Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah. Pak Arman yang masih berdiri di sekitar meja makan pun segera menghampiri tuannya. Yup, pria paruh baya itu tahu jika itu adalah Tuan Akandra.
"Saya akan menemui Tuan Akandra, jika Nona sudah selesai, Nona bisa kembali ke kamar," ucap Pak Arman pada Audrey sebelum ia pergi.
Audrey yang baru saja menghabiskan makanannya pun hanya mengangguk. 'Ternyata makanan ini aman. Aku baik-baik aja setelah makan makanan ini, tapi ... aku heran, kenapa mereka semua baik sekali padaku?' batin Audrey bertanya-tanya sekaligus kebingungan dengan apa yang dia alami ini.
Selesai makan, Audrey beranjak dari duduknya. Dia membersihkan meja makan serta mengambil piring-piring yang kotor untuk dia cuci di wastafel. Namun, baru beberapa ia melangkahkan kakinya, kepala pelayan melarangnya untuk melakukan itu.
"Sebaiknya Nona tidur, biarkan kami yang melakukan ini. Ini tugas kami," ujar pelayan itu.
"Tapi, ini bekas makan saya. Biarkan saya saja yang mencucinya. Lagi pula ini tidak terlalu banyak," timpal Audrey dengan ramah.
"Jangan, jika Tuan Akandra tahu kami bisa kena hukuman. Tolong mengertilah, Nona." Kepala pelayan itu menatap Audrey dengan tatapan yang serius.
"Baiklah, kalau begitu saya akan kembali ke kamar. Terima kasih sudah menyiapkan makanan mewah dan sangat enak," Audrey berterima kasih disertai dengan senyuman yang manis.
Kepala pelayan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, Audrey berjalan meninggalkan meja makan. Setelah melewati ruang tengah, dia mulai menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
Bersamaan dengan itu, pintu utama terbuka lebar dan terdengar suara Tuan Akandra yang sedang meracau. Audrey yang mendengar itu, sontak menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga dan membalikkan badannya. Pada saat dia membalikkan badan, kedua pasang mata kembali bertemu dan saling menatap satu sama lain.
Dengan matanya yang teler, Tuan Akandra berjalan sempoyongan menghampiri Audrey sembari menunjukkan seringaian yang sedikit menyeramkan. Melihat itu, Audrey menelan salivanya dan secara tiba-tiba, tubuhnya kaku. Dalam hitungan beberapa detik, kini Tuan Akandra sudah berada di hadapannya.
Sementara itu, Affandra, sang adik dari Akandra hanya tercengang melihat wajah Audrey. Bagaimana tidak, wajah wanita itu benar-benar sangat mirip dengan mantan tunangan kakaknya. Bukan hanya wajahnya saja yang cantik, akan tetapi bentuk tubuhnya yang benar-benar mirip.
Affandra tidak bisa mengendalikan pandangannya sebab dia tidak habis pikir, kok ada wanita yang semirip itu dengan Alessa. Sehingga sang adik Akandra itu pun saling bertatapan dengan Pak Arman. Seakan tahu apa yang ada di dalam benak Affandra, Pak Arman pun menganggukkan kepalanya.
"Alessa, kamu masih hidup?" Akandra tiba-tiba menangkup kedua pipi Audrey.
Audrey membelalakkan matanya pada saat telapak tangan sang pria asing menyentuh kedua pipinya. "Alessa? Siapa dia?" tanya Audrey dengan tatapan yang bingung.
"Apa kamu sedang bercanda, Sayang? Kamu Alessa! Aku yakin kamu Alessa, apa kamu sengaja melupakanku?" Akandra menatap Audrey dengan mata yang sendu.
"Apa yang Tuan katakan? Saya Audrey! Saya bukan Alessa. Menjauhlah, Tuan tidak berhak menyentuh saya seperti ini! Saya sudah memiliki suami!" timpal Audrey dengan menepis kedua tangan Akandra.
Affandra dengan cepat menarik kakaknya dari wanita yang mirip dengan Alessa itu. "Kak, sadarlah! Dia bukan Kak Alessa! Dia wanita yang beda!" bisik Affandra di telinga kakaknya.
"Lepaskan aku, Fan! Dia itu Alessa, dia tunanganku! Apa kau buta? Lihat dia baik-baik! Dia itu ALESSA DEANA!" bentak Akandra dengan tatapan matanya yang tajam.
"Tapi, saya bukan Alessa, Tuan Akandra! Saya AUDREY ELFRIDA!" timpal Audrey dengan nada yang tegas.
"Saya tidak akan tertipu lagi! Ikut aku!" Akandra menarik lengan Audrey dan membawanya ke kamar utama.
Dengan jalannya yang sempoyongan, Audrey mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Tuan Akandra, akan tetapi genggamannya semakin kuat. Sesampainya di pintu kamar utama, Akandra mengusap layar sensor yang ada pada pintu dan menempelkan jarinya agar bisa pintu bisa terbuka. Yup, pintu itu akan terbuka dengan sidik jari pemiliknya.
Kini di hati Audrey sudah merasakan ketakutan yang luar biasa. Di mana Akandra mendudukkan Audrey secara paksa Audrey di ranjang. Setelah itu, dia berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya.
Perlahan dia berbalik badan dan kembali mendekati Audrey yang tengah ketakutan. Dia berdiri dan hendak menghindari Tuan Akandra akan tetapi tidak berhasil karena pria yang sedang mabuk itu pun telah memeluknya dari belakang. Audrey hanya bisa meneteskan air matanya.
"Alessa, aku menyayangimu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi, selama ini aku selalu menunggumu. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu," ucapan Akandra terdengar lirih dan begitu menyayat hati.
Audrey yang mendengar lirihan itu hanya terdiam. Sehingga mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang keras. "Kak, apa yang kau lakukan? Jangan sakiti Nona Audrey!" teriak Affandra dari luar pintu.
Tok! Tok! Tok!
"DIAMLAH! Aku tidak akan menyakitinya lagi! Aku akan menyayanginya mulai saat ini!" bentak Akandra dari dalam kamar.
Deg!
'Menyakitinya lagi? Apa maksudnya? Apa Tuan Akandra pernah menyakiti tunangannya, Nona Alessa?' batin Audrey bertanya-tanya dengan apa yang Akandra lontarkan.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Juan Sastra
nah loh alessa mati karena sakit hati kali thorr
2023-10-09
1
Yullia Azahra
klo menikah Audrey dgn Akandra setuju bgt cocok
2023-06-14
1