Evelyn keluar dari taksi yang berhenti di depan lobi hotel dimana Tina dan beberapa orang menunggunya.
Baru saja Evelyn membuka mulut untuk bertanya barang bawaannya sudah kembali di masukkan ke dalam mobil lain yang berwarna hitam mengkilat "Kita akan pergi sekarang?" Evelyn mengeryit.
"Ya, tuan sudah menunggu." Tina membungkuk lalu membuka pintu belakang dan membiarkan Evelyn masuk.
Evelyn kira perjalanan mereka di tempuh hanya dengan menggunakan mobil, namun kini di depannya Evelyn melihat sebuah jet pribadi.
Mata Evelyn mengerjap beberapa kali lalu melihat ke arah Tina yang mulai sibuk bicara dengan seorang pria yang berpakaian layaknya seorang pilot.
Evelyn membeku hingga suara Tina kembali mengejutkannya "Mari nona.."
"Kita akan kemana sebenarnya?" Tina bergeming dan hanya menunjukkan tangannya dengan sopan membimbing Evelyn masuk ke dalam pesawat.
"Silahkan Nona.."
Evelyn berdecak dan menggerutu, "Sial aku seperti bicara dengan arwah." kaki Evelyn menghentak dengan cepat memasuki pesawat.
Ketika memasuki pesawat Evelyn disuguhkan pemandangan mencengangkan.
Evelyn beberapa kali pernah menaiki pesawat tapi belum pernah menaiki bahkan bermimpi melihat isi di dalam pesawat pribadi yang ternyata sangat elegan, bahkan tak hanya melihat Evelyn bahkan menaikinya.
Tidak seperti pesawat pada umumnya ada banyak kursi dengan beberapa clas yang membedakan berapa uang yang mereka keluarkan untuk membeli tiket, yang terlihat oleh Evelyn kali ini hanya beberapa kursi yang terlihat nyaman dan mewah.
Evelyn mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pesawat hingga dia tak menemukan satu orangpun kecuali para pramugari dan pilot yang menyambutnya.
Tina kembali mempersilahkan Evelyn masuk dan duduk seorang diri sedangkan dirinya sendiri memilih kursi lain, di belakangnya dua pria yang masih berbaju hitam itu juga duduk dengan wajah datar, tak menghiraukannya.
Sial situasi macam apa ini, harusnya dia bisa menikmati perjalanan yang mewah ini, bahkan sesekali pramugari cantik menawarkan sesuatu, namun Evelyn hanya meminta jus lemon untuk menyegarkan kepalanya. Karena mabuk semalam Evelyn merasakan kepalanya berputar, belum lagi perasaan naik pesawat yang membuatnya sedikit tidak nyaman, ada banyak pertanyaan dalam dirinya yang membuat kepalanya serasa berdenyut.
Evelyn melihat sekelilingnya lalu menghela nafasnya, dia seperti tawanan dalam versi mewah di angkut menggunakan pesawat pribadi sebelum di masukkan ke dalam sel.
"Nona Tina kita akan pergi kemana sebenarnya?"
...
Evelyn menatap nanar sepatunya yang kini berpijak pada tanah yang bahkan tak terbersit sedikitpun untuknya kembali ke sini, tanah kelahirannya, tempatnya menjadi dewasa, tempat terakhir yang bahkan dalam mimpi pun Evelyn tak ingin kembali.
Tapi hari ini pesawat yang di naikinya membawanya kembali, kembali ke pada masa dimana dia harus pergi dan lari dari semua yang menyakitkan, di negara ini semuanya terjadi.
Awal dari penderitaan yang sama sekali tak dia duga.
Dari sekian banyak negara, kenapa penyewanya berkewarga negaraan yang sama dengan nya lima tahun lalu.
Evelyn mengikuti langkah Tina dengan bergeming, tubuhnya seolah mati rasa, pertama kali saat kakinya berpijak hatinya terasa sakit mengingat semua penderitaannya di mulai dari sini.
..
"Bagaimana apa kalian sudah sampai?" Devan bertanya pada Tina yang mengawal Evelyn, dan memastikan Evelyn tiba dengan selamat, dirinya sendiri semakin tidak berani bertemu Evelyn semenjak bermimpi buruk tadi malam, Devan takut mimpinya terjadi.
Devan bahkan pulang dengan menaiki pesawat yang berbeda dengan Evelyn, bahkan rencananya menemui Evelyn harus rela dia tunda.
Devan takut saat Evelyn melihatnya mimpi itu akan menjadi nyata, bagaimana jika Evelyn mengakhiri hidupnya, karena tak ingin bertemu dengannya.
Devan mengingat bagaimana tatapan benci Evelyn saat melihatnya di mini market tempo hari, sebegitu bencikah Evelyn padanya..
"Kami baru tiba di vila tuan, dan Nona sedang berkeliling.."
Devan menghela nafasnya lega "Baguslah, pastikan kau memenuhi semua kebutuhannya, utamakan kenyamannya."
"Baik tuan.."
"Baiklah, aku akhiri.." Devan menjauhkan ponselnya untuk mengakhiri panggilan, namun suara Tina kembali terdengar.
"Maaf tuan, nona juga bertanya kapan anda akan menemuinya?"
"Katakan aku akan segera menemuinya.." Devan merindukan Evelyn dan tentu saja dia ingin segera bertemu dengannya.
Tapi Devan tak boleh gegabah dan melakukan kesalahan yang membuatnya kehilangan Evelyn kembali.
Devan menutup panggilannya lalu melihat ke arah Roger sang asisten yang sudah berdiri di depannya. Roger menegakkan tubuhnya terlihat pria itu berdiri kaku dengan sebuah berkas di tangannya "Kau sudah mendapatkannya?."
"Ya, tuan.." Roger menyerahkan dokumen tersebut "Nona Evelyn pernah melahirkan empat setengah tahun lalu.." Degh..
Devan tercengang, tiba- tiba otaknya bekerja secepat kilat.
Jika Evelyn melahirkan saat itu, empat setengah tahun lalu.. bukankah sebelum pergi Evelyn sudah mengandung, dan kemungkinan besar anak itu adalah anaknya.
Tentu saja bodoh! Evelyn hanya melakukannya denganmu. Batin Devan berteriak.
"Apa.. apa yang terjadi, dimana anak itu sekarang?" Lidah Devan terasa kelu, jika benar itu anaknya bagaimana mungkin Devan tak tahu, kenapa Evelyn tak memberi tahunya dan malah pergi begitu saja, dan jika anak itu ada, dimana dia berada sedangkan Evelyn tidak pulang selama beberapa hari ini.
Roger menunduk "Katakan padaku!." Nada suara Devan meninggi.
"Anak itu sudah meninggal tuan.." Devan merasakan tubuhnya linglung, kepalanya tiba- tiba sakit bukan main, apa ini?.
Kenyataan apa ini?.
"Bagai..mana bisa ini terjadi?"
"Dari data rumah sakit mengatakan anak itu mengalami kelainan jantung sejak lahir.. Dua kali melakukan operasi hingga di usia dua tahun anak itu meninggal.." Inikah alasan Evelyn memiliki banyak hutang, operasi jantung bukan sesuatu yang murah.
Astaga.. keberanian Devan semakin menciut kala mendengar semua kebenaran- kebenaran itu.
Bagaimana bisa Devan menemui Evelyn, pantaslah Evelyn membencinya, dirinya hidup senang dengan bergelimang harta sedangkan Evelyn menanggung derita bersama anaknya.
"Pergilah.!" Devan mengibaskan tangannya, melihat Roger tak bergeming Devan pun berteriak "PERGI!!"
Roger pun membungkuk hormat lalu pergi. Sebenarnya Roger enggan meninggalkan Devan sendirian dia takut tuannya melakukan hal bodoh dan menyakiti dirinya sendiri, melihat kondisinya yang begitu terkejut, bagaimana perasaannya saat pria itu membaca semua data yang sudah dia dapatkan.
Setelah pintu tertutup tubuh Devan ambruk dilantai, menahan sesak di dadanya Devan hanya bisa menepuk dadanya keras.
Beberapa saat berusaha menguasai diri, Devan bangkit dan meraih data- data yang di dapatnya dari Roger, membuka secara kasar hingga dia bisa melihat sebuah foto.
Foto seorang anak laki- laki yang tersenyum kearah kamera, seolah sudah mengerti dia juga melambaikan tangannya, rautnya sangat menggemaskan dan tampan, dan juga saat melihatnya Devan semakin yakin bahwa itu adalah anaknya, dia mirip dengannya sewaktu kecil, tentu saja Devan tahu fotonya saat kecil yang bahkan masih terpajang di rumah orang tuanya, benar- benar mirip.
Namun ada sesuatu yang menusuk hatinya, begitu menyakitkan hingga Devan berteriak tertahan , anak itu mengenakan peralatan penunjang kehidupan di sekujur tubuhnya.
"Damian.." Air mata mengalir di pipi pria kekar yang bahkan terlihat sangat lemah saat ini, rautnya yang datar kini menampakan kepedihan yang mendalam.
Berbagai penyesalan muncul dalam dirinya, andai dia bisa kembali pada masa lalu, Devan tidak akan membiarkan ini terjadi.
...
Siapa kemarin yang komen itu Anaknya Evelyn, yeeeayy kamu benar 👏🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Gibran AnamTriyono
akuuuuu ☝️☝️☝️☝️☝️
2023-06-16
1
Ikhlas Rayhan
part yang bikin mewek.. 😭
2023-06-16
1
isma
oh,, ternyata,,,,, apa hubungan evelin sama devan tidak di restui orangtuanya dev ya,,,lanjut thor
2023-06-16
2