantungnya seketika berhenti berdetak. Lututnya terasa lemas kala mendapat kecaman dari suaminya, pria yang sangat dia sayangi. Air mata pun tak mampu dibendung lagi, kini akhirnya air mata berharganya jatuh. Saat ini bukan hanya malu di hadapan Tuan Akandra melainkan dirinya merasa tidak ada harga dirinya sama sekali sebagai seorang istri.
Saking tidak tahannya menahan rasa sakit sekaligus rasa malu, Audrey perlahan melangkah mundur hingga akhirnya dia berbalik badan dan lari. Sementara itu, Akandra yang mendengar hal yang seharusnya tidak dia dengar merasa sangat kesal. Walau dulunya dia adalah pria brengsek, akan tetapi dia tidak pernah memperlakukan seorang wanita seperti itu.
Jangankan memperlakukannya, melihat wanita diperlakukan seperti itu saja dia sangat tidak punya keberanian akan hal itu. Tanpa berlama-lama, Akandra memanggil Pak Arman. "Pak Arman! Bawakan saya cek dan pulpen!" panggil Akandra sedikit berteriak sembari memerintah.
Tak membutuhkan waktu lama, Pak Arman pun datang dengan membawa cek dan pulpen yang diminta tuannya. "Ini, Tuan." Pak Arman memberikan cek tersebut dan kembali ke posisinya.
Dengan cepat Akandra menulis nominal yang cukup besar agar Devanka tidak mendatangi kediamannya dan kembali berulah. "Saya berikan uang ini dengan dua syarat!" tegas Akandra sebelum memberikan cek tersebut.
"Apa pun persyaratannya, akan saya penuhi. Jika Tuan Akandra menginginkan seorang anak, Tuan bisa menghamili istriku," timpal Devanka.
Bugh!
Akandra naik pitam dan langsung melayangkan satu pukulan keras tepat di sudut bibir pria mabuk itu sehingga mengeluarkan darah segar. Devanka yang terjungkal karena pukulan itu pun seketika langsung berdiri dan mengusap darah di sudut bibirnya. Melihat itu, Akandra kembali mencengkram leher Devanka dan menunjukkan kemarahannya melalui matanya.
"Br*ngsek! Saya tidak mungkin menghamili wanita yang bukan istriku! Pergi kau! Sebelum kau saya bunuh!" Akandra melepaskan cengkramannya dan mendorong sejauh satu meter.
"Dan ingat! Jangan pernah injakkan kakimu lagi sebelum hutangmu lunas!" teriak Akandra.
Akandra berbalik badan dan berjalan memasuki rumahnya. "Pak Arman, pastikan pria gila itu pergi dari rumahku!" perintah Akandra pada Pak Arman.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Juan Sastra
apa persyaratannya thorr..kok ggak di sebut
2023-10-09
1
Yullia Azahra
bodoh suami macam apa gtu,kasi racun tikus aja hhaa
2023-06-14
1