Lain Evelyn, lain lagi dengan Devan, pria itu baru menyadari Evelyn telah pergi setelah beberapa hari dia tak menghubungi Devan, biasanya Evelyn akan menghubunginya setiap hari bahkan nyaris setiap jam.
Namun ini adalah hari ke tiga ponselnya tak menunjukan notifikasi pesan dari Evelyn.
Kemana kekasihnya itu..
Devan menggerakkan jarinya di atas layar ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan.
[Sayang dimana kau?]
Devan mengeryit saat pesannya hanya centang satu "Ponselnya tidak aktif?"
Devan kembali mengirimkan pesan
[Aku merindukanmu]
[Aku ingin memelukmu]
[Dan bercinta denganmu]
Devan tersenyum lalu meletakkan ponselnya, nanti saat ponsel Evelyn sudah aktif, kekasihnya itu akan segera menghubunginya karena kata- katanya yang manis.
Beberapa hari ini Devan memang sengaja tidak menemui Evelyn karena sedang merasa gamang dengan hatinya, Devan awalnya memang memanfaatkan Evelyn saat melihat gadis itu pertama kali di kampus, melihat keluguannya membuat Devan bersemangat untuk mendapatkan gadis itu, apalagi jika dia juga bisa mendapatkan kegadisannya.
Tidak sulit bagi Devan untuk meluluhkan hati Evelyn, apalagi dengan predikatnya sebagai pria paling tampan di kampus.
Devan hanya sedikit bermain dengan kata- kata manis dan gadis itu terjerat.
Dalam waktu satu bulan Devan bahkan sudah mulai mendapatkan kepercayaan gadis itu untuk mendapatkan kegadisannya, hingga berbulan- bulan hubungan mereka dirinya hanya meluapkan hasr atnya pada Evelyn saja, seolah sudah menjadi candunya.
Devan yang awalnya hanya ingin bermain- main, malah merasa terjerat sendiri dan tak bisa melepaskan bayangan gadis lugu itu, hingga tiga hari kebelakang dia memutuskan menguji dirinya dengan sesuatu yang ekstrim.
Devan mengelak hatinya sendiri dengan bercinta bersama wanita lain, bahkan berkata pada wanita itu jika Evelyn hanya seperti pela cur gratis untuknya.
Namun usai mengatakan itu perasaan Devan malah merasa membenci dirinya sendiri dan marah juga sakit hati akan perkataannya yang buruk tentang Evelyn.
Hatinya mengatakan bahwa Evelyn bahkan sangat berharga untuknya.
Bukan, bukan itu yang Devan inginkan, dia ternyata menyadari bahwa dirinya sudah jatuh pada pesona Evelyn.
Perasan tak nyaman akhir- akhir ini rupanya rasa bersalah nya yang hanya menjadikan gadis itu mainan, namun nyatanya Evelyn bahkan lebih berharga dari permata, dan Devan kini yakin tentang perasaannya.
Dia benar- benar menyukai, mencintai Evelyn.
Menunggu pesan balasan dari Evelyn tanpa terasa Devan tertidur, dan bahkan setelah dia bangun pesan dari Evelyn tak kunjung datang.
Saat terbangun di pagi hari yang pertama Devan lakukan adalah mengecek ponselnya yang masih juga tak ada balasan dari Evelyn.
Devan mengeluh "Kemana kau sayang?" Devan memutuskan untuk menghubungi Evelyn namun tetap saja ponselnya tidak bisa di hubungi.
Rasa khawatir mulai membayangi Devan, takut sesuatu terjadi pada Evelyn.
Devan bergerak membersihkan dirinya dan memutuskan pergi ke kampus untuk mencari Evelyn disana.
Setibanya di kampus Devan berjalan ke arah kelas yang harusnya Evelyn hadiri sebagai mata kuliahnya, namun Devan mengeryit saat tak melihat Evelyn disana, "Apa dia belum datang?" gumamnya, Devan memutuskan untuk menunggu, namun setelah beberapa menit Evelyn tak juga muncul, bahkan hingga dosen memasuki kelas, Evelyn tak juga datang.
Lama menunggu bahkan hingga kelas bubar Devan pun berdiri saat melihat salah satu teman sebangku Evelyn kaluar dari kelas, "Kau tahu dimana Eve?" Devan bertanya tanpa basa basi.
Wanita yang mendapat pertanyaan dari Devan mengeryit "Sudah tiga hari ini Eve tidak hadir, tapi dari yang aku dengar dia sudah tidak kuliah di sini lagi.." Devan tertegun.
"Apa?"
"Entahlah, tanyakan pada mr. Gio" wanita itu menunjuk dosennya yang baru saja keluar dari kelas.
Devan masih mengerjapkan matanya, ada apa dengan Evelyn, kenapa dia mengakhiri kuliahnya, apa gadis itu kesulitan uang.
Devan tahu Evelyn adalah gadis yang tumbuh di keluarga sederhana, namun tidak bisa di katakan miskin juga, karena ayahnya memiliki usaha garmen meski tidak terlalu besar.
Devan berjalan ke arah ruangan mr, Gio yang tak lain adalah dosen mata kuliah Evelyn.
Dan Devan hanya bisa tercengang saat mendapatkan jawaban dari mr. Gio.
"Orang tua Eve memang datang beberapa hari lalu untuk memutuskan kuliah Eve, mereka mengatakan jika keluarga mereka akan pindah keluar negeri."
Devan tertegun, dan hanya bisa membeku di tempatnya, Evelyn pergi..?
Tapi kenapa dia tak memberitahunya, setidaknya Evelyn bisa berpamitan.
Tak masalah bagi Devan kemana pun Evelyn pergi, Devan dengan mudah bisa mengunjunginya jika sedang rindu, tapi kenapa Evelyn tidak memberi tahunya sama sekali.
Lalu tiba- tiba menghilang tanpa kepastian tentang hubungan mereka, Evelyn pergi bahkan tanpa mengatakan apa hubungan mereka akan bertahan atau usai sampai di sini..
Devan kehilangan jejak Evelyn bahkan saat dia mendatangi kediaman keluarga Evelyn yang ternyata sepi penghuni.
Para tetangga mengatakan beberapa hari lalu mereka pergi dan mengatakan akan pindah.
Saat Devan bertanya kemana keluarga itu pindah, tetangga Evelyn mengatakan bahwa mereka pergi ke negara xxx, namun saat Devan menyelidiki dan mencari di negara tersebut Devan tak menemukan mereka, Devan bahkan sampai mengerahkan orangnya untuk menyusuri negara tersebut hingga ke kota terkecil namun tetap saja Evelyn tidak di temukan.
Perasan Devan berkecamuk, dengan rasa tak menentu, rasa sedih, marah dan kecewa karena Evelyn meninggalkannya dengan kisah mereka yang tidak di akhiri..
Namun Devan juga tak bisa menghilangkan rasa bersalahnya untuk kesalahannya pada Evelyn..
Yang Devan tak tahu Evelyn pergi karena kenyataan yang dia ketahui dan rasa sakit yang teramat atas Devan yang hanya menganggapnya sebagai pela cur geratisnya saja.
...
Jadi?
Lanjut?
Sabaarrr
Aku mau ajukan dulu kontrak🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Ipul Pasha
q kecewa padamu Devan.
2024-04-23
0
aira aira
eve sama willy aja
2023-09-05
0
Nur halimah
terjawab sudah rasa penasaran qu😁😁lanjut thor💪💪
2023-06-18
1