Kita Akan Pergi Bersama

Trak..

Suara botol bir beradu dengan meja yang sengaja diletakan dengan kasar, mengisi keheningan.

"Jadi maksudmu kau akan meninggalkanku sendirian.." Boni menepuk dadanya.

Evelyn menggeleng "Kau sudah mengulangi ucapanmu lebih dari tiga kali.." Evelyn menunjuk empat jarinya.

"Jarimu terlalu banyak bodoh!" Boni menepuk jari Evelyn.

"Iya kah?" Evelyn menghitung jarinya "Satu, dua, tiga.. ahahahhha ya, aku menunjuk empat.. ahaaahaaha.." Evelyn tertawa, mereka sudah mabuk dan melantur.. setelah Evelyn menceritakan tentang kepergiannya, keduanya sepakat untuk menghabiskan waktu minum di kamar Boni yang berada di atap tokonya.

"Tapi tenang saja, saat aku kembali aku akan mentraktirmu.."

"Baiklah bawa aku makan di restoran mahal.." Boni terkekeh "Aku akan memakai gaun mewah dan masuk ke restoran itu dengan gaya angkuh, lihat saja.. pria itu akan menyesal telah membuangku.." Boni menangis.

"Kau menangis.." Evelyn menyipitkan matanya.

"Tidak aku tertawa, hahahaha.."

"Semua pria sama saja.." Evelyn mengeluh.. menelungkupkan wajahnya, Boni juga memanfaatkan waktu kebersamaan mereka untuk menceritakan kisah cintanya kandas, karena sang kekasih yang lebih memilih wanita kaya.

"Kau benar, kecuali Damian.."

Evelyn tersenyum tatapannya melembut penuh cinta.. "Ya, kecuali Damian.."

"Kau juga akan meninggalkan Damian Eve.." Boni memiringkan wajahnya.

Evelyn bangun menegakkan wajahnya "Damian yang meninggalkan aku Boni.. hiks.. hiks.." Evelyn menangis dan mengangkat kedua tangannya, menatap dengan tatapan kosong seolah dia memegang sesuatu "Dia yang meninggalkan aku, Boni.." Evelyn masih menangis dan Boni pun mendekat untuk memeluk Evelyn.

"Tapi dia sudah tidak kesakitan lagi.." Evelyn mengangguk, setuju.

Benar orang yang sudah tiada tidak akan kesakitan lagi, begitupun Damian, dia tak perlu menangis lagi karena kesakitan.

...

Devan mendesah saat sebuah tangan menjalarinya membelai lembut seluruh otot perutnya, kebahagiaan tak terkira saat melihat sosok itu kini berada di depannya menatapnya penuh cinta dengan senyuman manis di bibirnya.

"Kamu suka..?" suara itu mengalun lembut seperti gadis yang pertama kali melakukannya, pipinya merah dan menatap malu- malu.

"Ya, aku sangat menyukainya sayang.." Devan mencubit dagu gadis berpipi merah tersebut dan ******* bibirnya.

"Naik, turunkan pelan- pelan.." Devan menuntun tangan rapuh itu menggenggam miliknya dan membimbingnya melakukan sesuatu yang dapat memuaskannya.

"Seperti ini?" Devan terkekeh gemas dengan sifat lugunya dan kembali mencium bibir pink alaminya, sontak saja pipi gadis itu semakin merah.

"Ya, kamu luar biasa, lakukan itu.. ah.. nikmatnya.." Devan memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan mungil itu pada dirinya.

Gadis itu terus tersenyum tampak raut bangga karena sudah bisa membuat sang pria pujaannya puas.

"Mau ku ajarkan yang lebih?" Gadis itu mengerutkan keningnya.

"Huh?"

"Hisaplah.." Devan menunjuk tubuhnya yang tegang menantang, sontak saja perkataan Devan membuat sang gadis membelalakan matanya.

Gadis itu sudah pernah melihat adegan itu dimana seorang wanita mengh isap dan meng ulum milik pria di sebuah vidio yang di tontonnya malu- malu dengan Devan, tentu saja Devan yang mengajarkan semuanya ciuman, pelukan bahkan kali ini dia akan melakukan yang pertama kali dengan Devan,namun dia tak pernah menyangka akan melakukannya, menghi sap tubuh Devan?.

"Aku tidak akan memaksamu.." Devan meraih tangan sang gadis yang masih menggenggam tubuhnya berdiri dan mensejajarkan berdiri merapat kearahnya.

Tubuh keduanya sudah polos, Devan bahkan bisa merasakan hawa panas saat kulitnya bertemu kulit mulus di depannya.

"Kita akan melakukannya pelan- pelan saat kamu sudah siap.. kamu tahu aku sangat mencintaimu.." sang gadis mengangguk.

"Aku mau, aku akan melakukannya sekarang.." Gadis itu menggenggam tangan Devan dan memeluknya.

"Lakukanlah.." Devan tersenyum merasa bangga saat gadis itu berjongkok dan memulai aksinya "Ah, ya.. begitu.. kamu pintar sayang.." Devan mengelus rambut panjang sang gadis.

Perasaan tak tertahan menjalar ke seluruh tubuhnya dan berpusat pada intinya, Devan menghentikan sang gadis dan menuntunnya ke arah ranjang.

Merebahkan tubuh yang sudah pasrah tersebut hingga terlentang, tatapan matanya begitu penuh cinta dan membuat Devan merasa bangga karena mendapatkannya.

"Aku akan pelan- pelan.." sang gadis mengangguk dan memejamkan matanya saat sesuatu di bawah sana menembus dirinya, rasa sakit dan panas menjalar saat sesuatu itu menerobos masuk sedikit kencang.

"Maaf apakah sangat sakit?"

Sang gadis masih memejamkan mata namun mengangguk pelan "Sakit.." air mata menetes di pipinya dan Devan pun dengan cepat mengecupnya.

"Ini akan nyaman nanti.." Meski ragu gadis itu masih mengangguk seolah sungguh percaya.

"Aku akan mulai bergerak.." Devan menggerakkan tubuhnya pelan dengan sesekali memberikan ciuman pada gadis yang kini sudah tak menjadi gadis tersebut.

Gerakan Devan pelan tapi pasti hingga menyentuh titik sensitifnya dan membuatnya menjerit tertahan.

"Bagaimana? hum, kamu suka?"

"Mend esahlah, tidak perlu di tahan!."

"Ah.."

"Hmm.."

"Begitu.. bagus sekali.."

Tatapan Devan begitu lembut dan penuh cinta, hujaman demi hujaman dia lakukan dengan tegas dan perlahan.

"Ah, Devan.."

"Hmm ya.." Devan memejamkan mata menikmati dan merasakan dirinya di remas dan terjepit di dalam sana.

"Kamu suka?"

"Hmmm.. Ya, aku sangat suka.." Devan mengerang dan masih memejamkan matanya.

"Benarkah?" Devan membuka matanya dan tertegun saat raut itu tak lagi lugu dan manis, melainkan wajah dewasa penuh godaan, bibir pink itu sudah menghilang berganti dengan warna merah merona dan mata tajam.

"Tapi aku tidak.. aku sangat membencimu.. ayo, lanjutkan!"

"Nikmati kebencianku hingga kau puas!" Devan menarik dirinya dan mundur dengan tubuh gemetar.

"Eve..?"

"Ya, aku Eve.. kemari sayang.." Evelyn melambaikan tangannya.

"Eve.." Devan bergerak akan menyentuh tangan gadis yang baru saja bergulat dengannya bahkan dirinyalah yang pertama untuk gadis itu.

"Tidak Devan, jangan mendekat.."

"Eve apa yang kau lakukan.." Devan mengejar Evelyn yang kini berlari ke arah balkon.

"Eve jangan lakukan itu.." Devan akan menangkap tubuh Evelyn namun Evelyn menjatuhkan dirinya "Eveee..." Devan menjerit seiring dirinya terbangun dari tidurnya.

Devan mendudukan dirinya dengan nafas terengah, keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya membuat piyamanya basah, Devan mengusap wajahnya kasar, dia bermimpi...

Tidak itu bukan mimpi, tapi itu masa lalunya saat pertama kalinya dia meni duri Evelyn, kecuali saat Evelyn berteriak membencinya, tapi kenapa Evelyn memilih mengakhiri hidupnya dan terjun dari balkon?, ada apa dengan mimpinya?.

.

.

Evelyn mengerang saat bangun tidur merasakan kepalanya pening bukan main, satu tangannya meremas kepalanya, sedangkan satu tangannya yang lain menepuk tubuh Boni yang terbaring di sebelahnya.

Kamar Boni berserakan dan berantakan akibat ulah mereka semalam, setelah menangis dan berpelukan keduanya terbaring lelah dan tertidur.

"Boni bangunlah, ah kepalaku.." Evelyn memukul kepalanya, lalu tiba- tiba rasa mual menjalari tenggorokannya, dengan sempoyongan Evelyn bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.

Keluar dari kamar mandi, Evelyn melihat Boni duduk dengan memijat kepalanya "Kau punya lemon?"

"Hmm ada.."

"Aku akan buat teh lemon." Evelyn pergi ke arah dapur kecil tepat di sebelah kamar, sebenarnya itu seperti tempatnya istirahat saat Boni lelah menjaga toko, dan tak perlu pulang karena jaraknya lumayan jauh, karena itu Boni menyulap atapnya menjadi sebuah kamar dan dapur kecil, hingga akhirnya Boni lebih sering menghabiskan waktunya disana dari pada pulang, toh pulang pun tak ada siapapun dirumahnya, karena kedua orang tuanya sudah tiada.

Tak berapa lama Evelyn kembali dengan dua cangkir teh lemon dan meletakkannya di atas meja.

"Minumlah agar kamu lebih segar.."

Boni mendongak "Kau akan pergi hari ini.."

"Hmm" Evelyn menyesap tehnya "Aku akan meninggalkan mobilku.."

"Untukku?"

Evelyn mencebik "Ya, aku tahu.. aku akan menjaganya dan akan merawat rumahmu.."

"Tapi Eve, aku sudah memutuskan.." Evelyn mengeryit "Saat nanti kamu akan pergi dari negara ini, aku akan ikut denganmu, aku akan ikut kemanapun kau pergi.."

"Boni.." Evelyn menatap Boni dengan perasan bersalah.

Boni menggeleng. "Lalu bagaimana dengan tokomu?"

"Aku akan menjualnya."

"Ini warisan orang tuamu.."

"Apa gunanya jika aku tidak bahagia?"

Evelyn terdiam "Jadi saat kamu sudah siap pergi, beritahu aku lebih awal, aku akan menjual tokoku dan pergi bersamamu."

Evelyn mengangguk "Tapi bagaimana jika kita malah hidup susah, kau pasti menyesal."

"Bodoh, karena itu kumpulkan uang banyak!"

Evelyn terkekeh "Baiklah bila perlu aku akan memeras pria itu hingga dia miskin.

Boni tertawa "Ide bagus."

....

📢📢📢)))) Komen..

😅😅😅😅

Terpopuler

Comments

Ipul Pasha

Ipul Pasha

kok Boni mau ikut, emang boleh....ya?

2024-04-23

0

aira aira

aira aira

suka

2023-12-31

1

💗vanilla💗🎶

💗vanilla💗🎶

bestie nya eve ya boni

2023-10-22

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!