Evelyn benar- benar pergi ka luar negeri, berharap bisa memulai hidup baru dengan bayinya kelak, setelah menjual kalung pemberian dari Devan yang lumayan mahal dia membeli tiket pesawat, dan mencari sebuah rumah kecil untuk dia sewa.
Setelah mendapatkan rumah kecil, Evelyn akan mencari pekerjaan, lalu menabung untuk persalinannya kelak, semua sudah Evelyn rencanakan dengan matang berapa untuk makan sehari- hari lalu berapa untuk dia tabung, namun ternyata mencari pekerjaan tidaklah mudah, hingga beberapa minggu Evelyn belum juga mendapatkan pekerjaan sedangkan tabungannya sudah menipis, lalu bagaimana jika ada kebutuhan mendesak.
Evelyn menyadari jika sejak mengetahui dirinya hamil dia juga belum memeriksakan dirinya ke dokter bagaimana keadaan bayinya apakah sehat?.
Tangan Evelyn mengelus lembut permukaan perutnya "Baiklah ayo kita ke dokter.." Evelyn memutuskan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan bayinya.
"Bayi mu tumbuh dengan bagus namun masih belum sempurna usia kandunganmu baru 12 minggu, jika ingin mengetahui jenis kelaminnya datanglah setelah bayi berusia 16 minggu atau lebih" Evelyn mengiyakan perkataan dokter, namun sampai saat itu tiba Evelyn masih tak memiliki uang untuk memeriksakan kembali kandungannya, sekarang uangnya sudah habis bahkan Evelyn yang hanya memakan mie instan setiap hari untuk berusaha menghemat, tapi tetap saja dia kehabisan uang.
Mencari pekerjaan sangat sulit apalagi dalam kondisi tubuh Evelyn yang sedang mengandung, setiap kali Evelyn mendatangi tempat yang tertulis 'lowongan pekerjaan', tempat itu selalu menolaknya.
Seperti hari ini Evelyn baru saja keluar dari sebuah restoran yang di depan pintunya memajang pengumuman lowongan pekerjaan, tapi dia di tolak karena sedang hamil.
Rata- rata dari mereka tak ingin mengambil resiko memperkerjakan wanita hamil.
Evelyn berjalan menyusuri trotoar, kakinya sudah lemas karena sejak tadi dia menggunakan kakinya berjalan berkilo- kilo meter untuk mencari pekerjaan, karena uangnya sudah habis dia tak bisa menaiki kendaraan bahkan bis yang merupakan alat tranportasi termurah.
Evelyn mendudukan dirinya di sebuah halte, saat bis datang dan orang- orang berkerumun untuk naik, Evelyn hanya diam dan menatap miris.
Hari sudah semakin gelap dan Evelyn masih diam disana, perasaan marah, sedih dan kacau menghantuinya, Evelyn menunduk meremas rambutnya yang sudah kusut.
Ini kesalahannya, tapi andai Devan tidak hanya memanfaatkannya, dia bisa hidup dengan pria itu, pria itu sangat kaya jadi tak akan keberatan baginya menghidupinya dan bayinya, namun nyatanya perasaan itu hanya kepalsuan semata, hanya demi memanfaatkannya untuk menjadi pela cur gratis.
"Aku membencimu, aku sungguh membencimu.." Evelyn menangis, dia hanya seorang diri dan harus menghadapi semua ini dengan tidak berdaya.
"Aku lapar.." Evelyn menangis tersedu. Pagi tadi dia tak makan, karena uangnya hanya ada untuk sekali naik bis untuk mencari pekerjaan yang sampai kini tak juga ia dapatkan "Kasihan sekali kamu nak.." Evelyn mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit bahkan terlihat dari luar kemejanya.
"Aku bahkan tak bisa memberikan mu susu.." jangankan untuk susu Evelyn bahkan hanya makan mie instan agar bertahan hidup, beruntung bayinya tidak rewel, Evelyn nyaris tak pernah mual ataupun muntah.
Sudah dua bulan sejak dia menginjakkan kaki di negara ini, tapi hidupnya belum stabil malah semakin memburuk dan sangat buruk.
Ternyata semuanya tidaklah mudah, Evelyn semakin menyesal karena mengecewakan orang tuanya, jika saja dia tetap menjadi anak baik dia pasti sedang tidur di dekapan hangat ibunya.
"Ibu aku merindukanmu, hiks.. ayah.." Evelyn menunduk menangis tak peduli setiap orang menatapnya, dia hanya ingin meluapkan isi hatinya.
"Hay, kau baik- baik saja?." Evelyn mendongak saat suara seorang wanita terdengar.
Evelyn mengusap air matanya lalu menatap uluran tangan gadis di depannya. "Untukmu.." Evelyn tertegun melihat sebungkus roti di tangannya.
"Aku dengar saat kau bilang kau lapar, ah ya.. aku Boni.. itu toko ku" Evelyn mengerjapkan matanya yang berembun lalu tersenyum.
"Terimakasih.. terimakasih banyak.." Evelyn membuka bungkus roti dengan terburu- buru lalu melahapnya tanpa rasa malu, saking cepatnya Evelyn makan dia sampai tersedak.
"Pelan- pelan.." Boni menyodorkan satu botol minuman bersoda.
Evelyn tertegun "Aku sedang hamil.." lirih Evelyn, bukan apa- apa, dia bahkan tidak pernah minum susu, bagaimana jika bayinya di dalam sana terkejut, beruntung bayinya sangat kuat, bahkan Evelyn hanya makan mie instan selama ini.
"Ah, maaf aku tidak tahu.." Boni berlari ke arah toko dan menggantinya dengan air mineral.
Evelyn tak hentinya berterimakasih pada Boni, seolah Boni telah menyelamatkan hidupnya.
Sejak saat itu mereka bersahabat dan saling menguatkan, Boni yang baru saja kehilangan orang tuanya pun merasa menemukan teman baru, Evelyn bahkan bekerja di toko Boni untuk bisa mendapatkan makan, awalnya Boni menolak karena tokonya yang kecil dan dia tak bisa menggaji Evelyn.
"Tidak masalah asal aku bisa makan, dan bayiku baik- baik saja.." Boni akhirnya setuju.
Evelyn sedikit lega karena bisa makan sehari- hari meski dia memikirkan bagaimana kelak dia membiayai persalinannya, tapi setidaknya untuk saat ini dia masih bisa hidup.
Benar saja, disaat jadwal persalinannya semakin dekat Evelyn mulai kebingungan karena tak memiliki biaya.
Evelyn sedang duduk di kursi taman, mengelus perutnya yang membuncit, jadwal persalinannya di perkirakan satu minggu lagi tapi Evelyn tidak punya uang banyak, hanya beberapa dolar saja yang ia miliki sisa makan sehari- hari, dan membayar uang sewa rumahnya, meskipun sedikit tapi Boni juga selalu memberinya uang karena membantunya di toko.
Air mata Evelyn merebak, di tengah hawa dingin Evelyn merasa kesepian, tak memiliki uang, tak ada Ibu, dan Ayah yang akan menemaninya melahirkan juga memberinya semangat.
"Bagaimana ini.." Evelyn menangisi dirinya.
"Apa kau bodoh!" Evelyn menoleh dan melihat seorang wanita bergaya genit duduk di sebelahnya "Tidak aku akan kesana, dan jangan biarkan dia pergi tanpa membayar, enak saja menikmati lalu pergi begitu saja!" wanita itu sibuk menelpon dan marah- marah, Evelyn hanya menghela nafasnya, lalu kembali pada lamunannya.
Evelyn mengeryit saat merasakan sesuatu yang tak nyaman dengan perutnya, tak lama kemudian Evelyn meringis saat perutnya semakin sakit..
"Akh.."
"Eh, ada apa denganmu?"
"Akh.. sakit.." Evelyn mengerang.
"Astaga, kau hamil, apa kau akan melahirkan.." Evelyn menatap penuh permohonan.
"Tolong, sepertinya... aku akan melahirkan.."
"Aduuh bagaimana ini.. baiklah, tarik nafas, buang nafas.. "Evelyn mulai mengikuti instruksi dari wanita yang kini menatapnya khawatir.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit, jadi tetap lakukan itu kau mengerti!" Evelyn mengangguk.
"Ada seseorang yang harus aku hubungi.. suami?" Evelyn di papah menuju sebuah mobil, yang Evelyn kira milik wanita itu.
"Aku.. tidak memilikinya.."
"Okay.. okay, tenanglah. Kita akan ke rumah sakit lebih dulu.." Evelyn kembali mengangguk.
Tiba di rumah sakit Evelyn segera di giring ke ruangan bersalin, dan di tangani dengan segera.
Setengah jam kemudian Evelyn sudah berhasil melahirkan seorang bayi laki- laki, namun Evelyn belum diizinkan untuk menemuinya, perasaan Evelyn pun mulai tak menentu "Ada apa dengan bayiku?."
Dokter menghela nafasnya "Bayimu harus mendapatkan penanganan khusus.."
"Apakah dia baik- baik saja?"
"Apa kau tidak pernah memeriksa bayi mu saat di dalam kandungan?" Evelyn tercekat, jangankan untuk memeriksakan diri untuk membeli susu saja Evelyn nyaris tidak mampu.
"Kami akan memastikannya lebih dulu, baru setelah itu kami bisa memutuskan.." Evelyn menyandar lemah, apa lagi sekarang, pikirnya.
Evelyn tersenyum melihat wanita yang sudah menolong dan membawanya ke rumah sakit, "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik- baik saja Nyonya, terimakasih atas bantuanmu."
Wanita itu terkekeh "Jangan panggil aku nyonya, aku tidak setua itu.."
Evelyn tersenyum canggung "Maafkan aku.."
"Cukup panggil aku Irene.."
Pada saat yang sama dokter muncul dan membawa sebuah map hasil pemeriksaan bayi Evelyn, Evelyn yang sudah menunggu pun menegakkan tubuhnya seraya bertanya "Apakah semuanya sudah selesai, bagaimana dengan bayiku, apakah dia baik- baik saja..?"
Dokter tersenyum lalu menghela nafasnya "Bayimu..."
...
Evelyn menatap bayinya yang tertidur lelap di ruangan khusus, air matanya menetes meratapi kemalangan yang terjadi pada bayinya "Tampan sekali.." Evelyn menoleh dan menemukan Irene di belakangnya.
"Ini tidak mudah Evelyn, dan kau harus kuat menjalaninya.." Irene menghela nafasnya, dia mendengar semua penjelasan dokter dan meyakini Evelyn tidak akan sanggup memenuhi perawatan anaknya yang memiliki kelainan jantung "Aku bisa membantumu memberi pekerjaan.." Evelyn mendongak.
"Aku mau.." apapun akan Evelyn lakukan demi bisa memenuhi kebutuhan perawatan anaknya, karena itu tanpa mendengarkan lebih lanjut Evelyn menerima tawaran Irene.
"Kau yakin?, aku tidak terburu- buru.. jika kau ingin memikirkannya."
"Aku akan melakukan apapun.."
"Kau yakin, apa kau bersedia menjadi wanita panggilan?"
Dan itulah awalnya Evelyn terjerumus ke dalam kegelapan.
....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Anisatul Azizah
sbg seorang anak mungkin kau gagal, tapi sbg ibu kau luar biasa Eve🤗
2024-02-21
0
Nur halimah
seorang ibu rela melakukan apapun untuk anak ny🥺 asalkan dia bisa sehat selalu🥺🥺
2023-06-18
1
Winda Ikayati
tk apa eve... mereka blg km hina.. tp km menjadi hina Demi seorng nyawa.. dan itu anakmu...
2023-06-17
0