Ingar bingar musik menyapa Akandra dan Affandra, saat kedua lelaki itu menapakkan kakinya di lantai club malam yang cukup terkenal di kota ini. Aroma alkohol bercampur asap nikotin cukup membuat dadanya penuh sesak. Matanya mengedar ke seluruh penjuru bar. Lantai dansa penuh dengan para manusia dengan pakaian kekurangan bahan meliukkan tubuhnya.
"Kakak yakin? Tidak mau mengurungkan niatmu?" tanya Affandra pada sang kakak.
Akandra mengangguk, ia memilih berjalan mendekati meja bar di depan sana. Dia memilih duduk di bar stool, yang kebetulan kosong. Hanya ada satu wanita yang duduk di ujung setengah mabuk. Terlihat dari cocktail dalam gelasnya hampir tandas, dan tubuhnya sedikit oleng.
Tanpa mempedulikan keberadaan si wanita itu, Akandra duduk dan memesan cocktail pada bartender. Sang bartender itu dengan ramahnya bersiap untuk meracik minuman seenak dan semewah mungkin untuk Akandra yang merupakan pemilik Bar tersebut. Affandra yang melihat kakaknya bertingkah aneh hanya bisa terdiam sembari ikut duduk di sebelahnya.
Berbeda dengan kakaknya, Affandra hanya memesan espresso base pada barista yang bertugas untuk menyajikan aneka menu kopi mulai dari espresso base yang dibuat menggunkan mesin espresso maupun espresso maker manual. Dia sengaja tidak memesan cocktail karena jika mereka kedua mabuk, bisa bahaya. Setidaknya salah satu dari mereka harus menyetir. Setelah minuman siap, keduanya pun menikmatinya dengan ekspresi yang berbeda.
"Kak, are you okay?" tanya Affandra dengan memulai pembicaraan.
"Hmm."
Hanya itu jawaban Akandra. Affandra yang mendengar jawaban singkat itu merasa yakin jika kakaknya sedang tidak baik-baik aja. Dia menepuk pelan pundak pria yang berada di sebelahnya.
"Katakan, apa Kakak teringat Kak Alessa lagi?" tebak Affandra dengan tatapan yang serius.
Akandra yang hendak meneguk cocktail tidak jadi. Dia menaruh kembali minuman itu dan menoleh ke samping. Pria yang sedang gelisah itu pun mulai menghembuskan napasnya berat.
"Aku tidak bermaksud untuk mengingatnya kembali tapi--"
"Tapi apa? Apa ada seseorang yang kembali mengingatkanmu?" Affandra memotong pembicaraan sang kakak.
Perlahan Akandra mengangguk mantap. "Ya, ada seorang wanita yang sangat mirip dengan Alessa." tatapan Akandra mulai berkaca-kaca.
"Siapa wanita itu?" Affandra memasang wajah yang penasaran.
"Namanya Audrey,"
"Siapa wanita itu?"
"Dia adalah seorang istri yang digadaikan suaminya padaku,"
"Apa?" Seketika kedua bola mata Affandra membulat dengan sempurna karena sedikit terkejut.
"Tapi, bagaimana itu mungkin? Untuk apa suami menggadaikan istrinya sendiri dan untuk apa dia menggadaikan istrinya yang sangat berharga?" Saat ini banyak pertanyaan dalam benak Affandra.
"Dia ingin melunasi hutangnya padaku dengan menggadaikan istrinya."
"Kenapa Kakak mau-mau saja menerima gadaian itu? Apa semirip itu wajah wanitanya sampai Kakak mau menerima istri gadaian?" skak Affandra dengan wajah yang keheranan.
"Apa kau sungguh berpikir jika aku menerima wanita itu hanya karena mirip dengan Alessa?" alih-alih menjawab Akandra justru balik bertanya.
"Lantas? Apa alasanmu, Kak? Oh iya, tunjukkan dulu foto wanita itu!"
"Jika kau ingin tau, kau datang saja ke rumahku. Asal kau tahu, alasan aku menerima wanita itu karena aku ingin melepaskan dia dari penderitaannya. Kau tahu? Suami Audrey itu suka KDRT, selain itu uang untuk dia berjudi berasal dari istrinya yang banting tulang mencari uang. Aku hanya ingin membantunya sedikit saja, tidak ada hal lain."
"Kau yakin?"
"Hmm," jawab Akandra sesingkat mungkin.
Setelah itu Akandra melanjutkan minum cocktail ditemani adiknya. Suara yang bising, lampu yang remang-remang membuat kepala Akandra semakin pusing. Kedua bola matanya sudah memerah sampai akhirnya dia mabuk dan tertidur di meja bar.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Yullia Azahra
baik juga pak Akandra
2023-06-11
2