Pagi hari ....
Tak terasa, malam telah berganti pagi, bulan dan bintang pun telah berganti sinar mentari yang begitu menghangatkan tubuh. Sinar mentari menyinari kamar utama. Tuan Akandra masih terlelap dengan posisi tangan kanan tempelkan di dahi. Sementara di sampingnya terlihat Audrey tengah tertidur pulas dengan posisi duduk di sebuah kursi tepatnya di tepi ranjang.
Perlahan Tuan Akandra mulai membuka kedua matanya pada saat sinar mentari menyorot tepat di wajah tampannya. Begitu sudah sepenuhnya membuka mata, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Audrey tengah terlelap di sampingnya dengan memegang lengan Akandra. Pria yang baru saja bangun tidur itu pun secara perlahan menarik lengannya dari pegangan Audrey.
Setelah berhasil mengambil tangannya, dia pun memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan pergi mandi. Sementara itu Audrey masih terlelap di dalam mimpinya yang panjang. Di sisi lain, Akandra yang sudah berendam dalam bath up kesulitan mengingat kejadian semalam.
"Apa yang telah aku lakukan pada wanita itu? Apa semalam terjadi sesuatu antara aku dengan istri gadaian itu?" Akandra memijat pelipisnya karena merasa sedikit pusing.
"Aarrghh, sial! Kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun? Apa aku tanya langsung saja pada wanita itu? Ya, sepertinya aku harus bertanya padanya."
Akandra dengan cepat keluar dari bath up dan menyelesaikan mandinya. Dia harus mengetahui apa yang terjadi padanya semalam. Hanya dalam beberapa menit, pria yang memiliki tubuh atletis pun telah menyelesaikan rutinitas paginya sebelum beraktivitas.
****
"Hoamm!" Audrey menguap dengan telapak tangan menutup mulutnya yang tengah menganga.
Dia belum sepenuhnya sadar, Audrey masih memandang isi kamar yang ia tidurin semalaman. Pada saat dia menyadari jika dia berada di kamar sang pemilik rumah, dia langsung mengucek-ngucek kedua matanya untuk memastikan jika dia memang berada di kamar utama. "Ekhem!" tiba-tiba Audrey mendengar seorang pria berdehem.
Brughh!
Audrey terjatuh akibat terkejut dengan apa yang dia lihat. Bok*ngnya merasa sedikit sakit pada saat bok*ngnya mencium lantai. Audrey terkejut bukan main melihat sosok pria tampan dengan rambut yang masih basah dengan lilitan handuk di pinggangnya sedang berdiri di sampingnya. Wanita itu sempat meringis, namun, tampak dia duga tiba-tiba tangan kekar Akandra mengulurkan padanya. Seakan mengerti maksudnya, Audrey bangun dengan memegang tangan kekar tersebut.
"Terima kasih, Tuan." Audrey menundukkan sedikit kepalanya.
Tidak nyaman berada di kamar Tuan Akandra, Audrey pun membalikkan badannya dan hendak keluar dari kamar itu. Akan tetapi sebelum melangkah, tubuhnya dibuat terdiam bak patung. "Tunggu dulu, kamu mau ke mana?" tanya Akandra.
Deg!
Jantung Audrey kembali berdegup kencang, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dengan Tuan Akandra. 'Entah apa lagi yang akan pria ini lakukan padaku?' batinnya bertanya-tanya.
"Apa semalam kita melakukan--"
"TIDAK!" sontak Audrey langsung menjawab tanpa mendengar ucapan Tuan Akandra sampai selesai.
"Kamu yakin?" tanya Akandra lagi. Kali ini dia bertanya dengan tatapan yang serius.
Dengan cepat, Audrey menganggukkan kepalanya. Dia sangat ingat jelas jika semalam Tuan Akandra jatuh tak sadarkan diri setelah memeluknya dari belakang dan mengatakan sesuatu yang membuatnya kebingungan. Hal itulah yang membuat dirinya terjebak semalaman bahkan sampai ketiduran di kamar sang pemilik rumah.
"Kita tidak melakukan apa pun, Tuan. Bolehkah saya pergi?" Audrey mulai memberanikan diri untuk menatap dua bola mata yang menatap tajam ke arahnya.
"Apa kamu lupa? Masa gadaian kamu belum habis! Itu artinya kamu tidak boleh pergi ke manapun tanpa seizinku!"
"Saya tahu itu, Tuan. Saya tidak akan keluar dari rumah ini, saya hanya ingin membantu yang lain untuk beres-beres rumah agar hutang suamiku bisa cepat lunas dan aku bisa kembali pada Mas Devan," timpal Audrey.
Mendengar itu, Akandra tertegun beberapa saat. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang istri yang telah diperlakukan tidak layak oleh suaminya masih ingin kembali? Padahal sudah jelas-jelas jika dia secara tidak langsung sudah dijual oleh pria yang dia cintai itu.
"Jangan lakukan itu! Kamu itu tamuku. Tidak sepantasnya aku memperlakukan tamu seperti itu,"
"Hah? Tamu?" Audrey mengernyitkan kedua alisnya. "Bukankah Tuan tahu sendiri kalau saya ini hanya istri gadaian? Lalu kenapa sekarang berubah pikiran? Apa Tuan melarang saya untuk tidak melakukan pekerjaan rumah agar hutang suamiku tidak cepat lunas? Atau Tuan masih mengira kalau saya ini Nona Alessa?" skak Audrey.
"Hentikan itu! Pergi dari kamarku!" bentak Akandra dengan mimik wajahnya yang berubah 180°.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Juan Sastra
sudah tua masih labil aja pak akandra
2023-10-09
1
Yullia Azahra
ah kadang seperti harimau tuan Akandra nih
2023-06-14
1